Euforia kelulusan telah usai, acara perpisahan sudah selesai. Ijazah pun sudah di tangan. Rafika dan Kiranti pun sudah mendaftar ke universitas yang ada di ibu kota. Setelah mereka melewati berbagai tahap seleksi, akhirnya kedua gadis itu diterima di salah satu university negeri yang ada di ibu kota.
Keduanya sangat bahagia saat melihat pengumuman, Rafika dan Kiranti di terima di Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen Pemasaran. Jiwa dagang dari ibunya, ingin dia kembangkan dengan mempelajari ilmu pemasaran. Harapannya, dia bisa menjadi pengusaha wanita yang sukses.
"Ibu, kartu keluarga di mana? Mau aku fotokopi," tanya Rafika sehari menjelang keberangkatannya ke ibu kota.
"Itu di lemari Ibu, di bawah baju paling atas," tunjuk Sofie yang masih asyik menyiapkan baju putrinya.
Rafika pun langsung menuju ke kamar ibunya dan mencari kartu keluarga untuk pegangan dia selama tinggal di ibu kota. Namun, tangan Rafika malah mengambil lembar kertas yang lain, yang membuat dia mengerutkan keningnya saat membaca tulisan paling atas.
"Surat perjanjian? Perjanjian apa?" gumam Rafika. Dia pun membaca lembar surat perjanjian itu sampai bawah. Tanpa terasa air matanya menetes dengan sendirinya. Dia merasa sangat sedih karena ternyata cintanya dengan laki-laki yang dia panggil Kang Asep mendapatkan sandungan batu yang besar.
Rafika menyimpan kembali kertas itu, dia langsung melanjutkan mencari kartu keluarga. Namun saat dia berbalik, ternyata ibunya audah berdiri di ambang pintu. Rafika mencoba tersenyum pada ibunya. Akan tetapi, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Sofie yang melihat semuanya, langsung memeluk Rafika dan membawa putri satu-satunya itu untuk duduk di tempat tidur miliknya. Dia mengelus lembut punggung gadis itu sebelum akhirnya dia berbicara.
"Fika sudah membacanya?"
"Sudah, Bu."
"Fika, tidak semua hal yang kita inginkan pasti akan kita dapatkan. Kita hanya orang biasa, tidak mungkin bisa mendapatkan seseorang yang memiliki kedudukan jauh lebih tinggi dari kita. Anggap saja Asep sebagai kenangan terindah dalam hidup kamu."
"Kenapa Ibu tidak mengatakan hal itu dari dulu?"
"Ibu tidak enak dengan Asep. Ibu juga khawatir Asep menolak ikut dengan mereka. Padahal tempat dia bukan di sini. Bukan bersama kita. Dia anak orang kaya. Keluarganya pun memiliki perusahaan yang besar, sangat berbeda jauh dengan keadaan kita."
"Apa uang untuk Fika kuliah dari mereka?"
"Iya, Asep tidak mau ikut kalau keluarganya tidak memberi uang untuk kuliah kamu. Makanya Fika kuliah yang benar. Asep menginginkan kamu jadi seseorang yang berarti yang tidak bisa dianggap remeh oleh orang lain. Begitupun dengan Ibu, sangat berharap Fika jadi orang sukses."
"Baik, Bu. Sekarang Fika mengerti. Ibu tenang saja, Fika pasti akan membuat Ibu bangga. Fika akan kuliah dengan tekun."
...***...
Keesokan harinya, Rafika sudah siap dengan tas ransel dan tas tentengan di tangannya. Kiranti pun sudah siap dengan barang-barang yang akan dia bawa ke ibu kota. Mereka akan ikut bersama dengan Wa Kumis yang memang bekerja di ibu kota sebagai kuli bangunan.
Sofie dan kedua orang tua Kiranti hanya mengantar kedua anak gadisnya sampai di tempat pemberhentian mobil bis Widia yang akan mengantar mereka sampai ke Cikampek. Karena setibanya di pintu tol Cikampek, mereka harus berganti mobil yang menuju ke Jakarta.
"Ayo bersiap! Mobilnya sudah datang," suruh Wa Kumis memberi komando pada kedua gadis itu.
"Ibu, Fika berangkat dulu ya!" pamit Rafika dengan mencium punggung tangan ibunya.
Sofie langsung memeluk anak gadisnya. Air matanya pun luruh seketika. Berat rasanya dia melepaskan kepergian Rafika, tetapi demi cita-cita yang ingin diraih putrinya, dia pun berusaha mengikhlaskan putri satu-satunya merantau untuk mencari ilmu.
"Jaga diri baik-baik ya! Harus nurut kalau dibilangin sama Uwa," pesan Sofie.
"Iya, Bu!" sahut Rafika
Tidak jauh beda dari Rafika, Kiranti pun saling berpelukan dengan kedua orang tuanya. Sampai akhirnya mobil bis yang di tunggu datang, barulah mereka saling melepaskan pelukannya.
Sepanjang perjalanan ke ibu kota, Rafika hanya diam saja. Dia sedang merenungkan ucapan ibunya semalam. Sampai akhirnya Kiranti menyenggol tangannya.
"Fika, Fika, bukankah itu Kang Asep. Dia bertunangan dengan model yang sedang naik daun Caithlyn. Lihat pestanya meriah sekali," tunjuk Kiranti pada sebuah layar persegi yang ada di dekat supir.
"Iya, dia mungkin bukan jodoh aku." Suara Rafika terdengar bergetar menahan tangisnya. Seandainya saja dia bukan di dalam mobil. Mungkin Rafika menangis kencang untuk meluapkan rasa sakit hatinya.
"Sabar ya! Semoga saja kamu berjodoh dengan orang yang lebih baik dari Kang Asep," Kiranti memeluk Rafika untuk memberi kekuatan pada gadis itu. Dia mengelus lembut punggung Rafika dengan mata yang terus melihat ke arah layar kaca.
"Kenapa Kang Asep seperti tidak bahagia? Tidak seperti model cantik itu yang terlihat sangat bahagia," gumam Kiranti pelan.
Mendengar ucapan sahabatnya, Rafika pun jadi penasaran. Dia mendongak ke arah televisi dan terus melihat raut wajah Erlangga yang terlihat sangat tampan dengan balutan jas yang mengkilap tersorot cahaya lampu.
"Apa Kang Asep sudah bisa melihat lagi? Apa ingatan dia sudah kembali dan melupakan aku?"
"Mungkin saja operasinya sukses. Syukurlah usaha kita tidak sia-sia menyelamatkan dia. Sekarang Kang Asep sudah kembali menjadi dirinya sendiri."
"Iya, sudah tidak ada lagi Kang Asep. Dia Erlangga Bramantyo, bukan Kang Asep yang aku cintai. Semoga Akang bahagia di manapun berada," ucap Rafika pelan.
Setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan badan dan hatinya, akhirnya Rafika tiba di rumah kontrakan Wa Kumis. Sebuah rumah petak berukuran 4x3 meter. Hanya ada kamar tidur dan kamar mandi serta dapur kecil di dalamnya.
"Kalian tidur di sini. Uwa mau ikut tidur di kontrakan Mang Jhon. Besok, baru Uwa antar cari rumah kost yang dekat kampus," ucap Wa Kumis sebelum meninggalkan kedua gadis itu.
"Iya, Wa. Ini nasi padang-nya buat Uwa satu," ucap Rafika seraya memberikan satu bungkus nasi Padang yang dia beli tadi di jalan.
"Oh, iya. Uwa lapar sekali, ya sudah kalian juga makan. Uwa mau ke kontrakan Mang Jhon takut orangnya keburu pergi kerja," pamit Wa Kumis.
"Iya, Wa!" sahut kedua gadis itu secara bersamaan.
Selepas kepergian Wa Kumis, Rafika dan Kiranti pun beres-beres dulu di rumah kontrakan yang ditinggalkan hampir satu Minggu oleh pemiliknya. Setelah semuanya bersih, kedua gadis itu pun memilih untuk makan terlebih dahulu karena perut mereka yang sudah keroncongan.
"Fika, nanti kalau sudah dapat kost, kita cari kerja yuk! Sambil nunggu mulai kuliah. Kita cari yang part time aja," usul Kiranti.
"Boleh, deh! Daripada aku harus mikirin Kang Asep yang gak mikirin aku, lebih baik cari kesibukan yang menghasilkan uang. Benar gak?"
"Yoi, sist. Life must go on."
...~Bersambung~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Marliah
/Sob//Sob//Sob//Sob/novel mu buat aku menanggis...
2023-10-08
1
Ami batam
bagaikan pungguk yg merindukan bulan itulh yg kira kira Rafika rasa kan saat ini, tetapi nama ny jodoh ttp jadi rahasia yg di atas, walau sekuat apapun berusaha klo tidak berjodoh ttp akan terpisah,tetapi sebaliknya walaupun bnyk rintangan dan halangan di dpn klo mmng pada dasar ny Berjodoh, akan ada saja jalan untuk bertemu 🥰
2022-09-19
2
Hatija Lapengo Lapaola
semangat fika gak usa mikirin si bang asep dr pada pusing mendingan lupakan
2022-09-19
1