"Maaf, Tuan. Anda siapa dan Elang siapa? Nama saya Asep," tanya Erlangga bingung dengan orang yang tiba-tiba saja memeluknya.
"Kamu tidak mengenali kakek kamu sendiri?" Kini Tuan Ageng Bramantyo yang berbalik menjadi heran dengan sikap cucunya.
"Maaf Tuan, saya menyela. Sebenarnya Asep tidak ingat dengan masa lalunya. Kalau kata putri saya, namanya amsia." Sofie langsung menyela ucapan Tuan yang berbaju mahal itu.
"Mungkin maksud Ibu Amnesia," timpal Calvin.
"Iya, benar. Kata Fika, Asep lupa ingatan. Silakan Tuan-tuan duduk dulu, biar kita bicaranya lebih enak."
"Tidak perlu! Kami ke sini untuk menjemput Elang. Dia bukan Asep tetapi Erlangga cucu saya," sahut Tuan Ageng.
Aku gak percaya mereka keluargaku. Kenapa sikapnya begitu angkuh pada orang yang telah menolong aku. Bukannya berterima kasih tetapi malah bersikap seperti itu. Kalau memang keluarga aku, kenapa baru sekarang mereka datang? Apa mungkin, mereka yang membuang aku ke sungai? Karena aku tidak mati jadi mereka ingin menghabisi aku sekalian lagi, batin Erlangga.
"Maaf, Tuan! Saya tidak bisa ikut dengan Anda. Saya tidak yakin kalau Anda keluarga saya," ucap Erlangga. "Ibu tolong bawa saya ke kursi!" lanjutnya.
Erlangga menggunakan tongkatnya untuk mencari arah menuju ke kursi. Tentu saja hal itu tidak lepas dari penglihatan Tuan Ageng. Dia merasa kaget dengan apa yang dilihatnya. Ternyata cucunya selain amnesia tetapi juga buta.
Secepatnya Calvin membantu Erlangga menuju kursi. Meskipun Sofie sudah bersiap untuk menuntun pemuda itu, tetapi Calvin langsung memberi kode kalau dia saja yang membantu Erlangga. Sebenarnya Calvin ingin duduk bersama sahabatnya. Namun rasanya tidak mungkin dia duduk, sedangkan tuannya masih berdiri di tempatnya.
"Terima kasih," ucap Erlangga setelah dia duduk dengan nyaman.
"Sebentar saya ambilkan minum dulu," pamit Sofie.
"Tidak usah! Kami ke sini hanya untuk menjemput Elang." Cegah Tuan Ageng. Mana mau dia minum dari gelas orang yang tidak dikenalnya. Dunia bisnis yang kejam mengajarkan dia untuk selalu waspada pada orang-orang yang baru dia temui.
"Elang, aku ini kakek kamu. Aku mengajak kamu pulang agar bisa memberikan pengobatan yang tepat. Aku bukan orang jahat yang ingin mencelakai kamu," tegas Tuan Ageng.
"Maaf, Tuan. Saya tetap tidak bisa ikut sebelum Tuan memberikan bukti yang konkrit tentang diri saya. Mungkin Tuan bisa menunjukkan kartu identitas saya atau ijasah sekolah saya. Kalau nanti Fika mengatakan saya memang keluarga Anda, maka saya akan ikut dengan Anda."
"Kamu keras kepala sekali, tapi baiklah. Aku akan membawa bukti seperti yang kamu minta. Setelah nanti bukti-bukti itu menunjukkan kalau kamu Erlangga Bramantyo cucuku, kamu tidak ada alasan lagi untuk menolak ikut bersamaku. Lagipula, kenapa kamu betah di rumah ini? Sangat tidak layak untuk kamu tempati."
Astaga Tuan, bukannya berterima kasih malah menghina yang sudah menolong Elang, batin Calvin.
"Baiklah, tapi aku minta Anda mengganti semua uang Fika yang dipakainya untuk pengobatan aku. Baru aku akan ikut dengan Anda."
"Tidak masalah, aku bahkan akan mengganti sepuluh kali lipat kalau kamu bersedia ikut denganku dan menjalani pengobatan yang tepat."
Sofie hanya tersenyum samar mendengar apa yang pria kaya itu katakan. Karena memang benar rumahnya sudah tidak layak huni. Cat temboknya sudah banyak yang mengelupas. Kusen rumah pun sudah pada rapuh. Namun bagi Sofie dan Rafika rumah peninggalan orang tua suaminya itu masih terasa nyaman.
"Calvin, ayo kita pulang!" ajak Tuan Ageng berlalu begitu saja.
"Baik, Tuan!" sahut Calvin. "Elang, aku pulang dulu. Kamu cepat sehat lagi, maaf aku terlambat menemukan kamu."
Calvin langsung berlalu pergi mengejar tuannya yang sudah naik ke dalam mobil mewahnya. Dia tidak berbuat apapun. Meskipun sebenarnya masih ingin berlama-lama di sana.
Apa benar mereka keluarga aku? Ucapan dari laki-laki muda itu membuat hatiku adem. Tidak seperti suara dari kakek-kakek itu yang terdengar angkuh, batin Erlangga.
Setelah Melihat kepergian orang kaya itu Sofie pun mendekat ke arah Erlangga. Dia duduk di hadapan pemuda tampan itu. Meskipun hatinya tersinggung dengan sikap Tuan kaya tadi, tetapi Sofie bisa memakluminya.
"Asep, maaf sebelumnya! Dari yang Ibu lihat, kamu dan Tuan tadi memiliki kemiripan wajah. Mungkin benar mereka itu keluarga kamu. Apa tidak sebaiknya kamu ikut dengan mereka nanti. Agar mendapatkan pengobatan yang tepat." Sofie menghela napas sejenak sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.
"Ibu sebenarnya senang kamu tinggal di sini. Ada orang yang mengajari Fika belajar, tapi ibu juga berharap kondisi kamu bisa secepatnya pulih. Biar kamu bisa melihat wajah Ibu dan Fika," ucap Sofie lembut.
"Iya, Bu aku mengerti. Tapi aku tidak suka dengan sikap Tuan tadi. Dia begitu angkuh, aku menjadi sangsi kalau Tuan itu benar kakekku. Bukankah orang tua itu harus bijaksana. Dia tidak bisa menghargai Ibu yang sudah menolongku."
Memang benar apa yang Asep katakan, kakeknya bahkan tidak mau duduk di kursi yang memang sudah tidak layak dipakai. Aku memang bisa membeli kursi yang baru, tapi aku menahannya karena ingin Fika sekolah yang tinggi. Agar tidak ada lagi yang menghinanya karena sudah tidak memiliki ayah. Mungkin, saat nanti Fika sudah memiliki gelar, mereka akan segan untuk merendahkannya, batin Sofie.
Saat keduanya sedang sama-sama merenung, terdengar ada orang yang memberi salam. Rupanya hari ini Rafika pulang cepat. Dia merasa heran melihat Ibunya dan laki-laki yang dia panggil Kang Asep tidak menjawab salamnya.
"ASSALAMU'ALAIKUM," teriak Rafika kencang.
"Astaga, Fika! Kenapa teriak ucap salamnya?" tegur Sofie. "Wa'alaikumsalam," balasnya.
"Ibu sih, Fika ucap salam diam saja. Kang Asep juga, kalian kenapa sih?" tanya Fika dengan menyelidik raut wajah kedua orang dewasa yang ada di depannya. "Jangan bilang, Ibu ada niat buat menikah dengan Kang Asep. Kemudaan, Bu! Harusnya Kang Asep nikah sama aku," lanjut Fika asal.
"Kamu tuh suka ada-ada saja. Kalau Ibu ingin nikah lagi, kenapa Ibu tidak terima saja lamaran dari Pak Burhan, dia kan bos padi. Seusia dengan Ibu juga."
"Ya kali Ibu tergoda dengan ketampanan Kang Asep. Jangankan Ibu, Fika juga suka lihat wajah Kang Asep. Kalau permen nih, udah Fika makan dari dulu."
"Kamu tuh suka asal kalau bicara. Sudah Ibu mau ke warung dulu. Tapi kenapa kamu pulang cepat?"
"Gurunya mau rapat. Tadinya Fika mau ikut rental band sama teman-teman tapi tadi pagi lupa gak bawa uang jajan. Makanya ongkos sama jajan minta bayarin sama Kiran. Tapi untung saja Zaenal kasih uang buat Fika, gak jadi utang sama Kiran deh."
"Zaenal siapa?" tanya Erlangga datar.
"Cowok yang mau jadi pacar Fika."
Wajah Erlangga mengeras seketika mendengar ada lelaki yang ingin mendekati gadis kecilnya. Rasanya dia ingin marah. Namun, sebisa mungkin Erlangga menahannya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Hartaty
hmmm menarik sampai sini
2023-06-01
1
Edelweiss_Wijaya
Nah loh bau angus tuh🤣
2022-09-12
1
Hatija Lapengo Lapaola
next
2022-09-11
1