Siang ini terasa terik, Erlangga merasa kegerahan berada di dalam kamarnya. Dia pun berjalan dengan meraba ke tembok agar bisa keluar dari kamar yang kecil itu. Sebuah kamar yang hanya memuat satu tempat tidur dengan lemari laci di dalamnya.
Memang selama Erlangga tinggal di rumah Rafika, dia menempati kamar gadis itu. Sedangkan bajunya memakai baju almarhum ayahnya Rafika. Hanya dalam-an baju saja yang ibu Rafika belikan untuk pemuda itu.
"Asep, mau ke mana?" tanya Sofie yang baru datang dari dapur.
"Mau ke depan, Bu. Hari ini terasa sangat panas sekali," jawab Erlangga.
"Kamu duduk saja dulu. Nanti Ibu bikinkan sirup," suruh Sofie seraya membantu Erlangga duduk di kursi.
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama. Asep tidak usah sungkan sama Ibu. Semenjak kamu di sini, Ibu merasa kembali punya anak dua. Dulu Fika punya kakak, tapi dia meninggal waktu masih berumur enam tahun, karena hanyut di sungai saat kampung ini terkena banjir besar."
"Kejadiannya seperti aku ya, Bu?"
"Mungkin mirip tapi anak Ibu tidak seberuntung kamu. Ya sudah Ibu ke warung dulu." Sofie langsung pergi menuju warungnya yang ada di depan rumahnya.
Dia selalu sedih setiap kali mengenang anak pertamanya. Dia yang waktu itu sedang mengandung Rafika, tidak menyadari kalau putranya menyelinap ke luar rumah karena penasaran mendengar suara gemuruh air di sungai. Namun, naas bagi bocah kecil itu, dia terpeleset dan jatuh ke sungai saat melihat banjir di atas jembatan.
Warga yang melihat kejadian itu hanya bisa berteriak tetapi tidak ada yang berani menolongnya. Mereka hanya berlarian menuju ke bendungan agar bisa menemukan tubuh bocah itu. Akan tetapi, saat ditemukan, kakaknya Rafika dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
Sofie kembali ke dalam rumahnya dengan segelas sirop di tangannya. Bersamaan dengan dua mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti di pinggir jalan. Jantung Sofie mendadak berdetak kencang saat melihat empat orang lelaki dengan setelan jas mahal serta satu orang wanita cantik turun dari mobil mewah itu.
"Asep, orang kaya itu kembali," ucap Sofie dengan suara yang bergetar.
"Ibu, jangan takut! Aku akan menghadapi mereka," ucap Erlangga.
"Assalamu'alaikum," ucap laki-laki muda yang Sofie tahu bernama Calvin.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sofie dan Erlangga serempak.
"Boleh kami masuk?" tanya Calvin.
"Silakan, Tuan!"
Lagi dan lagi, tidak ada seorang pun dari mereka yang mau duduk di kursi. Mereka memilih berdiri. Meskipun sebenarnya Calvin dan seorang pengacara keluarga Bramantyo ingin sekali duduk. Akan tetapi, mereka merasa segan jika Tuan Ageng memilih untuk berdiri. Apalagi Nyonya Merlina, ibu tirinya Erlangga dan Leonardo, adik tirinya Erlangga juga hanya berdiri seraya menelisik keadaan rumah Sofie.
"Elang, Kakek sudah membawa pengacara yang akan membuktikan kalau kamu adalah cucu Kakek. Selain itu juga, Kakek sudah membawa surat-surat penting milik kamu. Kalau KTP dan SIM serta kartu ATM kamu tidak Kakek temukan. Mungkin hilang di sungai, atau disembunyikan oleh gadis itu," ucap Tuan Ageng seraya melirik ke arah Sofie.
"Maaf, Tuan. Saat Fika menemukan Asep, dia tidak menemukan identitas dia, makanya dibawa ke sini," bela Sofie.
"Ibu tolong lihat ijazah aku dan samakan fotonya dengan wajahku," pinta Erlangga
Dengan tangan yang bergetar, Sofie pun mengambil ijazah dari SMA sampai kuliah adan Akte kelahiran Erlangga yang diberikan oleh Calvin. Namun dia tidak bisa membacanya karena tulisannya dalam bahasa Inggris. Calvin yang mengerti dengan kebingungan Sofie akhirnya angkat bicara.
"Maaf, Bu boleh saya jelaskan sedikit! Laki-laki yang biasa Ibu panggil Asep itu sahabat saya. Kami sama-sama kuliah di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan mengambil jurusan Mechanical Engineering. Dia lulusan terbaik pada angkatan kami." Calvin menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Pada saat kejadian dia hanyut di sungai, sebenarnya kami baru saja memenangkan pelelangan lahan industri. Kalau Ibu masih kurang percaya, silakan lihat album ini. Aku sengaja membawanya agar lebih menguatkan bukti bahwa Asep itu sebenarnya Erlangga Bramantyo, CEO baru di perusahaan Elang Group." Calvin melirik sekilas ke arah Merlina yang terlihat risih berada di sana.
Sofie yang menerima album milik Calvin, langsung membukanya halaman demi halaman. Nampak di sana foto-foto Erlangga dan Calvin dari mereka memakai seragam merah putih sampai dengan baju toga saat wisuda kuliah. Calvin memang sengaja menyimpan semua kenangan dia dengan Erlangga dalam satu album.
"A-Asep, ka-kamu benar cucunya Tuan ini. Ibu sudah melihatnya," ucap Sofie gugup.
"Baik, saya percaya dengan apa yang Tuan katakan kalau saya memang Erlangga. Tapi maaf, saya belum bisa ikut sekarang." Lagi-lagi Erlangga menolak untuk ikut serta bersama dengan keluarganya.
"Elang, alasan apalagi yang akan kamu pakai? Aku mencari keberadaan kamu siang dan malam. Tapi saat sudah ketemu, kamu malah menolak untuk ikut. Jangan bilang kamu ingin tinggal di sini selamanya. Dengar Elang, tempat kamu bukan di sini. Kamu tidak pantas berada di sini. Perusahaan dan seluruh karyawan membutuhkan kamu. Apa kamu ingin ribuan karyawan itu menjadi pengangguran karena perusahaan dikelola oleh orang yang tidak tepat?" sentak Tuan Ageng.
Dia merasa sangat kesal dengan Erlangga yang tidak mau kembali padanya. Bukan tanpa sebab dia bersikeras ingin secepatnya membawa Erlangga pulang. Selain khawatir melihat keadaan cucunya yang mengenaskan menurutnya. Dia juga memikirkan perusahaan yang susah payah dia bangun hingga sebesar sekarang.
Di sisi lain, Merlina terus saja memintanya agar jabatan CEO diberikan pada putranya Leonardo. Sementara dia tahu, cucu keduanya itu tidak bisa diberikan amanah yang besar, mengingat kebiasaannya yang sering bergonta-ganti pacar dan menghamburkan uang.
"Maafkan aku, Kakek! Aku akan ikut dengan Kakek setelah berpamitan dengan Fika dan Kiran. Mereka yang sudah menemukan aku di sungai. Aku juga minta, Kakek memberikan mereka beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Aku pasti akan ikut dengan Kakek jika memang benar Kakek keluarga yang aku punya. Aku hanya minta Kakek memenuhi keinginan aku sebelum aku pergi dari sini," ucap Erlangga lembut.
Dia bisa merasakan nada putus asa dari suara Tuan itu. Makanya Erlangga melembutkan suaranya dan langsung memanggil Kakek pada Tuan Ageng. Dia merasa tidak tega pada Taun yang menurutnya angkuh itu
"Baik! Berapa pun yang kamu minta, aku akan berikan." Tuan Ageng langsung menyetujui keinginan cucunya.
"Maaf, Asep. Ibu menyela, Ibu ikhlas merawat kamu di sini. Tidak perlu memberikan ...."
"Maaf, Bu. Saya minta Ibu setujui saja keinginan Erlangga. Jangan mempersulit kami untuk membawa Erlangga pulang!" potong Calvin yang berdiri di dekat Sofie.
"Benar, Bu. Sebaiknya Ibu mengikuti saja. Boleh saya berbicara bertiga dulu dengan Kakek dan Calvin?" pinta Erlangga.
"Oh, Iya silakan! Kalau begitu Ibu ke warung dulu!" pamit Sofie.
Sofie dan ketiga orang lainnya pun memilih ke luar rumah. Mereka sengaja memberikan ruang untuk Erlangga dan Kakeknya. Namun, saat Sofie akan ke warungnya, tiba-tiba saja Merlina menarik tangan Sofie.
"Dengar, Bu! Setelah Erlangga pulang, jangan sampai Ibu dan gadis yang tadi disebutkannya menemui Erlangga. Dia tidak cocok bergaul dengan kalian. Apalagi kalau sampai menjalin hubungan dengan salah satu gadis itu. Anggap saja uang yang akan diberikan mertua saya, sebagai kompensasi karena putri Ibu sudah menolong putra saya."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
...Terima kasih....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ami batam
gmn reaksinya Fika klo tahu elang di bawa pulang sama kakek ny, padahal bunga bunga cinta mulai bersemi di hati gadis cabe cabean ini😥
2022-09-13
2