Benar apa yang orang bilang, pasti ada hikmah dibalik sebuah musibah. Itulah yang kini Erlangga rasakan. Dulu saat sebelum terjadinya kecelakaan itu. Hatinya selalu terasa hampa. Namun, semenjak mengenal Rafika lebih jauh, hidupnya yang gelap terasa lebih berwarna.
Semakin hari, bunga-bunga cinta itu semakin tumbuh subur di hatinya. Dia semakin enggan untuk pergi jauh dari gadis itu. Akan tetapi, saat teringat dengan kondisi matanya yang memburuk, akhirnya dia terus meyakinkan hatinya pasti akan kembali bersama Rafika lagi.
Dia pun kembali menolak ajakan Calvin untuk ikut pulang bersamanya. Sebelum jadwal operasi matanya tiba, dia akan tinggal bersama dengan Rafika. Tentu saja hal itu membuat Calvin kebingungan, karena sudah pasti tuan besarnya akan marah padanya.
Namun, Calvin tidak tinggal diam, dia segera menghubungi temannya yang bekerja di rumah sakit internasional milik Keluarga Mahardika. Karena dia tahu, di sana ada organ banking. Di mana orang yang sudah mendaftar sebagai pendonor akan dihubungi pihak rumah sakit dan diberikan sejumlah uang menurut kesepatakan bersama.
"Calvin, kamu jangan takut sama kakek! Atur saja jadwal operasi mataku, aku pasti pulang saat waktunya telah tiba," ucap Erlangga.
"Kamu memang keras kepala, beruntung aku sudah mendapatkan donor matanya. Kamu bersiaplah, besok kita harus kembali. Karena hari Senin nanti kamu harus melakukan operasi," ucap Calvin. "Aku akan tinggal di hotel selama kamu tinggal di sini. Puas-puasin saja dulu kamu bersama dengan gadis kecilmu itu. Aku pulang dulu!"
"Calvin, apa tidak bisa diundur lagi waktunya? Kenapa cepat sekali?"
"Tidak bisa! Aku ingin kamu melihat kembali secepatnya. Apa kamu tidak ingin melihat wajah cantik gadis kecilmu. Dia sangat imut, hidungnya mancung tapi kecil. Bibirnya merah muda tanpa pewarna. Alisnya melengkung indah dan yang paling menarik, senyumannya menggetarkan jiwa. Kamu rugi Elang, jika menundanya."
Calvin terus saja memanasi Erlangga agar pemuda itu tidak lagi menolak kepulangannya dipercepat. Dia memang sengaja mengajak pulang besok agar bisa istirahat dulu sebelum operasi itu di laksanakan. Apalagi perjalanan yang cukup jauh, tentu saja akan membuat badan terasa lelah.
"Baiklah! Aku ikut pulang besok. Calvin, kamu jangan terus memandangi calon istriku. Aku akan memukulmu nanti jika aku sudah melihat."
"Apa, Kang? Akang akan pulang besok? Kenapa cepat sekali?" serobot Rafika yang baru datang dengan nampan di tangannya.
"Iya, Fika. Hari Senin, Akang harus sudah operasi mata. Semoga saja operasinya berhasil, biar Akang bisa melihat wajah Fika."
"Hari Senin, Fika sudah mulai ujian. Mungkin Fika tidak bisa ikut Akang ke sana," ucap Rafika melas seraya menyimpan dua gelas kopi yang dibawanya.
"Do'akan saja Akang, semoga operasinya berjalan dengan lancar."
"Iya, Kang. Fika pasti berdo'a untuk kesembuhan Akang."
"Ehm, Fika kopinya diminum ya!" ujar Calvin seraya mengambil gelas yang ada di atas meja.
"Iya, Bang Silakan!"
Setelah cukup berbincang-bincang, Calvin pamit pulang. Sudah dua hari dia menginap di hotel, karena sepulang periksa mata Erlangga, dia belum kembali ke Jakarta. Bagaimana dia bisa ke Jakarta kalau Erlangga terus aja menolak untuk ikut. Makanya dia berusaha keras mencari pendonor dan langsung menjadwalkan operasi Erlangga. Beruntung ada temannya yang membantu prosedur operasi itu.
Sementara Erlangga dan Rafika terlihat semakin lengket. Mereka seakan-akan enggan berpisah satu sama lain. Sampai Sofie yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Kasian putriku! Lagi-lagi harus kehilangan sosok laki-laki yang disayanginya. Seandainya Asep bukan orang kaya, mungkin Ibu juga akan merestui hubungan kalian. Tapi sekarang keadaannya tidak mungkin, batin Sofie.
"Ibu, kenapa bengong di pintu?" tegur Rafika saat menyadari kehadiran ibunya.
"Ibu mau ke dapur, kaget melihat kamu lendotan gitu sama Asep. Gak boleh gitu, Fika! Kalian belum halal, jangan terlalu dekat seperti itu! Nanti ada setan lewat malah ikutan," tegur Sofie.
"Apaan sih, Bu? Kang Asep mau halalin Fika tapi nanti kalau Fika sudah besar," ucap Fika tidak tahu malu.
"Iya, Bu. Saya pasti kembali jika nanti sudah bisa melihat lagi," ucap Erlangga dengan tersenyum malu-malu.
Ya ampun mereka berdua sama-sama jatuh cinta. Semoga Tuhan menjodohkan kalian, tapi jika tidak berjodoh, semoga tidak ada yang terluka di antara kalian, batin Sofie.
Sofie langsung pergi menuju ke kamarnya. Dibuka kembali secarik kertas perjanjian yang sudah ditandatanganinya. Dia membaca kembali pasal demi pasal dalam kertas itu. Yang pada intinya, dia dan Rafika tidak boleh mengungkit kembali soal kecelakaan yang terjadi pada Erlangga. Mereka juga dilarang untuk mengaku sebagai orang yang telah menyelamatkan Erlangga jika laki-laki itu sudah kembali ingatannya
Namun, yang paling membuatnya gentar, saat Kakeknya Erlangga memperingati dia agar menjauhkan Rafika dari Erlangga. Karena dia tidak akan pernah merestui hubungan mereka. Kalau saja mereka terus memaksa saling berhubungan, maka Keluarga Rafika harus bersiap menanggung akibatnya.
Kecemasan Sofie sangat berbanding terbalik dengan perasaan dua insan yang sedang terkena virus cinta. Rafika mengajak Erlangga untuk menikmati sore hari di kebun belakang rumahnya. Dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit. Di bawah pohon Asam dengan bangku bambu yang mereka duduki, Rafika bersandar di bahu Erlangga.
"Kang, kalau nanti operasinya berhasil, apa ingatan Akang akan kembali lagi?" tanya Rafika dengan menengadahkan kepalanya melihat ke arah sang pujaan hati.
"Akang tidak tahu, semoga saja bisa ingat kembali."
"Kalau ingatan Akang sudah kembali, apa Akang akan ingat sama Fika?"
"Tentu saja. Fika, apa Akang boleh menyentuh wajahmu?"
"Memangnya kenapa harus disentuh?"
"Saat Akang merasakan pahatan wajah kamu, Akang akan menyimpannya di dalam hati. Agar saat ingatan Akang kembali dan tidak mengingatmu, hati Akang yang akan mengingatnya."
Rafika membenarkan duduknya dan menghadap ke arah Erlangga. Dia mengambil tangan Erlangga agar menyentuh wajahnya. Perlahan tangan Erlangga pun menyusuri wajah Rafika. Mulai dari ujung rambutnya, turun ke dahi, turun ke alis, kedua matanya, hidung minimalisnya, kedua pipinya, dagunya dan terakhir menangkup kedua rahangnya dengan kedua ibu jari Erlangga mengelus bibir tipis Rafika.
Gadis itu membeku di tempatnya. Merasakan getaran aneh di hatinya. Tubuhnya seperti tersengat listrik beraliran kecil saat jari itu mengelus bibirnya. Dia yang belum merasakan hal yang seperti itu dari lelaki manapun, perlahan memejamkan matanya dengan meringis saat Erlangga semakin memajukan wajahnya. Namun, saat kedua benda kenyal itu baru saling menempel, terdengar ada suara orang yang mengagetkan mereka.
"Woy! Halalkan dulu baru diicip," teriak Kiran yang baru saja datang.
Erlangga langsung melepaskan tangannya. Begitupun dengan Rafika yang terlihat salah tingkah. Mereka sangat malu karena ada yang memergokinya.
"Kiran, ngapain ke sini?" tanya Rafika kikuk.
"Aku mau shopping! Ya kali shopping di tepi sungai, sudah tahu mau ketemu kamu, nanya lagi." Kiran langsung mengerucutkan bibirnya.
"Hehehe ... Tahu dari mana aku ada di sini?"
"Bi Sofie. Katanya Kang Asep besok mau pulang ya?"
"Iya, Kiran. Do'akan Akang ya, biar operasinya berjalan dengan lancar."
"Pasti, Kang! Kita hanya bisa mendoakan dari sini, semoga kondisi Akang kembali membaik seperti sebelum kecelakaan itu."
"Aamiin. Terima kasih Kiran."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
ADA CALVIN YG KENAL WAJAH FIKA, SMOGA CALVIN JUGA NNTI TDK LUPA SAMA FIKA..
YG JAHAT NI SI KAKEK, TDK SPRTI KAKEK2 KLUARGA WIRATAMA, PUTRA, PRADIPTA, ARGANTARA, MRK TDK PANDANG KASTA, NI SI KAKEK BRAMANTYO ANGKUH BANGET..
2024-01-02
1
༄༅⃟𝐐AzzaDzaky
sampe part ini...rasanya mo nangis, smoga erlangga jodoh km fik...
2022-09-25
2