13. Bukan Mimpi

“Edgar.”

Edgar merasakan jemari lentik menepuk lembut pipinya. Perlahan dia membuka kelopak mata dan melihat wajah Lisa yang mengulum senyum.

“Aku pasti sudah mati dan bertemu bidadari surga,” gumam Edgar dengan suara lemah.

Lisa menautkan alisnya, tak mengerti maksud ucapan Edgar, lalu dia pun tertawa. Sekali lagi dia menepuk pipi Edgar.

“Hai, sadarlah! Kamu belum mati.”

Kedua mata Edgar membola sempurna, seketika dia mencoba sekeliling yang ternyata dia masih berada tak jauh dari taman saat dia makan ubi rebus.

Edgar pun bangkit duduk, menghela nafas lega serta mengelus dada.

“Tadi aku bermimpi dihajar gerombolan preman,” tutur Edgar pada Lisa.

“Kamu tidak bermimpi. Lihat wajahmu! Babak belur begitu.”

Jari Edgar pelan-pelan menyentuh ujung bibirnya yang terasa perih. Benar dia habis dipukuli oleh preman dan dia juga tidak menemukan tas ranselnya

“Jadi, bukan mimpi. Tapi kenapa kamu bisa ada di sini?”

Edgar meneliti pakaian yang dikenakan Lisa. Gadis itu memakai celana panjang, jaket dan juga menggendong tas ransel besar.

“Begitu kamu pergi dari rumah, aku mendapat informasi lowongan pekerjaan dari teman kuliahku dulu, dan aku putuskan untuk merantau di kota,” tutur Lisa.

Selepas Edgar meninggalkan desa, Lisa memantapkan diri untuk menyudahi kesedihannya ditinggal sang ayah. Lisa ingin menata kembali hidupnya.

Menurut Lisa, sudah tak ada harapan lagi tinggal di desa yang dilanda kekeringan. Bahkan tanah di ladang milik ayahnya kini mengeras tak bisa ditanami.

Awalnya, Lisa juga tak akan menyangka akan bertemu lagi dengan Edgar. Kebetulan dia sedang naik bis dan melihat Edgar yang dipukuli oleh gerombolan preman.

Namun, begitu Lisa turun dari bis, preman-preman itu telah meninggalkan tubuh Edgar yang pingsan di tepi jalan.

Kini Lisa melempar pandangan pada Edgar yang duduk termenung. Dia mengulurkan sebotol air mineral yang langsung diteguk oleh Edgar.

“Kenapa kamu membiarkan dirimu dihajar oleh preman?”

“Mereka mengambil uang yang kamu berikan,” sahut Edgar dengan nada marah teringat kembali akan uang yang ada di dalam tas.

Lisa menaikkan alisnya, “Lalu? Kenapa tidak kamu biarkan saja? Nyawamu lebih penting daripada uang itu.”

“Uang itu pemberian darimu. Aku tahu kamu juga kesusahan mendapatkan uang. Mana mungkin aku menyerah begitu saja,” ucap Edgar berapi-api yang membuat Lisa mengulas senyum tanpa Edgar sadari.

Kemudian Lisa menoleh ke sekeliling. Hari perlahan mulai gelap, mereka harus mencari tempat untuk menginap setidaknya untuk tidur malam ini.

Untung saja, Lisa yang pernah kuliah di kota memiliki pengalaman mencari tempat kontrakan murah. Dia dan Edgar naik bis menuju daerah pinggiran yang terbilang kumuh dan padat penduduk.

*

*

*

Setelah negosiasi yang panjang, akhirnya Lisa dan Edgar menemukan kontrakan sempit di gang yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor.

Hanya kontrakan itu yang pas di kantong, ditambah hari sudah malam dan tubuh mereka sangat lelah.

Lisa membuka pintu, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Lantai yang sebenarnya berwarna putih itu tampak abu-abu karena diselimuti oleh debu tebal serta sarang laba-laba yang terayam di setiap sudut.

“Setidaknya, kamar mandinya bersih,” kata Lisa setelah mengecek bagian kamar mandi.

“Ya, tapi kita harus bersih-bersih sebelum tidur,” imbuh Edgar mencolek debu yang menempel di dinding.

“Tidak masalah. Kontrakan ini sempit, jadi pasti tidak membutuhkan waktu lama.”

Lisa memutar badan hendak mengambil sapu. Namun, mendadak raut wajah Lisa berubah menegang begitu bola matanya menangkap hewan berwarna hitam berada di dekat sapu.

Hewan itu pun tampaknya menyadari keberadaan Lisa, lalu bergerak mendekat. Lantas Lisa berteriak kencang dan secara refleks memeluk tubuh Edgar sangat erat.

“Apa?” Edgar bertanya keheranan.

“A-ada t-tikus,” Lisa berkata terbata-bata sambil menunjuk hewan pengerat yang tak jauh dari mereka.

Tangan Lisa melingkar kuat di pinggang Edgar serta membenamkan wajah di dada pria itu. Lisa belum sadar jika orang yang dia peluk adalah Edgar.

Edgar tergelak, “Menghadapi serigala kamu berani, masa hanya seekor tikus kamu takut.”

Edgar menghentakkan kaki bermaksud mengusir tikus, tapi yang terjadi tikus itu semakin maju mendekati mereka berdua dan membuat Edgar ikut berteriak.

*

*

*

Pagi hari menyapa, semalaman Lisa tidak bisa tidur nyenyak karena masih dihantui oleh bayang-bayang tikus laknat. Padahal hari ini adalah hari wawancara kerjanya.

Lisa menutup mulut yang ingin menguap lebar. Di depannya Edgar merenggangkan badan. Dia juga tidak bisa tidur nyenyak tapi bedanya karena semalam dia tidur di lantai yang hanya dialasi karpet.

“Edgar, bagaimana kalau kamu juga ikut wawancara kerja?”

“Memangnya mereka mau menerima aku?” Edgar malah balik bertanya. Mengingat dirinya tidak memiliki ijazah apalagi KTP.

“Apa salahnya kalau dicoba dulu kan?”

Edgar mengangguk menyetujui. Sejenak dia memperhatikan wajah Lisa. Lingkar hitam terlihat jelas di kulit wajahnya yang putih.

Lisa mengikat seluruh rambut gelombangnya. Dia tidak memakai banyak riasan seperti kebanyakan wanita. Namun, bagi Edgar, Lisa selalu terlihat manis.

Edgar mengikuti saran Lisa untuk mencoba ikut melamar bekerja di sebuah rumah sakit. Hanya berbekal kemampuan bersih-bersih, dia melamar sebagai cleaning servis.

Kini Lisa dan Edgar duduk bersebelahan menghadap seorang wanita yang memakai kacamata tebal. Jantung mereka berdebar menanti keputusan dari wanita itu.

Lisa telah dinyatakan lulus wawancara, dan mulai besok dia akan bekerja sebagai resepsionis. Sedangkan Edgar masih menjadi pertimbangan.

“Apa benar-benar tidak ada KTP atau tanda pengenal lain? Kalau begitu dia tidak bisa bekerja di sini.”

Edgar menunduk, dia tahu pasti dia akan ditolak. Namun, Lisa bersikeras. Dia mencondongkan tubuh sambil menautkan kedua tangan.

“Bu, saya mohon. Saudara saya ini baru terkena musibah.”

“Musibah apa?” wanita itu bertanya seraya membetulkan kacamata yang merosot.

“Rumah dia kebakaran, Bu. Jadi semua data diri termasuk KTP habis terbakar,” terpaksa Lisa berbohong agar Edgar juga diterima bekerja di tempat yang sama dengannya.

Edgar menoleh cepat pada Lisa, mengerutkan alis dan melirik wanita yang kini sedang mengamatinya.

“Apa benar begitu?”

Edgar menganggukkan kepala sebagai jawaban.

“Jadi bagaimana, Bu? Edgar diterima bekerja di rumah sakit ini kan?”

Wanita itu menghela nafas panjang dan menyorot tajam Lisa dari balik kacamata tebalnya.

“Saya memang kasihan padanya tapi peraturan tetap lah peraturan. Maaf, dia tidak bisa bekerja di sini.”

Ketika keluar dari ruangan, Edgar hanya menundukkan kepala dengan lemas dia melangkahkan kaki di sepanjang koridor. Sedangkan Lisa berada di sampingnya.

“Tidak masalah. Pasti di luar sana masih banyak pekerjaan yang membutuhkanmu.”

Edgar diam tak menyahut. Namun kedua tangannya terkepal kuat, sebab dia bertekad akan mencari pekerjaan agar tidak menumpang terus pada Lisa.

Terpopuler

Comments

Hulapao

Hulapao

iya loh kalo tikus itu entah kenapa menakutkan sekali 🤣

2022-10-07

1

Nana

Nana

penasaran nih, hubungan edgar sama lisa nantinya kalau ingatan edgar kembali

2022-09-18

0

Nana

Nana

buktikan edgar 💪

2022-09-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!