Kala itu bintang-bintang bersinar terang menghiasi langit malam. Terdengar nyanyian hewan-hewan malam yang saling bersahut-sahutan dari taman mengisi heningnya malam itu. Udara saat itu terasa sangat dingin sampai menusuk ke dalam kulit, terlebih saat itu sudah memasuki waktu musim dingin.
Calista yang terduduk di balkon kamarnya tampak sangat menikmati pemandangan lampu-lampu taman yang menyala dari bawah kamarnya. Seperti biasanya, Samantha terlihat nyaman saat tertidur di pangkuan Calista. Tak ada yang bisa mengalahkan rasa cinta Calista pada kucing piaraannya, terlihat dari caranya memperlakukan Samantha.
Angin berhembus menerpa rambut coklat gelap milik Calista yang panjangnya hanya mencapai bahunya. Gadis itu tak mengenakan aksesoris apa pun di kepalanya untuk mengikat rambutnya yang tergerai. Bahkan tubuhnya hanya terbalut oleh jubah tidur tipis meski pun suhu udara saat itu terasa sangat dingin.
Untungnya, saat itu Calista ditemani dengan secangkir teh hangat yang cukup untuk menghangatkan tubuhnya. Sesekali, Calista menyesap teh yang sudah tersaji di meja di sampingnya.
Tak berselang lama, jam yang ada di sudut kamarnya berdentang, membuat Calista kemudian melirik pada arloji perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar Calista.
"Tuan Putri," Dalvin yang baru saja memasuki kamar Calista lantas menundukkan wajahnya sejenak pada gadis yang sedang terduduk di seberang sana. "Yang Mulia Raja sudah menunggu Tuan Putri untuk makan malam bersama dengan keluarga Kerajaan."
Ada sedikit kekecewaan dalam benak Calista saat ia mendengar suara dari pria yang berada di belakangnya itu. Dalvin bukanlah sosok yang ia tunggu-tunggu saat ini. Dengan penuh perasaan kecewa, Calista pun berkata "Katakan pada Raja kalau aku sedang tak enak badan."
Saat mendengarnya, Dalvin merasakan ada sesuatu yang ganjal dari Calista, seolah gadis itu menyembunyikan sesuatu darinya yang seorang penasihat pribadi Calista. "Tuan Putri sedang menunggu Archduke Ardarel?" tanya Dalvin yang penasaran.
Namun saat ditanyai, Calista justru terdiam seribu bahasa. Samantha yang sedari tadi tertidur pulas di pangkuan Calista, mendadak terbangun dan langsung menyingkir dari pangkuan Calista seolah Samantha mengerti bahwa Calista sedang merasa kesal.
Sebenarnya tak ada maksud dari Dalvin untuk membuat Calista kesal. Ia lantas berjalan menghampiri Calista lalu ia berkata pada gadis itu "Tidak semua orang di Istana ini bisa dipercaya, Tuan Putri. Ambisi Tuan Putri untuk terlibat dalam pemerintahan Kerajaan Voheshia dapat membuat orang-orang berbalik membenci Tuan Putri."
Calista masih terdiam. Kini ia beranjak bangun lalu kemudian ia berjalan dan bersandar pada pembatas balkon. Sementara itu, dari pintu kamarnya kembali terdengar suara ketukan.
Calista hanya melirik pada Dalvin, sedangkan pria itu tak membutuhkan waktu lama untuk mengerti akan maksud dari Calista. Lantas Dalvin pun membukakan pintu dan mempersilahkan orang tadi untuk masuk.
"Tuan Putri," Archduke Ardarel menundukkan wajahnya sejenak pada Calista. Secercah senyuman terukir pada wajah pucat gadis itu saat melihat kedatangan Archduke Ardarel. "Apakah ada yang ingin Tuan Putri sampaikan pada saya?"
"Aku menginginkan kursi di anggota Dewan Kerajaan." tanpa berbasa-basi Calista langsung mengutarakan maksud darinya untuk bertemu Archduke Ardarel.
Archduke Ardarel tak terlalu terkejut dengan perkataan Calista, berbeda dengan Dalvin yang tak menyangka bahwa gadis itu akan begitu berterus-terang pada Archduke Ardarel. Justru Archduke Ardarel tampak seolah meremehkannya dengan ia bertanya "Apa yang membuat saya harus memasukkan Tuan Putri ke dalam keanggotaan Dewan Kerajaan?"
Dengan santainya, Calista menjawab "Aku bisa mempengaruhi keputusan Raja Albertus dari Hellenocitus untuk bersekutu dengan Voheshia jika aku menjadi anggota Dewan Kerajaan. Sebaliknya, aku bisa membuat Hellenocitus berbalik memusuhi Voheshia jika kau menolak permintaanku."
Sementara itu, Archduke Ardarel tersenyum miring saat mendengar jawaban dari Calista. Tampaknya Putri dari Kerajaan Hellenocitus itu ingin menggunakan pengaruhnya untuk mendesak Archduke Ardarel agar memasukkannya ke dalam keanggotaan Dewan Kerajaan. Archduke Ardarel pun kemudian berkata "Saya tak bisa memasukkan Tuan Putri ke dalam keanggotaan Dewan Kerajaan, tetapi saya bisa memberikan Tuan Putri sebuah saran."
"Katakan." jawab Calista. Lantas Archduke Ardarel pun mendekat dan kemudian berbisik pada telinga gadis itu. Sedangkan Calista hanya mengangguk kecil di setiap bisikan yang diterima olehnya dari Archduke Ardarel.
Setelah selesai berbisik, Archduke Ardarel pun kemudian kembali mundur. "Semoga keberuntungan berpihak pada Tuan Putri." Archduke Ardarel lantas menunduk sejenak dan keluar dari kamar Calista.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu telah menunjukkan tepat di tengah malam. Saat itu, suasana Istana terasa sangat sunyi tanpa adanya orang yang melintas di sekitaran Istana. Hanya ada beberapa penjaga yang sedang bertugas untuk memastikan keamanan Istana.
Di tengah heningnya malam itu, suara langkah kaki terdengar menggema di lorong Istana bagian Ruang Harem. Tidak biasanya ada orang yang masih berkeliaran pada waktu-waktu seperti itu. Para penghuni Ruang Harem tentunya sudah terlelap dalam tidur mereka pada waktu itu.
Suara langkah kaki itu kini terhenti tepat di depan sebuah pintu yang letaknya berada di ujung lorong. Sang pemilik langkah pun kemudian mengetuk pintu kamar tersebut dengan berharap agar pemilik kamar itu belum tertidur.
Beruntungnya, di dalam kamar itu, Pangeran Harith tampak sedang membaca sebuah buku di meja kerjanya. Saat Pangeran Harith mendengar suara ketukan pintu, rasa penasaran hinggap dalam benaknya. Ia berfikir, tak mungkin kalau pelayan lah yang mengetuk pintu kamarnya.
Lantas Pangeran Harith pun berjalan menuju pintu kamarnya dan membukakan pintu itu. Seorang pria dengan menggunakan tudung berwarna biru gelap tengah berdiri di depan kamarnya.
"Sir Dalvin?" berapa terkejutnya Pangeran Harith saat melihat wajah pria itu yang semula menunduk dan tertutupi oleh tudung. "Apa yang membuatmu datang selarut ini kemari?"
Tanpa berbasa-basi, Dalvin pun langsung menjawab "Putri Calista ingin mendapatkan tahta Ratu."
"Tahta Ratu?" Pangeran Harith langsung tertawa saat mendengar ucapan dari Dalvin. Ucapan yang benar-benar tak masuk akal baginya. Bagaimana seorang Calista bisa menjadi Ratu? Kalau pun Calista bisa menjadi seorang Ratu, masa kekuasaannya tak akan bisa bertahan lama. Pangeran Harith berani menjamin itu.
Merasa perkataannya diacuhkan oleh Pangeran Harith, Dalvin pun lantas mengeluarkan sepucuk surat dari balik pakaiannya lalu memberikannya pada Pangeran Harith, membuat Pangeran Harith bertanya "Siapa yang mengirim surat ini?"
Dalvin kemudian menjawab "Organisasi The Priestess yang mendapatkannya. Dikirim untuk Raja Albertus dari Hellenocitus dan ditulis oleh Putri Calista. Putri Calista menginginkan keanggotaan Dewan Kerajaan."
Alih-alih terkejut dengan rencana Calista yang dibocorkan oleh Dalvin, Pangeran Harith justru terkejut saat pria yang ada di depannya itu menyebutkan sebuah nama organisasi yang sangat terkenal di Kerajaan Voheshia. Lantas Pangeran Harith pun berkata "Tak ada seorang pun yang bisa mendapatkan informasi dari The Priestess karena kerahasiaannya kecuali dua kemungkinan. Yang pertama, kau adalah mantan anggota The Priestess. Atau yang kedua,—"
—kau adalah anggota The Priestess." Dalvin tersenyum miring saat Pangeran Harith mencoba menebak dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments