Chapter 13

"Arrgghhh!" teriakan Calista terdengar sangat menyakitkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Tak hanya meraung, gadis itu bahkan juga melempar semua benda yang ada di dekatnya.

Kamarnya dalam sekejap telah berubah menjadi sangat berantakan. Pecahan-pecahan vas bunga berserakan di lantai, buku-buku yang tertata rapi dalam rak buku juga ikut terjatuh akibat menjadi sasaran lemparan Calista, dan juga air yang berasal dari dalam vas terlihat menggenang di beberapa tempat.

Calista menoleh pada pria yang berdiri di seberangnya. Sorot matanya yang tajam seolah akan menguliti pria itu hidup-hidup. Dengan rahangnya yang mengeras menahan amarah, Calista berkata "Itu sudah tugasmu untuk mengatur para Dewan Kerajaan!"

"Maafkan saya, Tuan Putri." Dalvin, pria itu sama sekali tak berani untuk mengangkat wajahnya, sekedar menatap pada wajah Calista. Baginya, saat itu Calista jauh lebih menyerupai monster daripada seorang gadis pucat biasa. Tangannya gemetar sementara ucapannya terbata-bata saat ia berkata "Para Dewan Kerajaan tidak menginginkan seorang Ratu karena menurut mereka hanya ada satu penguasa yang sah, Yang Mulia Raja. Kebanyakan dari kalangan bangsawan juga berpendapat yang sama, Tuan Putri. Mereka menyatakan keberatannya atas pengangkatan Yang Mulia Ratu Sarah."

"Dewan Kerajaan sialan!" Calista kembali menendang meja yang ada di dekatnya, membuat meja itu terhempas dan menghasilkan suara benturan yang sangat keras. Dalvin hanya bisa memejamkan matanya saja melihat amarah dari gadis itu. "Apa salahnya jika seorang wanita berkuasa?! Tidak di Hellenocitus, tidak di Voheshia, semuanya sama saja!" urat leher Calista terlihat sangat jelas senada dengan wajahnya yang memerah saat ia kembali berteriak.

Dalvin yang mendengar suara yang memekakkan telinganya itu meneguk ludahnya sendiri dengan kasar. Namun ditengah ketakutannya itu, entah darimana datangnya keberaniannya, Dalvin berkata "Ada desas-desus Archduke Ardarel bekerja sama dengan Pangeran Harith untuk menyebarkan rumor agar Yang Mulia Ratu bisa turun dari tahtanya, Tuan Putri."

"Archduke Ardarel?" mendengar nama itu disebutkan oleh Dalvin seketika membuat Calista terdiam keheranan. Ia merasa telah dikhianati oleh sekutunya sendiri, sementara Archduke Ardarel kini justru memihak pada Pangeran Harith. Entah apa yang ada di pikiran Archduke Ardarel, Calista tak tahu pasti. Calista lantas kembali melirik pada Dalvin lalu ia bertanya "Haruskah aku mengunjungi Archduchess Ardarel, Sir Dalvin?"

"Tidak, Tuan Putri." Dalvin langsung menolak niat Calista untuk mengunjungi istri dari Archduke Ardarel. Ia sebenarnya memiliki rencana yang menurutnya bisa membawa Calista keluar dari permasalahan ini. Lantas Dalvin pun berkata "Marchioness Malette sedang ada di sini, Tuan Putri. Cavario 17, kafetaria La Falcona, Tuan Putri."

"Marchioness Malette?" seulas senyuman terukir pada wajah pucat Calista, menggantikan amarahnya yang sebelumnya memuncak. Tak dapat ia sangka penasihat pribadinya itu memikirkan ide cemerlang yang bahkan sama sekali tak terpikirkan olehnya. Calista kemudian berkata "Aku harus menemuinya, secepat mungkin."

"Tentu, Tuan Putri." ucap Dalvin dengan mengangguk. "Jika Tuan Putri berkenan, sekarang juga Tuan Putri bisa menemuinya di sana."

"Benarkah?" wajah Calsita menjadi berseri-seri setelah mendengar ucapan Dalvin. Bahkan sebelum Dalvin menjawabnya, Calista sudah terlebih dahulu melenggang pergi meninggalkan pria itu.

Namun sebelum itu, Calista yang kini berdiri di ambang pintu kamarnya berbalik. Ia menggeleng dengan helaan nafasnya saat melihat kamarnya yang begitu berantakan. Dengan senyumannya yang kecut, Calista berkata pada Dalvin "Tolong rapikan semua ini sebelum aku pulang."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Jalanan ibukota Kerajaan Voheshia saat itu sedang sepi. Bahkan saat Calista mengarahkan pandangannya keluar dari jendela kereta kudanya, ia tak mendapati satu pun kereta kuda lain yang melintas di jalan.

Kereta kuda yang dinaiki oleh Calista terus berjalan lurus saat bertemu dengan persimpangan. Di awal persimpangan jalan itu terdapat sebuah papan yang bertuliskan Cavario yang menandakan bahwa Kafetaria yang dituju oleh Calista sudah dekat. Dan setelah melewati beberapa bangunan, akhirnya kereta kuda itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan dengan tulisan La Falcona pada papan yang tergantung di atas. Saat Calista turun dari kereta kudanya, ia tak lupa memakaikan topeng perak miliknya untuk menutupi separuh wajahnya agar tak ada yang mengetahui kedatangannya. Meski pun suasana sedang sepi, Calista tetap harus berjaga-jaga.

Lonceng pintu berdentang saat Calista memasuki kafetaria itu. Pelayan kafetaria yang ada di sana langsung menyambutnya dengan hangat dan memberikan sebuah buku menu pada Calista.

Namun saat pelayan itu hendak memberikan buku menunya pada Calista, Calista terlebih dahulu mengeluarkan sebuah lempengan emas dari balik lengan pakaiannya seraya ia berkata "Aku ingin pasta la serpiente."

Menu yang diucapkan oleh Calista bukanlah sebuah menu makanan, melainkan sebuah kode rahasia dan pelayan itu mengerti akan maksud dari Calista. Lantas pelayan itu mengambil lempengan emas yang ditunjukkan oleh Calista lalu berbalik meninggalkannya seorang diri.

Setelah beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga yang ada di dekat sana. Sosok wanita dengan mengenakan gaun berwarna hijau gelap turun dari tangga berjalan menghampiri Calista. Dengan separuh wajahnya yang tertutupi oleh topeng hitam, wanita yang tak lain adalah Marchioness Malette itu mengukirkan senyumannya sembari membungkuk pada Calista. "Tuan Putri,"

"Duduklah," ucap Calista dengan mengayunkan tangannya mempersilahkan Marchioness Malette untuk duduk di seberangnya.

Setelah Marchioness Malette duduk, wanita itu mengangguk pada pelayan tadi yang berjalan mengiringinya. Pelayan itu kemudian berbalik, meninggalkan Marchioness Malette berdua dengan Calista. Hanya ada keheningan diantara mereka berdua selama beberapa saat sampai akhirnya pelayan itu kembali dengan membawakan dua buah gelas anggur dan sebotol wine untuk mereka.

Sembari melempar senyuman pada Calista, Marchioness Malette mengangkat gelas anggurnya dan mereka berdua bersulang setelah pelayan itu menuangkan wine pada gelas mereka. Pelayan itu membungkuk sejenak pada mereka berdua lalu berjalan pergi.

"Saya tahu Tuan Putri pasti membutuhkan bantuan saya." ucap Marchioness Malette membuka pembicaraan diantara mereka berdua. "Sir Dalvin telah memberitahukannya pada saya tentang masalah yang menimpa Tuan Putri. Saya setuju dengan pemikiran Tuan Putri. Mereka, orang-orang kolot itu seharusnya diberi pelajaran agar tidak meremehkan kita. Tuan Putri tak perlu khawatir lagi tentang semua masalah ini. Semuanya akan saya bereskan."

Calista senang saat mendengar perkataan dari Marchioness Malette. Ia begitu bersyukur karena ayahnya menempatkan Dalvin sebagai penasihat pribadinya. Tanpa Dalvin, mungkin Calista akan kesulitan mengatasi masalah yang menimpanya saat itu.

Namun Calista tahu semua bantuan yang ditawarkan oleh Marchioness Malette bukanlah hal yang percuma. Semua itu ada harganya. Tanpa berbasa-basi, Calista pun bertanya "Apa yang kau inginkan untuk bayarannya, Marchioness Malette?"

"Ouh Tuan Putri," tawa Marchioness Malette seketika pecah. Wanita itu tak menyangka bahwa Calista akan langsung membicarakan tentang upahnya. "Tuan Putri sepertinya tak suka berbasa-basi. Kalau begitu, jadikan saya Archduchess of Lozarayas jika Kekaisaran Voheshia-Lozarayas berhasil terbentuk, Tuan Putri."

Calista tersenyum puas, ia juga mengulurkan tangannya pada Marchioness Malette. "Setuju."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!