Chapter 08

Salju yang semalam turun kini menutupi hamparan tanah di taman Istana bagian utama. Tak hanya itu, tanaman-tanaman yang kering juga terlihat menghiasi tepian taman.

Sang Raja kini tengah bersantai bersama dengan Sang Permaisuri menikmati hari yang tenang itu. Mereka juga ditemani oleh Calista yang juga sedang menggendong Samantha dalam dekapannya.

"Kau sepertinya sangat menyayangi kucingmu itu," ucap Sang Raja di tengah keheningan mereka. Sang Raja memang sudah memperhatikan sedari awal Calista yang tak pernah bisa dijauhkan dari Samantha, kucing piaraannya.

"Sepertinya memang begitu." Sang Permaisuri pun setuju dengan perkataan Sang Raja. Sejak awal pertemuannya dengan Calista saat acara sarapan pagi keluarga Kerajaan, bahkan ia melihat sendiri Samantha yang mencicipi sarapan milik Calista.

Rasa penasaran akan alasan Calista yang begitu dekat dengan Samantha pun menghinggapi pikiran Sang Permaisuri, membuatnya lantas bertanya "Memang apa istimewanya dia sampai kau tak bisa dijauhkan darinya, Calista?"

"Tak ada alasan khusus, Yang Mulia." Calista memberikan penolakan pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Sang Permaisuri. "Samantha telah menemani saya dalam suka mau pun duka lima tahun lamanya, Yang Mulia. Hanya itu yang membuat saya begitu menyayangi Samantha."

"Ah," Sang Permaisuri begitu takjub dengan sikap Calista yang sangat jarang dimiliki oleh bangsawan lainnya. Dengan gaya hidup mereka yang mewah nan gemerlap, para bangsawan pada umumnya mudah merasa bosan dan seringkali mereka bergonta-ganti piaraan, termasuk Sang Permaisuri sendiri.

Disaat mereka bertiga tengah bersantai, Calista tanpa sengaja melihat seorang pria dari arah yang berbeda tengah berlari menghampiri mereka. Sosoknya menjadi jelas saat ia berhenti dan menunduk pada Sang Raja. Archduke Ardarel terengah-engah dalam nafasnya saat ia berkata "Perdana Menteri Darrel telah wafat, Yang Mulia."

Sang Raja yang baru saja mendapat kabar yang mengejutkan itu terlihat bersedih dari raut wajahnya. Tatapannya yang semula cerah kini menjadi lesu dan Sang Raja pun berkata "Aku turut berduka cita atas meninggalnya Perdana Menteri Darrel, Archduke Ardarel. Kirimkan karangan bunga dari Istana untuk keluarga Darrel."

"Baik, Yang Mulia." Archduke Ardarel mengangguk mengiyakan perintah dari Sang Raja.

Saat Archduke Ardarel hendak pergi menjalankan tugas yang diberikan oleh Sang Raja, Archduke Ardarel Ardarel terlebih dahulu menunduk untuk Calista. Calista hanya tersenyum dan setelah itu Archduke Ardarel pun pergi meninggalkan mereka bertiga.

Seperginya Archduke Ardarel dari hadapan mereka, Sang Raja seketika terlihat lemas. Sang Permaisuri yang menyadari akan hal itu lantas langsung menuntun Sang Raja untuk kembali ke dalam Istana.

"Nikmati harimu, Calista. Sepertinya Yang Mulia Raja butuh sedikit waktu untuk istirahat." Sang Permaisuri pun kemudian mengajak Sang Raja untuk kembali ke Istana.

Calista hanya menatap mereka berdua yang kian lama kian menjauh. Ia dapat membayangkan betapa dekatnya hubungan Sang Raja dengan Perdana Menteri Darrel yang baru saja dikabarkan meninggal. Itu dapat terlihat dari reaksi Sang Raja saat mendapat kabar itu dari Archduke Ardarel. Meski pun Calista baru saja tergabung dalam anggota keluarga Kerajaan tetapi ia yakin betul bahwa Sang Raja bukanlah sosok yang serapuh itu apalagi jika hanya ditinggalkan oleh seorang Perdana Menteri, kecuali jika mereka memiliki hubungan yang dekat.

"Tuan Putri," sorot mata Calista beralih pada Dalvin yang baru saja datang. Pria itu datang secara tiba-tiba sehingga membuat Calista sedikit terkejut karenanya. "Perdana Menteri Darrel sudah wafat, Tuan Putri. Apa yang selanjutnya harus kita ambil, Tuan Putri?"

"Selanjutnya?" Calista tampak berfikir. Situasi seperti ini sebenarnya menguntungkan bagi Calista. Tak perlu dijelaskan apa alasannya, karena hanya Calista lah yang mengetahuinya. Lantas Calista pun berkata "Sampaikan permintaan kita pada Kerajaan Lozarayas."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Suasana ruang pertemuan Dewan Kerajaan sangat riuh saat itu. Masing-masing dari mereka tentunya sudah mendapatkan kabar tentang kematian Sang Perdana Menteri dan kini pertemuan darurat yang diadakan oleh Archduke Ardarel sebagai ketua Dewan Kerajaan akan membahas kelanjutan kepemimpinan dalam Kementerian Kerajaan Voheshia.

Namun suasana kembali tenang saat Archduke Ardarel datang dengan beberapa berkas yang dibawa olehnya. Lantas Archduke Ardarel kemudian berjalan menuju kursinya dan menatap satu per satu orang-orang yang hadir di sana.

"Perdana Menteri Darrel telah wafat, dan Kementerian telah mengirimkan Dewan Kerajaan daftar-daftar kandidat mereka yang akan maju dalam pemilihan selanjutnya." ucap Archduke Ardarel membuka pertemuan para Dewan Kerajaan.

Semua orang yang hadir di sana tampak terkejut. Bagaimana bisa semua itu terjadi begitu cepat? Dalam tradisi Kerajaan Voheshia, biasanya setelah Perdana Menteri sebelumnya wafat atau pun berhenti, Kementerian akan diberikan waktu paling lambat sampai 7 hari pasca kematian Sang Perdana Menteri. Namun kali ini tidak, belum genap sehari berlalu tapi Kementerian sudah mengirimkan data kandidat calon Perdana Menteri yang akan maju dalam pemilihan selanjutnya.

Semua orang tentunya menjadi curiga, salah satunya adalah Duke Zanazar yang istrinya pernah menjadi tamu dalam pesta yang diadakan oleh Calista. "Keputusan Kementerian terlalu cepat, Archduke Ardarel. Terlebih masalah ini menyangkut kepentingan rakyat dan juga bangsawan dari seluruh penjuru Kerajaan Voheshia." ucap Duke Zanazar dengan niat terselubung untuk mempertanyakan keputusan Kementerian.

Namun setelah itu, Archduke Ardarel langsung menyanggah perkataan Duke Zanazar. "Perlu diketahui, Duke Zanazar, lembaga Kementerian hanya bertugas untuk mengesahkan peraturan yang dikeluarkan oleh Yang Mulia Raja. Maka siapa pun kandidat calon Perdana Menteri selanjutnya tak akan mempengaruhinya." terdengar ada penekanan pada setiap kata-kata yang diucapkan oleh Archduke Ardarel.

Suasana kembali riuh setelah itu. Para pendukung Archduke Ardarel dan para pihak oposisi mulai saling berdebat mempertahankan pendapat mereka masing-masing. Jalannya pertemuan itu, justru berakhir dengan debat kusir yang sulit untuk terselesaikan, terlebih dengan masing-masing dari mereka bersikeras pada pendapat mereka.

Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama, Calista menghempaskan surat kabar yang baru selesai dibaca olehnya. Pada halaman muka surat kabar itu tertulis jelas berita mengenai kematian Perdana Menteri Darrel serta pertanyaan tentang siapa yang akan menggantikannya setelah ini.

Tampaknya semua berjalan begitu cepat, seolah semesta tak memberi waktu Calista untuk beristirahat. Ia tahu semua itu sudah direncanakan. Oleh karenanya, Calista tak boleh lamban, ia harus bergegas menentukan pilihan yang akan mempengaruhi kehidupannya di masa mendatang di Istana ini.

Calista kemudian beranjak bangun lalu ia menatap bayangan dirinya sendiri pada permukaan cermin. Dari wajahnya yang pucat, tersimpulkan sebuah senyuman. Entah mengapa Calista hanya ingin tersenyum di hari yang penuh duka itu. Memang terlihat seperti ia mentertawakan kematian Perdana Menteri, namun sebenarnya bukan itu maksudnya.

Pada bayangannya sendiri, Calista pun berkata "Hidup dan matimu akan dimulai, Calista."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!