Bab 5 Kang, rujakan yuk!

Sore hari menjelang, semburat jingga menghiasi angkasa. Fika yang diminta tolong oleh uwanya membuat kue, dengan senang hati membantunya. Bukan tanpa sebab dia begitu senang membantu uwanya. Karena setelah pekerjaan uwanya selesai, pasti dia akan diberi uang jajan.

"Fika, nanti kalau sudah selesai mengayak tepung, kamu petik jambu air saja. Sayang banyak yang jatuh dimakan kelelawar," suruh Wa Enok, kakak perempuan almarhum ayah Fika.

"Siap, Wa!" sahut Fika.

"Oh, iya! Tadi si Asep dibawa pulang oleh kelurganya ya?" tanya Wa Enok yang mulai kepo.

"Masih ada kho! Memang tadi ada yang datang ke rumah? Ibu sama Kang Asep gak cerita apa-apa."

"Ada dua orang, Uwa lihat mereka bawa mobilnya bagus banget, mengkilap. Mereka juga pakai jas yang bagus sekali. Seperti bos di kantoran begitu," ucap Wa Enok mulai bercerita.

"Gitu, ya Wa. Nanti deh Fika tanyain. Ini sudah selesai, Fika petik jambu dulu ya Wa," pamit Rafika.

"Bawa keranjangnya sekalian Fika. Biar gak ada yang jatuh," ucap Wa Enok.

"Iya, Wa!" sahut Rafika seraya menyambar keranjang belanja untuk tempat jambu yang dia petik nanti.

Tanpa rasa takut sedikit pun, Rafika menaiki pohon jambu air yang lumayan besar dan tinggi. Dia berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain untuk untuk mencari jambu air yang sudah besar. Memang sudah tidak aneh lagi untuk gadis itu menaklukkan tiap pohon yang ingin dipanjatnya. Saat keranjang yang sudah dia isi jambu terlihat penuh, Rafika pun berteriak agar uwanya melemparkan tali untuk menggerek keranjang yang penuh dengan jambu air.

"Kami mah kebiasaan bukannya disiapkan talinya," gerutu Wa Enok.

"Sini Wa, biar sama Kiran aja." Kiranti yang baru datang langsung melemparkan tali ke atas. Dengan sigap Rafika pun menangkap tali itu.

"Kiran gerek!" teriak Rafika setelah mengikatkan tali itu pada keranjang. Dia pun langsung turun karena tidak ada lagi jambu yang besar dan matang.

"Fika, Zaenal nungguin di jembatan," bisik Kiranti saat gadis itu sedang menepuk-nepuk badannya.

"Ngapain?"

"Gak tahu, ke sana yuk!"

"Gak akh, aku mau ngajak Kang Asep rujakan. Kamu mau ikutan gak?"

"Aku mau ketemu Zaenal dulu. Dia sama Baim ke sininya," ucap Kiranti.

"Ya udah kamu saja, aku gak mau ikut. Bosa melihat mereka berdua. Udah di sekolah, di rumah juga harus ketemu gitu?"

Rafika berlalu pergi meninggalkan Kiranti. Dia memberikan keranjang itu pada uwanya, setelah sebelumnya mengambil jambu air yang dia inginkan. Akan tetapi, Rafika masih merasa ourang jika hanya jambu air buat dibikin rujak, dia pun kembali memanjat pohon kedondong yang ada di belakang rumahnya. Setelah mendapatkan beberapa buah kedondong, dia kembali turun untuk menemui ibunya yang sedang memasak di dapur.

"Bu, tolong buatkan bumbu rujak! Aku mau mengupas kedondong dulu," pinta Rafika.

"Belajar bikin sendiri Fika. Nanti kalau udah punya suami mau bagaimana kalau kamu tidak bisa masak tida bisa bikin sambal."

"Ibu, kenapa dibikin pusing? Warung makan kan banyak, warteg juga banyak. Lagipula ada ibu yang pinter masak."

"Kamu mah dibilangin teh, pinter banget jawabnya," ucap Sofie seraya mengulek sambal rujak.

Dia memang sering kali mengajak Rafika untuk belajar memasak, tetapi putrinya itu selalu pintar membuat alasan. Setelah bumbu rujak dan buahnya sudah di iris, Rafika pun membawanya ke ruang depan. Nampak Asep sedang duduk sendiri di sana.

"Kang, rujakan yuk!" ajak Rafika seraya menyimpan cobek dan piring buah. "Bentar aku ambil piring dan garpu buat Akang."

Aku lupa kalau Kang Asep gak bisa melihat. Bisa-bisa nanti dia salah mencolek sambal. Malah aku yang dia colek. Tapi gak apa lah aku dicolek dikit, kekeh Rafika dalam hati.

Selesai Rafika menyiapkan rujak untuk Erlangga, dia pun mulai memakan rujak buatan ibunya. Memang sangat pas di lidah setiap olahan makanan hasil ibunya, sehingga Rafika merasa enggan kalau harus memasak karena rasanya tidak karu-karuan.

"Kang, katanya tadi ada yang jemput Akang ya?" tanya Rafika di sela-sela makan rujaknya.

"Iya, katanya dia kakek Akang."

"Kenapa Akang gak ikut? Mungkin kalau ikut, nanti Akang bisa diobati dengan benar. Kata Wa Enok, mereka orang kaya. Berarti Akang juga orang kaya dong. Aku gak tega melihat keadaan Akang yang belum membaik juga. Padahal sudah mencoba memakai obat herbal juga."

"Fika, apa kamu ingin Akang pergi dari sini?" tanya Erlangga yang merasa tersinggung dengan ucapan Rafika.

"Bukan begitu maksud aku."

"Apa kehadiran Akang membebani kamu? Apa Akang membatasi kebebasan kamu bergaul dengan teman-teman kamu karena harus menemani Akang?"

"Bukan begitu maksud aku, Kang." sentak Rafika.

"Maaf, Akang sudah menjadi beban hidup kamu."

"Dengar dulu, Kang. Maksud Fika, kalau Akang ikut dengan mereka, mungkin Akang bisa melihat kembali, Ingatan Akang juga bisa kembali. Kata Uwa, keluarga Akang orang kaya, mereka pasti bisa memberikan pengobatan yang terbaik untuk Akang. Tidak seperti di sini, yang diobati dengan obat-obat seadanya."

Memang benar apa yang dia katakan, tapi aku merasa bahagia berada di sini. Meskipun aku tidak bisa melihat dan ingatan aku juga belum kembali. Aku merasa sangat enggan pergi dari rumah ini. Aku takut, saat mataku sudah bisa melihat, ingatanku sudah kembali, aku tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti sekarang saat aku bersama dengan Fika dan Bu Sofie, batin Erlangga.

"Kang, bukankah nanti kita juga bisa bertemu lagi saat Akang sudah bisa melihat dan ingatan Akang sudah kembali. Kalau orang kaya itu mau mengobati Akang, Fika minta Akang jangan menolaknya. Semua itu demi kebaikan Akang," ucap Fika dengan memelankan suaranya.

"Bagaimana jika nanti saat ingatan Akang kembali, Akang tidak bisa mengingat kamu?"

"Aku akan berusaha mengingatkan Akang kalau Akang pernah bertemu dengan aku Rafika The Warrior Princess."

"Akang akan menyimpan semua tentang kamu di hati Akang. Agar saat ingatan Akang kembali dan tidak mengenali kamu, hati Akang yang akan mengenali kamu. Seorang gadis berhati malaikat yang telah menyelamatkan nyawa Akang."

"Akang bisa aja gombalnya," ucap Rafika dengan memukul tangan Erlangga hingga piring rujak yang sedang dipegang oleh Erlangga menjadi tumpah. Secepatnya gadis itu membersihkan tumpahan rujak yang mengotori baju Erlangga.

"Sudah, Fika gak apa. Sebentar lagi Akang mandi. Bukankah sekarang sudah sore?"

"Eh, iya. Aku ganti ya Kang rujaknya."

Aku akan selalu menyimpan kamu di hatiku Fika. Seorang gadis yang telah mengetuk pintu hatiku. Seorang gadis yang aku sukai dalam gelap. Meskipun aku tidak pernah tahu bagaimana rupa kamu, tapi aku yakin kalau paras kamu pasti secantik hatimu, batin Erlangga.

...~Bersambung~...

...Jangan lupa dukungannya ya Kawan!...

Terpopuler

Comments

Hatija Lapengo Lapaola

Hatija Lapengo Lapaola

perbanyak upx dlm.swhari

2022-09-11

2

Ami batam

Ami batam

sayang ny skr elang buta jadi tidak bisa melihat wajah cantiknya rafika, gmn nnti pas sembuh dari kebutaan dan amnesia elang, apakah nnti dia akan mengenali wajah cantik ny fika

2022-09-11

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2 Bab 2 Aku Tidak Ingat
3 Bab 3 Ayo Pulang!
4 Bab 4 Menolak Ikut
5 Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6 Bab 6 Memancing Ikan
7 Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8 Bab 8 Bukti Kuat
9 Bab 9 Periksa Mata
10 Bab 10 Suka dan Duka
11 Bab 11 Rencana Operasi
12 Bab 12 Malam Terakhir
13 Bab 13 Berpisah
14 Bab 14 Ujian
15 Bab 15 Membaik
16 Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17 Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18 Bab 18 Kelulusan
19 Bab 19 Life Must Go On
20 Bab 20 Move On
21 Bab 21 Dia Berbeda
22 Bab 22 Bos Aneh
23 Bab 23 Makan Bersama
24 Bab 24 Mungkinkah dia?
25 Bab 25 Tertidur Di Bahu
26 Bab 26 Langit dan Bumi
27 Bab 27 Melepaskan Perasaan
28 Bab 28 Pura-pura Sakit
29 Bab 29 Dipanggil Bos
30 Bab 30 Bonus
31 Bab 31 Mabuk
32 Bab 32 Peringatan Calvin
33 Bab 33 Berdamai
34 Bab 34 Bibir Kamu Manis
35 Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36 Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37 Bab 37 Cicilan
38 Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39 Bab 39 Tawaran Erlangga
40 Bab 40 Kembali Bersama
41 Bab 41 Cokelat Cinta
42 Bab 42 Menyamar
43 Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44 Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45 Bab 45 Menguntit
46 Bab 46 Mencari Rafika
47 Bab 47 Belajar Realistis
48 Bab 48 Lamaran
49 Bab 49 Ganti Rugi
50 Bab 50 Gugurkan anak itu!
51 Bab 51 Cukup, Kakek!
52 Bab 52 Keputusan Kakek
53 Bab 53 Serah Terima Jabatan
54 Bab 54 Dihadang Penguntit
55 Bab 55 Rahasia Rafika
56 Bab 56 Terciduk
57 Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58 Bab 58 Sah
59 Bab 59 Malam Pengantin
60 Bab 60 Palang Merah
61 Bab 61 Lupakan!
62 Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63 Bab 63 Rencana Yang Sukses
64 Bab 64 Salah Mencintai
65 Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66 Bab 66 Pulang
67 Bab 67 Terungkap Fakta
68 Bab 68 Permintaan Kakek
69 Bab 69 Kenapa harus malu?
70 Bab 70 Gara-gara Rafika
71 Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72 Bab 72 Manjanya Rafika
73 Bab 73 Peringatan Fika
74 Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75 Bab 75 Mual di Pagi Hari
76 Bab 76 Periksa Kandungan
77 Bab 77 Makan Siang
78 Bab 78 Kiran Jatuh
79 Bab 79 Azab
80 Bab 80 Kemarahan Erlangga
81 Bab 81 Rumput Fatimah
82 Bab 82 Kontraksi
83 Bab 83 Koma
84 Bab 84 Pelajaran Berharga
85 Bab 85 Syukuran
86 Bab 86 Buka Puasa
87 Bab 87 Calvin Pingsan
88 Bab 88 Bang, lihat apa?
89 Bab 89 Ghibah
90 Bab 90 Berlibur Bersama
91 Bab 91 Sunrise
92 Bab 92 Puber Kedua
93 Bab 93 Terima Kasih ( End )
94 Promo Mainan CEO Arogant
95 Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2
Bab 2 Aku Tidak Ingat
3
Bab 3 Ayo Pulang!
4
Bab 4 Menolak Ikut
5
Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6
Bab 6 Memancing Ikan
7
Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8
Bab 8 Bukti Kuat
9
Bab 9 Periksa Mata
10
Bab 10 Suka dan Duka
11
Bab 11 Rencana Operasi
12
Bab 12 Malam Terakhir
13
Bab 13 Berpisah
14
Bab 14 Ujian
15
Bab 15 Membaik
16
Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17
Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18
Bab 18 Kelulusan
19
Bab 19 Life Must Go On
20
Bab 20 Move On
21
Bab 21 Dia Berbeda
22
Bab 22 Bos Aneh
23
Bab 23 Makan Bersama
24
Bab 24 Mungkinkah dia?
25
Bab 25 Tertidur Di Bahu
26
Bab 26 Langit dan Bumi
27
Bab 27 Melepaskan Perasaan
28
Bab 28 Pura-pura Sakit
29
Bab 29 Dipanggil Bos
30
Bab 30 Bonus
31
Bab 31 Mabuk
32
Bab 32 Peringatan Calvin
33
Bab 33 Berdamai
34
Bab 34 Bibir Kamu Manis
35
Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36
Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37
Bab 37 Cicilan
38
Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39
Bab 39 Tawaran Erlangga
40
Bab 40 Kembali Bersama
41
Bab 41 Cokelat Cinta
42
Bab 42 Menyamar
43
Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44
Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45
Bab 45 Menguntit
46
Bab 46 Mencari Rafika
47
Bab 47 Belajar Realistis
48
Bab 48 Lamaran
49
Bab 49 Ganti Rugi
50
Bab 50 Gugurkan anak itu!
51
Bab 51 Cukup, Kakek!
52
Bab 52 Keputusan Kakek
53
Bab 53 Serah Terima Jabatan
54
Bab 54 Dihadang Penguntit
55
Bab 55 Rahasia Rafika
56
Bab 56 Terciduk
57
Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58
Bab 58 Sah
59
Bab 59 Malam Pengantin
60
Bab 60 Palang Merah
61
Bab 61 Lupakan!
62
Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63
Bab 63 Rencana Yang Sukses
64
Bab 64 Salah Mencintai
65
Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66
Bab 66 Pulang
67
Bab 67 Terungkap Fakta
68
Bab 68 Permintaan Kakek
69
Bab 69 Kenapa harus malu?
70
Bab 70 Gara-gara Rafika
71
Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72
Bab 72 Manjanya Rafika
73
Bab 73 Peringatan Fika
74
Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75
Bab 75 Mual di Pagi Hari
76
Bab 76 Periksa Kandungan
77
Bab 77 Makan Siang
78
Bab 78 Kiran Jatuh
79
Bab 79 Azab
80
Bab 80 Kemarahan Erlangga
81
Bab 81 Rumput Fatimah
82
Bab 82 Kontraksi
83
Bab 83 Koma
84
Bab 84 Pelajaran Berharga
85
Bab 85 Syukuran
86
Bab 86 Buka Puasa
87
Bab 87 Calvin Pingsan
88
Bab 88 Bang, lihat apa?
89
Bab 89 Ghibah
90
Bab 90 Berlibur Bersama
91
Bab 91 Sunrise
92
Bab 92 Puber Kedua
93
Bab 93 Terima Kasih ( End )
94
Promo Mainan CEO Arogant
95
Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!