Perjalanan yang melelahkan antara Sumedang-Bandung, membuat Rafika tertidur pulas di dalam pelukan Erlangga. Apalagi jalan yang berkelok-kelok di cadas pangeran, membuat gadis itu semakin enggan membuka matanya. Meskipun sebenarnya dia merasakan badannya terkadang oleng ke kanan dan ke kiri. Namun tetap saja dia memejamkan matanya.
"Elang, apa dia penyebab kamu tidak ingin pulang?" tanya Calvin seraya melihat Erlangga dari kaca mobil.
"Iya!" sahut Erlangga singkat.
"Kamu jangan takut! Kalau memang jodoh, kalian pasti bisa bertemu lagi," ucap Calvin.
"Setelah aku bisa melihat kembali, aku akan kembali ke desa itu. Bukankah akan membangun pabrik di Kota Majalengka?" tanya Erlangga.
"Rencana awal seperti itu. Tapi entah segera di lanjutkan, entah diundur."
Kedua sahabat itu akhirnya bisa mengobrol santai seperti sebelum kejadian naas itu. Calvin merasa senang karena Erlangga sudah tidak merasa canggung lagi kepadanya. Tanpa mereka sadari, Rafika mendengarkan pembicaraan kedua laki-laki itu
Apa benar Kang Asep menyukai aku? Tapi sikapnya biasa saja. Tidak seperti Zaenal yang selalu mengejar aku, batin Rafika.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit yang dituju. Calvin langsung membawa Erlangga ke ruangan dokter, karena sebelumnya mereka sudah membuat janji.
"Selamat siang, Dok!" sapa Calvin saat dia sudah dipersilakan masuk ke dalam ruangan.
"Selamat siang. Silakan duduk!" sahut dokter wanita yang bernama Tiana itu. Dokter itu terlihat masih cantik, walaupun sudah berumur.
Sementara Erlangga yang sengaja naik kursi roda saat tiba di rumah sakit, didorong oleh Rafika agar mendekat ke arah meja dokter. Lalu Rafika memilih tempat duduk di samping Calvin.
"Ini rekam medis dari rumah sakit sebelumnya, Dok!" Calvin memberikan sebuah map kepada Dokter Tiana.
"Baiklah saya pelajari dulu ya!" ujar Dokter Tiana.
Selesai membaca rekap medis itu, Dokter Tiana langsung melihat ke arah Erlangga. Dia melambaikan tangannya di depan wajah pemuda itu. Namun, Erlangga seperti tidak terganggu sedikit pun dengan apa yang dokter itu lakukan.
"Apa sepulang dari rumah sakit masih suka kontrol?" tanya Dokter Tiana.
"Enggak, Dok! Kang Asep hanya dibantu oleh obat herbal seadanya," ucap Rafika jujur.
"Baiklah, saya akan periksa dulu!"
Setelah dokter melakukan serangkaian test, dia menyimpulkan kalau Erlangga mengalami Ablasia retina. Dimana suatu kondisi terlepasnya retina dari bagian belakang mata. Hal itu terjadi akibat cedera pada mata saat kecelakaan. Namun, karena tidak segera ditangani dengan baik, kondisinya menjadi memburuk.
"Dok, apa masih bisa disembuhkan?" tanya Rafika dengan suara yang bergetar, saat selesai mendengarkan penjelasan dokter.
Erlangga langsung menggenggam tangan Rafika. Dia takut gadis itu merasa bersalah dengan apa yang terjadi padanya. Karena sepulang dari rumah sakit itu, mereka tidak pernah kontrol lagi. Erlangga pun selalu menahan rasa sakitnya sendiri. Karena tidak tega jika harus merepotkan orang yang telah menolongnya.
"Semoga saja masih ada waktu. Kalau sudah komplikasi dapat menyebabkan kebutaan permanen atau hanya bisa membedakan gelap dan terang," jelas Dokter Tiana.
"Dok, apa ada cara cepat agar Elang bisa segera melihat kembali?" tanya Calvin.
"Tentu saja ada, tapi kita harus mencari pendonor mata."
"Maksud Dokter? Bisa dengan donor mata?" tanya Calvin untuk lebih meyakinkan.
"Iya, Kalau Anda bisa secepatnya mencari pendonor mata, maka Tuan Erlangga akan segera bisa melihat kembali."
"Baiklah, Dok! Saya pasti akan mencari secepatnya," sahut Calvin.
Sepulang dari rumah sakit, Rafika lebih banyak diam. Dia benar-benar merasa sangat bersalah karena ternyata kondisi mata Erlangga semakin memburuk. Namun pemuda tampan itu terus meyakinkan kalau semua itu bukan kesalahan Rafika.
Sampai akhirnya, Calvin berinisiatif membawa Rafika dan Erlangga mampir ke sebuah restoran yang merupakan tempat untuk memanjakan perut dan mata di dataran tinggi Lembang Bandung. Setibanya di sana, mereka disuguhkan bangunan kastil megah dengan latar belakang pemandangan bukit yang indah.
Namun, tetap saja gadis itu belum bisa melupakan apa yang dokter itu katakan. Sampai saat mereka sedang makan pun, Rafika terlihat tidak berselera. Calvin yang melihat semua itu langsung menyenggol tangan Erlangga untuk memberi kode.
"Fika, ayo dimakan! Soal tadi jangan dipikirkan terus! Apa tidak dengar kata dokter kalau Akang pasti bisa melihat lagi saat nanti ada pendono?" ucap Erlangga lembut.
"Akang, pakai saja mata aku. Biar aku bertanggung jawab karena membuat mata Akang semakin parah," ucap Rafika yang mulai terisak.
"Fika, sini lihat Akang! Jangan bersedih lagi!Akang pasti baik-baik saja. Akang malah tidak akan baik-baik saja jika melihat Fika bersedih seperti ini. Calvin pasti mencari pendonor untuk Akang. Di sini suasananya sangat sejuk pasti pemandangannya juga sangat indah. Apa kamu tidak ingin berfoto dengan Akang untuk kenang-kenangan?"
"Boleh, Kang. Tapi handphone Fika kameranya jelek. Bang Calvin, bisa fotoin Fika dengan Kang Asep?" Wajah sedih Rafika langsung berubah cerah saat mendengar akan berfoto bersama dengan laki-laki yang tak tanpa dia sadari sudah memenuhi hatinya.
"Boleh. Ayo bersiap, aku hitung mundur ya! Tiga ... Dua ... Satu ...."
Cekrek ... cekrek ... cekrek ....
Calvin mengambil beberapa gambar dengan pose Rafika yang berbeda-beda. Namun, saat pada pose terakhir, Rafika mencuri ciuman pada pipi mulus Erlangga. Tentu saja hal itu membuat Erlangga menjadi kaget.
"Posenya bagus sekali Fika! Mau Abang kirim via apa?" tanya Calvin.
"Bluetooth aja, Bang. Fika gak punya kouta," ucap Rafika cengengesan.
"Ya sudah nyalain bluetooth-nya. Abang kirim sekarang. Berapa nomor kamu? Nanti Abang kirim pulsa," tanya Calvin.
"Beneran, Bang? Boleh deh kirim ke 0858466xxxx." Baru saja Rafika selesai menyebutkan nomor ponselnya. Tidak lama kemudian terdengar suara pesan masuk dari operator.
"Bang, banyak banget kasih pulsanya. Baru kali ini Fika punya pulsa seratus ribu," ucap Rafika heboh.
"Gak apa! Biar Fika semangat belajarnya," ucap Calvin.
"Nanti kalau Akang sudah kerja pasti akan sering kasih uang buat Fika, biar Fika bisa beli pulsa sepuas-sepuasnya." Erlangga tersenyum mendengar Rafika kembali ceria.
"Elang, aku ke toilet sebentar ya!" pamit Calvin saat ada panggilan masuk di ponselnya.
"Memang nanti gak marah dengan istri Akang. Tidak lama lagi, Akang pasti akan menikah." Rafika menatap lekat Erlangga. Dia semakin sedih saat menyadari sebentar lagi mereka pasti akan berpisah.
"Akang akan menikah, saat Fika sudah siap untuk menikah."
"Maksud Akang?" tanya Rafika dengan dada yang bergemuruh hebat.
"Fika, kalau Fika sudah besar, mau kan jadi istri Akang?" tanya Erlangga dengan dada yang sama bergemuruh. Denyut jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Dia harap-harap cemas dengan jawaban yang akan Rafika berikan.
"Apa Akang serius?"
"Iya, Akang serius. Tunggu Akang kembali, pasti Akang akan melamar Fika."
...~Bersambung~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SMOGA STELAH ELANG SMBUH DARI BUTA & AMNESIANYA, ELANG TK MLUPAKAN FIKA..
2024-01-02
0
Hartaty
penasaran nanti dgn Felisha
2023-06-01
1
Edelweiss
lanjut thor
2022-09-14
1