Bab 8 Bukti Kuat

Siang ini terasa terik, Erlangga merasa kegerahan berada di dalam kamarnya. Dia pun berjalan dengan meraba ke tembok agar bisa keluar dari kamar yang kecil itu. Sebuah kamar yang hanya memuat satu tempat tidur dengan lemari laci di dalamnya.

Memang selama Erlangga tinggal di rumah Rafika, dia menempati kamar gadis itu. Sedangkan bajunya memakai baju almarhum ayahnya Rafika. Hanya dalam-an baju saja yang ibu Rafika belikan untuk pemuda itu.

"Asep, mau ke mana?" tanya Sofie yang baru datang dari dapur.

"Mau ke depan, Bu. Hari ini terasa sangat panas sekali," jawab Erlangga.

"Kamu duduk saja dulu. Nanti Ibu bikinkan sirup," suruh Sofie seraya membantu Erlangga duduk di kursi.

"Terima kasih, Bu."

"Sama-sama. Asep tidak usah sungkan sama Ibu. Semenjak kamu di sini, Ibu merasa kembali punya anak dua. Dulu Fika punya kakak, tapi dia meninggal waktu masih berumur enam tahun, karena hanyut di sungai saat kampung ini terkena banjir besar."

"Kejadiannya seperti aku ya, Bu?"

"Mungkin mirip tapi anak Ibu tidak seberuntung kamu. Ya sudah Ibu ke warung dulu." Sofie langsung pergi menuju warungnya yang ada di depan rumahnya.

Dia selalu sedih setiap kali mengenang anak pertamanya. Dia yang waktu itu sedang mengandung Rafika, tidak menyadari kalau putranya menyelinap ke luar rumah karena penasaran mendengar suara gemuruh air di sungai. Namun, naas bagi bocah kecil itu, dia terpeleset dan jatuh ke sungai saat melihat banjir di atas jembatan.

Warga yang melihat kejadian itu hanya bisa berteriak tetapi tidak ada yang berani menolongnya. Mereka hanya berlarian menuju ke bendungan agar bisa menemukan tubuh bocah itu. Akan tetapi, saat ditemukan, kakaknya Rafika dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Sofie kembali ke dalam rumahnya dengan segelas sirop di tangannya. Bersamaan dengan dua mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti di pinggir jalan. Jantung Sofie mendadak berdetak kencang saat melihat empat orang lelaki dengan setelan jas mahal serta satu orang wanita cantik turun dari mobil mewah itu.

"Asep, orang kaya itu kembali," ucap Sofie dengan suara yang bergetar.

"Ibu, jangan takut! Aku akan menghadapi mereka," ucap Erlangga.

"Assalamu'alaikum," ucap laki-laki muda yang Sofie tahu bernama Calvin.

"Wa'alaikumsalam," jawab Sofie dan Erlangga serempak.

"Boleh kami masuk?" tanya Calvin.

"Silakan, Tuan!"

Lagi dan lagi, tidak ada seorang pun dari mereka yang mau duduk di kursi. Mereka memilih berdiri. Meskipun sebenarnya Calvin dan seorang pengacara keluarga Bramantyo ingin sekali duduk. Akan tetapi, mereka merasa segan jika Tuan Ageng memilih untuk berdiri. Apalagi Nyonya Merlina, ibu tirinya Erlangga dan Leonardo, adik tirinya Erlangga juga hanya berdiri seraya menelisik keadaan rumah Sofie.

"Elang, Kakek sudah membawa pengacara yang akan membuktikan kalau kamu adalah cucu Kakek. Selain itu juga, Kakek sudah membawa surat-surat penting milik kamu. Kalau KTP dan SIM serta kartu ATM kamu tidak Kakek temukan. Mungkin hilang di sungai, atau disembunyikan oleh gadis itu," ucap Tuan Ageng seraya melirik ke arah Sofie.

"Maaf, Tuan. Saat Fika menemukan Asep, dia tidak menemukan identitas dia, makanya dibawa ke sini," bela Sofie.

"Ibu tolong lihat ijazah aku dan samakan fotonya dengan wajahku," pinta Erlangga

Dengan tangan yang bergetar, Sofie pun mengambil ijazah dari SMA sampai kuliah adan Akte kelahiran Erlangga yang diberikan oleh Calvin. Namun dia tidak bisa membacanya karena tulisannya dalam bahasa Inggris. Calvin yang mengerti dengan kebingungan Sofie akhirnya angkat bicara.

"Maaf, Bu boleh saya jelaskan sedikit! Laki-laki yang biasa Ibu panggil Asep itu sahabat saya. Kami sama-sama kuliah di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan mengambil jurusan Mechanical Engineering. Dia lulusan terbaik pada angkatan kami." Calvin menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.

"Pada saat kejadian dia hanyut di sungai, sebenarnya kami baru saja memenangkan pelelangan lahan industri. Kalau Ibu masih kurang percaya, silakan lihat album ini. Aku sengaja membawanya agar lebih menguatkan bukti bahwa Asep itu sebenarnya Erlangga Bramantyo, CEO baru di perusahaan Elang Group." Calvin melirik sekilas ke arah Merlina yang terlihat risih berada di sana.

Sofie yang menerima album milik Calvin, langsung membukanya halaman demi halaman. Nampak di sana foto-foto Erlangga dan Calvin dari mereka memakai seragam merah putih sampai dengan baju toga saat wisuda kuliah. Calvin memang sengaja menyimpan semua kenangan dia dengan Erlangga dalam satu album.

"A-Asep, ka-kamu benar cucunya Tuan ini. Ibu sudah melihatnya," ucap Sofie gugup.

"Baik, saya percaya dengan apa yang Tuan katakan kalau saya memang Erlangga. Tapi maaf, saya belum bisa ikut sekarang." Lagi-lagi Erlangga menolak untuk ikut serta bersama dengan keluarganya.

"Elang, alasan apalagi yang akan kamu pakai? Aku mencari keberadaan kamu siang dan malam. Tapi saat sudah ketemu, kamu malah menolak untuk ikut. Jangan bilang kamu ingin tinggal di sini selamanya. Dengar Elang, tempat kamu bukan di sini. Kamu tidak pantas berada di sini. Perusahaan dan seluruh karyawan membutuhkan kamu. Apa kamu ingin ribuan karyawan itu menjadi pengangguran karena perusahaan dikelola oleh orang yang tidak tepat?" sentak Tuan Ageng.

Dia merasa sangat kesal dengan Erlangga yang tidak mau kembali padanya. Bukan tanpa sebab dia bersikeras ingin secepatnya membawa Erlangga pulang. Selain khawatir melihat keadaan cucunya yang mengenaskan menurutnya. Dia juga memikirkan perusahaan yang susah payah dia bangun hingga sebesar sekarang.

Di sisi lain, Merlina terus saja memintanya agar jabatan CEO diberikan pada putranya Leonardo. Sementara dia tahu, cucu keduanya itu tidak bisa diberikan amanah yang besar, mengingat kebiasaannya yang sering bergonta-ganti pacar dan menghamburkan uang.

"Maafkan aku, Kakek! Aku akan ikut dengan Kakek setelah berpamitan dengan Fika dan Kiran. Mereka yang sudah menemukan aku di sungai. Aku juga minta, Kakek memberikan mereka beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Aku pasti akan ikut dengan Kakek jika memang benar Kakek keluarga yang aku punya. Aku hanya minta Kakek memenuhi keinginan aku sebelum aku pergi dari sini," ucap Erlangga lembut.

Dia bisa merasakan nada putus asa dari suara Tuan itu. Makanya Erlangga melembutkan suaranya dan langsung memanggil Kakek pada Tuan Ageng. Dia merasa tidak tega pada Taun yang menurutnya angkuh itu

"Baik! Berapa pun yang kamu minta, aku akan berikan." Tuan Ageng langsung menyetujui keinginan cucunya.

"Maaf, Asep. Ibu menyela, Ibu ikhlas merawat kamu di sini. Tidak perlu memberikan ...."

"Maaf, Bu. Saya minta Ibu setujui saja keinginan Erlangga. Jangan mempersulit kami untuk membawa Erlangga pulang!" potong Calvin yang berdiri di dekat Sofie.

"Benar, Bu. Sebaiknya Ibu mengikuti saja. Boleh saya berbicara bertiga dulu dengan Kakek dan Calvin?" pinta Erlangga.

"Oh, Iya silakan! Kalau begitu Ibu ke warung dulu!" pamit Sofie.

Sofie dan ketiga orang lainnya pun memilih ke luar rumah. Mereka sengaja memberikan ruang untuk Erlangga dan Kakeknya. Namun, saat Sofie akan ke warungnya, tiba-tiba saja Merlina menarik tangan Sofie.

"Dengar, Bu! Setelah Erlangga pulang, jangan sampai Ibu dan gadis yang tadi disebutkannya menemui Erlangga. Dia tidak cocok bergaul dengan kalian. Apalagi kalau sampai menjalin hubungan dengan salah satu gadis itu. Anggap saja uang yang akan diberikan mertua saya, sebagai kompensasi karena putri Ibu sudah menolong putra saya."

...~Bersambung~...

...Dukung terus Author ya! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....

...Terima kasih....

Terpopuler

Comments

Ami batam

Ami batam

gmn reaksinya Fika klo tahu elang di bawa pulang sama kakek ny, padahal bunga bunga cinta mulai bersemi di hati gadis cabe cabean ini😥

2022-09-13

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2 Bab 2 Aku Tidak Ingat
3 Bab 3 Ayo Pulang!
4 Bab 4 Menolak Ikut
5 Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6 Bab 6 Memancing Ikan
7 Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8 Bab 8 Bukti Kuat
9 Bab 9 Periksa Mata
10 Bab 10 Suka dan Duka
11 Bab 11 Rencana Operasi
12 Bab 12 Malam Terakhir
13 Bab 13 Berpisah
14 Bab 14 Ujian
15 Bab 15 Membaik
16 Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17 Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18 Bab 18 Kelulusan
19 Bab 19 Life Must Go On
20 Bab 20 Move On
21 Bab 21 Dia Berbeda
22 Bab 22 Bos Aneh
23 Bab 23 Makan Bersama
24 Bab 24 Mungkinkah dia?
25 Bab 25 Tertidur Di Bahu
26 Bab 26 Langit dan Bumi
27 Bab 27 Melepaskan Perasaan
28 Bab 28 Pura-pura Sakit
29 Bab 29 Dipanggil Bos
30 Bab 30 Bonus
31 Bab 31 Mabuk
32 Bab 32 Peringatan Calvin
33 Bab 33 Berdamai
34 Bab 34 Bibir Kamu Manis
35 Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36 Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37 Bab 37 Cicilan
38 Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39 Bab 39 Tawaran Erlangga
40 Bab 40 Kembali Bersama
41 Bab 41 Cokelat Cinta
42 Bab 42 Menyamar
43 Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44 Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45 Bab 45 Menguntit
46 Bab 46 Mencari Rafika
47 Bab 47 Belajar Realistis
48 Bab 48 Lamaran
49 Bab 49 Ganti Rugi
50 Bab 50 Gugurkan anak itu!
51 Bab 51 Cukup, Kakek!
52 Bab 52 Keputusan Kakek
53 Bab 53 Serah Terima Jabatan
54 Bab 54 Dihadang Penguntit
55 Bab 55 Rahasia Rafika
56 Bab 56 Terciduk
57 Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58 Bab 58 Sah
59 Bab 59 Malam Pengantin
60 Bab 60 Palang Merah
61 Bab 61 Lupakan!
62 Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63 Bab 63 Rencana Yang Sukses
64 Bab 64 Salah Mencintai
65 Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66 Bab 66 Pulang
67 Bab 67 Terungkap Fakta
68 Bab 68 Permintaan Kakek
69 Bab 69 Kenapa harus malu?
70 Bab 70 Gara-gara Rafika
71 Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72 Bab 72 Manjanya Rafika
73 Bab 73 Peringatan Fika
74 Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75 Bab 75 Mual di Pagi Hari
76 Bab 76 Periksa Kandungan
77 Bab 77 Makan Siang
78 Bab 78 Kiran Jatuh
79 Bab 79 Azab
80 Bab 80 Kemarahan Erlangga
81 Bab 81 Rumput Fatimah
82 Bab 82 Kontraksi
83 Bab 83 Koma
84 Bab 84 Pelajaran Berharga
85 Bab 85 Syukuran
86 Bab 86 Buka Puasa
87 Bab 87 Calvin Pingsan
88 Bab 88 Bang, lihat apa?
89 Bab 89 Ghibah
90 Bab 90 Berlibur Bersama
91 Bab 91 Sunrise
92 Bab 92 Puber Kedua
93 Bab 93 Terima Kasih ( End )
94 Promo Mainan CEO Arogant
95 Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2
Bab 2 Aku Tidak Ingat
3
Bab 3 Ayo Pulang!
4
Bab 4 Menolak Ikut
5
Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6
Bab 6 Memancing Ikan
7
Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8
Bab 8 Bukti Kuat
9
Bab 9 Periksa Mata
10
Bab 10 Suka dan Duka
11
Bab 11 Rencana Operasi
12
Bab 12 Malam Terakhir
13
Bab 13 Berpisah
14
Bab 14 Ujian
15
Bab 15 Membaik
16
Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17
Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18
Bab 18 Kelulusan
19
Bab 19 Life Must Go On
20
Bab 20 Move On
21
Bab 21 Dia Berbeda
22
Bab 22 Bos Aneh
23
Bab 23 Makan Bersama
24
Bab 24 Mungkinkah dia?
25
Bab 25 Tertidur Di Bahu
26
Bab 26 Langit dan Bumi
27
Bab 27 Melepaskan Perasaan
28
Bab 28 Pura-pura Sakit
29
Bab 29 Dipanggil Bos
30
Bab 30 Bonus
31
Bab 31 Mabuk
32
Bab 32 Peringatan Calvin
33
Bab 33 Berdamai
34
Bab 34 Bibir Kamu Manis
35
Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36
Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37
Bab 37 Cicilan
38
Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39
Bab 39 Tawaran Erlangga
40
Bab 40 Kembali Bersama
41
Bab 41 Cokelat Cinta
42
Bab 42 Menyamar
43
Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44
Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45
Bab 45 Menguntit
46
Bab 46 Mencari Rafika
47
Bab 47 Belajar Realistis
48
Bab 48 Lamaran
49
Bab 49 Ganti Rugi
50
Bab 50 Gugurkan anak itu!
51
Bab 51 Cukup, Kakek!
52
Bab 52 Keputusan Kakek
53
Bab 53 Serah Terima Jabatan
54
Bab 54 Dihadang Penguntit
55
Bab 55 Rahasia Rafika
56
Bab 56 Terciduk
57
Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58
Bab 58 Sah
59
Bab 59 Malam Pengantin
60
Bab 60 Palang Merah
61
Bab 61 Lupakan!
62
Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63
Bab 63 Rencana Yang Sukses
64
Bab 64 Salah Mencintai
65
Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66
Bab 66 Pulang
67
Bab 67 Terungkap Fakta
68
Bab 68 Permintaan Kakek
69
Bab 69 Kenapa harus malu?
70
Bab 70 Gara-gara Rafika
71
Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72
Bab 72 Manjanya Rafika
73
Bab 73 Peringatan Fika
74
Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75
Bab 75 Mual di Pagi Hari
76
Bab 76 Periksa Kandungan
77
Bab 77 Makan Siang
78
Bab 78 Kiran Jatuh
79
Bab 79 Azab
80
Bab 80 Kemarahan Erlangga
81
Bab 81 Rumput Fatimah
82
Bab 82 Kontraksi
83
Bab 83 Koma
84
Bab 84 Pelajaran Berharga
85
Bab 85 Syukuran
86
Bab 86 Buka Puasa
87
Bab 87 Calvin Pingsan
88
Bab 88 Bang, lihat apa?
89
Bab 89 Ghibah
90
Bab 90 Berlibur Bersama
91
Bab 91 Sunrise
92
Bab 92 Puber Kedua
93
Bab 93 Terima Kasih ( End )
94
Promo Mainan CEO Arogant
95
Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!