Setelah lama berkeliling mencari rumah kost-kostan yang ada di dekat kampusnya, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah kost dengan fasilitas yang lumayan bagus dan keamanan yang terjamin. Meskipun kedua gadis itu harus mengeluarkan uang yang lumayan banyak untuk membayar sewa tetapi kedua gadis itu menyetujuinya karena mereka tinggal melewati jalan tikus agar sampai di kampusnya.
Wa Kumis yang menitipkan kedua gadis itu pada ibu kost pun merasa tenang, karena kost-kostan itu khusus untuk putri saja. Sehingga dia tidak perlu khawatir karena ibu kost mengawasi anak-anak yang kost di situ dengan ketat.
"Uwa pergi dulu ya! Kalian jaga diri, kalau ada apa-apa langsung telpon ke Uwa. Besok Uwa sudah mulai bekerja. Nanti kalau Uwa mau pulang kampung pasti kasih tahu kalian," pesan Wa Kumis sebelum dia pergi.
"Iya, Wa. Makasih sudah diantar ke sini," ucap Rafika.
Setelah kepergian Wa Kumis, Rafika dan Kiranti pun langsung masuk ke kamar kostnya. Mereka merasa lelah setelah tadi berkeliling mencari rumah kost. Ditambah lagi, semalam tidak bisa tidur karena nyamuk di rumah kontrakan Wa Kumis pada nakal, menggigiti kedua gadis itu.
Keesokkan paginya, kedua gadis cantik itu berpamitan pada ibu kost untuk pergi ke kampus. Mereka akan daftar ulang sekaligus mengurus administrasi. Sepulang dari kampus mereka langsung berkeliling mencari pekerjaan. Bersyukur ada sebuah minimarket yang tidak jauh dari kampus menerima mereka berdua untuk bekerja part time.
Hari demi hari mereka lalui dengan suka cita. Meskipun kesibukan terus saja membelenggu kedua gadis itu tetapi mereka tidak pernah mengeluh saat rasa lelah menderanya. 'Cukup tidur, besok pagi pasti lelahnya akan hilang'. Selalu itu yang mereka katakan setiap kali merasa lelah bekerja dan mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk.
Sampai tanpa terasa, empat tahun sudah mereka merantau di ibu kota. Ijazah sarjana pun sudah mereka dapatkan. Penampilan keduanya kini sudah banyak berubah. Meskipun masih ada sikap nyeleneh yang masih melekat pada keduanya.
Perlahan-lahan, Rafika pun sudah bisa melupakan sosok Kang Asep. Dia mengubur dalam-dalam setiap kenangan indah dan janji cinta dari laki-laki itu. Meskipun begitu, Rafika tidak bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain.
"Fika, sudah siap belum lamarannya? Ayo kita berangkat interview," tanya Kiranti pagi itu.
"Siap Bos! Tenang saja, lamaran selalu siap. Katanya pabrik baru itu milik Elang Group. Benar gak sih?" Rafika pun balik bertanya.
"Gak tahu, biarin ajalah Fika. Elang Group kan banyak cabangnya. Mana mungkin kita ketemu Kang Amnesia itu. Apalagi dia pemiliknya, pasti sibuk di kantor pusat."
"Benar juga sih. Tapi kenapa tidak pernah mendengar dia menikah ya, padahal dia tunangan empat tahun lalu."
"Mungkin dia masih cinta sama kamu," tebak Kiranti asal.
"Aku udah move on dari Kang Amnesia itu. Aku seperti punguk yang merindukan bulan jika terus berharap padanya. Dia hanya untuk aku kenang," ucap Rafika dengan tersenyum samar.
"Ya udah yuk berangkat! Biar tidak telat saat sudah sampai di sana. Kamu yakin mau pakai celana saja?" tanya Kiranti dengan menelisik penampilan Rafika.
"Yakin! Aku malas pakai rok, susah gerak."
"Dasar! Masih saja belum berubah," ucap Kiranti dengan menarik tangan Rafika.
Saat keduanya keluar dari kamar kost, tanpa sengaja berpapasan dengan Melia tetangga kamarnya. Selama empat tahun kost di sana, membuat hubungan dia dengan penghuni kost lain sudah seperti dengan keluarga.
"Jadi mau ambil kerjaan di Cikarang?" tanya Melia.
"Iya Mel. Daripada nganggur lama, mending ambil yang tercepat saja," jawab Kiranti.
"Iya bener! Katanya kalau di pabrik automotif itu gajinya besar. Semoga saja ya, siapa tahu bisa beli mobil," timpal Rafika.
"Aamiin, ya udah kita berangkat dulu ya!" pamit Kiranti.
"Iya, sukses ya buat kalian!"
"Aamiin." Kompak Rafika dan Kiranti.
Mereka pun langsung berangkat dengan menggunakan taksi karena keduanya belum ada yang hapal kawasan industri di Cikarang. Meskipun mereka sudah tidak asing dengan nama-nama daerahnya tetapi belum pernah ke sana sekali pun.
"Kiran, nanti kita pulangnya bagaimana?" tanya Rafika mendadak cemas.
"Iya juga ya!" sahut Kiranti.
"Mbak mau ditungguin gak?" tanya supir taksi.
"Nanti bayarannya mahal, Mas." Rafika langsung berkomentar.
"Hehehe ... Iya sih, Mbak soalnya jam berjalan."
"Kita pesan ojeg saja, kalau tidak coba hubungi Baim aja. Bukankah dia kerja di sini?" saran Kiranti.
"Ah, bener banget. Dah Mas gak usah ditungguin, pulangnya mau bareng teman aja," ucap Rafika.
Setibanya di tempat tujuan, keduanya merapikan dulu penampilannya sebelum turun dari mobil. Membuat Mas Supir Taksi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia merasa lucu melihat kelakuan penumpangnya yang berebut make-up dan sisir.
"Kiran, penampilan aku bagaimana? Sudah terlihat feminim belum?" tanya Rafika.
"Feminim dari mana? Suruh pakai rok juga," gerutu Kiranti.
"Sudah cantik kho, Mbak!" timpal supir taksi.
"Makasih Mas pujiannya! Ayo kiran!" ajak Rafika turun terlebih dahulu.
Rafika sempat tertegun melihat bangunan yang besar di depannya. Dia membayangkan akan sangat melelahkan jika berkeliling perusahaan itu. Namun yang membuat dia terpaku di tempatnya, saat tanpa sengaja matanya melihat orang di dalam mobil yang melewatinya.
"Bang Calvin," gumam Rafika.
"Fika siapa?" tanya Kiranti yang turun belakangan karena habis membayar ongkos taksi terlebih dahulu.
"Kiran, kalau ini perusahaan Kang Amnesia bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?"
"Kita pura-pura tidak kenal saja dengan mereka. Selama mereka tidak menyapa kita dulu, kita terus saja berpura-pura."
"Baiklah! Aku ke sini untuk mencari pekerjaan, bukan untuk mencari Kang Amnesia yang sudah melupakan aku," ucap Rafika dengan mengepalkan tangan ke udara.
Keduanya langsung menemui satpam dan mengatakan maksud serta tujuannya. Setelah mendapatkan kartu kunjungan, mereka pun diantar satpam untuk menemui resepsionis terlebih dahulu.
"Mbak, ada yang mau interview," ucap satpam itu.
"Silahkan duduk di kursi tunggu dulu, Mbak. Saya mau menghubungi HRD dulu," ucap resepsionis itu.
"Baik, Mbak. Terima kasih," ucap Rafika dan Kiranti bersamaan.
Saat keduanya sedang duduk menunggu kedatangan HRD seperti yang dikatakan oleh resepsionis itu, Erlangga dan Calvin melewati gadis itu begitu saja. Namun Calvin melihat kedua gadis itu dengan sudut matanya.
Kenapa aku merasa tidak asing dengan mereka ya! Tapi siapa? Kenapa aku bisa lupa?" batin Calvin.
Tidak lama kemudian, HRD datang memanggil Rafika dan Kiranti secara bergantian untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Rafika yang dipanggil lebih dulu, langsung menjabat tangan wanita yang menjadi HRD itu.
"Selamat siang, Mbak!" sapa Rafika.
"Siang, silakan duduk!" suruh HRD yang bernama Marni.
"Terima kasih," ucap
"Silakan perkenalkan diri Anda," suruh Marni.
"Nama saya Rafika Qatrunada, usia dua puluh satu tahun, lulusan universitas negeri XYZ jurusan manajemen pemasaran."
...~Bersambung~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
KIRA2 TU ELANG SDH NIKAH BLM SAMA CAT, KN TK MASUK AKAL TUNANGAN SAMPE 4 TH GK NIKAH2..
2024-01-02
1
Ami batam
waktu cepat sekali berlalu tiba-tiba udh 4 tahun kemudian🤭,klo punya cicilan motor udh lunas 😄,pasti Rafika udh jadi gadis yg cantik bahkan bisa jadi kmren iy jadi primadona di kampusnya😘, laen hal ny dg elang kira udh beruban atau blm ya, secara kmren dia mau nungguin Fika lulus namun kenyataan ny malah tunangan dg wanita laen😥,tak ingat dikala msh menjadi asep bnyk janji yg di ucapkan, udh kyk orang jualan jamu di pasar 😄
2022-09-19
4