Chapter 09

"Calista," gadis itu menoleh saat suaminya baru saja masuk ke kamarnya. Edgar segera menghampiri Calista yang sedang berdiri di depan cermin lalu ia melingkarkan lengan kekar miliknya pada pinggang ramping milik istrinya itu.

"Ada apa denganmu, Edgar?" tanya Calista yang sedikit bingung akibat perubahan sikap yang begitu mendadak dari suaminya itu. Ia juga mengusap-usap helaian rambut pirang milik. Edgar yang sedang menyandarkan kepalanya pada pundak Calista. "Tak biasanya kau bersikap manja seperti ini."

"Entahlah," Edgar menggeleng, ia justru menenggelamkan wajahnya pada bahu milik Calista sementara istrinya itu masih setia mengusap rambutnya. "Sepertinya aku terlalu lelah mengurus tugas-tugasku. Apa kau tak merasa lelah juga, Calista?"

"Tak ada kata lelah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, Edgar." Calista berbalik, dari wajahnya terukirkan sebuah senyuman manis yang ia tunjukkan pada suaminya itu.

Edgar yang merasa gemas dengan istrinya itu lantas mencubit pelan ujung hidungnya seraya berkata "Aku tak tahu kalau setiap harinya kau semakin bertambah cantik."

"Orang lain juga bilang begitu." ucap Calista membanggakan dirinya sendiri sehingga keduanya pun lantas tertawa bersamaan.

Pasangan itu benar-benar terlihat seperti pasangan yang serasi, meski pun mereka sebelumnya hanya berawal dari sebuah perjodohan. Namun hal itu tak lantas membuat mereka berdua saling membenci satu sama lain karena pernikahan mereka yang tak didasari oleh perasaan. Mereka justru saling mendukung untuk tujuan yang sama, bertahan hidup dalam Istana yang kejam dan mendapatkan tahta Kerajaan yang mulia.

Setelah puas tertawa, Calista pun kemudian mengulurkan tangannya pada Edgar. "Ingin berdansa denganku?" dengan bersemangat Edgar langsung mengiyakan tawaran dari Calista dengan ia menerima uluran tangan dari istrinya itu.

Lantas Calista pun menuntun suaminya ke sudut ruangan dimana ada sebuah gramaphone yang terletak di atas meja. Ia lalu mengambil sebuah piringan hitam dari dalam laci meja itu lalu mulai menyalakan gramaphone nya.

Alunan musik mulai terdengar dari gramaphone yang dinyalakan oleh Calista. Langkah kaki Calista pun bergerak seirama mengikuti musik yang mengalun dengan merdu. Gadis itu terlihat sangat anggun dengan gerakannya yang lemah lembut.

Sementara itu, Edgar pun ikut mengimbangi gerakan tarian yang dilakukan oleh Calista. Pria itu sesekali mengangkat tubuh Calista lalu mendekapnya erat. Setiap sentuhan yang diberikan oleh Calista seketika mampu membuat suasana hati Edgar yang buruk kembali tenang.

Mereka terlalu terhanyut dalam suasana itu sehingga waktu berlalu dengan cepat tanpa mereka sadari. Mereka pun kini menyudahi dansa mereka saat menyadari hari sudah menjelang malam.

Calista kemudian kembali menuntun Edgar menuju balkon kamarnya. Pandangannya tertuju pada langit yang mulai tercampur dengan semburat kemerahan yang dipancarkan dari matahari yang mulai menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Ia menghela nafasnya pelan lalu ia berkata "Aku selalu ingin menyaksikan matahari terbenam dengan seseorang."

"Benarkah?" gadis itu mengangguk pada Edgar yang sedang berdiri di belakangnya. Edgar dapat melihat raut wajah istrinya itu yang memancarkan kesedihan. Calista pasti merasa kesepian, terlebih sejak kecil ia terbiasa hidup dibawah kekangan peraturan keluarga Kerajaan yang sangat ketat. Edgar lantas memeluk tubuh Calista dari belakang sembari ia mengusap-usap bahu istrinya itu dengan tujuan untuk menghiburnya. "Sepertinya aku mulai mencintaimu."

Mendengar ucapan dari suaminya itu lantas membuat Calista berbalik. kedua manik mata hijau milik Calista menatap lekat-lekat pada kedua netra biru milik Edgar saat pandangan mereka saling bertemu. Gadis itu kemudian menangkup wajah suaminya seraya berkata "Aku senang mendengarnya. Akan tetapi, benarkah kau akan terus mencintaiku apa pun keadaannya?"

"Aku akan mencintaimu apa pun keadaannya, Calista." jawab Edgar lalu ia menarik tubuh Calista ke dalam pelukannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Saat itu Selir Leonore, Selir pertama dari Raja Kerajaan Voheshia tampaknya sedang beristirahat di ruang kamarnya di Istana bagian Ruang Harem. Perapian yang ada di kamarnya juga menyala menghangatkan udara di sekitarnya yang terasa menusuk akibat musim dingin.

Sebagai seorang selir pertama dari Sang Raja, tentunya Selir Leonore sangat dihormati dalam kalangan Istana. Namun statusnya sebagai selir tak serta merta membuat Selir Leonore terlibat langsung dalam urusan Kerajaan. Itu sebabnya mengapa hanya Selir Leonore dan para selir lainnya lah yang tetap terlihat tengang disaat semua orang yang ada di Istana, mulai dari Sang Raja, para Pangeran, dan juga para anggota Dewan Kerajaan disibukkan dengan acara pemilihan Perdana Menteri yang baru.

Sementara itu di luar kamar, seorang pria berjalan menuju kamar Selir Leonore. Semua pelayan yang ditemuinya di sepanjang lorong pun membungkuk kepadanya. Langkah kaki pria itu kini terhenti tepat di depan sebuah pintu berwarna putih yang ada di depannya. Ia kemudian memutar kenop pintu itu lalu membukanya perlahan.

Kedua mata Selir Leonore yang terpejam kini terbuka perlahan saat seseorang masuk ke dalam kamarnya. Saat ia menoleh, ia segera menghampiri pria itu dan kemudian ia memeluk tubuh pria itu erat-erat seraya berkata "Harith! Sudah lama ibu tak bertemu denganmu."

"Maafkan aku, ibu." Pangeran Harith sebenarnya merasa sangat bersalah pada Selir Leonore. Sudah beberapa hari ia tiba di Istana namun baru saat ini ia sempat untuk mengunjungi ibunya itu. Pangeran Harith pun lantas membalas pelukan hangat dari Selir Leonore seraya kembali berkata "Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, ibu. Jadi aku baru sempat kemari sekarang."

"Tak perlu dipikirkan, Harith." ucap Selir Leonore sembari tersenyum. Tentunya Selir Leonore mengerti akan kesibukan putranya itu, sibuk mencari celah untuknya mendapatkan posisi sebagai pewaris tahta yang sebenarnya bukanlah hak miliknya.

"Jadi, apa yang kau bawa kemari?" ucap Selir Leonore menanyakan tujuan Pangeran Harith menemuinya. Selir Leonore tahu bahwa Pangeran Harith tak akan pergi menemuinya tanpa alasan yang jelas.

"Bertahun-tahun aku hidup sebagai anakmu tapi aku selalu lupa bahwa ibuku sangat jarang berbasa-basi." Pangeran Harith pun kemudian memberikan Selir Leonore sebuah berkas yang dibawa olehnya tadi. "Data calon Perdana Menteri yang maju ke pemilihan besok."

Selir Leonore sedikit terkejut saat menerima berkas yang diberikan oleh putranya itu. Masalahnya, berkas itu bersifat sangat rahasia dan hanya Kementerian, Dewan Kerajaan, serta Sang Raja saja yang boleh mengetahuinya. Lantas Selir Leonore pun bertanya pada Pangeran Harith "Kau mendapatkan ini darimana?"

"Ayahku." jawab Pangeran Harith dengan santainya. "Cobalah untuk membuka isinya."

Selir Leonore yang penasaran dengan isi berkas itu pun mengikuti perkataan Pangeran Harith. Namun dari raut wajahnya, Selir Leonore terlihat sangat terkejut saat mengetahui isi dari berkas itu. "Despina? Seorang wanita maju dalam pemilihan besok?"

"Itulah yang ingin kutanyakan pada ibu." kini maksud dari kedatangan Pangeran Harith menjadi semakin jelas. Pangeran Harith tampak seperti penasaran dan khawatir dengan wanita yang menjadi kandidat calon Perdana Menteri itu. Sepertinya wanita itu bukanlah wanita biasa karena tak sembarang wanita bisa maju dann terlibat dalam urusan pemerintahan Kerajaan Voheshia. "Tak ada informasi apa pun mengenai dia, ibu."

Mengerti akan kekhawatiran putranya itu, Selir Leonore lantas menepuk bahu Pangeran Harith sembari ia melempar senyuman tipis padanya. "Kau tak perlu khawatir. Ibu akan mencari informasi tentangnya nanti." ucap Selir Leonore untuk menenangkan Pangeran Harith.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!