Dua hari sudah Rafika ditinggalkan oleh Erlangga. Dia terus saja murung karena kepergian laki-laki itu. Rafika sangat menyesal karena dia lupa meminta nomor ponsel Calvin. Seandainya saja, waktu itu dia memintanya, mungkin dia bisa menghubungi laki-laki itu dan menanyakan kabar kekasih hatinya.
"Fika, jangan melamun terus. Hari ini, hari pertama kita ujian. Kamu harus bisa menjawab soal-soal agar kita lulus sekolah," ucap Kiranti saat mereka menunggu jam masuk kelas.
"Kiran, kenapa hatiku merasa hampa gak ada Kang Asep."
"Entah dimana, dirimu berada, hampa terasa hidupku tanpa dirimu." celetuk Baim yang duduk di dekat Kiranti.
Bugh!
Tanpa permisi, kaki Rafika melayang mengenai tulang kering Baim. Tentu saja anak laki-laki itu langsung meringis. Matanya melotot sempurna menahan kesal pada gadis yang disukai sahabatnya.
"Sakit Fika!" sentak Baim.
"Rasain! Siapa suruh kamu nyanyi lagu itu," sinis Rafika.
"Kamu sih Baim, cari masalah. Jangan godain Fika, dia lagi sensi," bisik Kiranti pelan.
"Dasar cewek tengil! Kalau lagi kesal suka gak kira-kira," sungut Baim.
"Makanya jangan ganggu orang yang sedang frustrasi karena ditinggal pergi," ucap Zaenal pelan.
"Tahu akh! Terus saja bela dia, padahal dia tidak pernah menghargai perasaan kamu." Baim langsung bangun dari duduknya. Dia berlalu pergi masuk ke dalam kelas.
Tidak lama kemudian, bel sekolah pun telah berbunyi. Semua anak-anak kelas XII masuk ke dalam ruang ujiannya. Rafika dan Kiranti langsung masuk ke ruangan yang sama dengan Zaenal. Meskipun tempat duduk mereka terpisah jauh.
Setelah pengawas ruangan masuk dan memberikan lembar soal serta memberikan pengarahan kepada semua siswa, mereka pun mulai mengerjakan soal satu demi satu. Akan tetapi, ada satu gadis yang masih asyik dengan lamunannya. Sampai guru pengawas itu datang menghampirinya dan melihat hasil kerja dia.
"Rafika Qatrunada, kenapa kamu belum mengerjakan soal? Ini waktunya ujian kelulusan, tapi kamu malah asyik melamun. Apa yang sedang kamu lamunkan?" tanya guru pengawas yang bernama Elin.
"Kang Asep," jawab Rafika pelan dengan tatapan kosong.
"Rafika, cepat kerjakan soalnya!" suruh Bu Elin dengan menggebrak meja Rafika.
Tentu saja Rafika terlonjak kaget. Hampir saja dia mencengkeram kerah baju guru itu, seandainya dia tidak cepat tersadar kalau sedang berbicara dengan guru pengawas.
"Iya, Bu!" sahut Rafika.
Dia pun kembali melihat kertas soal yang membulatkan jawaban di lembar jawaban komputer. Sementara guru pengawas tadi sengaja berdiri di belakang Rafika untuk mengawasi gadis itu agar tidak melamun lagi.
Dia mengerjakan soal cepat sekali. Apa jawabannya itu meyakinkan? Aku jadi penasaran dengan gadis ini, batin Elin.
Dia pun mengambil lembar jawaban soal dan mencocokkan jawaban Rafika. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat menyadari jawaban gadis itu hampir semuanya benar. Apalagi, saat Rafika keluar lebih dulu dari teman-teman sekelasnya.
Tidak jauh berbeda dengan Rafika, Kiranti pun tidak mengalami kesulitan saat menjawab soal-soal. Dia pun segera menyusul sahabatnya saat melihat Rafika sudah keluar lebih dulu.
"Fika tunggu! Kamu mau ke mana?" tanya Kiranti.
"Aku mau ke kantin. Ternyata melamun memikirkan Kang Asep butuh energi. Perutku lapar sekali," keluh Rafika.
"Salah siapa kamu tidak sarapan? Udahlah Fika, kamu jangan terus memikirkan Kang Asep. Lebih baik kita berdo'a agar operasi dia lancar. Bukankah hari ini dia operasi?" Kiranti merangkul pundak sahabatnya. Mereka berjalan beriringan menuju ke kantin.
"Iya, makanya aku terus mikirin dia. Aku khawatir kenapa-napa," ungkap Rafika.
"In sya Allah Kang Asep baik-baik saja. Dia itu orang yang beruntung. Sudah menabrak pembatas jalan, terjun ke sungai, hanyut terbawa arus deras, tapi masih selamat dari maut. Ya meskipun dia jadi amnesia dan buta."
"Kamu benar, Kang Asep orang yang beruntung. Tidak seperti Aa Rafka, hanyut di sungai tapi nyawanya tidak tertolong."
"Bi Teti jus Alpukat dua sama baksonya dua." Kiranti langsung memesan makanan setibanya di kantin.
"Siap, Neng. Ditunggu ya! Tapi kenapa kalian sudah keluar duluan? Yang lain kan belum ada yang keluar," tanya ibu kantin yang bernama Bi Teti.
"Kita kan anak cerdas karena setiap hari minum susu," Ceplos Kiranti.
"Gaya kamu susu, tiap hari cuma dikasih bajigur juga," cibir Rafika.
"Hahaha ... Bajigur juga sehat Fika. Bisa menghangatkan badan."
"Fika Kiran, kenapa kalian sudah keluar?" tanya Pak Usman guru matematika mereka yang terkenal killer. Dia mau membeli sebotol air mineral karena kerongkongannya terasa sangat kering.
"Hehehe ... Bapak. Kami sudah kelar, Pak!" jawab Kiranti cengengesan.
"Waktunya masih tiga puluh menit lagi, kalian sudah selesai mengerjakan soal?" tanya Pak Usman merasa tidak percaya dengan kemampuannya kedua gadis itu. Karena setahunya mereka bukan salah satu muridnya yang terbilang cerdas.
"Sudah dong, Pak!" sahut Rafika.
"Bapak ingin tahu, nilai ujian nasional kalian nanti. Masih tiga puluh menit tapi sudah keluar kelas," ucap Pak Usman seraya membayar sebotol air mineral yang dia beli.
"Bapak jangan kaget ya! Kalau nanti nilai kita paling tinggi," ujar Rafika.
"Kalau benar nilai kalian paling tinggi, Bapak akan kasih kalian hadiah. Sudahlah, Bapak mau kembali ke kelas."
...***...
Sementara jauh di ibu kota, nampak seorang pemuda tampan yang sedang duduk di bed rumah sakit. Erlangga sedang bersiap untuk menjalani operasinya yang dijadwalkan nanti siang. Dia didampingi oleh Calvin yang setia menemaninya.
"Calvin, boleh pinjam ponsel kamu?" tanya Erlangga.
"Ponsel? Buat apa?" tanya Calvin.
"Aku ingin menelpon Fika. Aku ingin mendengar suaranya sebelum masuk ke ruang operasi. Bukankah kamu punya nomor dia? Foto-foto aku dengan Fika, tolong jangan dihapus! Saat nanti ingatanku kembali dan melupakan dia, kamu tunjukkan foto itu padaku ya!" pinta Erlangga.
Mana mungkin aku menunjukkannya Elang kalau kakek kamu sudah mewanti-wanti agar tidak mengingatkan kamu pada gadis itu. Tapi aku akan berbaik hati sekali ini saja dengan membiarkan kamu menghubungi gadis itu, batin Calvin.
"Sebentar aku cari dulu!" Calvin pun mencoba menghubungi nomor Rafika yang dia simpan saat waktu itu memberikan pulsa pada gadis itu. Setelah tersambung, dia pun segera menyapanya.
"Halo, Fika! Ini Calvin."
"Apa? Bang Calvin? Kang Asep mana, Bang?"
"Sebentar aku berikan ponselnya dulu." Calvin pun langsung memberikan ponselnya pada Erlangga. Tentu saja sahabatnya sangat senang mendengar suara gadis yang dirindukannya.
"Halo Fika, apa kabar?" tanya Erlangga dengan kedua sudut bibirnya terangkat sempurna.
"Fika gak baik, Kang. Fika rindu berat sama Akang." Terdengar suara Rafika yang serak di seberang sana.
"Akang juga rindu. Bagaimana ujian kamu? Apa bisa mengerjakannya?"
"Bisa, Kang. Soalnya mirip sekali dengan kisi-kisi yang Akang ajarkan."
"Syukurlah kalau kamu bisa mengerjakannya. Belajar yang rajin ya! Biar secepatnya Fika kuliah di sini."
"Iya, Kang. Fika akan fokus belajar biar cepat-cepat lulus dan bisa nyusul Akang."
"Akang tutup dulu ya, Sayang! Dokternya sudah datang." Erlangga segera mematikan ponselnya saat Calvin berbisik padanya mengatakan tentang kedatangan dokter.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
NAHHH. LO SAVE TU NO CALVIN..
2024-01-02
0
Sulaiman Efendy
LO KOQ GITU VIN, LO HRS DUKUNG ELANG, BKN DUKUNG TU KAKEK ANGKUH..
2024-01-02
1
Ami batam
pacaran jarak jauh itu biasanya bnyk resikonya, tetapi mudah mudahan nggk berat kali konfliknya nnti
2022-09-16
2