Bab 11 Rencana Operasi

Benar apa yang orang bilang, pasti ada hikmah dibalik sebuah musibah. Itulah yang kini Erlangga rasakan. Dulu saat sebelum terjadinya kecelakaan itu. Hatinya selalu terasa hampa. Namun, semenjak mengenal Rafika lebih jauh, hidupnya yang gelap terasa lebih berwarna.

Semakin hari, bunga-bunga cinta itu semakin tumbuh subur di hatinya. Dia semakin enggan untuk pergi jauh dari gadis itu. Akan tetapi, saat teringat dengan kondisi matanya yang memburuk, akhirnya dia terus meyakinkan hatinya pasti akan kembali bersama Rafika lagi.

Dia pun kembali menolak ajakan Calvin untuk ikut pulang bersamanya. Sebelum jadwal operasi matanya tiba, dia akan tinggal bersama dengan Rafika. Tentu saja hal itu membuat Calvin kebingungan, karena sudah pasti tuan besarnya akan marah padanya.

Namun, Calvin tidak tinggal diam, dia segera menghubungi temannya yang bekerja di rumah sakit internasional milik Keluarga Mahardika. Karena dia tahu, di sana ada organ banking. Di mana orang yang sudah mendaftar sebagai pendonor akan dihubungi pihak rumah sakit dan diberikan sejumlah uang menurut kesepatakan bersama.

"Calvin, kamu jangan takut sama kakek! Atur saja jadwal operasi mataku, aku pasti pulang saat waktunya telah tiba," ucap Erlangga.

"Kamu memang keras kepala, beruntung aku sudah mendapatkan donor matanya. Kamu bersiaplah, besok kita harus kembali. Karena hari Senin nanti kamu harus melakukan operasi," ucap Calvin. "Aku akan tinggal di hotel selama kamu tinggal di sini. Puas-puasin saja dulu kamu bersama dengan gadis kecilmu itu. Aku pulang dulu!"

"Calvin, apa tidak bisa diundur lagi waktunya? Kenapa cepat sekali?"

"Tidak bisa! Aku ingin kamu melihat kembali secepatnya. Apa kamu tidak ingin melihat wajah cantik gadis kecilmu. Dia sangat imut, hidungnya mancung tapi kecil. Bibirnya merah muda tanpa pewarna. Alisnya melengkung indah dan yang paling menarik, senyumannya menggetarkan jiwa. Kamu rugi Elang, jika menundanya."

Calvin terus saja memanasi Erlangga agar pemuda itu tidak lagi menolak kepulangannya dipercepat. Dia memang sengaja mengajak pulang besok agar bisa istirahat dulu sebelum operasi itu di laksanakan. Apalagi perjalanan yang cukup jauh, tentu saja akan membuat badan terasa lelah.

"Baiklah! Aku ikut pulang besok. Calvin, kamu jangan terus memandangi calon istriku. Aku akan memukulmu nanti jika aku sudah melihat."

"Apa, Kang? Akang akan pulang besok? Kenapa cepat sekali?" serobot Rafika yang baru datang dengan nampan di tangannya.

"Iya, Fika. Hari Senin, Akang harus sudah operasi mata. Semoga saja operasinya berhasil, biar Akang bisa melihat wajah Fika."

"Hari Senin, Fika sudah mulai ujian. Mungkin Fika tidak bisa ikut Akang ke sana," ucap Rafika melas seraya menyimpan dua gelas kopi yang dibawanya.

"Do'akan saja Akang, semoga operasinya berjalan dengan lancar."

"Iya, Kang. Fika pasti berdo'a untuk kesembuhan Akang."

"Ehm, Fika kopinya diminum ya!" ujar Calvin seraya mengambil gelas yang ada di atas meja.

"Iya, Bang Silakan!"

Setelah cukup berbincang-bincang, Calvin pamit pulang. Sudah dua hari dia menginap di hotel, karena sepulang periksa mata Erlangga, dia belum kembali ke Jakarta. Bagaimana dia bisa ke Jakarta kalau Erlangga terus aja menolak untuk ikut. Makanya dia berusaha keras mencari pendonor dan langsung menjadwalkan operasi Erlangga. Beruntung ada temannya yang membantu prosedur operasi itu.

Sementara Erlangga dan Rafika terlihat semakin lengket. Mereka seakan-akan enggan berpisah satu sama lain. Sampai Sofie yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Kasian putriku! Lagi-lagi harus kehilangan sosok laki-laki yang disayanginya. Seandainya Asep bukan orang kaya, mungkin Ibu juga akan merestui hubungan kalian. Tapi sekarang keadaannya tidak mungkin, batin Sofie.

"Ibu, kenapa bengong di pintu?" tegur Rafika saat menyadari kehadiran ibunya.

"Ibu mau ke dapur, kaget melihat kamu lendotan gitu sama Asep. Gak boleh gitu, Fika! Kalian belum halal, jangan terlalu dekat seperti itu! Nanti ada setan lewat malah ikutan," tegur Sofie.

"Apaan sih, Bu? Kang Asep mau halalin Fika tapi nanti kalau Fika sudah besar," ucap Fika tidak tahu malu.

"Iya, Bu. Saya pasti kembali jika nanti sudah bisa melihat lagi," ucap Erlangga dengan tersenyum malu-malu.

Ya ampun mereka berdua sama-sama jatuh cinta. Semoga Tuhan menjodohkan kalian, tapi jika tidak berjodoh, semoga tidak ada yang terluka di antara kalian, batin Sofie.

Sofie langsung pergi menuju ke kamarnya. Dibuka kembali secarik kertas perjanjian yang sudah ditandatanganinya. Dia membaca kembali pasal demi pasal dalam kertas itu. Yang pada intinya, dia dan Rafika tidak boleh mengungkit kembali soal kecelakaan yang terjadi pada Erlangga. Mereka juga dilarang untuk mengaku sebagai orang yang telah menyelamatkan Erlangga jika laki-laki itu sudah kembali ingatannya

Namun, yang paling membuatnya gentar, saat Kakeknya Erlangga memperingati dia agar menjauhkan Rafika dari Erlangga. Karena dia tidak akan pernah merestui hubungan mereka. Kalau saja mereka terus memaksa saling berhubungan, maka Keluarga Rafika harus bersiap menanggung akibatnya.

Kecemasan Sofie sangat berbanding terbalik dengan perasaan dua insan yang sedang terkena virus cinta. Rafika mengajak Erlangga untuk menikmati sore hari di kebun belakang rumahnya. Dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit. Di bawah pohon Asam dengan bangku bambu yang mereka duduki, Rafika bersandar di bahu Erlangga.

"Kang, kalau nanti operasinya berhasil, apa ingatan Akang akan kembali lagi?" tanya Rafika dengan menengadahkan kepalanya melihat ke arah sang pujaan hati.

"Akang tidak tahu, semoga saja bisa ingat kembali."

"Kalau ingatan Akang sudah kembali, apa Akang akan ingat sama Fika?"

"Tentu saja. Fika, apa Akang boleh menyentuh wajahmu?"

"Memangnya kenapa harus disentuh?"

"Saat Akang merasakan pahatan wajah kamu, Akang akan menyimpannya di dalam hati. Agar saat ingatan Akang kembali dan tidak mengingatmu, hati Akang yang akan mengingatnya."

Rafika membenarkan duduknya dan menghadap ke arah Erlangga. Dia mengambil tangan Erlangga agar menyentuh wajahnya. Perlahan tangan Erlangga pun menyusuri wajah Rafika. Mulai dari ujung rambutnya, turun ke dahi, turun ke alis, kedua matanya, hidung minimalisnya, kedua pipinya, dagunya dan terakhir menangkup kedua rahangnya dengan kedua ibu jari Erlangga mengelus bibir tipis Rafika.

Gadis itu membeku di tempatnya. Merasakan getaran aneh di hatinya. Tubuhnya seperti tersengat listrik beraliran kecil saat jari itu mengelus bibirnya. Dia yang belum merasakan hal yang seperti itu dari lelaki manapun, perlahan memejamkan matanya dengan meringis saat Erlangga semakin memajukan wajahnya. Namun, saat kedua benda kenyal itu baru saling menempel, terdengar ada suara orang yang mengagetkan mereka.

"Woy! Halalkan dulu baru diicip," teriak Kiran yang baru saja datang.

Erlangga langsung melepaskan tangannya. Begitupun dengan Rafika yang terlihat salah tingkah. Mereka sangat malu karena ada yang memergokinya.

"Kiran, ngapain ke sini?" tanya Rafika kikuk.

"Aku mau shopping! Ya kali shopping di tepi sungai, sudah tahu mau ketemu kamu, nanya lagi." Kiran langsung mengerucutkan bibirnya.

"Hehehe ... Tahu dari mana aku ada di sini?"

"Bi Sofie. Katanya Kang Asep besok mau pulang ya?"

"Iya, Kiran. Do'akan Akang ya, biar operasinya berjalan dengan lancar."

"Pasti, Kang! Kita hanya bisa mendoakan dari sini, semoga kondisi Akang kembali membaik seperti sebelum kecelakaan itu."

"Aamiin. Terima kasih Kiran."

...~Bersambung~...

...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....

...Terima kasih....

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

ADA CALVIN YG KENAL WAJAH FIKA, SMOGA CALVIN JUGA NNTI TDK LUPA SAMA FIKA..
YG JAHAT NI SI KAKEK, TDK SPRTI KAKEK2 KLUARGA WIRATAMA, PUTRA, PRADIPTA, ARGANTARA, MRK TDK PANDANG KASTA, NI SI KAKEK BRAMANTYO ANGKUH BANGET..

2024-01-02

1

༄༅⃟𝐐AzzaDzaky

༄༅⃟𝐐AzzaDzaky

sampe part ini...rasanya mo nangis, smoga erlangga jodoh km fik...

2022-09-25

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2 Bab 2 Aku Tidak Ingat
3 Bab 3 Ayo Pulang!
4 Bab 4 Menolak Ikut
5 Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6 Bab 6 Memancing Ikan
7 Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8 Bab 8 Bukti Kuat
9 Bab 9 Periksa Mata
10 Bab 10 Suka dan Duka
11 Bab 11 Rencana Operasi
12 Bab 12 Malam Terakhir
13 Bab 13 Berpisah
14 Bab 14 Ujian
15 Bab 15 Membaik
16 Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17 Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18 Bab 18 Kelulusan
19 Bab 19 Life Must Go On
20 Bab 20 Move On
21 Bab 21 Dia Berbeda
22 Bab 22 Bos Aneh
23 Bab 23 Makan Bersama
24 Bab 24 Mungkinkah dia?
25 Bab 25 Tertidur Di Bahu
26 Bab 26 Langit dan Bumi
27 Bab 27 Melepaskan Perasaan
28 Bab 28 Pura-pura Sakit
29 Bab 29 Dipanggil Bos
30 Bab 30 Bonus
31 Bab 31 Mabuk
32 Bab 32 Peringatan Calvin
33 Bab 33 Berdamai
34 Bab 34 Bibir Kamu Manis
35 Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36 Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37 Bab 37 Cicilan
38 Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39 Bab 39 Tawaran Erlangga
40 Bab 40 Kembali Bersama
41 Bab 41 Cokelat Cinta
42 Bab 42 Menyamar
43 Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44 Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45 Bab 45 Menguntit
46 Bab 46 Mencari Rafika
47 Bab 47 Belajar Realistis
48 Bab 48 Lamaran
49 Bab 49 Ganti Rugi
50 Bab 50 Gugurkan anak itu!
51 Bab 51 Cukup, Kakek!
52 Bab 52 Keputusan Kakek
53 Bab 53 Serah Terima Jabatan
54 Bab 54 Dihadang Penguntit
55 Bab 55 Rahasia Rafika
56 Bab 56 Terciduk
57 Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58 Bab 58 Sah
59 Bab 59 Malam Pengantin
60 Bab 60 Palang Merah
61 Bab 61 Lupakan!
62 Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63 Bab 63 Rencana Yang Sukses
64 Bab 64 Salah Mencintai
65 Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66 Bab 66 Pulang
67 Bab 67 Terungkap Fakta
68 Bab 68 Permintaan Kakek
69 Bab 69 Kenapa harus malu?
70 Bab 70 Gara-gara Rafika
71 Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72 Bab 72 Manjanya Rafika
73 Bab 73 Peringatan Fika
74 Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75 Bab 75 Mual di Pagi Hari
76 Bab 76 Periksa Kandungan
77 Bab 77 Makan Siang
78 Bab 78 Kiran Jatuh
79 Bab 79 Azab
80 Bab 80 Kemarahan Erlangga
81 Bab 81 Rumput Fatimah
82 Bab 82 Kontraksi
83 Bab 83 Koma
84 Bab 84 Pelajaran Berharga
85 Bab 85 Syukuran
86 Bab 86 Buka Puasa
87 Bab 87 Calvin Pingsan
88 Bab 88 Bang, lihat apa?
89 Bab 89 Ghibah
90 Bab 90 Berlibur Bersama
91 Bab 91 Sunrise
92 Bab 92 Puber Kedua
93 Bab 93 Terima Kasih ( End )
94 Promo Mainan CEO Arogant
95 Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2
Bab 2 Aku Tidak Ingat
3
Bab 3 Ayo Pulang!
4
Bab 4 Menolak Ikut
5
Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6
Bab 6 Memancing Ikan
7
Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8
Bab 8 Bukti Kuat
9
Bab 9 Periksa Mata
10
Bab 10 Suka dan Duka
11
Bab 11 Rencana Operasi
12
Bab 12 Malam Terakhir
13
Bab 13 Berpisah
14
Bab 14 Ujian
15
Bab 15 Membaik
16
Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17
Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18
Bab 18 Kelulusan
19
Bab 19 Life Must Go On
20
Bab 20 Move On
21
Bab 21 Dia Berbeda
22
Bab 22 Bos Aneh
23
Bab 23 Makan Bersama
24
Bab 24 Mungkinkah dia?
25
Bab 25 Tertidur Di Bahu
26
Bab 26 Langit dan Bumi
27
Bab 27 Melepaskan Perasaan
28
Bab 28 Pura-pura Sakit
29
Bab 29 Dipanggil Bos
30
Bab 30 Bonus
31
Bab 31 Mabuk
32
Bab 32 Peringatan Calvin
33
Bab 33 Berdamai
34
Bab 34 Bibir Kamu Manis
35
Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36
Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37
Bab 37 Cicilan
38
Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39
Bab 39 Tawaran Erlangga
40
Bab 40 Kembali Bersama
41
Bab 41 Cokelat Cinta
42
Bab 42 Menyamar
43
Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44
Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45
Bab 45 Menguntit
46
Bab 46 Mencari Rafika
47
Bab 47 Belajar Realistis
48
Bab 48 Lamaran
49
Bab 49 Ganti Rugi
50
Bab 50 Gugurkan anak itu!
51
Bab 51 Cukup, Kakek!
52
Bab 52 Keputusan Kakek
53
Bab 53 Serah Terima Jabatan
54
Bab 54 Dihadang Penguntit
55
Bab 55 Rahasia Rafika
56
Bab 56 Terciduk
57
Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58
Bab 58 Sah
59
Bab 59 Malam Pengantin
60
Bab 60 Palang Merah
61
Bab 61 Lupakan!
62
Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63
Bab 63 Rencana Yang Sukses
64
Bab 64 Salah Mencintai
65
Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66
Bab 66 Pulang
67
Bab 67 Terungkap Fakta
68
Bab 68 Permintaan Kakek
69
Bab 69 Kenapa harus malu?
70
Bab 70 Gara-gara Rafika
71
Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72
Bab 72 Manjanya Rafika
73
Bab 73 Peringatan Fika
74
Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75
Bab 75 Mual di Pagi Hari
76
Bab 76 Periksa Kandungan
77
Bab 77 Makan Siang
78
Bab 78 Kiran Jatuh
79
Bab 79 Azab
80
Bab 80 Kemarahan Erlangga
81
Bab 81 Rumput Fatimah
82
Bab 82 Kontraksi
83
Bab 83 Koma
84
Bab 84 Pelajaran Berharga
85
Bab 85 Syukuran
86
Bab 86 Buka Puasa
87
Bab 87 Calvin Pingsan
88
Bab 88 Bang, lihat apa?
89
Bab 89 Ghibah
90
Bab 90 Berlibur Bersama
91
Bab 91 Sunrise
92
Bab 92 Puber Kedua
93
Bab 93 Terima Kasih ( End )
94
Promo Mainan CEO Arogant
95
Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!