Bab 3 Ayo Pulang!

Seminggu sudah Erlangga berada di rumah Rafika. Meskipun pada awalnya tetangga Rafika sering berbisik-bisik di belakang Rafika dan ibunya, tetapi mereka tidak memperdulikannya. Kedua ibu dan anak itu dengan telaten merawat Erlangga. Selain dengan obat yang dibawa dari rumah sakit, mereka juga memberikan obat herbal pada Erlangga agar keadaan pemuda itu cepat membaik.

"Asep, jamunya sudah diminum?" tanya Sofie, ibunya Rafika.

"Sudah, Bu. Tadi pagi Fika sudah memberikannya padaku," jawab Erlangga yang biasa dipanggil Asep oleh ibunya Rafika.

"Oh, ya sudah. Ibu mau jualan keliling dulu. Biasa ibu-ibu di sini kalau tidak ditagih ke rumahnya, bayar hutangnya suka susah. Sebentar lagi, Fika juga pulang sekolah," ucap Sofie lagi.

Ibu Rafika memang memutuskan untuk menjanda semenjak kematian suaminya. Dia khawatir laki-laki yang menjadi suaminya nanti tidak menyayangi putrinya. Apalagi dia tahu betul sikap putrinya yang terkadang bersikap ajaib.

"Iya, Bu. Hati-hati, Bu!" pesan Erlangga.

Kasian sekali anak itu. Masih muda sudah tidak bisa melihat. Dia juga tidak tahu siapa dirinya sendiri. Semoga saja keluarganya cepat menemukan keberadaan dia. Kalau dilihat-lihat dari sikap dan penampilan dia, seperti bukan orang biasa seperti aku. Tutur katanya sangat lembut kalau berbicara pada orang tua, batin Sofie.

Tidak lama setelah kepergian Sofie, Rafika pun datang dari sekolahnya. Memang setiap hari gadis itu selalu pulang terlambat karena selain jarak sekolahnya yang jauh, dia juga harus ikut les terlebih dahulu di sekolahnya.

Setiap kali pulang ke rumah, gadis itu pasti datang dengan wajah kusut. Namun saat melihat wajah tampan Erlangga, senyum cerah kembali menghiasi wajahnya. Meskipun pada akhirnya dia kembali cemberut.

"Assalamu'alaikum," ucap Rafika saat memasuki rumahnya.

"Wa'alaikumsalam," jawab Erlangga yang sedang duduk di kursi tamu yang sudah usang termakan usia. "Baru pulang?" tanyanya kemudian.

"Iya, nih Kang! Males banget ikut les bikin otak ngebul disuruh isi semua soal-soal. Tega banget sih mereka," keluh Rafika seraya mencium punggung tangan Erlangga.

"Bukan mereka tega, tapi mereka sayang sama kamu. Sini duduk samping Akang! Biar Akang pijitin kepala kamu kalau pusing," suruh Erlangga.

Rafika hanya menurut dengan apa yang dikatakan oleh Erlangga. Dia langsung duduk di samping pemuda itu saat Erlangga bergeser ke samping. Dia pun mengambil tangan Erlangga dan menempelkan di kepalanya.

Perlahan Erlangga memijat kepala Rafika, membuat gadis itu terpejam keenakan. Semakin lama pijatan lembut Erlangga semakin membuat Rafika semakin tidak kuasa membuka matanya. Apalagi rasa lelah yang mendera membuat gadis itu tidak kuasa menahan kantuknya.

"Fika, kamu tidur?" tanya Erlangga setelah lebih dari tiga puluh menit dia memijat kepala dan pundak gadis itu.

Namun, sedikit pun Rafika tidak bergeming. Dia benar-benar terlelap dalam tidurnya. Erlangga oun akhir merebahkan kepala gadis itu ke pangkuannya.

Dia terus mengelus rambut panjang Rafika, menghirup aroma tubuh gadis yang tertidur di pangkuannya. Rasanya menenangkan saat wangi kayu putih bercampur keringat menyeruak ke indera penciumannya.

Terima kasih, Fika. Berkat pertolongan kamu, aku masih bisa menghirup udara bebas. Meskipun aku tidak ingat siapa aku sebenarnya. Tapi aku bahagia bisa mengenal kamu dan hidup bersama kamu, batin Erlangga.

Lama Rafika tertidur di pangkuan Erlangga sampai ibunya datang, dia masih terlelap tidur di sana. Sofie sempat terkaget saat melihat kedekatan mereka. Namun, sebisa mungkin dia menepis prasangka buruk.

"Fika, bangun! Anak gadis tidak boleh tidur sore-sore," ujar Sofie seraya menggoyangkan tubuh putrinya.

"Ibu sudah pulang? Tadi katanya Fika sakit kepala, makanya aku pijitin. Tapi malah ketiduran, mungkin dia lelah seharian belajar," jelas Erlangga.

"Maaf, Asep. Malah merepotkan kamu. Dia memang suka manja pada lelaki. Mungkin karena dia kangen dengan almarhum ayahnya." Sofie terus saja mencoba membangunkan Rafika. Namun gadis itu tetap saja tidak mau bangun.

"Fika ayo bangun! Nanti Akang ajari bagaimana mengerjakan soal-soal dengan mudah," ucap Erlangga dengan mengelus lembut pipi gadis itu.

Rafika pun seketika terbangun dari tidurnya. Dia merasa khawatir saat mendengar kata soal. Karena setiap hari dia dibuat stres dengan soal-soal yang diberikan oleh guru di sekolahnya. Apalagi kalau sudah soal Fisika, Matematika, Kimia. Membuat kepalanya mendadak keluar asap.

"Ayo mandi dulu! Pulang sekolah malah tidur di paha Asep. Kasian dia harus mencium bau badan kamu," ketus ibunya yang merasa tidak enak hati pada pemuda itu.

"Iya, iya Fika Mandi. Akang, nanti ajarin Fika ngerjain soal Fisika ya. Tadi ada PR," ucap Rafika sebelum beranjak pergi.

"Iya, nanti Akang ajari."

...***...

Seperti yang sudah disepakati, Rafika mengajak Erlangga ke tepi sungai yang ada di belakang rumahnya, untuk mengerjakan soal Fisika. Karena kalau malam, dia harus pergi ke surau untuk belajar mengaji.

Di bawah rindangnya pohon asam dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit. Keduanya terlihat serius mengerjakan soal yang diberikan guru Rafika. Meskipun Erlangga tidak bisa melihat, tetapi dia bisa mendikte jawaban dari setiap pertanyaan.

"Wah, Kang. Aku gak nyangka Akang pintar sekali. Pasti Akang sarjana makanya bisa mengerjakannya soal yang sulit begini," puji Rafika saat dia sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru.

"Mungkin juga. Fika kalau kamu lihat, kira-kira usia Akang berapa?" tanya Erlangga.

"Sudah pasti lebih tua dari aku. Aku saja mau delapan belas tahun nanti November. Apa Akang tiga puluh tahun ya! Atau baru dua puluh tahun. Nanti aku tanya ke ibu deh," jawab Rafika.

"Begitu ya!"

"Kenapa memangnya? Kho tanya umur segala?"

"Tidak apa. Akang hanya ingin tahu, apa Akang pantas ada di sisi kamu?"

"Maksudnya?" tanya Rafika yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Erlangga.

"Tidak ada, Fika! Kamu belajar yang rajin! Bukannya bulan depan sudah mulai ujian nasional," tanya Erlangga mengalihkan pembicaraan.

"Pasti, dong! Kan ada Akang yang ngajarin. Apa yang Akang jelasin dengan apa yang Pak Atlanta jelasin, aku lebih ngerti dengan apa yang akan jelasin."

Pastilah, yang jelasinnya cowok cakep. Rafika terkekeh sendiri dalam hatinya.

"Ya sudah, setiap sore kita belajar di sini. Akang suka suasananya, adem."

Gak tahu aja Kang Asep kalau malam jadi tempatnya jurig, lagi-lagi Rafika terkekeh sendiri dalam hatinya.

"Iya Kang. Asal Akang mau ngajarin, aku pasti ajak Akang ke sini."

Semenjak hari itu, Rafika dan Erlangga setiap hari menghabiskan waktu sorenya di sana. Dengan sabar Erlangga mengajari gadis itu yang terkadang nyeleneh. Namun berkat kesabarannya, Rafika jadi mudah menjawab setiap soal yang diberikan gurunya.

Sampai pada suatu hari, datang orang-orang dengan mobil mewah dan berjas rapi ke kampung Rafika. Mereka menanyakan tentang korban kecelakaan yang hanyut dibawa sungai. Setelah memberikan fotonya, barulah salah seorang warga menunjukkan rumah Rafika.

"Permisi!" sapa orang yang berjas mahal itu.

Sofie yang baru datang dari pasar, langsung membukakan pintu rumahnya. Dia sangat terkejut melihat tamu yang datang. Dengan gugup, dia pun bertanya. "Maaf mau mencari siapa, Tuan?"

"Apa Ibu tahu dengan orang yang ada di dalam foto ini?" tanya orang itu.

"I-ini kan Asep. Dia orang yang telah diselamatkan oleh putri saya," jawab Sofie semakin gugup.

"Boleh kami bertemu dengannya. Saya Kakeknya."

"Silakan masuk, Tuan!"

"Terima kasih."

Kedua orang yang berjas mahal itu langsung masuk ke dalam rumah Rafika. Mereka mengedarkan pandangan melihat ke sekeliling rumah yang sudah tua itu. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang ingin duduk di kursi yang sudah usang itu.

"Sebentar Tuan saya panggilkan Asep dulu," ucap Sofie. Dia bergegas masuk ke dalam kamar kecil yang ditempati oleh Erlangga.

"Siapa mereka, Bu?" tanya Erlangga saat terdengar suara pintu yang dibuka oleh Sofie.

"Sepertinya mereka keluarga kamu. Ayo menemui mereka dulu!" ajak Sofie.

Pria kharismatik dengan setelan jas mewah langsung memeluk Erlangga saat dia dan Sofie keluar dari kamar. Pria paruh baya itu terlihat sangat bahagia saat melihat cucunya ternyata masih hidup. Begitupun dengan dengan pemuda seusia cucunya yang selama ini mencari keberadaan Erlangga.

"Elang, ayo kita pulang!"

...~Bersambung~...

...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Langsung saja klik like, comment, rate, gift dan favorite....

...Terima kasih....

Terpopuler

Comments

Ami batam

Ami batam

karakter nya rafika mengingatkan pada Shaka,tomboy, sedikit bar bar, dan suka ceplas-ceplos klo ngomong ☺tapi baek hati dan tidak sombong😘

2022-09-07

4

Edelweiss

Edelweiss

lanjut thor

2022-09-07

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2 Bab 2 Aku Tidak Ingat
3 Bab 3 Ayo Pulang!
4 Bab 4 Menolak Ikut
5 Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6 Bab 6 Memancing Ikan
7 Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8 Bab 8 Bukti Kuat
9 Bab 9 Periksa Mata
10 Bab 10 Suka dan Duka
11 Bab 11 Rencana Operasi
12 Bab 12 Malam Terakhir
13 Bab 13 Berpisah
14 Bab 14 Ujian
15 Bab 15 Membaik
16 Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17 Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18 Bab 18 Kelulusan
19 Bab 19 Life Must Go On
20 Bab 20 Move On
21 Bab 21 Dia Berbeda
22 Bab 22 Bos Aneh
23 Bab 23 Makan Bersama
24 Bab 24 Mungkinkah dia?
25 Bab 25 Tertidur Di Bahu
26 Bab 26 Langit dan Bumi
27 Bab 27 Melepaskan Perasaan
28 Bab 28 Pura-pura Sakit
29 Bab 29 Dipanggil Bos
30 Bab 30 Bonus
31 Bab 31 Mabuk
32 Bab 32 Peringatan Calvin
33 Bab 33 Berdamai
34 Bab 34 Bibir Kamu Manis
35 Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36 Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37 Bab 37 Cicilan
38 Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39 Bab 39 Tawaran Erlangga
40 Bab 40 Kembali Bersama
41 Bab 41 Cokelat Cinta
42 Bab 42 Menyamar
43 Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44 Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45 Bab 45 Menguntit
46 Bab 46 Mencari Rafika
47 Bab 47 Belajar Realistis
48 Bab 48 Lamaran
49 Bab 49 Ganti Rugi
50 Bab 50 Gugurkan anak itu!
51 Bab 51 Cukup, Kakek!
52 Bab 52 Keputusan Kakek
53 Bab 53 Serah Terima Jabatan
54 Bab 54 Dihadang Penguntit
55 Bab 55 Rahasia Rafika
56 Bab 56 Terciduk
57 Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58 Bab 58 Sah
59 Bab 59 Malam Pengantin
60 Bab 60 Palang Merah
61 Bab 61 Lupakan!
62 Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63 Bab 63 Rencana Yang Sukses
64 Bab 64 Salah Mencintai
65 Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66 Bab 66 Pulang
67 Bab 67 Terungkap Fakta
68 Bab 68 Permintaan Kakek
69 Bab 69 Kenapa harus malu?
70 Bab 70 Gara-gara Rafika
71 Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72 Bab 72 Manjanya Rafika
73 Bab 73 Peringatan Fika
74 Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75 Bab 75 Mual di Pagi Hari
76 Bab 76 Periksa Kandungan
77 Bab 77 Makan Siang
78 Bab 78 Kiran Jatuh
79 Bab 79 Azab
80 Bab 80 Kemarahan Erlangga
81 Bab 81 Rumput Fatimah
82 Bab 82 Kontraksi
83 Bab 83 Koma
84 Bab 84 Pelajaran Berharga
85 Bab 85 Syukuran
86 Bab 86 Buka Puasa
87 Bab 87 Calvin Pingsan
88 Bab 88 Bang, lihat apa?
89 Bab 89 Ghibah
90 Bab 90 Berlibur Bersama
91 Bab 91 Sunrise
92 Bab 92 Puber Kedua
93 Bab 93 Terima Kasih ( End )
94 Promo Mainan CEO Arogant
95 Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2
Bab 2 Aku Tidak Ingat
3
Bab 3 Ayo Pulang!
4
Bab 4 Menolak Ikut
5
Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6
Bab 6 Memancing Ikan
7
Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8
Bab 8 Bukti Kuat
9
Bab 9 Periksa Mata
10
Bab 10 Suka dan Duka
11
Bab 11 Rencana Operasi
12
Bab 12 Malam Terakhir
13
Bab 13 Berpisah
14
Bab 14 Ujian
15
Bab 15 Membaik
16
Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17
Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18
Bab 18 Kelulusan
19
Bab 19 Life Must Go On
20
Bab 20 Move On
21
Bab 21 Dia Berbeda
22
Bab 22 Bos Aneh
23
Bab 23 Makan Bersama
24
Bab 24 Mungkinkah dia?
25
Bab 25 Tertidur Di Bahu
26
Bab 26 Langit dan Bumi
27
Bab 27 Melepaskan Perasaan
28
Bab 28 Pura-pura Sakit
29
Bab 29 Dipanggil Bos
30
Bab 30 Bonus
31
Bab 31 Mabuk
32
Bab 32 Peringatan Calvin
33
Bab 33 Berdamai
34
Bab 34 Bibir Kamu Manis
35
Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36
Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37
Bab 37 Cicilan
38
Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39
Bab 39 Tawaran Erlangga
40
Bab 40 Kembali Bersama
41
Bab 41 Cokelat Cinta
42
Bab 42 Menyamar
43
Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44
Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45
Bab 45 Menguntit
46
Bab 46 Mencari Rafika
47
Bab 47 Belajar Realistis
48
Bab 48 Lamaran
49
Bab 49 Ganti Rugi
50
Bab 50 Gugurkan anak itu!
51
Bab 51 Cukup, Kakek!
52
Bab 52 Keputusan Kakek
53
Bab 53 Serah Terima Jabatan
54
Bab 54 Dihadang Penguntit
55
Bab 55 Rahasia Rafika
56
Bab 56 Terciduk
57
Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58
Bab 58 Sah
59
Bab 59 Malam Pengantin
60
Bab 60 Palang Merah
61
Bab 61 Lupakan!
62
Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63
Bab 63 Rencana Yang Sukses
64
Bab 64 Salah Mencintai
65
Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66
Bab 66 Pulang
67
Bab 67 Terungkap Fakta
68
Bab 68 Permintaan Kakek
69
Bab 69 Kenapa harus malu?
70
Bab 70 Gara-gara Rafika
71
Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72
Bab 72 Manjanya Rafika
73
Bab 73 Peringatan Fika
74
Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75
Bab 75 Mual di Pagi Hari
76
Bab 76 Periksa Kandungan
77
Bab 77 Makan Siang
78
Bab 78 Kiran Jatuh
79
Bab 79 Azab
80
Bab 80 Kemarahan Erlangga
81
Bab 81 Rumput Fatimah
82
Bab 82 Kontraksi
83
Bab 83 Koma
84
Bab 84 Pelajaran Berharga
85
Bab 85 Syukuran
86
Bab 86 Buka Puasa
87
Bab 87 Calvin Pingsan
88
Bab 88 Bang, lihat apa?
89
Bab 89 Ghibah
90
Bab 90 Berlibur Bersama
91
Bab 91 Sunrise
92
Bab 92 Puber Kedua
93
Bab 93 Terima Kasih ( End )
94
Promo Mainan CEO Arogant
95
Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!