Bab 14 Ujian

Dua hari sudah Rafika ditinggalkan oleh Erlangga. Dia terus saja murung karena kepergian laki-laki itu. Rafika sangat menyesal karena dia lupa meminta nomor ponsel Calvin. Seandainya saja, waktu itu dia memintanya, mungkin dia bisa menghubungi laki-laki itu dan menanyakan kabar kekasih hatinya.

"Fika, jangan melamun terus. Hari ini, hari pertama kita ujian. Kamu harus bisa menjawab soal-soal agar kita lulus sekolah," ucap Kiranti saat mereka menunggu jam masuk kelas.

"Kiran, kenapa hatiku merasa hampa gak ada Kang Asep."

"Entah dimana, dirimu berada, hampa terasa hidupku tanpa dirimu." celetuk Baim yang duduk di dekat Kiranti.

Bugh!

Tanpa permisi, kaki Rafika melayang mengenai tulang kering Baim. Tentu saja anak laki-laki itu langsung meringis. Matanya melotot sempurna menahan kesal pada gadis yang disukai sahabatnya.

"Sakit Fika!" sentak Baim.

"Rasain! Siapa suruh kamu nyanyi lagu itu," sinis Rafika.

"Kamu sih Baim, cari masalah. Jangan godain Fika, dia lagi sensi," bisik Kiranti pelan.

"Dasar cewek tengil! Kalau lagi kesal suka gak kira-kira," sungut Baim.

"Makanya jangan ganggu orang yang sedang frustrasi karena ditinggal pergi," ucap Zaenal pelan.

"Tahu akh! Terus saja bela dia, padahal dia tidak pernah menghargai perasaan kamu." Baim langsung bangun dari duduknya. Dia berlalu pergi masuk ke dalam kelas.

Tidak lama kemudian, bel sekolah pun telah berbunyi. Semua anak-anak kelas XII masuk ke dalam ruang ujiannya. Rafika dan Kiranti langsung masuk ke ruangan yang sama dengan Zaenal. Meskipun tempat duduk mereka terpisah jauh.

Setelah pengawas ruangan masuk dan memberikan lembar soal serta memberikan pengarahan kepada semua siswa, mereka pun mulai mengerjakan soal satu demi satu. Akan tetapi, ada satu gadis yang masih asyik dengan lamunannya. Sampai guru pengawas itu datang menghampirinya dan melihat hasil kerja dia.

"Rafika Qatrunada, kenapa kamu belum mengerjakan soal? Ini waktunya ujian kelulusan, tapi kamu malah asyik melamun. Apa yang sedang kamu lamunkan?" tanya guru pengawas yang bernama Elin.

"Kang Asep," jawab Rafika pelan dengan tatapan kosong.

"Rafika, cepat kerjakan soalnya!" suruh Bu Elin dengan menggebrak meja Rafika.

Tentu saja Rafika terlonjak kaget. Hampir saja dia mencengkeram kerah baju guru itu, seandainya dia tidak cepat tersadar kalau sedang berbicara dengan guru pengawas.

"Iya, Bu!" sahut Rafika.

Dia pun kembali melihat kertas soal yang membulatkan jawaban di lembar jawaban komputer. Sementara guru pengawas tadi sengaja berdiri di belakang Rafika untuk mengawasi gadis itu agar tidak melamun lagi.

Dia mengerjakan soal cepat sekali. Apa jawabannya itu meyakinkan? Aku jadi penasaran dengan gadis ini, batin Elin.

Dia pun mengambil lembar jawaban soal dan mencocokkan jawaban Rafika. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat menyadari jawaban gadis itu hampir semuanya benar. Apalagi, saat Rafika keluar lebih dulu dari teman-teman sekelasnya.

Tidak jauh berbeda dengan Rafika, Kiranti pun tidak mengalami kesulitan saat menjawab soal-soal. Dia pun segera menyusul sahabatnya saat melihat Rafika sudah keluar lebih dulu.

"Fika tunggu! Kamu mau ke mana?" tanya Kiranti.

"Aku mau ke kantin. Ternyata melamun memikirkan Kang Asep butuh energi. Perutku lapar sekali," keluh Rafika.

"Salah siapa kamu tidak sarapan? Udahlah Fika, kamu jangan terus memikirkan Kang Asep. Lebih baik kita berdo'a agar operasi dia lancar. Bukankah hari ini dia operasi?" Kiranti merangkul pundak sahabatnya. Mereka berjalan beriringan menuju ke kantin.

"Iya, makanya aku terus mikirin dia. Aku khawatir kenapa-napa," ungkap Rafika.

"In sya Allah Kang Asep baik-baik saja. Dia itu orang yang beruntung. Sudah menabrak pembatas jalan, terjun ke sungai, hanyut terbawa arus deras, tapi masih selamat dari maut. Ya meskipun dia jadi amnesia dan buta."

"Kamu benar, Kang Asep orang yang beruntung. Tidak seperti Aa Rafka, hanyut di sungai tapi nyawanya tidak tertolong."

"Bi Teti jus Alpukat dua sama baksonya dua." Kiranti langsung memesan makanan setibanya di kantin.

"Siap, Neng. Ditunggu ya! Tapi kenapa kalian sudah keluar duluan? Yang lain kan belum ada yang keluar," tanya ibu kantin yang bernama Bi Teti.

"Kita kan anak cerdas karena setiap hari minum susu," Ceplos Kiranti.

"Gaya kamu susu, tiap hari cuma dikasih bajigur juga," cibir Rafika.

"Hahaha ... Bajigur juga sehat Fika. Bisa menghangatkan badan."

"Fika Kiran, kenapa kalian sudah keluar?" tanya Pak Usman guru matematika mereka yang terkenal killer. Dia mau membeli sebotol air mineral karena kerongkongannya terasa sangat kering.

"Hehehe ... Bapak. Kami sudah kelar, Pak!" jawab Kiranti cengengesan.

"Waktunya masih tiga puluh menit lagi, kalian sudah selesai mengerjakan soal?" tanya Pak Usman merasa tidak percaya dengan kemampuannya kedua gadis itu. Karena setahunya mereka bukan salah satu muridnya yang terbilang cerdas.

"Sudah dong, Pak!" sahut Rafika.

"Bapak ingin tahu, nilai ujian nasional kalian nanti. Masih tiga puluh menit tapi sudah keluar kelas," ucap Pak Usman seraya membayar sebotol air mineral yang dia beli.

"Bapak jangan kaget ya! Kalau nanti nilai kita paling tinggi," ujar Rafika.

"Kalau benar nilai kalian paling tinggi, Bapak akan kasih kalian hadiah. Sudahlah, Bapak mau kembali ke kelas."

...***...

Sementara jauh di ibu kota, nampak seorang pemuda tampan yang sedang duduk di bed rumah sakit. Erlangga sedang bersiap untuk menjalani operasinya yang dijadwalkan nanti siang. Dia didampingi oleh Calvin yang setia menemaninya.

"Calvin, boleh pinjam ponsel kamu?" tanya Erlangga.

"Ponsel? Buat apa?" tanya Calvin.

"Aku ingin menelpon Fika. Aku ingin mendengar suaranya sebelum masuk ke ruang operasi. Bukankah kamu punya nomor dia? Foto-foto aku dengan Fika, tolong jangan dihapus! Saat nanti ingatanku kembali dan melupakan dia, kamu tunjukkan foto itu padaku ya!" pinta Erlangga.

Mana mungkin aku menunjukkannya Elang kalau kakek kamu sudah mewanti-wanti agar tidak mengingatkan kamu pada gadis itu. Tapi aku akan berbaik hati sekali ini saja dengan membiarkan kamu menghubungi gadis itu, batin Calvin.

"Sebentar aku cari dulu!" Calvin pun mencoba menghubungi nomor Rafika yang dia simpan saat waktu itu memberikan pulsa pada gadis itu. Setelah tersambung, dia pun segera menyapanya.

"Halo, Fika! Ini Calvin."

"Apa? Bang Calvin? Kang Asep mana, Bang?"

"Sebentar aku berikan ponselnya dulu." Calvin pun langsung memberikan ponselnya pada Erlangga. Tentu saja sahabatnya sangat senang mendengar suara gadis yang dirindukannya.

"Halo Fika, apa kabar?" tanya Erlangga dengan kedua sudut bibirnya terangkat sempurna.

"Fika gak baik, Kang. Fika rindu berat sama Akang." Terdengar suara Rafika yang serak di seberang sana.

"Akang juga rindu. Bagaimana ujian kamu? Apa bisa mengerjakannya?"

"Bisa, Kang. Soalnya mirip sekali dengan kisi-kisi yang Akang ajarkan."

"Syukurlah kalau kamu bisa mengerjakannya. Belajar yang rajin ya! Biar secepatnya Fika kuliah di sini."

"Iya, Kang. Fika akan fokus belajar biar cepat-cepat lulus dan bisa nyusul Akang."

"Akang tutup dulu ya, Sayang! Dokternya sudah datang." Erlangga segera mematikan ponselnya saat Calvin berbisik padanya mengatakan tentang kedatangan dokter.

...~Bersambung~...

...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....

...Terima kasih....

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

NAHHH. LO SAVE TU NO CALVIN..

2024-01-02

0

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

LO KOQ GITU VIN, LO HRS DUKUNG ELANG, BKN DUKUNG TU KAKEK ANGKUH..

2024-01-02

1

Ami batam

Ami batam

pacaran jarak jauh itu biasanya bnyk resikonya, tetapi mudah mudahan nggk berat kali konfliknya nnti

2022-09-16

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2 Bab 2 Aku Tidak Ingat
3 Bab 3 Ayo Pulang!
4 Bab 4 Menolak Ikut
5 Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6 Bab 6 Memancing Ikan
7 Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8 Bab 8 Bukti Kuat
9 Bab 9 Periksa Mata
10 Bab 10 Suka dan Duka
11 Bab 11 Rencana Operasi
12 Bab 12 Malam Terakhir
13 Bab 13 Berpisah
14 Bab 14 Ujian
15 Bab 15 Membaik
16 Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17 Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18 Bab 18 Kelulusan
19 Bab 19 Life Must Go On
20 Bab 20 Move On
21 Bab 21 Dia Berbeda
22 Bab 22 Bos Aneh
23 Bab 23 Makan Bersama
24 Bab 24 Mungkinkah dia?
25 Bab 25 Tertidur Di Bahu
26 Bab 26 Langit dan Bumi
27 Bab 27 Melepaskan Perasaan
28 Bab 28 Pura-pura Sakit
29 Bab 29 Dipanggil Bos
30 Bab 30 Bonus
31 Bab 31 Mabuk
32 Bab 32 Peringatan Calvin
33 Bab 33 Berdamai
34 Bab 34 Bibir Kamu Manis
35 Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36 Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37 Bab 37 Cicilan
38 Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39 Bab 39 Tawaran Erlangga
40 Bab 40 Kembali Bersama
41 Bab 41 Cokelat Cinta
42 Bab 42 Menyamar
43 Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44 Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45 Bab 45 Menguntit
46 Bab 46 Mencari Rafika
47 Bab 47 Belajar Realistis
48 Bab 48 Lamaran
49 Bab 49 Ganti Rugi
50 Bab 50 Gugurkan anak itu!
51 Bab 51 Cukup, Kakek!
52 Bab 52 Keputusan Kakek
53 Bab 53 Serah Terima Jabatan
54 Bab 54 Dihadang Penguntit
55 Bab 55 Rahasia Rafika
56 Bab 56 Terciduk
57 Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58 Bab 58 Sah
59 Bab 59 Malam Pengantin
60 Bab 60 Palang Merah
61 Bab 61 Lupakan!
62 Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63 Bab 63 Rencana Yang Sukses
64 Bab 64 Salah Mencintai
65 Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66 Bab 66 Pulang
67 Bab 67 Terungkap Fakta
68 Bab 68 Permintaan Kakek
69 Bab 69 Kenapa harus malu?
70 Bab 70 Gara-gara Rafika
71 Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72 Bab 72 Manjanya Rafika
73 Bab 73 Peringatan Fika
74 Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75 Bab 75 Mual di Pagi Hari
76 Bab 76 Periksa Kandungan
77 Bab 77 Makan Siang
78 Bab 78 Kiran Jatuh
79 Bab 79 Azab
80 Bab 80 Kemarahan Erlangga
81 Bab 81 Rumput Fatimah
82 Bab 82 Kontraksi
83 Bab 83 Koma
84 Bab 84 Pelajaran Berharga
85 Bab 85 Syukuran
86 Bab 86 Buka Puasa
87 Bab 87 Calvin Pingsan
88 Bab 88 Bang, lihat apa?
89 Bab 89 Ghibah
90 Bab 90 Berlibur Bersama
91 Bab 91 Sunrise
92 Bab 92 Puber Kedua
93 Bab 93 Terima Kasih ( End )
94 Promo Mainan CEO Arogant
95 Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1 Terbawa Arus Sungai
2
Bab 2 Aku Tidak Ingat
3
Bab 3 Ayo Pulang!
4
Bab 4 Menolak Ikut
5
Bab 5 Kang, rujakan yuk!
6
Bab 6 Memancing Ikan
7
Bab 7 Ajari kita dong, Kang!
8
Bab 8 Bukti Kuat
9
Bab 9 Periksa Mata
10
Bab 10 Suka dan Duka
11
Bab 11 Rencana Operasi
12
Bab 12 Malam Terakhir
13
Bab 13 Berpisah
14
Bab 14 Ujian
15
Bab 15 Membaik
16
Bab 16 Suara Gadis Dalam Mimpi
17
Bab 17 Layu Sebelum Berkembang
18
Bab 18 Kelulusan
19
Bab 19 Life Must Go On
20
Bab 20 Move On
21
Bab 21 Dia Berbeda
22
Bab 22 Bos Aneh
23
Bab 23 Makan Bersama
24
Bab 24 Mungkinkah dia?
25
Bab 25 Tertidur Di Bahu
26
Bab 26 Langit dan Bumi
27
Bab 27 Melepaskan Perasaan
28
Bab 28 Pura-pura Sakit
29
Bab 29 Dipanggil Bos
30
Bab 30 Bonus
31
Bab 31 Mabuk
32
Bab 32 Peringatan Calvin
33
Bab 33 Berdamai
34
Bab 34 Bibir Kamu Manis
35
Bab 35 Kang Asep Bukan Bos
36
Bab 36 Kedatangan Tuan Ageng
37
Bab 37 Cicilan
38
Bab 38 Kang Asep Akan Menepati Janji
39
Bab 39 Tawaran Erlangga
40
Bab 40 Kembali Bersama
41
Bab 41 Cokelat Cinta
42
Bab 42 Menyamar
43
Bab 43 Tragedi Pesta Dansa
44
Bab 44 Kekasih Gelap Bos
45
Bab 45 Menguntit
46
Bab 46 Mencari Rafika
47
Bab 47 Belajar Realistis
48
Bab 48 Lamaran
49
Bab 49 Ganti Rugi
50
Bab 50 Gugurkan anak itu!
51
Bab 51 Cukup, Kakek!
52
Bab 52 Keputusan Kakek
53
Bab 53 Serah Terima Jabatan
54
Bab 54 Dihadang Penguntit
55
Bab 55 Rahasia Rafika
56
Bab 56 Terciduk
57
Bab 57 Gara-gara Ketiduran
58
Bab 58 Sah
59
Bab 59 Malam Pengantin
60
Bab 60 Palang Merah
61
Bab 61 Lupakan!
62
Bab 62 Tanggung Jawab Calvin
63
Bab 63 Rencana Yang Sukses
64
Bab 64 Salah Mencintai
65
Bab 65 Mencoba Rumah Baru
66
Bab 66 Pulang
67
Bab 67 Terungkap Fakta
68
Bab 68 Permintaan Kakek
69
Bab 69 Kenapa harus malu?
70
Bab 70 Gara-gara Rafika
71
Bab 71 Bermain di Taman Hiburan
72
Bab 72 Manjanya Rafika
73
Bab 73 Peringatan Fika
74
Bab 74 Pemandangan Panas Dingin
75
Bab 75 Mual di Pagi Hari
76
Bab 76 Periksa Kandungan
77
Bab 77 Makan Siang
78
Bab 78 Kiran Jatuh
79
Bab 79 Azab
80
Bab 80 Kemarahan Erlangga
81
Bab 81 Rumput Fatimah
82
Bab 82 Kontraksi
83
Bab 83 Koma
84
Bab 84 Pelajaran Berharga
85
Bab 85 Syukuran
86
Bab 86 Buka Puasa
87
Bab 87 Calvin Pingsan
88
Bab 88 Bang, lihat apa?
89
Bab 89 Ghibah
90
Bab 90 Berlibur Bersama
91
Bab 91 Sunrise
92
Bab 92 Puber Kedua
93
Bab 93 Terima Kasih ( End )
94
Promo Mainan CEO Arogant
95
Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!