"Tuan Putri Calista Despina Rajacenna dari Kerajaan Hellenocitus telah tiba!" seluruh penghuni Istana Kerajaan Voheshia digemparkan dengan kedatangan Putri dari Kerajaan seberang di Istana bagian barat. Baik para pelayan mau pun bangsawan yang ada berbondong-bondong melihat sosok Calista yang baru saja sampai di Istana.
Semua orang seketika membungkuk saat sosok Calista turun dari kereta kudanya. Di belakang Calista, ada Dalvin yang setia berjalan mengiringinya. Lalu keduanya pun kemudian berjalan memasuki Istana.
Kondisi Istana bagian barat saat ini begitu ramai, berbeda dengan kondisi Istana kediaman Calista dan keluarganya sebelumnya. Beberapa pelayan tampak sedang bertugas di sana, dan tak hanya itu, ada juga beberapa bangsawan yang melirik Calista dengan tatapannya yang aneh.
Meski pun merasa tak nyaman, namun Calista memilih untuk tak menghiraukannya. Hingga akhirnya mereka berdua sampai di kamar yang menjadi tempat peristirahatan sementara selama Calista belum menikah.
Pintu yang menjulang tinggi dengan warnanya yang putih terang dibukakan oleh pengawal Istana yang berdiri di sisi samping pintu. Sebuah ruangan bernuansa gelap tampak berada di balik pintu itu sedangkan Calista langsung memasukinya diikuti oleh Dalvin di belakangnya.
Saat Calista memasuki ruangan itu, pandangannya langsung terpaku pada sebuah benda yang terletak di atas meja di dekat jendela. Ia sedikit menoleh, lalu kemudian bertanya "Apa diorama ini hadiah?"
"Ya, Tuan Putri." jawab Dalvin dengan mengangguk. "Yang Mulia Raja dari Kerajaan Voheshia sendiri yang mengirimkannya untuk Tuan Putri sebagai hadiah pernikahan."
Sudut bibir Calista terangkat dengan pandangannya yang terpaku pada diorama itu. Sebuah diorama yang indah, bahkan bisa dibilang terlihat cukup mahal jika dilihat dari banyaknya permata yang turut menghiasi diorama tersebut.
Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Calista dari benda itu. Sebuah kubah yang terletak di belakang bangunan utama membuat gadis itu penasaran, lalu ia pun bertanya "Apa itu, Dalvin?"
Dalvin yang sedang berdiri di belakang Calista pun berjalan maju. Ia mengarahkan pandangannya pada benda yang ditunjukkan oleh Calista lalu tak lama kemudian ia menjawab "Itu adalah Ruang Harem, tempat tinggal keluarga selir Kerajaan, Tuan Putri."
"Selir?" Calista bergumam setelah mendengar jawaban dari Dalvin.
Dari samping, Dalvin melirik pada Calista melalui ekor matanya dan ia dapat melihat ekspresi wajah Calista yang aneh. "Berbeda dengan keluarga Kerajaan Hellenocitus yang menerapkan monogami, keluarga Kerajaan Voheshia menerapkan poligami demi terjalannya proses suksesi Kerajaan, Tuan Putri."
"Aah," Calista mengangguk setelah mendengar penjelasan dari penasihat pribadinya itu.
Setelah sepersekian detik, Calista menyadari ada sesuatu yang kurang dari dirinya. Ia berbalik pada Dalvin lalu ia kemudian bertanya "Dimana Samantha?"
Pria itu tak menjawab pertanyaan dari Calista. Yang Dalvin lakukan hanyalah bertepuk lirih, namun tak lama kemudian seorang pelayan memasuki ruangan tersebut dengan sebuah kandang yang dibawa olehnya.
Pelayan itu membungkuk sejenak pada Calista sebelum ia membukakan kandang tersebut. Seekor kucing putih segera keluar setelah kandang dibukakan dan langsung melompat ke arah Calista. Dengan sigap, Calista pun menangkap tubuh berisi dari piaraan kesayangannya itu. Setelah itu, pelayan tadi kembali membungkuk pada Calista lalu berjalan mundur keluar dari ruangan.
"Nona Samantha sudah di sini. Hubungi saya jika Tuan Putri membutuhkan sesuatu." Dalvin pun menundukkan wajahnya sejenak pada Calista dan hendak pergi keluar.
"Dalvin," sebelum sosoknya pergi, Calista terlebih dahulu memanggilnya sehingga pria itu menghentikan langkahnya. "Kau ditunjuk sebagai penasihat pribadiku karena kau pernah belajar di sini. Itu artinya kau siap untuk menjalankan tugasmu, kan?"
"Tentu, Tuan Putri." Dalvin tersenyum pada Calista. Ia juga membungkukkan tubuhnya sembari mengayunkan tangannya pada gadis yang berada di seberangnya itu. "Saya akan melayani Tuan Putri dengan seluruh kekuatan yang saya miliki."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinar mentari telah bersinar cerah di luar sana. Sementara itu, tirai berwarna hitam yang terpasang pada jendela kamar Calista masih tertutup dan menghalangi cahaya untuk masuk ke dalamnya. Meski pun begitu, di dalam masih ada beberapa lilin yang menyala yang menerangi ruangan bernuansa gelap itu.
Calista sendiri masih berdiri terpaku di depan sebuah cermin sembari memandangi pantulan bayangan dari wajahnya pada permukaan cermin. Tubuhnya tampak terbalut oleh blouse berwarna putih dengan bawahan berwarna hitam. Sementara itu pada kepalanya, ada sebuah fascinator yang turut mempercantik penampilannya.
Ditengah Calista yang sedang bercermin, terdengar suara ketukan dari balik pintu. Tanpa menoleh, Calista pun berkata "Masuklah."
Dari pantulan cerminnya, Calista dapat melihat seorang pelayan masuk ke dalam kamarnya. Raut wajah pelayan itu tampak terkejut saat melihat kamar Calista yang masih gelap akibat tirai yang belum terbuka. Lantas pelayan itu pun kemudian berjalan menuju jendela dan hendak membukakan tirai jendela kamar Calista.
"Berhenti." langkah kaki pelayan itu seketika terhenti saat Calista menyuruhnya. Calista pun kembali berkata "Biarkan saja itu tertutup."
"Baik, Tuan Putri." ucap pelayan itu dengan mengangguk. "Paduka Pangeran telah menunggu Tuan Putri di ruang makan di Istana bagian utama."
"Ah, Paduka Pangeran," mata Calista melirik pada arloji perak yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sementara sudut bibirnya terangkat sebelah. Ia tahu kalau ia saat ini sudah terlambat untuk mengikuti sarapan pagi bersama keluarga Kerajaan. Namun tampaknya ada sesuatu yang sudah direncanakan olehnya. "Kalau begitu bisakah kau mengantarkan aku ke ruang makan?"
"Tentu, Tuan Putri." pelayan tadi lantas mempersilahkan Calista untuk berjalan terlebih dahulu.
"Samantha," kucing putih itu segera menghampiri Calista saat Calista memanggilnya. Lantas Calista pun menggendongnya lalu ia berjalan keluar dari kamarnya sementara pelayan itu mengekor di belakang Calista.
Sementara itu di ruang makan di Istana bagian utama, para anggota keluarga Kerajaan sudah berkumpul, termasuk para selir dan putra serta menantu mereka. Hanya ada empat kursi yang tampak masih kosong di sana.
"Yang Mulia Raja telah tiba!" para anggota keluarga Kerajaan langsung berdiri saat sosok Sang Raja memasuki ruangan. Mereka kembali terduduk setelah Sang Raja duduk di kursi utama.
Sang Raja terlebih dahulu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan melihat ada seseorang yang belum hadir di ruangan itu.
"Edgar," pria berambut pirang yang sedang membaca sebuah buku lantas menutup bukunya saat Sang Raja memanggil namanya. "Dimana calon istrimu?" tanya Sang Raja dengan menunjuk pada kursi kosong yang ada di sebelahnya.
Edgar melirik sekilas pada kursi yang ditunjuk oleh Sang Raja lalu ia menjawab "Aku sudah mengirim pelayan untuk memanggilnya, ayah."
"Tuan Putri Calista telah tiba!" tak berselang lama, sesosok gadis terlihat sedang berdiri di balik pintu yang dibukakan. Di dalam dekapannya, terdapat seekor kucing yang tampak tenang memandangi satu per satu anggota keluarga Kerajaan yang ada di sana.
Calista lantas berjalan menuju meja panjang yang terletak di tengah ruangan itu. Sebelum ia duduk di kursinya, ia terlebih dahulu menundukkan wajahnya pada Sang Raja untuk memberinya penghormatan.
"Mari kita mulai sarapannya." ucap Sang Raja mengawali acara sarapan pagi mereka.
Semua orang di sana tampak menikmati hidangan yang disajikan untuk sarapan mereka kecuali Calista. Jangankan untuk memakannya, untuk menyentuhnya saja Calista enggan. Gadis itu hanya memandangi sepiring steik dan segelas sampanye yang ada di depannya itu tanpa berniat untuk menyantapnya.
Sang Raja yang menyadari itu lantas bertanya "Apa ada sesuatu yang mengganggu, Putri Calista?"
"Ah, Yang Mulia," pandangan Calista seketika teralih pada Sang Raja saat Sang Raja berbicara padanya. Ia melempar senyuman ramah pada Sang Raja sebelum ia menjawab "Saya tak terbiasa makan di luar Istana Kerajaan Hellenocitus, Yang Mulia. Untuk memastikan makanan ini sesuai dengan lidah saya, kucing saya terlebih dahulu mencicipinya untuk saya. Bolehkah, Yang Mulia?"
"Aah, tentu." Sang Raja mengangguk dan mempersilahkannya. "Lakukan saja sesuai dengan kenyamananmu, Putri Calista."
"Terimakasih, Yang Mulia." Calista kembali mengukirkan senyuman di wajahnya. Gadis itu kemudian menepuk pelan tubuh Samantha dan tak lama kemudian kucing itu beranjak bangun dan mulai mengendus-endus steik milik Calista. Calista lantas memotong steik itu dan membiarkan Samantha untuk memakannya.
Di tengah heningnya ruangan itu, Sang Raja mengetuk gelas miliknya menggunakan pisau sehingga membuat seluruh atensi tertuju padanya. Sang Raja lalu berkata "Tanggal upacara pemberkatan pernikahan Pangeran Edgar dan Putri Calista telah ditentukan. Hari itu akan tiba besok."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments