Seminggu sudah Erlangga berada di rumah Rafika. Meskipun pada awalnya tetangga Rafika sering berbisik-bisik di belakang Rafika dan ibunya, tetapi mereka tidak memperdulikannya. Kedua ibu dan anak itu dengan telaten merawat Erlangga. Selain dengan obat yang dibawa dari rumah sakit, mereka juga memberikan obat herbal pada Erlangga agar keadaan pemuda itu cepat membaik.
"Asep, jamunya sudah diminum?" tanya Sofie, ibunya Rafika.
"Sudah, Bu. Tadi pagi Fika sudah memberikannya padaku," jawab Erlangga yang biasa dipanggil Asep oleh ibunya Rafika.
"Oh, ya sudah. Ibu mau jualan keliling dulu. Biasa ibu-ibu di sini kalau tidak ditagih ke rumahnya, bayar hutangnya suka susah. Sebentar lagi, Fika juga pulang sekolah," ucap Sofie lagi.
Ibu Rafika memang memutuskan untuk menjanda semenjak kematian suaminya. Dia khawatir laki-laki yang menjadi suaminya nanti tidak menyayangi putrinya. Apalagi dia tahu betul sikap putrinya yang terkadang bersikap ajaib.
"Iya, Bu. Hati-hati, Bu!" pesan Erlangga.
Kasian sekali anak itu. Masih muda sudah tidak bisa melihat. Dia juga tidak tahu siapa dirinya sendiri. Semoga saja keluarganya cepat menemukan keberadaan dia. Kalau dilihat-lihat dari sikap dan penampilan dia, seperti bukan orang biasa seperti aku. Tutur katanya sangat lembut kalau berbicara pada orang tua, batin Sofie.
Tidak lama setelah kepergian Sofie, Rafika pun datang dari sekolahnya. Memang setiap hari gadis itu selalu pulang terlambat karena selain jarak sekolahnya yang jauh, dia juga harus ikut les terlebih dahulu di sekolahnya.
Setiap kali pulang ke rumah, gadis itu pasti datang dengan wajah kusut. Namun saat melihat wajah tampan Erlangga, senyum cerah kembali menghiasi wajahnya. Meskipun pada akhirnya dia kembali cemberut.
"Assalamu'alaikum," ucap Rafika saat memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Erlangga yang sedang duduk di kursi tamu yang sudah usang termakan usia. "Baru pulang?" tanyanya kemudian.
"Iya, nih Kang! Males banget ikut les bikin otak ngebul disuruh isi semua soal-soal. Tega banget sih mereka," keluh Rafika seraya mencium punggung tangan Erlangga.
"Bukan mereka tega, tapi mereka sayang sama kamu. Sini duduk samping Akang! Biar Akang pijitin kepala kamu kalau pusing," suruh Erlangga.
Rafika hanya menurut dengan apa yang dikatakan oleh Erlangga. Dia langsung duduk di samping pemuda itu saat Erlangga bergeser ke samping. Dia pun mengambil tangan Erlangga dan menempelkan di kepalanya.
Perlahan Erlangga memijat kepala Rafika, membuat gadis itu terpejam keenakan. Semakin lama pijatan lembut Erlangga semakin membuat Rafika semakin tidak kuasa membuka matanya. Apalagi rasa lelah yang mendera membuat gadis itu tidak kuasa menahan kantuknya.
"Fika, kamu tidur?" tanya Erlangga setelah lebih dari tiga puluh menit dia memijat kepala dan pundak gadis itu.
Namun, sedikit pun Rafika tidak bergeming. Dia benar-benar terlelap dalam tidurnya. Erlangga oun akhir merebahkan kepala gadis itu ke pangkuannya.
Dia terus mengelus rambut panjang Rafika, menghirup aroma tubuh gadis yang tertidur di pangkuannya. Rasanya menenangkan saat wangi kayu putih bercampur keringat menyeruak ke indera penciumannya.
Terima kasih, Fika. Berkat pertolongan kamu, aku masih bisa menghirup udara bebas. Meskipun aku tidak ingat siapa aku sebenarnya. Tapi aku bahagia bisa mengenal kamu dan hidup bersama kamu, batin Erlangga.
Lama Rafika tertidur di pangkuan Erlangga sampai ibunya datang, dia masih terlelap tidur di sana. Sofie sempat terkaget saat melihat kedekatan mereka. Namun, sebisa mungkin dia menepis prasangka buruk.
"Fika, bangun! Anak gadis tidak boleh tidur sore-sore," ujar Sofie seraya menggoyangkan tubuh putrinya.
"Ibu sudah pulang? Tadi katanya Fika sakit kepala, makanya aku pijitin. Tapi malah ketiduran, mungkin dia lelah seharian belajar," jelas Erlangga.
"Maaf, Asep. Malah merepotkan kamu. Dia memang suka manja pada lelaki. Mungkin karena dia kangen dengan almarhum ayahnya." Sofie terus saja mencoba membangunkan Rafika. Namun gadis itu tetap saja tidak mau bangun.
"Fika ayo bangun! Nanti Akang ajari bagaimana mengerjakan soal-soal dengan mudah," ucap Erlangga dengan mengelus lembut pipi gadis itu.
Rafika pun seketika terbangun dari tidurnya. Dia merasa khawatir saat mendengar kata soal. Karena setiap hari dia dibuat stres dengan soal-soal yang diberikan oleh guru di sekolahnya. Apalagi kalau sudah soal Fisika, Matematika, Kimia. Membuat kepalanya mendadak keluar asap.
"Ayo mandi dulu! Pulang sekolah malah tidur di paha Asep. Kasian dia harus mencium bau badan kamu," ketus ibunya yang merasa tidak enak hati pada pemuda itu.
"Iya, iya Fika Mandi. Akang, nanti ajarin Fika ngerjain soal Fisika ya. Tadi ada PR," ucap Rafika sebelum beranjak pergi.
"Iya, nanti Akang ajari."
...***...
Seperti yang sudah disepakati, Rafika mengajak Erlangga ke tepi sungai yang ada di belakang rumahnya, untuk mengerjakan soal Fisika. Karena kalau malam, dia harus pergi ke surau untuk belajar mengaji.
Di bawah rindangnya pohon asam dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit. Keduanya terlihat serius mengerjakan soal yang diberikan guru Rafika. Meskipun Erlangga tidak bisa melihat, tetapi dia bisa mendikte jawaban dari setiap pertanyaan.
"Wah, Kang. Aku gak nyangka Akang pintar sekali. Pasti Akang sarjana makanya bisa mengerjakannya soal yang sulit begini," puji Rafika saat dia sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru.
"Mungkin juga. Fika kalau kamu lihat, kira-kira usia Akang berapa?" tanya Erlangga.
"Sudah pasti lebih tua dari aku. Aku saja mau delapan belas tahun nanti November. Apa Akang tiga puluh tahun ya! Atau baru dua puluh tahun. Nanti aku tanya ke ibu deh," jawab Rafika.
"Begitu ya!"
"Kenapa memangnya? Kho tanya umur segala?"
"Tidak apa. Akang hanya ingin tahu, apa Akang pantas ada di sisi kamu?"
"Maksudnya?" tanya Rafika yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Erlangga.
"Tidak ada, Fika! Kamu belajar yang rajin! Bukannya bulan depan sudah mulai ujian nasional," tanya Erlangga mengalihkan pembicaraan.
"Pasti, dong! Kan ada Akang yang ngajarin. Apa yang Akang jelasin dengan apa yang Pak Atlanta jelasin, aku lebih ngerti dengan apa yang akan jelasin."
Pastilah, yang jelasinnya cowok cakep. Rafika terkekeh sendiri dalam hatinya.
"Ya sudah, setiap sore kita belajar di sini. Akang suka suasananya, adem."
Gak tahu aja Kang Asep kalau malam jadi tempatnya jurig, lagi-lagi Rafika terkekeh sendiri dalam hatinya.
"Iya Kang. Asal Akang mau ngajarin, aku pasti ajak Akang ke sini."
Semenjak hari itu, Rafika dan Erlangga setiap hari menghabiskan waktu sorenya di sana. Dengan sabar Erlangga mengajari gadis itu yang terkadang nyeleneh. Namun berkat kesabarannya, Rafika jadi mudah menjawab setiap soal yang diberikan gurunya.
Sampai pada suatu hari, datang orang-orang dengan mobil mewah dan berjas rapi ke kampung Rafika. Mereka menanyakan tentang korban kecelakaan yang hanyut dibawa sungai. Setelah memberikan fotonya, barulah salah seorang warga menunjukkan rumah Rafika.
"Permisi!" sapa orang yang berjas mahal itu.
Sofie yang baru datang dari pasar, langsung membukakan pintu rumahnya. Dia sangat terkejut melihat tamu yang datang. Dengan gugup, dia pun bertanya. "Maaf mau mencari siapa, Tuan?"
"Apa Ibu tahu dengan orang yang ada di dalam foto ini?" tanya orang itu.
"I-ini kan Asep. Dia orang yang telah diselamatkan oleh putri saya," jawab Sofie semakin gugup.
"Boleh kami bertemu dengannya. Saya Kakeknya."
"Silakan masuk, Tuan!"
"Terima kasih."
Kedua orang yang berjas mahal itu langsung masuk ke dalam rumah Rafika. Mereka mengedarkan pandangan melihat ke sekeliling rumah yang sudah tua itu. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang ingin duduk di kursi yang sudah usang itu.
"Sebentar Tuan saya panggilkan Asep dulu," ucap Sofie. Dia bergegas masuk ke dalam kamar kecil yang ditempati oleh Erlangga.
"Siapa mereka, Bu?" tanya Erlangga saat terdengar suara pintu yang dibuka oleh Sofie.
"Sepertinya mereka keluarga kamu. Ayo menemui mereka dulu!" ajak Sofie.
Pria kharismatik dengan setelan jas mewah langsung memeluk Erlangga saat dia dan Sofie keluar dari kamar. Pria paruh baya itu terlihat sangat bahagia saat melihat cucunya ternyata masih hidup. Begitupun dengan dengan pemuda seusia cucunya yang selama ini mencari keberadaan Erlangga.
"Elang, ayo kita pulang!"
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Langsung saja klik like, comment, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ami batam
karakter nya rafika mengingatkan pada Shaka,tomboy, sedikit bar bar, dan suka ceplas-ceplos klo ngomong ☺tapi baek hati dan tidak sombong😘
2022-09-07
4
Edelweiss
lanjut thor
2022-09-07
1