Malam ini, rembulan bersinar terang. Bintang pun berkelap-kelip menghiasi angkasa. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini keluarga Rafika saling mengucapkan salam perpisahan pada Erlangga. Mereka berkumpul di teras rumah Rafika. Duduk bersama dengan beralaskan tikar. Tidak ketinggalan kopi dan cemilan sebagai pelengkap obrolan.
"Asep, nanti kalau sudah kembali ke Jakarta, jangan lupa main ke sini." Wa Enok langsung menyapa duluan pada Erlangga.
"Iya, Wa in sya Allah." Erlangga tersenyum tipis menanggapi ucapan Wa Enok.
"Iya, Sep. Kasian tuh si Fika kalau kelamaan ditinggal. Nanti gak ada yang direpotkan mengerjakan tugasnya," timpal Wa Kumis, suami Wa Enok.
"Minta doanya saja dari semua Keluarga Fika, semoga operasinya berjalan dengan lancar."
"Aamiin." Kompak semua orang yang ada di sana.
Mereka pun larut dalam obrolan-obrolan receh. Mengenang masa mudanya dan bercerita tentang masa lalu keluarga Rafika. Erlangga hanya diam mendengarkan. Hanya sesekali dia berbicara saat ada orang yang bertanya kepadanya.
Berbeda dengan Rafika yang sedari tadi diam tidak ikut perbincangan orang tua. Dia sibuk menata hatinya karena akan ditinggal oleh orang yang disayanginya. Entah kenapa, gadis itu merasa, malam ini terakhir kali dia menghabiskan waktu bersama dengan Erlangga.
Sepertinya kegelisahan hati Rafika, terlihat jelas dari wajahnya. Sampai-sampai para pemuda yang sedang nongkrong di pos kamling depan rumah Rafika, menyanyikan sebuah lagu yang menggambarkan hati gadis itu.
Jreng ... Jreng ...
Terdengar suara gitar sebagai intro sebelum pemuda itu menyanyikan lagu yang akan mereka bawakan. Tidak lama kemudian, petikan gitar mengalun indah di pendengaran.
"Malam ini malam terakhir bagi kita. Untuk mencurahkan rasa rindu di dada. Esok aku akan pergi lama kembali. Kuharapkan agar engkau sabar menanti." Terdengar suara merdu Idut, tetangganya Rafika memulai bernyanyi. "Esok aku akan pergi lama kembali. Kuharapkan agar engkau sabar menanti."
Disambung lagi oleh Dodo yang berduet dengan Idut. "Aku akan sabar menantimu kembali
Selamat jalan dan sampai berjumpa lagi."
Kedua orang itu terus saja menyanyi saling bersahutan membawakan lagu Bang Rhoma, 'Malam Terakhir.' Rafika dan yang lainnya akhirnya terdiam mendengar lagu yang dibawakan oleh Idut dan Dodo. Sampai pada saat Idut menyanyikan lirik, "Mengapa, mengapa hatiku berdebar-debar. Seakan-akan ku ragu untuk merelakan kepergianmu, Kasih. Mengapa, mengapa hatiku berkata-kata. Seakan-akan berbisik, Bahwa kita tidak akan berjumpa lagi."
Rafika langsung menangis tersedu-sedu seraya memeluk Erlangga yang duduk di sampingnya. Pemuda itu hanya mengelus rambut panjang Rafika dengan mata yang berkaca-kaca. Seandainya dia boleh jujur, Erlangga pun takut tidak bisa bertemu lagi dengan Rafika.
Sementara Idut dan Dodo serta pemuda lainnya yang ada di pos kamling, hanya saling berpandangan mendengar suara tangis gadis tengil itu. Tidak biasanya Rafika menangis, karena setahunya gadis tomboy itu tahan banting. Saat jatuh dari pohon belimbing yang lumayan tinggi saja, Rafika tidak menangis, tetapi malah tertawa terbahak-bahak.
"Fika, Akang pasti kembali! Jangan nangis ya, Sayang!" bisik Erlangga pelan.
"Hiks ... hiks ... Fika-Fika gak mau jauh dari Akang. Pasti Nyonya itu akan melarang Akang kembali ke sini. Dia-dia tidak suka sama Fika," ucap Rafika disela isak tangisnya.
"Sudah Fika, malu dilihatin orang. Sana pindah nangisnya di dalam!" suruh Wa Enok.
Akhirnya Rafika dan Erlangga masuk ke dalam rumah. Pemuda tampan itu terus saja menenangkan kekasih hatinya. Karena saat mendengar Rafika menangis akibat berat untuk melepaskan kepergiannya, Erlangga pun merasa berat harus berpisah dengan gadis itu.
"Fika, percaya sama Akang! Akang pasti kembali pada Fika. Sayang, ujian yang benar ya! Akang tunggu di Jakarta, seandainya nanti tidak sempat kembali ke sini. Fika mau kuliah, kan?"
"Dulu, iya. Sekarang mau nikah saja sama Akang," ucap Rafika dengan menghapus ingusnya memakai baju Erlangga. Untung saja pemuda itu tidak bisa melihat, jadi tidak perlu jijik dengan kelakuan gadis itu.
"Sayang, jangan kecewakan Ibu! Bukankah Ibu sangat ingin melihat Fika jadi sarjana. Nanti Fika kuliah di Jakarta saja, biar sering ketemu Akang."
Tangan Erlangga terus saja mengelus rambut gadis itu. Seandainya saja, matanya tidak bermasalah, mana mungkin Erlangga mau ikut kembali ke kota. Sementara dia selalu merasa bahagia saat tinggal di desa bersama dengan Rafika.
"Akang janji ya, akan selalu cinta sama Fika." Rafika mengambil tangan Erlangga dan menautkan jari kelingking mereka.
Aku lupa, Kang Asep kan belum pernah bilang cinta sama aku, Rafika meringis dalam hatinya.
"Akang janji, di hati Akang hanya akan ada Fika. Sigani jinalsurok deo saranghaeyo," bisik Erlangga.
"Akang ikh, Fika kan cuma ngerti saranghae aja."
"Buat PR ya, nanti kalau nonton drakor."
"Gak mau, Fika maunya Akang bilang sekarang."
Erlangga hanya tersenyum mendengar suara Rafika yang merajuk. Sungguh, hatinya semakin berat saat harus berpisah dengan gadis itu, seorang gadis tomboy berhati hello kitty.
"Seiring berjalannya waktu, Akang semakin cinta sama Fika," bisik Erlangga tepat di telinga Rafika. yang sukses membuat pipi gadis itu merona seperti kepiting rebus.
Rasanya, ada berjuta kupu-kupu yang berterbangan di perut Rafika, membuat gadis itu tersenyum bahagia mendengar pengakuan cinta Erlangga. Ingin rasanya dia menghentikan waktu, agar bisa lebih lama lagi bersama dengan Kang Amnesia itu.
"Fika, kenapa gak dijawab, apa kamu ...."
"I love you more and more everyday," ucap Rafika malu-malu.
Ehem ...
Sofie langsung berdehem melihat putrinya yang seperti malu-malu kucing. Namun dia tidak mengerti apa yang Rafika katakan. Karena saat dia masuk, Rafika baru saja menyelesaikan kalimatnya.
"Sudah malam, ayo kita tidur! Biar besok tidak bangun kesiangan," ajak Sofie.
"Iya, Bu. Memang Uwa sudah pada pulang?" tanya Rafika.
"Sudah, ayo bantu bereskan gelas dan piring di depan!" ajak Sofie.
Kedua sudut bibir Rafika terus saja terangkat sempurna. Hatinya merasa sangat bahagia mendapatkan pengakuan cinta dari Erlangga. Biarlah dia bahagia untuk malam ini karena besok, laki-laki yang dicintainya akan pergi jauh.
Tuhan, ku mohon jodohkan aku dengan Kang Asep. Jika dia bukan jodohku, ku mohon agar Kang Asep berjodoh denganku, do'a Rafika dalam hati.
"Ya ampun Fika, apa yang kamu lakukan? Kenapa ampas kopinya disiram ke tangan ibu?" geram Sofie.
"Maaf, Bu! Fika gak sengaja," sesal Rafika langsung membersihkan tangan Sofie dengan baju ibunya sendiri.
"Astaga Fika! Lihat baju ibu malah jadi kotor." Sofie langsung pergi menuju ke kamar mandi. Dia pusing menghadapi kelakuan putrinya yang terkadang bikin kepala berasap.
Lucu sekali gadisku. Andai aku bisa melihat, mungkin aku bisa menyaksikan kejadian tadi secara langsung. Pasti dia melakukan itu karena terus memikirkan aku sampai salah membuang ampas kopi, batin Erlangga.
...~Bersambung~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ami batam
rupanya di balik penampilan Rafika yg tomboi tersimpan hati yg selembut barbie ,yg mudah menangis krn mau di tinggal sama elang ke Jakarta 😊
2022-09-15
2