Chapter 17

Sebuah kereta kuda melaju menembus gelapnya malam di pinggiran kota Calasandra yang merupakan ibukota Kerajaan Voheshia. Hanya ada sedikit pencahayaan dari lampu jalanan yang temaram yang menerangi jalanan pinggiran kota Calasandra. Kini kereta kuda itu berhenti di depan sebuah rumah kecil yang ada di ujung jalan.

Sesosok wanita tampak turun dari kereta kuda itu dan memasuki pekarangan rumah. Tak ada yang dapat mengenalinya dengan jelas akibat topeng hitam yang dikenakan oleh wanita itu untuk menutupi separuh wajahnya sehingga beberapa orang yang berjaga di depan rumah itu langsung menahannya.

Wanita itu kemudian merogoh saku mantelnya lalu mengeluarkan sebuah lencana perak dengan ukiran palang dari dalamnya. Penjaga itu langsung mengerti dengan tanda pengenal itu, lantas sang penjaga kemudian mempersilahkan wanita itu untuk masuk.

Suasana sangat sepi saat wanita itu masuk. Ini kali pertamanya ia menghadiri pertemuan dengan para anggota The Priestess di markas mereka. Wanita itu lantas menyapu pandangannya pada sekelilingnya lalu ia mendapati sebuah tangga yang mengarah ke ruang bawah tanah.

Lantas wanita itu pun berjalan menuju tangga dan menuruni anak tangganya satu per satu dengan perlahan. Tangga itu begitu curam sehingga membuat wanita itu harus berhati-hati saat ia turun. Saat ia sampai di bawah, langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu yang terbuka di dekat tangga. Wanita itu kemudian masuk dan langsung mendapat sambutan dari mereka yang sudah hadir di ruangan itu.

"Ratu kita yang telah digulingkan akhir datang juga!" Marchioness Malette yang duduk di dekat perapian segera berdiri saat wanita itu yang merupakan Sarah datang. Pengelihatannya begitu tajam sampai-sampai Marchioness Malette tak butuh waktu yang lama untuk mengenali wajah Sarah yang tersembunyi di balik topengnya. Ia menyambut Sarah dengan pelukannya yang hangat. "Bagaimana rasanya dilengserkan oleh putra dari selir suamimu sendiri?"

"Bukan masalah besar. Lagipula semuanya sudah direncanakan." ucap Sarah sembari melempar senyumannya pada Marchioness Malette.

Tak lama kemudian, Dalvin dengan langkahnya yang tergesa-gesa memasuki ruangan. Nafasnya terdengar tersengal-sengal akibat ia yang berlari, lalu ia kemudian berseru "Ratu kita telah tiba!"

Semua orang yang hadir di sana tentunya terkejut mendengar seruan Dalvin. Tak biasanya Ratu mereka datang langsung memimpin pertemuan dengan para anggota The Priestess. Bahkan tak ada satu pun dari mereka yang mengenal Ratu itu sendiri. Lantas mereka semua pun berdiri sampai seseorang berjalan memasuki ruangan itu. Ia melepaskan topeng perak yang dikenakannya, dan saat wajahnya terlihat jelas, semua orang terkejut.

"Tuan Putri Calista?" Marchioness Malette bergumam keheranan saat melihat gadis yang berdiri di depannya itu. Tentu diantara mereka semua tak ada yang menyangka bahwa Ratu yang memimpin The Priestess tak lain adalah Calista karena hampir semua yang dilakukan oleh The Priestess merugikan pihak keluarga Kerajaan.

Sementara itu Calista menyunggingkan senyumannya sembari memandangi mereka semua yang hadir di ruangan itu. Ia kemudian memberikan topeng perak yang ada di tangannya itu pada Dalvin lalu ia pun duduk di sofa yang berada di dekat perapian.

Sorot mata gadis itu memandangi gejolak api yang menyala pada perapian. Tanpa mengalihkan pandangannya, Calista kemudian berkata "Pengambilalihan kita akan segera dimulai. Persiapkan semuanya dengan baik. Helleneshia-Lozarayas harus menjadi Kekaisaran besar yang tak hanya menguasai benua Northland, tetapi juga seluruh benua baik yang sudah terpetakan mau pun yang belum."

"Tuan Putri," Calista berpaling pada Marchioness Malette yang memanggilnya. "Satu-satunya masalah yang kita miliki adalah para Dewan Kerajaan entah itu dari Kerajaan Hellenocitus, Voheshia, mau pun Lozarayas."

Sudut bibir Calista terangkat sebelah saat mendengar keluhan yang diajukan oleh Marchioness Malette. Gadis itu kemudian menjawab "Bukankah itu sudah tugasmu untuk mengurusnya? Jika tak dapat dihancurkan dari luar, maka hancurkan lah dari dalam. Buat perang antara Kerajaan Voheshia dengan Kerajaan Lozarayas semakin besar agar kepercayaan rakyat terhadap Dewan Kerajaan berkurang."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Saat itu, di Istana Kerajaan Voheshia sedang diadakan pesta setelah penobatan Edgar menjadi Raja meneruskan kekuasaan mendiang ayahnya dan ibunya yang telah diasingkan dari Istana. Kebanyakan tamu yang hadir di sana adalah para perwakilan dari Kerajaan-kerajaan yang menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Voheshia, salah satunya adalah Kerajaan Hellenocitus yang merupakan Kerajaan ayah mertuanya.

Pesta itu diadakan dengan sangat meriah, demi membangun citra baik Kerajaan Voheshia di mata Kerajaan lain. Semua yang ada di sana telah dipilih dari yang terbaik diantara yang terbaik, mulai dari hidangannya, dekorasi Istana, dan juga musisi yang mengisi acara pesta Kerajaan itu.

Ditengah pesta, Calista yang tengah duduk bersama Edgar kini berdiri saat sekelompok orang datang memasuki aula Istana. Calista dengan tersenyum lantas berseru "Aku menyambut Raja Albertus Claude Rajacenna dan Permaisuri Mirana Ester Rajacenna dari Kerajaan Hellenocitus dalam pesta ini. Selamat datang, Yang Mulia."

Raja Albertus begitu tersanjung atas sambutan hangat dari putri semata wayangnya itu. Lantas Sang Raja kemudian menyalami Calista seraya berkata "Selamat atas penobatan suamimu, Calista. Semoga kalian bisa memimpin Voheshia dengan baik."

"Terimakasih, ayah." senyuman hangat Sang Raja dapatkan dari Calista saat gadis itu membalas jabatan tangan darinya. "Silahkan nikmati pestanya."

Calista kemudian kembali terduduk saat ayah dan ibunya pergi ke arah lain. Senyuman dari gadis itu tak henti-hentinya terukir pada wajah pucatnya. Hari itu Calista benar-benar menjadi gadis yang paling berbahagia di seluruh dunia. Suaminya telah menjadi Raja, setidaknya kini posisinya telah aman, selama Edgar tak mengambil selir untuk mengisi Ruang Harem.

Dengan posisinya sebagai Permaisuri, sedikit demi sedikit Calista bisa meraih tujuannya. Ia hanya perlu menyingkirkan apa yang harus disingkirkan dan mempertahankan apa yang harus ia pertahankan. Namun Calista belum mengetahui bahwa masih ada rintangan yang sudah menantinya di masa yang akan mendatang.

Disaat Calista sedang menikmati sampanye miliknya, seseorang datang menghampirinya untuk memberikan penghormatan padanya dan Edgar. Calista melirik dan ia mendapati Archduchess Ardarel bersama dengan seorang pemuda berdiri di depannya.

"Yang Mulia Permaisuri, Yang Mulia Raja." Archduchess Ardarel bersama dengan pemuda itu membungkuk dengan penuh hormat pada Calista dan Edgar.

"Sepertinya aku belum pernah melihat kau di Istana?" pertanyaan yang berputar dalam pikiran Calista akhirnya terwakilkan juga saat Edgar bertanya pada pemuda yang ada di samping Archduchess Ardarel.

"Ah, perkenalkan, Yang Mulia," Archduchess Ardarel lantas menunjuk pemuda itu saat Edgar menanyainya. "Daniel Conrad Ardarel, putra tunggal dari keluarga Ardarel."

"Ah, Daniel," Calista langsung mengulurkan tangannya pada pemuda yang bernama Daniel itu sembari tersenyum. "Senang bertemu denganmu. Semoga kau menikmati pestanya."

"Terimakasih, Yang Mulia." keduanya lantas kembali membungkuk pada Calista lalu pergi meninggalkannya.

Sementara itu Calista pandangannya terpaku pada sosok Daniel yang dirasanya cukup janggal. Entah mengapa setiap kedatangan Archduchess Ardarel pasti sesuatu yang besar rasanya akan terjadi. Ia hanya bisa menunggu dan berharap agar ia bisa menghadapinya dengan caranya sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!