Chapter 19

Pagi yang indah di Istana bagian utama. Alunan musik terdengar merdu memenuhi ruang makan menemani Edgar yang tengah berkutat dengan pisau dan garpunya seorang diri. Pagi itu Edgar tak ditemani oleh Calista, karena ia tahu Calista sangat jarang ingin makan bersama dengan keluarga Kerajaan sejak istrinya itu tiba di Kerajaan Voheshia. Bahkan setelah ia bertahta sebagai Raja pun, Calista masih enggan untuk untuk ikut makan bersama dengannya.

Anggota keluarga Kerajaan yang lain? Mereka semua telah keluar dari Istana sejak Edgar berkuasa sebagai Raja. Hal itu memang sudah menjadi tradisi Kerajaan dimana setelah Raja sebelumnya wafat, maka para selir yang dimiliki dan Pangeran-pangerannya diharuskan untuk keluar dari Istana demi menjamin keselamatan Raja yang berkuasa setelahnya. Ruang Harem pun dikosongkan dan akan digantikan dengan selir yang dimiliki oleh Raja berikutnya.

Kembali lagi pada Edgar, sebenarnya ia tak masalah dirinya sendirian di ruang makan itu hanya ditemani oleh gramaphone yang memainkan instrumen musik untuk menemaninya. Lagipula memang sudah biasa Calista tak hadir dalam ruangan itu, hanya saja sedari ia bangun tidur pagi tadi, Edgar sama sekali tak mendapati keberadaan Calista baik di Istana bagian utama mau pun di kamar lamanya di Istana bagian barat. Gadis itu seolah menghilang tanpa jejak dari hadapannya.

Hal itu lantas membuat perasaannya menjadi tidak nyaman. Sejak awal sarapan, Edgar hanya memainkan makanan yang ada di hadapannya itu dengan pisaunya tanpa sedikit pun berniat untuk menyantapnya. Bahkan kini makanan itu sudah berubah menjadi potongan-potongan kecil yang semakin membuat Edgar tak berselera.

Perutnya yang terasa lapar hanya ia isi dengan wine yang sudah ia habiskan bergelas-gelas melebihi jumlah yang sudah ditentukan. Jangan salahkan Edgar jika gula darahnya tiba-tiba naik, salahkan saja Calista yang kepergiannya secara tiba-tiba membuatnya khawatir dan tak selera untuk makan.

Setengah jam sudah Edgar duduk di kursi makan dan akhirnya Edgar pun memilih untuk menyudahi sarapannya kali ini. Ia meninggalkan makanannya begitu saja tanpa mempedulikan perutnya yang masih berbunyi. Hanya sebuah apel yang Edgar ambil dari atas meja makan dan dibawanya keluar dari ruang makan.

Saat itu suasana dalam Istana sama sibuknya seperti hari-hari pada biasanya. Orang-orang berlalu-lalang dan disibukkan dengan urusan mereka masing-masing. Tak jarang Edgar menjumpai beberapa bawahan anggota Dewan Kerajaan membawa tumpukan berkas yang akan diserahkan pada atasan mereka.

Dewan Kerajaan sendiri memang selain memiliki tugas untuk mengatur kehidupan keluarga Kerajaan, mereka juga bertugas untuk mengawasi pemerintahan yang dijalankan oleh bangsawan-bangsawan atas nama Raja agar tak terjadi penyimpangan yang berujung pada kerugian Kerajaan.

Ditengah perjalanan Edgar menuju ruang kerjanya, secara kebetulan ia bertemu dengan Daniel, putra semata wayang dari keluarga Ardarel.

"Yang Mulia," Daniel yang melihat Edgar lantas menunduk dan menyapanya, membuat Edgar yang semula tak menyadari keberadaannya kini menoleh padanya.

"Ah, Daniel," sorot mata Edgar langsung tertuju pada sebuah berkas yang ada pada Daniel. "Sepertinya kau sedang sibuk."

Daniel langsung mengerti kemana pandangan Edgar mengarah. Ia lantas menyerahkan berkas yang dibawa olehnya pada Edgar seraya berkata "Ya, Yang Mulia. Ini laporan yang dikerjakan oleh ayah untuk ditunjukkan pada Yang Mulia. Saya diminta untuk menggantikannya selama ayah menjalani pengobatannya."

"Ah," Edgar mengangguk kecil saat ia menerima berkas yang diberikan oleh Daniel padanya. Sedikit mengejutkan memang saat Edgar mendengar kabar bahwa Archduke Ardarel sedang sakit, namun ia memilih untuk tak bertanya lebih jauh lagi pada putra Archduke Ardarel itu.

Ditengah pembicaraan mereka, Edgar teringat akan kekhawatirannya mengenai Calista sehingga membuatnya bertanya pada Daniel "Apa kau melihat Calista pagi tadi?"

"Yang Mulia Permaisuri?" Daniel berfikir sejenak, ia mencoba mengingat-ingat saat pagi tadi ia berpapasan dengan seseorang. Setelah beberapa saat, Daniel pun menjawab "Sir Dalvin memberitahu saya kalau Yang Mulia Permaisuri Calista akan pergi ke kota Saradokh untuk membantu korban perang di sana. Apa Sir Dalvin tidak memberitahu Yang Mulia tentang kepergian Yang Mulia Permaisuri?"

"Tidak." Edgar hanya menjawab dengan singkat, tanpa ekspresi pada wajahnya. Lantas Edgar pun pergi meninggalkan Daniel tanpa sepatah kata pun.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Kereta kuda yang ditumpangi oleh Calista baru saja sampai di kota Saradokh, kota yang berbatasan langsung dengan kota Valche yang telah diduduki oleh pasukan Kerajaan Lozarayas. Sebelum pintu kereta kuda itu dibukakan, Dalvin yang duduk di seberang Calista terlebih dahulu memberikan sebuah topeng pada gadis itu.

Barulah setelah Calista menutupi wajahnya dengan topeng yang diberikan oleh Dalvin, pintu kereta kuda pun dibukakan. Suasana hiruk-pikuk perkotaan langsung terasa saat Calista turun dari kereta kudanya. Diantara mereka yang berlalu-lalang, ada yang membawa korban perang yang akan dilarikan ke pusat kesehatan dan beberapa yang lainnya ada yang membantu proses evakuasi kota.

Suara letupan yang memekakkan telinga juga terdengar mengiringinya, membuat Calista yang terkejut sontak menutup kedua telinganya. Dalvin dan beberapa pelayan lainnya langsung memasang badan untuk menjaga Calista.

"Apa yang kalian lakukan?!" Calista justru langsung naik pitam saat melihat pelayannya mencoba melindungi dirinya. "Kalian seharusnya bantu yang lainnya!"

"Maaf, Yang Mulia." pelayan-pelayannya tertunduk dengan perasaan bersalah saat Calista memarahi mereka.

Calista hanya menghela nafasnya kasar, ia lantas pergi meninggalkan para pelayannya diiringi dengan Dalvin yang melangkah di belakangnya. Kini keduanya telah sampai di depan sebuah kapel. Kapel itu begitu ramai oleh orang-orang yang mengantri, membuat Calista sedikit keheranan.

Dalvin melirik sekilas pada raut wajah Calista lantas ia pun menjelaskan apa yang terjadi di sana. "Kapel-kapel yang ada di kota ini telah dialihfungsikan menjadi pusat kesehatan atas persetujuan dari yang bersangkutan, Yang Mulia. Para petugas medis juga dikerahkan untuk menolong mereka yang terluka di medan perang."

Calista hanya terdiam. Pandangannya terpaku pada orang-orang yang tengah dirawat di dalam kapel itu. Ada sedikit perasaan bersalah dalam hatinya sehingga membuatnya terasa sakit. Namun Calista memilih untuk mengesampingkan perasaannya. Kini pandangan Calista tertuju pada sosok wanita yang berjalan menghampirinya.

Wanita itu wajahnya tertutupi oleh perban, namun Calista masih dapat mengenali wajahnya yang tersembunyi di balik perban itu. Wanita itu lantas menunduk sejenak pada Calista.

Calista terkekeh saat melihat wanita itu yang kini sudah berdiri di hadapannya. Ia pun berkata "Penyamaranmu sangat aneh, Marchioness Malette."

"Setidaknya tak ada yang mengenali saya, Yang Mulia." keduanya lantas tertawa bersamaan, dengan Dalvin yang bergabung dalam pembicaraan mereka berdua.

"Yang Mulia Permaisuri selama beberapa hari kedepan akan membantu merawat korban yang terluka." ucap Dalvin pada Marchioness Malette.

Sementara itu, Marchioness Malette mengangguk. Kini atensi wanita itu beralih dari Dalvin pada Calista. Kemudian ia berkata pada Calista "Raja Lozarayas enggan untuk menarik mundur pasukannya dari kota Valche, Yang Mulia. Saya khawatir perang besar benar-benar akan terjadi."

"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Marchioness Malette." ucap Calista sembari mengusap bahu wanita yang berdiri di depannya itu. "Semuanya sudah diatur, yang perlu kau lakukan hanyalah memastikan semuanya berjalan sesuai perannya."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!