Calista terhenti di depan pintu kamarnya. Saat ia membuka pintu kamarnya, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang bersembunyi di balik selimut di ranjangnya. Edgar tampaknya kelelahan setelah menjalani tugasnya selama seharian penuh, membuat Calista merasa bersalah karena alih-alih menemaninya, Calista justru pergi tanpa seizinnya.
Gadis itu kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya. Setelah ia menanggalkan mantel kulit yang dipakai dirinya dan menggantungnya pada gantungan yang ada di sudut kamarnya, ia pun kemudian berjalan menuju menuju ranjangnya lalu berbaring di atasnya.
Sorot matanya kini tertuju pada sebuah buku yang terletak di atas nakas miliknya. Buku yang sama dengan buku yang ia temukan di perpustakaan pada saat itu. Ia lantas mengambil buku itu lalu melihat-lihat ke dalam isinya. Cukup membingungkan, entah apa yang dimaksud sang pencipta buku sampai-sampai buku kosong seperti itu bisa ada di perpustakaan Istana.
Namun hal yang lebih membingungkan tak lain adalah tiga foto hitam putih yang ditemukan di dalam buku itu. Calista merasa seolah ada pesan yang tersembunyi di balik keberadaan foto itu. Meski pun Sang Ratu telah menceritakan kisah dibalik foto itu, namun Calista yakin bukan itu yang dimaksud oleh keberadaan foto itu.
Ditengah pikirannya yang melayang, indera pendengarannya menangkap suara kucing yang mengeong sehingga membuatnya melirik pada sosok yang mendekat padanya. Calista dengan sigap menangkap tubuh Samantha yang melompat ke atas pangkuannya. Ia membiarkan kucingnya itu nyaman di pangkuannya sementara pikirannya kembali tertuju pada foto yang ada dalam genggamannya.
Namun secara tiba-tiba, sebuah lengan kekar melingkar pada pinggangnya, membuat Calista terkejut dan sontak menoleh pada Edgar yang tertidur di sampingnya.
"Kau sudah pulang?" suara bariton itu terdengar di balik Edgar yang menyembunyikan wajahnya pada pinggang Calista. Pria itu enggan untuk terbangun sampai ia merasakan sesuatu menyentuh lengannya sehingga membuatnya terkejut.
"Kapan Samantha ada di sini?" kesadarannya kembali penuh saat Edgar melihat Samantha yang sedang tertidur pulas di pangkuan Calista dengan ekornya yang bergoyang-goyang.
Calista hanya terkekeh melihat suaminya yang terkejut dengan kehadiran kucing piaraannya itu. Ia kemudian menyandarkan kepalanya dalam dekapan Edgar saat pria itu bangun dan mendudukkan dirinya di samping Calista. Terdengar helaan nafas panjang dari Calista sehingga membuat Edgar bertanya "Apa yang terjadi?"
"Kau lupa?" Calista mendongak, menatap wajah Edgar dengan lesu.
Pria itu kebingungan dengan pertanyaan istrinya. Edgar berusaha mengingat-ingat sesuatu yang terjadi pada hari itu sampai akhirnya ia teringat dan kemudian kembali bertanya "Bagaimana bisa ibuku ditahan atas tuduhan itu?"
"Kepolisian mengintrogasi semua pelayan yang menyiapkan makan malam waktu itu." jawab Calista. "Namun hasilnya, seseorang mengaku meracuni Mendiang Raja atas suruhan Yang Mulia Ratu. Dia juga menyerahkan bukti racun yang digunakannya dan juga uang yang ia terima dari Yang Mulia Ratu lengkap dengan segel yang mengikat kantung uangnya."
"Itu tuduhan palsu yang keji!" raut wajah Edgar seketika berubah dengan kerutan pada keningnya. Tentu saja ia marah, terlebih saat keluarganya sedang berduka, ibunya justru dituduh membunuh ayahnya sendiri.
"Palsu atau tidaknya itu bukan hal yang penting, Edgar." ucap Calista. "Tapi bukti yang diserahkan mengarah kuat pada Yang Mulia Ratu. Uang dan racun mungkin bisa disalahgunakan orang lain untuk mengatasnamakan Yang Mulia Ratu, tapi tidak dengan segel. Hanya Yang Mulia Ratu sendiri lah yang bisa menggunakan segel itu, tanpa perantara orang lain."
Edgar mendecih. Ia juga berkata "Jadi kau juga mencurigai ibuku sendiri?" bahkan istrinya sendiri kini berpaling darinya membuat Edgar semakin kesal.
"Tidak," namun Calista membantahnya. Ia justru menyeringai pada Edgar, membuat suaminya itu keheranan akan ekspresi wajahnya. Tentu Calista tak akan berpaling darinya dan ibu mertuanya, karena ia ada di pihak mereka. Lantas Calista kemudian berkata "Aku akan melakukan apa pun sebisaku untuk melepaskan Yang Mulia Ratu dari kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Kau bisa percayakan semuanya padaku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari persidangan telah tiba. Calista, Edgar, dan para anggota keluarga Kerajaan yang lainnya kini hadir di sebuah ruangan dimana sidang akan diadakan. Sang Ratu juga berada di ruangan itu dengan terduduk di tengah ruangan.
"Yang Mulia Ratu Sarah Eve Dominique," Sang Hakim Agung yang memimpin persidangan itu mulai membacakan berkas kasus yang akan ditanganinya saat itu. "Yang Mulia Ratu dituduh telah melakukan pembunuhan berencana terhadap Mendiang Raja dengan memerintahkan seorang pelayan untuk meracuninya. Dengan bukti kuat yang ditunjukkan, Yang Mulia Ratu dapat dijatuhi hukuman mati atas perbuatan yang telah dilakukan."
Sang Ratu hanya tertunduk pasrah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sang Hakim Agung. Tak ada sedikit pun niat yang terbesit dalam hatinya untuk membela dirinya dalam persidangan itu. Ia menerima segala kemungkinan yang ada pada putusan hasil persidangan itu. Hanya saja, Sang Ratu tak menyangka bahwa dirinya akan berakhir di bawah guillotine yang akan memenggal kepalanya.
"Hukuman mati terlalu ringan untuk dibebankan pada Yang Mulia Ratu." semua orang yang ada di sana begitu terkejut saat Calista mengajukan keberatannya pada Sang Hakim Agung, membuat seluruh atensi kini tertuju padanya. "Yang Mulia Ratu telah membunuh sosok yang paling dicintai di Kerajaannya. Kematiannya hanya akan membawakan rasa sakit yang singkat. Itu tidak sepadan dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Yang Mulia Ratu. Yang Mulia Ratu harus menanggung rasa malunya dengan menjalani pengasingan selama sisa hidupnya, maka hal itu akan sepadan dengan dosa yang telah dilakukan olehnya."
"Saya setuju dengan apa dikatakan oleh Tuan Putri Calista." Pangeran Harith juga ikut membenarkan usulan Calista pada Sang Hakim Agung. "Yang Mulia Ratu harus diasingkan dan keturunannya harus dihapus dari daftar calon pewaris tahta Kerajaan Voheshia."
"Sialan," Calista bergumam mengumpat pada Pangeran Harith yang justru berbalik menyerangnya saat itu. Betapa kurang ajarnya Pangeran Harith sampai-sampai membuat Calista merasa kesal akibat ulahnya. Lantas Calista pun berseru dengan nada bicaranya yang tinggi "Yang Mulia Ratu boleh saja diasingkan. Tapi jika sampai Paduka Pangeran Edgar dihapuskan dari daftar pewaris tahta Kerajaan Voheshia, Saya, Putri Calista Despina Rajacenna, pewaris sah tahta Kerajaan Hellenocitus, tak akan tinggal diam."
"Kenapa kita harus takut padamu?" Pangeran Harith justru mengejek Calista dengan ucapannya. "Wangsa Dominique berkuasa atas Kerajaan kita sendiri, bukan wangsa Rajacenna. Kita tak akan biarkan orang luar menguasai Kerajaan Voheshia dengan semena-mena."
"Kalian memang tak perlu takut padaku." Calista justru membalas ejekan dari Pangeran Harith dengan seringaian. "Kerajaan Lozarayas memiliki misi untuk menaklukkan Kerajaan Voheshia. Dan Kerajaan Hellenocitus tak akan membantu kalian saat itu terjadi. Semoga saat kalian diperbudak, kalian mendapat tuan yang baik."
Keributan terjadi dalam waktu yang cukup lama, dengan kubu Calista yang dibantu oleh Edgar berdebat melawan kubu Pangeran Harith yang dibantu oleh Alice dan para Pangeran lainnya serta para selir.
"Diam!" palu diketukkan dan suasana kembali hening. Setelah menimbang-nimbang selama beberapa saat, Sang Hakim Agung pun kemudian membacakan hasil putusannya dalam sidang itu. "Yang Mulia Ratu Sarah akan dicabut posisi dan gelar kebangsawanannya serta akan menjalani pengasingannya sampai akhir hidupnya. Dan Paduka Pangeran Edgar akan tetap sah sebagai pewaris tahta sesuai hukum yang berlaku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments