Bab 20 Move On

Setelah lama berkeliling mencari rumah kost-kostan yang ada di dekat kampusnya, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah kost dengan fasilitas yang lumayan bagus dan keamanan yang terjamin. Meskipun kedua gadis itu harus mengeluarkan uang yang lumayan banyak untuk membayar sewa tetapi kedua gadis itu menyetujuinya karena mereka tinggal melewati jalan tikus agar sampai di kampusnya.

Wa Kumis yang menitipkan kedua gadis itu pada ibu kost pun merasa tenang, karena kost-kostan itu khusus untuk putri saja. Sehingga dia tidak perlu khawatir karena ibu kost mengawasi anak-anak yang kost di situ dengan ketat.

"Uwa pergi dulu ya! Kalian jaga diri, kalau ada apa-apa langsung telpon ke Uwa. Besok Uwa sudah mulai bekerja. Nanti kalau Uwa mau pulang kampung pasti kasih tahu kalian," pesan Wa Kumis sebelum dia pergi.

"Iya, Wa. Makasih sudah diantar ke sini," ucap Rafika.

Setelah kepergian Wa Kumis, Rafika dan Kiranti pun langsung masuk ke kamar kostnya. Mereka merasa lelah setelah tadi berkeliling mencari rumah kost. Ditambah lagi, semalam tidak bisa tidur karena nyamuk di rumah kontrakan Wa Kumis pada nakal, menggigiti kedua gadis itu.

Keesokkan paginya, kedua gadis cantik itu berpamitan pada ibu kost untuk pergi ke kampus. Mereka akan daftar ulang sekaligus mengurus administrasi. Sepulang dari kampus mereka langsung berkeliling mencari pekerjaan. Bersyukur ada sebuah minimarket yang tidak jauh dari kampus menerima mereka berdua untuk bekerja part time.

Hari demi hari mereka lalui dengan suka cita. Meskipun kesibukan terus saja membelenggu kedua gadis itu tetapi mereka tidak pernah mengeluh saat rasa lelah menderanya. 'Cukup tidur, besok pagi pasti lelahnya akan hilang'. Selalu itu yang mereka katakan setiap kali merasa lelah bekerja dan mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk.

Sampai tanpa terasa, empat tahun sudah mereka merantau di ibu kota. Ijazah sarjana pun sudah mereka dapatkan. Penampilan keduanya kini sudah banyak berubah. Meskipun masih ada sikap nyeleneh yang masih melekat pada keduanya.

Perlahan-lahan, Rafika pun sudah bisa melupakan sosok Kang Asep. Dia mengubur dalam-dalam setiap kenangan indah dan janji cinta dari laki-laki itu. Meskipun begitu, Rafika tidak bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain.

"Fika, sudah siap belum lamarannya? Ayo kita berangkat interview," tanya Kiranti pagi itu.

"Siap Bos! Tenang saja, lamaran selalu siap. Katanya pabrik baru itu milik Elang Group. Benar gak sih?" Rafika pun balik bertanya.

"Gak tahu, biarin ajalah Fika. Elang Group kan banyak cabangnya. Mana mungkin kita ketemu Kang Amnesia itu. Apalagi dia pemiliknya, pasti sibuk di kantor pusat."

"Benar juga sih. Tapi kenapa tidak pernah mendengar dia menikah ya, padahal dia tunangan empat tahun lalu."

"Mungkin dia masih cinta sama kamu," tebak Kiranti asal.

"Aku udah move on dari Kang Amnesia itu. Aku seperti punguk yang merindukan bulan jika terus berharap padanya. Dia hanya untuk aku kenang," ucap Rafika dengan tersenyum samar.

"Ya udah yuk berangkat! Biar tidak telat saat sudah sampai di sana. Kamu yakin mau pakai celana saja?" tanya Kiranti dengan menelisik penampilan Rafika.

"Yakin! Aku malas pakai rok, susah gerak."

"Dasar! Masih saja belum berubah," ucap Kiranti dengan menarik tangan Rafika.

Saat keduanya keluar dari kamar kost, tanpa sengaja berpapasan dengan Melia tetangga kamarnya. Selama empat tahun kost di sana, membuat hubungan dia dengan penghuni kost lain sudah seperti dengan keluarga.

"Jadi mau ambil kerjaan di Cikarang?" tanya Melia.

"Iya Mel. Daripada nganggur lama, mending ambil yang tercepat saja," jawab Kiranti.

"Iya bener! Katanya kalau di pabrik automotif itu gajinya besar. Semoga saja ya, siapa tahu bisa beli mobil," timpal Rafika.

"Aamiin, ya udah kita berangkat dulu ya!" pamit Kiranti.

"Iya, sukses ya buat kalian!"

"Aamiin." Kompak Rafika dan Kiranti.

Mereka pun langsung berangkat dengan menggunakan taksi karena keduanya belum ada yang hapal kawasan industri di Cikarang. Meskipun mereka sudah tidak asing dengan nama-nama daerahnya tetapi belum pernah ke sana sekali pun.

"Kiran, nanti kita pulangnya bagaimana?" tanya Rafika mendadak cemas.

"Iya juga ya!" sahut Kiranti.

"Mbak mau ditungguin gak?" tanya supir taksi.

"Nanti bayarannya mahal, Mas." Rafika langsung berkomentar.

"Hehehe ... Iya sih, Mbak soalnya jam berjalan."

"Kita pesan ojeg saja, kalau tidak coba hubungi Baim aja. Bukankah dia kerja di sini?" saran Kiranti.

"Ah, bener banget. Dah Mas gak usah ditungguin, pulangnya mau bareng teman aja," ucap Rafika.

Setibanya di tempat tujuan, keduanya merapikan dulu penampilannya sebelum turun dari mobil. Membuat Mas Supir Taksi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia merasa lucu melihat kelakuan penumpangnya yang berebut make-up dan sisir.

"Kiran, penampilan aku bagaimana? Sudah terlihat feminim belum?" tanya Rafika.

"Feminim dari mana? Suruh pakai rok juga," gerutu Kiranti.

"Sudah cantik kho, Mbak!" timpal supir taksi.

"Makasih Mas pujiannya! Ayo kiran!" ajak Rafika turun terlebih dahulu.

Rafika sempat tertegun melihat bangunan yang besar di depannya. Dia membayangkan akan sangat melelahkan jika berkeliling perusahaan itu. Namun yang membuat dia terpaku di tempatnya, saat tanpa sengaja matanya melihat orang di dalam mobil yang melewatinya.

"Bang Calvin," gumam Rafika.

"Fika siapa?" tanya Kiranti yang turun belakangan karena habis membayar ongkos taksi terlebih dahulu.

"Kiran, kalau ini perusahaan Kang Amnesia bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?"

"Kita pura-pura tidak kenal saja dengan mereka. Selama mereka tidak menyapa kita dulu, kita terus saja berpura-pura."

"Baiklah! Aku ke sini untuk mencari pekerjaan, bukan untuk mencari Kang Amnesia yang sudah melupakan aku," ucap Rafika dengan mengepalkan tangan ke udara.

Keduanya langsung menemui satpam dan mengatakan maksud serta tujuannya. Setelah mendapatkan kartu kunjungan, mereka pun diantar satpam untuk menemui resepsionis terlebih dahulu.

"Mbak, ada yang mau interview," ucap satpam itu.

"Silahkan duduk di kursi tunggu dulu, Mbak. Saya mau menghubungi HRD dulu," ucap resepsionis itu.

"Baik, Mbak. Terima kasih," ucap Rafika dan Kiranti bersamaan.

Saat keduanya sedang duduk menunggu kedatangan HRD seperti yang dikatakan oleh resepsionis itu, Erlangga dan Calvin melewati gadis itu begitu saja. Namun Calvin melihat kedua gadis itu dengan sudut matanya.

Kenapa aku merasa tidak asing dengan mereka ya! Tapi siapa? Kenapa aku bisa lupa?" batin Calvin.

Tidak lama kemudian, HRD datang memanggil Rafika dan Kiranti secara bergantian untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Rafika yang dipanggil lebih dulu, langsung menjabat tangan wanita yang menjadi HRD itu.

"Selamat siang, Mbak!" sapa Rafika.

"Siang, silakan duduk!" suruh HRD yang bernama Marni.

"Terima kasih," ucap

"Silakan perkenalkan diri Anda," suruh Marni.

"Nama saya Rafika Qatrunada, usia dua puluh satu tahun, lulusan universitas negeri XYZ jurusan manajemen pemasaran."

...~Bersambung~...

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

KIRA2 TU ELANG SDH NIKAH BLM SAMA CAT, KN TK MASUK AKAL TUNANGAN SAMPE 4 TH GK NIKAH2..

2024-01-02

1

Ami batam

Ami batam

waktu cepat sekali berlalu tiba-tiba udh 4 tahun kemudian🤭,klo punya cicilan motor udh lunas 😄,pasti Rafika udh jadi gadis yg cantik bahkan bisa jadi kmren iy jadi primadona di kampusnya😘, laen hal ny dg elang kira udh beruban atau blm ya, secara kmren dia mau nungguin Fika lulus namun kenyataan ny malah tunangan dg wanita laen😥,tak ingat dikala msh menjadi asep bnyk janji yg di ucapkan, udh kyk orang jualan jamu di pasar 😄

2022-09-19

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2 Bab 2 Aku Tidak Ingat
3 Bab 3 Ayo Pulang!
4 Bab 4 Menolak Ikut
5 Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6 Bab 6 Memancing Ikan
7 Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8 Bab 8 Bukti Kuat
9 Bab 9 Periksa Mata
10 Bab 10 Suka dan Duka
11 Bab 11 Rencana Operasi
12 Bab 12 Malam Terakhir
13 Bab 13 Berpisah
14 Bab 14 Ujian
15 Bab 15 Membaik
16 Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17 Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18 Bab 18 Kelulusan
19 Bab 19 Life Must Go On
20 Bab 20 Move On
21 Bab 21 Dia Berbeda
22 Bab 22 Bos Aneh
23 Bab 23 Makan Bersama
24 Bab 24 Mungkinkah dia?
25 Bab 25 Tertidur Di Bahu
26 Bab 26 Langit dan Bumi
27 Bab 27 Melepaskan Perasaan
28 Bab 28 Pura-pura Sakit
29 Bab 29 Dipanggil Bos
30 Bab 30 Bonus
31 Bab 31 Mabuk
32 Bab 32 Peringatan Calvin
33 Bab 33 Berdamai
34 Bab 34 Bibir Kamu Manis
35 Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36 Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37 Bab 37 Cicilan
38 Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39 Bab 39 Tawaran Erlangga
40 Bab 40 Kembali Bersama
41 Bab 41 Cokelat Cinta
42 Bab 42 Menyamar
43 Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44 Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45 Bab 45 Menguntit
46 Bab 46 Mencari Rafika
47 Bab 47 Belajar Realistis
48 Bab 48 Lamaran
49 Bab 49 Ganti Rugi
50 Bab 50 Gugurkan anak itu!
51 Bab 51 Cukup, Kakek!
52 Bab 52 Keputusan Kakek
53 Bab 53 Serah Terima Jabatan
54 Bab 54 Dihadang Penguntit
55 Bab 55 Rahasia Rafika
56 Bab 56 Terciduk
57 Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58 Bab 58 Sah
59 Bab 59 Malam Pengantin
60 Bab 60 Palang Merah
61 Bab 61 Lupakan!
62 Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63 Bab 63 Rencana Yang Sukses
64 Bab 64 Salah Mencintai
65 Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66 Bab 66 Pulang
67 Bab 67 Terungkap Fakta
68 Bab 68 Permintaan Kakek
69 Bab 69 Kenapa harus malu?
70 Bab 70 Gara-gara Rafika
71 Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72 Bab 72 Manjanya Rafika
73 Bab 73 Peringatan Fika
74 Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75 Bab 75 Mual di Pagi Hari
76 Bab 76 Periksa Kandungan
77 Bab 77 Makan Siang
78 Bab 78 Kiran Jatuh
79 Bab 79 Azab
80 Bab 80 Kemarahan Erlangga
81 Bab 81 Rumput Fatimah
82 Bab 82 Kontraksi
83 Bab 83 Koma
84 Bab 84 Pelajaran Berharga
85 Bab 85 Syukuran
86 Bab 86 Buka Puasa
87 Bab 87 Calvin Pingsan
88 Bab 88 Bang, lihat apa?
89 Bab 89 Ghibah
90 Bab 90 Berlibur Bersama
91 Bab 91 Sunrise
92 Bab 92 Puber Kedua
93 Bab 93 Terima Kasih ( End )
94 Promo Mainan CEO Arogant
95 Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2
Bab 2 Aku Tidak Ingat
3
Bab 3 Ayo Pulang!
4
Bab 4 Menolak Ikut
5
Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6
Bab 6 Memancing Ikan
7
Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8
Bab 8 Bukti Kuat
9
Bab 9 Periksa Mata
10
Bab 10 Suka dan Duka
11
Bab 11 Rencana Operasi
12
Bab 12 Malam Terakhir
13
Bab 13 Berpisah
14
Bab 14 Ujian
15
Bab 15 Membaik
16
Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17
Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18
Bab 18 Kelulusan
19
Bab 19 Life Must Go On
20
Bab 20 Move On
21
Bab 21 Dia Berbeda
22
Bab 22 Bos Aneh
23
Bab 23 Makan Bersama
24
Bab 24 Mungkinkah dia?
25
Bab 25 Tertidur Di Bahu
26
Bab 26 Langit dan Bumi
27
Bab 27 Melepaskan Perasaan
28
Bab 28 Pura-pura Sakit
29
Bab 29 Dipanggil Bos
30
Bab 30 Bonus
31
Bab 31 Mabuk
32
Bab 32 Peringatan Calvin
33
Bab 33 Berdamai
34
Bab 34 Bibir Kamu Manis
35
Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36
Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37
Bab 37 Cicilan
38
Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39
Bab 39 Tawaran Erlangga
40
Bab 40 Kembali Bersama
41
Bab 41 Cokelat Cinta
42
Bab 42 Menyamar
43
Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44
Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45
Bab 45 Menguntit
46
Bab 46 Mencari Rafika
47
Bab 47 Belajar Realistis
48
Bab 48 Lamaran
49
Bab 49 Ganti Rugi
50
Bab 50 Gugurkan anak itu!
51
Bab 51 Cukup, Kakek!
52
Bab 52 Keputusan Kakek
53
Bab 53 Serah Terima Jabatan
54
Bab 54 Dihadang Penguntit
55
Bab 55 Rahasia Rafika
56
Bab 56 Terciduk
57
Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58
Bab 58 Sah
59
Bab 59 Malam Pengantin
60
Bab 60 Palang Merah
61
Bab 61 Lupakan!
62
Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63
Bab 63 Rencana Yang Sukses
64
Bab 64 Salah Mencintai
65
Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66
Bab 66 Pulang
67
Bab 67 Terungkap Fakta
68
Bab 68 Permintaan Kakek
69
Bab 69 Kenapa harus malu?
70
Bab 70 Gara-gara Rafika
71
Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72
Bab 72 Manjanya Rafika
73
Bab 73 Peringatan Fika
74
Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75
Bab 75 Mual di Pagi Hari
76
Bab 76 Periksa Kandungan
77
Bab 77 Makan Siang
78
Bab 78 Kiran Jatuh
79
Bab 79 Azab
80
Bab 80 Kemarahan Erlangga
81
Bab 81 Rumput Fatimah
82
Bab 82 Kontraksi
83
Bab 83 Koma
84
Bab 84 Pelajaran Berharga
85
Bab 85 Syukuran
86
Bab 86 Buka Puasa
87
Bab 87 Calvin Pingsan
88
Bab 88 Bang, lihat apa?
89
Bab 89 Ghibah
90
Bab 90 Berlibur Bersama
91
Bab 91 Sunrise
92
Bab 92 Puber Kedua
93
Bab 93 Terima Kasih ( End )
94
Promo Mainan CEO Arogant
95
Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!