Waktu benar-benar berlalu dengan cepat. Tanpa terasa hari pemilihan bahkan telah usai, dan kini sudah saatnya Perdana Menteri yang baru akan tampil mengucap sumpahnya di hadapan Raja dan juga para bangsawan untuk setia pada Kerajaan.
Sesuai hukum Kerajaan Voheshia, siapa pun yang memenangkan pemilihan Perdana Menteri tak akan diumumkan identitasnya sampai hari sumpah berlangsung, dan saat ini tibalah hari sumpah yang sudah dinanti-nanti oleh seluruh rakyat dan bangsawan Kerajaan Voheshia yang penasaran dengan Perdana Menteri baru mereka.
Semua orang penasaran akan sosok Perdana Menteri baru mereka yang akan menjabat. Bahkan para bangsawan yang hadir di aula Istana Kerajaan saling berbincang satu sama lain tentang Perdana Menteri baru mereka itu.
Kali ini berbeda, seorang wanita dapat duduk di kursi pemerintahan Kerajaan Voheshia sebagai Perdana Menteri. Despina, itulah nama wanita yang berhasil membuat semua orang penasaran akan sosoknya yang diselimuti misteri.
Diantara mereka semua yang hadir, di sana juga hadir para anggota keluarga Kerajaan, termasuk Pangeran Harith, Putri Alice, dan Selir Leonore.
Tampaknya, sedari tadi Pangeran Harith telah diselimuti oleh kecemasannya sendiri. Tangannya yang sedang menggenggam tangan istrinya semakin lama semakin mengerat sehingga membuat Putri Alice yang menyadarinya pun bertanya "Ada apa denganmu?"
"Aah," Pangeran Harith tersadar saat mendengar suara Putri Alice. Ia terlihat seperti orang yang bingung, namun ia menggeleng seraya berkata "Tak ada apa-apa. Semuanya baik-baik saja."
Selir Leonore tampak terganggu dengan pembicaraan putra dan menantunya itu. Acara itu seharusnya berlangsung dengan khidmat sehingga Selir Leonore pun menegur Pangeran Harith dengan berkata "Bisakah kalian tenang? Sudah kukatakan siapa pun yang terpilih sebagai Perdana Menteri tak akan berpengaruh bagi kita."
"Baiklah, ibu." Pangeran Harith tertunduk saat dirinya ditegur oleh Selir Leonore.
Melihat putranya seperti itu membuat perasaan bersalah tumbuh dalam hati Selir Leonore. Ia mengerti kecemasan putranya itu akan seseorang yang bisa saja mengancamnya sewaktu-waktu. Namun tak ada yang perlu dikhawatirkan dari seorang Perdana Menteri, karena ia tak memiliki pengaruh untuk mencampuri urusan pewarisan tahta, hanya Dewan Kerajaan yang bisa. Lantas Selir Leonore mengusap tangan putranya itu seraya berkata "Tak ada yang perlu kau khawatirkan, Harith. Ia tak akan bisa menjatuhkanmu."
Disaat itu, tiba-tiba suasana yang semula riuh menjadi tenang. Semua atensi tertuju pada sosok wanita yang mulai memasuki aula Istana. Dalam sekejap sosok wanita itu mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya dan membuat mereka terkagum akan pesona yang dipancarkan oleh wanita itu.
Sosoknya berjalan anggun dengan wajahnya yang tertunduk. Pada genggamannya ada setangkai bunga mawar berwarna putih yang akan ia persembahkan kepada Sang Raja. Wajah cantiknya tertutupi oleh kain hitam transparan dengan kedua matanya yang disembunyikan di balik sebuah topeng perak. Rambut coklat gelap sebahunya juga tertutup oleh tudung hitam yang panjangnya menjuntai hingga ke lantai.
Wanita itu segera berlutut saat ia sampai di altar penobatan. Sang Raja yang ada di sana sudah menyiapkan pedangnya untuk upacara pengangkatan wanita itu sebagai Perdana Menteri.
Setelah Sang Raja membuka kain penutup wajah Despina, Sang Raja pun meletakkan pedangnya di atas kedua bahu wanita itu bergantian lalu beralih ke atas kepalanya dan kemudian berkata "Aku, Richard James Dominique, Raja dari Kerajaan Voheshia, dengan seluruh kuasaku, aku mengangkat Lady Despina sebagai Perdana Menteri menggantikan Perdana Menteri Darrel yang telah tenang di sisi-Nya. Semoga Tuhan membimbingmu dalam kebijaksanaan-Nya."
Wanita itu menyerahkan setangkai bunga mawar putih yang dibawanya tadi pada Sang Raja. Ia kemudian segera bangkit dan berbalik. Pada wajahnya terukirkan sebuah senyuman yang tak seorang pun tahu maksudnya.
Seseorang datang dengan membawakan sebuah bantalan saat wanita itu hendak melepaskan topeng perak yang menutupi hampir separuh wajah cantiknya itu. Saat topeng perak itu dilepas dari wajahnya, semua orang begitu terkejut dengan sosoknya.
Bibirnya yang terbalut oleh warna hitam kembali menyunggingkan senyumannya saat menatap ke sekitarnya. Lalu ia kemudian berkata "Aku, Calista Despina Rajacenna, akan bersumpah setia di hadapan Yang Mulia Raja Richard untuk melayani seluruh Kerajaan dan Yang Mulia Raja dengan segenap jiwaku. Semoga Tuhan selalu membimbingku dalam kebijaksanaan-Nya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat itu di ruang pertemuan anggota keluarga Kerajaan di Istana bagian utama, para anggota keluarga Kerajaan mulai dari selir-selir Sang Raja, Permaisuri, para Pangeran dan juga istrinya hadir dalam pertemuan darurat itu. Hanya Calista lah yang tak diundang dalam pertemuan itu.
Mereka semua ricuh, meributkan situasi yang sedang terjadi. Bagaimana bisa seorang anggota keluarga Kerajaan yang seharusnya bisa bersikap netral justru terlibat dalam urusan pemerintahan Kerajaan? Tindakan itu tentunya menuai kecaman dari sebagian anggota keluarga Kerajaan yang tak terima.
"Yang Mulia Raja telah tiba!" Pangeran Orlando yang berada di ujung ruangan berseru dengan berdiri saat Sang Raja memasuki ruangan. Para anggota keluarga Kerajaan yang semula ramai pun menjadi tenang dan mereka semua ikut berdiri sampai Sang Raja terduduk di tahtanya.
"Calista Despina Rajacenna," Sang Raja mulai membuka pembicaraan diantara mereka semua. "Situasi aneh macam apa ini?"
"Yang Mulia," Pangeran Peter yang sudah sedari tadi kesal dengan perbuatan Calista kini mulai mengajukan keluhannya pada Sang Raja. "Putri Calista tak dapat dibiarkan untuk maju sebagai Perdana Menteri Kerajaan Voheshia. Itu dapat mencemarkan nama baik keluarga Kerajaan yang terkenal akan sikap netralnya dan juga akan memperburuk pandangan rakyat terhadap keluarga Kerajaan."
"Saya tak setuju dengan pendapat Pangeran Orlando, Yang Mulia." Edgar langsung menyanggah pendapat Pangeran Orlando. Bagaimana tidak, masa depan istrinya saat itu sedang dipertaruhkan dalam pertemuan darurat keluarga Kerajaan. Edgar pun kemudian menjelaskan alasan mengapa ia menyanggah pendapat dari salah satu kakaknya itu. "Putri Calista menjadi kunci hubungan diplomatik antara Kerajaan Voheshia dengan Kerajaan Hellenocitus. Kerajaan Hellenocitus akan mengirimkan bantuan pasukan untuk menangkal serangan dari pasukan Kerajaan Lozarayas, Yang Mulia. Jika Putri Calista dipaksa untuk mundur dari jabatannya, saya khawatir niat baik Kerajaan Hellenocitus tak akan terlaksana."
Sementara itu, Pangeran Harith yang berada di pihak yang bersebrangan dengannya, mendecih saat mendengar pendapatnya. Pangeran Harith berdiri, lalu ia berkata "Pangeran Edgar telah menukar harga diri keluarga Kerajaan dengan sebuah pasukan dari Negeri asing yang bisa saja membahayakan kekuasaan Kerajaan Voheshia. Sikap itu sangat tidak pantas untuk dimiliki oleh seorang pewaris tahta."
"Tidak pantas?" emosi Edgar seketika tersulut saat mendengar perkataan Pangeran Harith. Pangeran Harith kedengarannya seperti ingin menjatuhkan posisinya sebagai Putra Mahkota. "Jika Calista mundur, aku tak akan tak peduli kalau sampai Kerajaan Lozarayas berhasil menaklukkan Kerajaan kita."
"Cukup!" Sang Raja yang melihat suasana diantara mereka semakin memanas akhirnya menengahi perdebatan itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan yang berasal dari pintu. Seorang pelayan masuk ke dalam ruangan itu menghampiri Sang Raja dan langsung menyerahkan sepucuk surat pada Sang Raja.
Sang Raja kemudian membuka segel surat itu setelah pelayan tadi keluar dari ruangan. Kedua tangan Sang Raja meremat kuat pada kertas berwarna kecoklatan yang sedang dibaca olehnya itu.
Sang Raja pun kemudian berseru "Kota Valche telah jatuh dalam kekuasaan Kerajaan Lozarayas."
Semua orang terkejut setelah mendengar perkataan Sang Raja. Pasalnya, kota Valche telah beratus-ratus tahun lamanya menjadi pusat keamanan Kerajaan dari serangan luar dengan reputasinya sebagai kota yang paling sulit untuk ditaklukkan.
Mereka terjepit dengan dihadapkan pada pilihan yang sulit. Mereka dipaksa untuk memilih mengakui Calista sebagai Perdana Menteri baru Kerajaan Voheshia, atau ditaklukkan oleh Kerajaan Lozarayas yang terkenal akan kekuatan militernya. Hanya dengan bantuan pasukan dari Kerajaan Hellenocitus lah yang dapat mengimbangi kekuatan dari Kerajaan Lozarayas.
Setelah berfikir matang-matang, Sang Permaisuri pun berdiri lalu berkata "Kerajaan kita tak akan memiliki masa depan jika Putri Calista mundur. Tetapi, jika Putri Calista tetap pada posisinya, saya juga menuntut untuk dilibatkan dalam urusan pemerintahan, Yang Mulia, sebagai Ratu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments