Chapter 07

Suara letupan dari senapan terdengar bersamaan dengan sebuah peluru yang melesat dari dalam senapan itu. Peluru itu terbang dengan kecepatannya yang tinggi menembus seekor burung yang sengaja dilepaskan sebagai target sasaran.

Pangeran Harith yang baru saja menarik pelatuk senapannya tampak tersenyum puas saat melihat bidikannya tepat sasaran. Reputasinya memang tak main-main sebagai penembak jitu. Pria berusia sekitar 30 tahun itu terkenal di seluruh penjuru Kerajaan Voheshia akan kehebatannya dalam menembak.

Sementara itu di samping Pangeran Harith, Edgar tampak sedang menyiapkan senapan yang akan digunakan olehnya. Setelah selesai, Edgar mengangguk pada seorang pelayan yang berada di dekatnya. Pelayan itu pun lantas kembali melepaskan seekor burung dari dalam sangkar untuk dijadikan sebagai target sasaran menembak Edgar. Melihat burung itu terbang menjauh, Edgar kemudian dengan segera membidiknya dan setelah ia mengunci sasarannya, ia pun langsung menarik pelatuk senapannya.

Burung itu seketika terjatuh saat peluru yang ditembakkan oleh Edgar mengenainya. Pangeran Harith yang melihatnya pun lantas bertepuk tangan seraya berkata "Kehebatan adikku, Pangeran Edgar memang tak perlu diragukan lagi. Sangat berbanding terbalik dengan istrinya yang ceroboh."

"Putri Calista ingin bergabung dengan Dewan Kerajaan." tepukan tangan dari Pangeran Harith perlahan memudar dengan raut wajahnya yang seketika berubah menjadi datar menatap wajah Edgar.

Sedangkan Edgar yang mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut kakaknya itu pun mendecih. Ia tak langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Harith. Ucapan Pangeran Harith terlalu tak masuk akal bagi dirinya. Lantas, Edgar pun membantah "Seorang istri sah dari pewaris tahta tak dapat terlibat dalam urusan pemerintahan Kerajaan. Bukankah seperti itu hukumnya di Kerajaan Voheshia, kakak?"

"Dengan ini Putri Calista bisa melakukannya." Pangeran Harith pun mengeluarkan sepucuk surat dari balik pakaiannya saat melihat reaksi yang ditunjukkan oleh adiknya itu.

Surat yang semalam diberikan oleh Dalvin untuk Pangeran Harith pun kini dibaca oleh Edgar. Matanya seketika membulat saat mengetahui isi dari surat itu. Melihat ekspresi wajah adiknya yang tampak terkejut itu, lantas Pangeran Harith pun berkata "Putri Calista mengancam akan membuat Kerajaan Hellenocitus bermusuhan dengan Kerajaan Voheshia jika ia tak diterima oleh Dewan Kerajaan. Bukankah itu keterlaluan?"

"Surat ini kau dapat darimana, kak?" alih-alih marah dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Pangeran Harith padanya, Edgar justru lebih penasaran darimana surat itu berasal.

"Penting kah itu untukmu, Pangeran Edgar?" Edgar langsung mengangguk pada kakaknya itu. Ia menatap wajah Pangeran Harith dengan penuh kecurigaan sehingga membuat Pangeran Harith merasa tak nyaman karenanya. "Ada seseorang dari The Priestess yang memberikan ini padaku."

"The Priestess?" sebenernya Edgar tak terlalu terkejut saat mendengar nama organisasi itu diucapkan oleh Pangeran Harith. Lagipula untuk apa ia terkejut seolah ia belum pernah mendengar nama itu? Ia sudah mendengar banyak rumor yang menyelimuti organisasi bawah tanah itu. Justru Edgar jauh lebih terkejut saat mengetahui Pangeran Harith terlibat dengan The Priestess. "Jangan pernah terlibat dengan The Priestess, kak. Kau bisa saja mencoreng nama baik keluarga Kerajaan jika kau terlibat dengan mereka semua."

"Untuk apa aku menuruti perkataanmu? Bukankah tak ada untungnya bagiku?" Pangeran Harith membalas perkataan Edgar dengan melempar senyuman miring pada adiknya itu.

Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka berdua. Tawa lirih terdengar saat orang itu melihat pertengkaran yang terjadi di antara keduanya. Rencananya berjalan dengan lancar. Dengan terpecahnya kakak beradik itu, ia semakin dekat dengan kemenangannya. Setelah puas menertawai Pangeran Harith dan Edgar, orag itu kemudian berbalik pergi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Suara gesekan antara langkah kaki dengan kayu yang berderit terdengar memenuhi sunyinya perpustakaan yang ada di Istana bagian barat. Sudah 30 menit berlalu sejak Calista mengelilingi seisi perpustakaan namun ia masih juga belum menemukan buku yang menarik perhatiannya. Merasa lelah karena sudah sedari tadi ia mencari buku yang menarik baginya namun tak kunjung menemukannya, ia pun mengambil sebuah buku secara sembarang dari dalam rak buku yang ada di depannya.

Calista kemudian terduduk di kursi yang berada di dekat jendela di ujung perpustakaan. Ia lalu meletakkan buku yang tadi diambil olehnya ke atas meja.

Sebenarnya tak ada yang istimewa dari buku itu. Itu hanyalah sebuah buku bersampul kulit berwarna hitam dengan kertas-kertasnya yang berwarna putih gading.

Namun saat Calista membuka halaman pertama dari buku itu, ia justru dibuat keheranan dengan halaman buku itu yang kosong. Tidak ada sepatah kata pun bahkan satu huruf pun yang tertulis di atas lembaran buku itu. Hal itu juga terjadi pada halaman-halaman berikutnya.

Beberapa saat setelah Calista membuka-buka lembaran buku itu, ia terhenti pada sebuah halaman yang dimana ada beberapa lembar foto hitam putih terselip dalam halaman itu. Calista pun kemudian mengambil foto itu dan mulai mengamatinya dengan seksama.

Aneh, itulah yang ada di dalam pikiran Calista saat itu. Di foto pertamanya, seorang wanita tampak menatap datar pada kamera. Dari pakaian yang dikenakan oleh sosok wanita itu, Calista tahu bahwa wanita itu bukanlah sembarang tokoh, sosok itu pasti merupakan seorang bangsawan.

Dugaan Calista terbukti saat gadis itu membuka foto yang kedua. Sosok wanita itu tampak lebih tua pada foto yang kedua, dan kali ini sosok wanita itu tampak mengenakan mahkota di atas kepalanya. Terlihat dari foto itu, tampaknya foto itu diambil pada saat upacara pengangkatan Calista dan suaminya sebagai Putra dan Putri Mahkota Kerajaan Voheshia.

Kali ini foto terakhir yang diperhatikan oleh Calista. Foto itu cukup janggal karena tampak ada sekelompok orang yang mengerumuni sosok wanita tadi yang berada di bawah guillotine dan siap untuk dipenggal.

"Kyaaaaaaaa!" Calista berteriak sekencang-kencangnya saat ia merasakan ada sesuatu yang menarik pinggangnya ke belakang. Namun sebuah tangan langsung mendekap mulutnya saat suara teriakannya keluar dari mulutnya.

Saat Calista melirik, rupanya Edgar lah yang sedang memeluknya dari belakang. Raut wajah Calista yang panik seketika berubah tanpa ekspresi seraya berkata "Aku sama sekali tak menyukai leluconmu."

Melihat istrinya yang sedang merajuk padanya, lantas Edgar pun mengangkat tubuh Calista dan mendudukkannya di atas pangkuannya. "Cobalah untuk mengenal humor, Calista. Lika-liku kehidupan Kerajaan bisa membuatmu mati muda jika kehidupanmu tak disertai selingan." ucap Edgar sembari menunjukkan sepucuk surat pada Calista.

Calista sebenarnya cukup terkejut saat melihat surat itu, dan intuisi Edgar berkata demikian padanya. Untuk menghapus rasa khawatir yang menghantui istrinya itu, Edgar pun berkata "Tak ada yang perlu kau khawatirkan di sini, Calista. Tujuan kita sama, memperoleh tahta Kerajaan."

"Aku lebih suka seorang Ratu di sisiku daripada 100 orang selir yang menemaniku." bisikan Edgar bisa terdengar jelas di samping telinga Calista.

Calista yang mendengarnya lantas berbinar-binar menatap Edgar. "Benarkah kau menginginkannya?" tanya Calista yang dibalas dengan anggukan oleh Edgar. Calista menyeringai, lalu kemudian ia kembali berkata "Maka biarkanlah aku mendapatkannya untukmu."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!