Sore hari menjelang, semburat jingga menghiasi angkasa. Fika yang diminta tolong oleh uwanya membuat kue, dengan senang hati membantunya. Bukan tanpa sebab dia begitu senang membantu uwanya. Karena setelah pekerjaan uwanya selesai, pasti dia akan diberi uang jajan.
"Fika, nanti kalau sudah selesai mengayak tepung, kamu petik jambu air saja. Sayang banyak yang jatuh dimakan kelelawar," suruh Wa Enok, kakak perempuan almarhum ayah Fika.
"Siap, Wa!" sahut Fika.
"Oh, iya! Tadi si Asep dibawa pulang oleh kelurganya ya?" tanya Wa Enok yang mulai kepo.
"Masih ada kho! Memang tadi ada yang datang ke rumah? Ibu sama Kang Asep gak cerita apa-apa."
"Ada dua orang, Uwa lihat mereka bawa mobilnya bagus banget, mengkilap. Mereka juga pakai jas yang bagus sekali. Seperti bos di kantoran begitu," ucap Wa Enok mulai bercerita.
"Gitu, ya Wa. Nanti deh Fika tanyain. Ini sudah selesai, Fika petik jambu dulu ya Wa," pamit Rafika.
"Bawa keranjangnya sekalian Fika. Biar gak ada yang jatuh," ucap Wa Enok.
"Iya, Wa!" sahut Rafika seraya menyambar keranjang belanja untuk tempat jambu yang dia petik nanti.
Tanpa rasa takut sedikit pun, Rafika menaiki pohon jambu air yang lumayan besar dan tinggi. Dia berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain untuk untuk mencari jambu air yang sudah besar. Memang sudah tidak aneh lagi untuk gadis itu menaklukkan tiap pohon yang ingin dipanjatnya. Saat keranjang yang sudah dia isi jambu terlihat penuh, Rafika pun berteriak agar uwanya melemparkan tali untuk menggerek keranjang yang penuh dengan jambu air.
"Kami mah kebiasaan bukannya disiapkan talinya," gerutu Wa Enok.
"Sini Wa, biar sama Kiran aja." Kiranti yang baru datang langsung melemparkan tali ke atas. Dengan sigap Rafika pun menangkap tali itu.
"Kiran gerek!" teriak Rafika setelah mengikatkan tali itu pada keranjang. Dia pun langsung turun karena tidak ada lagi jambu yang besar dan matang.
"Fika, Zaenal nungguin di jembatan," bisik Kiranti saat gadis itu sedang menepuk-nepuk badannya.
"Ngapain?"
"Gak tahu, ke sana yuk!"
"Gak akh, aku mau ngajak Kang Asep rujakan. Kamu mau ikutan gak?"
"Aku mau ketemu Zaenal dulu. Dia sama Baim ke sininya," ucap Kiranti.
"Ya udah kamu saja, aku gak mau ikut. Bosa melihat mereka berdua. Udah di sekolah, di rumah juga harus ketemu gitu?"
Rafika berlalu pergi meninggalkan Kiranti. Dia memberikan keranjang itu pada uwanya, setelah sebelumnya mengambil jambu air yang dia inginkan. Akan tetapi, Rafika masih merasa ourang jika hanya jambu air buat dibikin rujak, dia pun kembali memanjat pohon kedondong yang ada di belakang rumahnya. Setelah mendapatkan beberapa buah kedondong, dia kembali turun untuk menemui ibunya yang sedang memasak di dapur.
"Bu, tolong buatkan bumbu rujak! Aku mau mengupas kedondong dulu," pinta Rafika.
"Belajar bikin sendiri Fika. Nanti kalau udah punya suami mau bagaimana kalau kamu tidak bisa masak tida bisa bikin sambal."
"Ibu, kenapa dibikin pusing? Warung makan kan banyak, warteg juga banyak. Lagipula ada ibu yang pinter masak."
"Kamu mah dibilangin teh, pinter banget jawabnya," ucap Sofie seraya mengulek sambal rujak.
Dia memang sering kali mengajak Rafika untuk belajar memasak, tetapi putrinya itu selalu pintar membuat alasan. Setelah bumbu rujak dan buahnya sudah di iris, Rafika pun membawanya ke ruang depan. Nampak Asep sedang duduk sendiri di sana.
"Kang, rujakan yuk!" ajak Rafika seraya menyimpan cobek dan piring buah. "Bentar aku ambil piring dan garpu buat Akang."
Aku lupa kalau Kang Asep gak bisa melihat. Bisa-bisa nanti dia salah mencolek sambal. Malah aku yang dia colek. Tapi gak apa lah aku dicolek dikit, kekeh Rafika dalam hati.
Selesai Rafika menyiapkan rujak untuk Erlangga, dia pun mulai memakan rujak buatan ibunya. Memang sangat pas di lidah setiap olahan makanan hasil ibunya, sehingga Rafika merasa enggan kalau harus memasak karena rasanya tidak karu-karuan.
"Kang, katanya tadi ada yang jemput Akang ya?" tanya Rafika di sela-sela makan rujaknya.
"Iya, katanya dia kakek Akang."
"Kenapa Akang gak ikut? Mungkin kalau ikut, nanti Akang bisa diobati dengan benar. Kata Wa Enok, mereka orang kaya. Berarti Akang juga orang kaya dong. Aku gak tega melihat keadaan Akang yang belum membaik juga. Padahal sudah mencoba memakai obat herbal juga."
"Fika, apa kamu ingin Akang pergi dari sini?" tanya Erlangga yang merasa tersinggung dengan ucapan Rafika.
"Bukan begitu maksud aku."
"Apa kehadiran Akang membebani kamu? Apa Akang membatasi kebebasan kamu bergaul dengan teman-teman kamu karena harus menemani Akang?"
"Bukan begitu maksud aku, Kang." sentak Rafika.
"Maaf, Akang sudah menjadi beban hidup kamu."
"Dengar dulu, Kang. Maksud Fika, kalau Akang ikut dengan mereka, mungkin Akang bisa melihat kembali, Ingatan Akang juga bisa kembali. Kata Uwa, keluarga Akang orang kaya, mereka pasti bisa memberikan pengobatan yang terbaik untuk Akang. Tidak seperti di sini, yang diobati dengan obat-obat seadanya."
Memang benar apa yang dia katakan, tapi aku merasa bahagia berada di sini. Meskipun aku tidak bisa melihat dan ingatan aku juga belum kembali. Aku merasa sangat enggan pergi dari rumah ini. Aku takut, saat mataku sudah bisa melihat, ingatanku sudah kembali, aku tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti sekarang saat aku bersama dengan Fika dan Bu Sofie, batin Erlangga.
"Kang, bukankah nanti kita juga bisa bertemu lagi saat Akang sudah bisa melihat dan ingatan Akang sudah kembali. Kalau orang kaya itu mau mengobati Akang, Fika minta Akang jangan menolaknya. Semua itu demi kebaikan Akang," ucap Fika dengan memelankan suaranya.
"Bagaimana jika nanti saat ingatan Akang kembali, Akang tidak bisa mengingat kamu?"
"Aku akan berusaha mengingatkan Akang kalau Akang pernah bertemu dengan aku Rafika The Warrior Princess."
"Akang akan menyimpan semua tentang kamu di hati Akang. Agar saat ingatan Akang kembali dan tidak mengenali kamu, hati Akang yang akan mengenali kamu. Seorang gadis berhati malaikat yang telah menyelamatkan nyawa Akang."
"Akang bisa aja gombalnya," ucap Rafika dengan memukul tangan Erlangga hingga piring rujak yang sedang dipegang oleh Erlangga menjadi tumpah. Secepatnya gadis itu membersihkan tumpahan rujak yang mengotori baju Erlangga.
"Sudah, Fika gak apa. Sebentar lagi Akang mandi. Bukankah sekarang sudah sore?"
"Eh, iya. Aku ganti ya Kang rujaknya."
Aku akan selalu menyimpan kamu di hatiku Fika. Seorang gadis yang telah mengetuk pintu hatiku. Seorang gadis yang aku sukai dalam gelap. Meskipun aku tidak pernah tahu bagaimana rupa kamu, tapi aku yakin kalau paras kamu pasti secantik hatimu, batin Erlangga.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya Kawan!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Hatija Lapengo Lapaola
perbanyak upx dlm.swhari
2022-09-11
2
Ami batam
sayang ny skr elang buta jadi tidak bisa melihat wajah cantiknya rafika, gmn nnti pas sembuh dari kebutaan dan amnesia elang, apakah nnti dia akan mengenali wajah cantik ny fika
2022-09-11
2