Satu hari penuh Pangeran Harith menempuh perjalanannya dari ibukota Kerajaan dan kini ia bersama dengan istrinya, Putri Alice telah berada di kota Saphile. Gerbang kastil yang menjulang tinggi dibukakan saat kereta kuda yang ditumpangi oleh mereka akan sampai di kastil kediaman keluarga Pangeran Harith. Dan setibanya mereka berdua di sana, seorang pemuda langsung menghampiri mereka dan menyambutnya dengan hangat.
Pemuda itu tak lain ialah William, putra semata wayang dari Pangeran Harith dan Putri Alice. William segera menghadiahi kedua orang tuanya sebuah pelukan hangat saat keduanya baru saja turun dari kereta kuda yang ditumpangi oleh mereka berdua.
Putri Alice tampak senang, terlihat dari ia yang mengelus surai hitam milik putranya itu. Namun berbanding terbalik dengan istrinya, Pangeran Harith tampak sedang memiliki suasana hati yang buruk. Ia pergi begitu saja meninggalkan William bersama dengan ibunya, membuat mereka berdua bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi pada Pangeran Harith.
William yang penasaran lantas berlari menghampiri Pangeran Harith yang sudah masuk ke dalam kastil, meninggalkan ibunya yang tampaknya memilih untuk mengabaikannya. Ia pun berjalan beriringan dengan Pangeran Harith dalam lorong kastil dengan Pangeran Harith yang masih enggan untuk berbicara sepatah kata pun.
"Ayah," Pangeran Harith hanya melirik pada William melalui ekor matanya saat putranya itu memanggilnya. "Apa ada sesuatu yang mengganggu ayah?"
Helaan nafas terdengar dari samping, membuat William menoleh pada ayahnya itu. Pangeran Harith tampak tertunduk lesu. Entah apa yang membuat suasana hatinya begitu buruk, William pun tak tahu. Namun selang beberapa saat kemudian Pangeran Harith kembali mengangkat wajahnya lalu bertanya pada William "Seberapa cukup persediaan yang disimpan di gudang Kerajaan di kota ini untuk memenuhi kebutuhan kita?"
William berfikir sejenak, mengingat-ingat kembali jumlah cadangan yang tersimpan di gudang Kerajaan yang ada di kota Saphile. Memeriksa sisa persediaan barang yang disimpan di gudang Kerajaan memang sudah menjadi tugas William sebagai putra dari Pangeran Harith yang menguasai tempat itu. Dan tak lama kemudian setelah William teringat, ia pun menjawab "Persediaan di gudang Kerajaan cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sampai satu tahun kedepannya. Memangnya ada apa, ayah?"
Pangeran Harith terdiam untuk beberapa saat. Ia tak berniat untuk menjawab pertanyaan dari putranya itu. Justru Pangeran Harith menatap pada sekelilingnya, pada deretan zirah yang menghiasi lorong kastilnya itu. Setelah itu, Pangeran Harith kemudian berkata "Jual semua yang tak kita perlukan di sini. Kalau bisa tukarkan semuanya dengan bahan makanan dan senjata sampai persediaan kita cukup untuk dua tahun."
"Baiklah." William langsung menyanggupi perintah ayahnya itu. Namun dalam benaknya, William masih merasakan ada yang mengganjal. William pun lalu memberanikan diri untuk bertanya "Sebenarnya apa yang ingin ayah lakukan dengan semua itu?"
Lagi-lagi Pangeran Harith mengacuhkan pertanyaan yang dilontarkan oleh William padanya. Ia justru melenggang pergi, meninggalkan William dengan pertanyaan yang masih berputar dalam pikirannya. Sementara William yang diacuhkan lantas berbalik dan memilih untuk tak mengganggu ayahnya dengan rasa penasarannya yang masih hinggap pada pikirannya itu.
Di dalam ruang kerja milik Pangeran Harith, sang pemilik ruangan tengah terduduk di balkonnya sembari menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. Berulang kali ia menarik nafasnya dalam-dalam, menghempaskan semua pikiran buruk yang sedang berkecamuk dalam kepalanya. Setidaknya kini Pangeran Harith merasa lebih tenang daripada sebelumnya.
Ditengah ketenangannya itu, terdengar suara ketukan dari arah pintu. Namun Pangeran Harith tak segera menoleh, justru Putri Alice yang mengetuk pintu tadi sudah terlebih dahulu menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Pada akhirnya kau akan menentang kekuasaan adikmu sendiri, Harith." Putri Calista berucap dengan tatapannya yang mengarah lurus pada langit di siang hari itu.
Hal yang serupa juga dilakukan oleh Pangeran Harith. Kedua manik matanya sama sekali tak melirik pada istrinya yang terduduk di sampingnya itu. Meski demikian, Pangeran Harith menjawab "Tak ada satu pun Pangeran yang berani menentang tahta Edgar karena ia mendapat dukungan penuh dari ibu dan istrinya. Namun aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Aku tak bisa membiarkan Edgar mengenakan mahkotanya dengan santai hanya karena Calista putri tunggal Raja Albertus. Aku akan terus menentangnya sampai titik penghabisanku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kota Saphile akan berpisah dari Kerajaan Voheshia atas perintah Harith?" tawa Calista pecah memenuhi ruangan saat mendengar perkataan dari penasihat pribadinya. Ia tak menyangka bahwa rencananya benar-benar berjalan dengan lancar. Bahkan karena perasaan puas yang ada dalam hatinya, suara tawa Calista terdengar lebih keras dari biasanya. Beruntung tak ada orang lain yang sedang bersamanya selain Dalvin di ruang santai di Istana.
Dari raut wajahnya, Dalvin terlihat sedikit terkejut saat mendengar suara tawa Calista yang keras dan terbahak-bahak. Ia mengangguk menanggapi pertanyaan dari Calista lalu ia juga menjawab "Tampaknya Yang Mulia berhasil memprovokasi Harith untuk menentang Yang Mulia Raja. Harith sudah mulai menjual barang-barang berharga milik keluarganya untuk ditukar dengan bahan makanan dan senjata."
"Tapi, Yang Mulia," dalam sekejap, ekspresi wajah Dalvin berubah dengan tertunduk, membuat Calista merasa ada sesuatu yang tak beres dengannya. Setelah suara tawa Calista sepenuhnya mereda, Dalvin pun kembali berkata "Bendera Raja Lozarayas terlihat berkibar di kota Valche menurut laporan pengintai pasukan Kerajaan, Yang Mulia. Itu artinya saat ini Raja Lozarayas sedang berada di kota Valche, dan bisa dipastikan ada jauh lebih banyak pasukan yang mengawal Raja di sana."
Mendengar penuturan dari Dalvin membuat Calista teringat akan sebuah nama. "Marchioness Malette, dia yang menjaga tanah perbatasan. Sudah tugasnya untuk menghentikan Rajanya melakukan hal itu. Tapi mengapa ia tak melakukannya?"
Dalvin menghela nafasnya kasar. Wajahnya terlihat murung dengan tatapannya yang lesu saat ia berkata "Sejak Marchioness Malette menyerukan perang di perbatasan Kerajaan, Raja Lozarayas langsung menaruh minatnya pada seruan perang Marchioness Malette, tak peduli anak-anaknya yang sedang saling berebut tahta. Raja lebih tertarik untuk memperluas wilayah kekuasaannya daripada membenahi keluarganya yang sudah terpecah. Sekarang Sulit jika Raja sudah tertarik pada satu hal. Sangat kecil kemungkinannya untuk Raja menarik pasukannya dari perbatasan."
Suara ketukan berirama yang dihasilkan dari jari telunjuk Calista terdengar dari meja yang ada di samping mereka. Kekhawatiran mulai menghinggapi benak Calista, membuatnya kembali memutar otak. Calista berfikir sejenak, lalu setelahnya ia pun berkata "Kirimkan surat untuk Raja Lozarayas. Katakan padanya untuk menarik mundur pasukannya dari kota Valche. Jika Raja masih tak mau menuruti surat permintaanku, biar aku sendiri yang pergi ke perbatasan tanpa seorang pun boleh mengetahuinya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments