Chapter 12

Jauh di seberang sana, tepatnya di Istana Kerajaan Hellenocitus, Raja Albertus, ayah dari Calista tengah disibukkan dengan tumpukan berkas laporan keuangan dari para bangsawan di seluruh penjuru Kerajaan di ruang kerjanya.

Satu per satu berkas-berkas itu diperiksa langsung oleh Sang Raja. Ditengah pekerjaannya, seseorang mengetuk pintu ruangan Sang Raja sehingga membuat Sang Raja menghentikan sejenak aktifitasnya.

Seorang pelayan masuk dan langsung membungkuk pada Sang Raja. Di tangan pelayan itu terdapat sebuah gulungan kertas yang diikat dengan tali pita berwarna merah gelap.

"Yang Mulia," pelayan itu pun kemudian menghampiri Sang Raja dan menyerahkan gulungan surat itu.

"Terimakasih," Sang Raja mengambil surat itu sembari melempar senyuman tipis pada pelayannya. Sementara pelayannya mengangguk dan kembali membungkuk sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan Sang Raja.

Tak biasanya ada orang yang mengirim surat di pagi hari, namun dari pita pengikat suratnya Sang Raja sudah dapat menebak siapa pengirim dari surat itu.

Penasaran akan isinya, Sang Raja mulai membuka ikatan pita yang mengunci gulungan surat itu sampai surat itu terbuka sepenuhnya. Dan benar saja seperti dugaan Sang Raja, surat itu memang dikirimkan oleh putri semata wayangnya, Calista.

"Surat dari siapa itu?" Sang Raja mengalihkan perhatiannya saat Permaisuri Mirana datang di ruangannya. Sang Permaisuri langsung terduduk di sofa yang ada di dekat Sang Raja.

"Calista." jawab Sang Raja. "Kerajaan Voheshia kembali berseteru dengan Kerajaan Lozarayas. Ia meminta bantuan pasukan dari Kerajaan Hellenocitus."

"Mereka kembali berseteru?" Sang Raja yang menghampiri Sang Permaisuri mengangguk padanya. Sementara itu, Sang Permaisuri mendecih. Konflik antara Kerajaan Voheshia dengan Kerajaan Lozarayas adalah konflik lama, jadi tak heran jika kedua Kerajaan itu sering berseteru sampai terkadang berakhir dengan peperangan.

Sedangkan Sang Raja yang kini sudah duduk di samping Sang Permaisuri tertawa lirih menanggapi decihan dari Sang Permaisuri seraya berkata "Jangan terlalu dipikirkan, Mirana. Pada akhirnya konflik mereka juga akan menguntungkan kita."

Yang dikatakan oleh Sang Raja memang ada benarnya. Ratusan tahun lamanya Kerajaan Hellenocitus telah menjadi pemasok utama senjata perang untuk Kerajaan Voheshia dan Kerajaan Lozarayas. Hal itu tentunya membuat Kerajaan Hellenocitus dapat meraup keuntungan dari senjata perang yang diperdagangkan. Status Kerajaan Hellenocitus yang sebagai sekutu Kerajaan Voheshia tak membuatnya terlibat langsung dalam konflik itu, justru Kerajaan Hellenocitus lebih memilih untuk tidak memihak mana pun.

Namun surat yang dikirimkan dari Calista membuat Sang Permaisuri khawatir. Kekhawatirannya ia ungkapkan pada Sang Raja dengan berkata "Jika kita mengirimkan bantuan pasukan untuk Kerajaan Voheshia, Kerajaan Lozarayas tak akan lagi membeli senjata dari Kerajaan kita. Kau yakin dengan itu?"

Ucapan Sang Permaisuri membuat Sang Raja berfikir. Kini Sang Raja dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit, antara membantu putrinya, Calista dalam mempertahankan keutuhan Kerajaan Voheshia, atau tetap bersikap netral untuk menjaga hubungan dengan Kerajaan Lozarayas yang sudah sejak lama menjadi mitra perdagangan Kerajaan Hellenocitus.

Sang Raja lantas berdiri. Tatapannya tertuju pada sebuah lukisan yang terpajang di dinding ruangannya. Dalam lukisan itu, ada dirinya, Sang Permaisuri, dan juga Calista. Sang Raja teringat akan waktu di saat lukisan itu dibuat, pada ulang tahun pernikahan Sang Raja dan Permaisuri yang ke-lima bertepatan dengan ulang tahun putri mereka yang ke-empat.

Helaan nafas panjang terdengar dari Sang Raja yang berdiri memunggungi Sang Permaisuri. Tanpa berbalik, Sang Raja hanya menoleh seraya berkata "Calista tahu apa yang harus dilakukan. Kita harus percaya padanya."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Calista menatap bayangan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya. Pada wajahnya tersimpulkan sebuah senyuman saat kedua netra hijau terang miliknya melirik pada sebuah surat yang ada di tangannya.

Surat undangan yang ditulis khusus untuk dirinya dengan tinta emas. Calista akan menjadi tamu istimewa di hari itu. Surat itu tentu saja dikirimkan langsung dari ibu mertuanya, Sang Permaisuri yang akan segera dinobatkan sebagai Ratu pada hari itu.

Calista benar-benar menjadi seorang gadis yang paling beruntung pada saat itu. Bagaimana tidak, ia tak hanya menjadi istri dari pewaris sah tahta Kerajaan Voheshia, tetapi ia juga menjabat sebagai Perdana Menteri di Kerajaan yang dikuasai oleh ayah mertuanya, dan ia juga segera akan menjadi penasihat dari Sang Permaisuri yang akan berganti posisi menjadi Ratu.

Netra hijau terang miliknya teralihkan saat seorang pelayan masuk ke dalam ruangan itu. Saat ini Calista sedang berada di sebuah ruangan kecil di belakang aula Istana untuk bersiap menghadiri upacara pengangkatan Sang Permaisuri. Pelayan itu membungkuk sejenak pada Calista lalu ia berkata "Acaranya sebentar lagi dimulai, Tuan Putri."

Calista hanya mengangguk kecil sembari menatap pantulan bayangan pelayan itu dari cermin sampai pelayan itu keluar dari ruangan. Akhirnya, saat-saat yang paling ia tunggu akan segera dimulai.

Setelah merapikan gaun merah gelap yang dikenakan olehnya, Calista pun berbalik dan berjalan melalui pintu yang berbeda memasuki aula Istana yang sudah dipenuhi oleh tamu undangan.

Para bangsawan dan konglomerat yang hadir di sana berdiri saat Calista berjalan menuju kursinya. Tak hanya mereka, bahkan para Pangeran juga teralihkan perhatiannya pada gadis itu. Meski pun dengan wajahnya yang pucat, pesona yang dipancarkan oleh Calista mampu memikat siapa saja.

Setelah beberapa saat Calista duduk di samping Edgar sudah datang sedari tadi, mereka yang tadi berdiri kini kembali duduk. Suasana kembali tenang. Calista dapat merasakan tangannya yang digenggam oleh Edgar sementara Edgar menoleh padanya seraya berkata "Kau pasti merasa senang."

"Aku?" Calista tertawa lirih saat mendengar perkataan Edgar. Ia justru membalikkan perkataan Edgar dengan berkata "Bukankah kau yang senang? Ayahmu menjadi Raja berkat garis keturunannya dan ibumu menjadi Ratu berkat aku yang menjadi Perdana Menteri."

"Kau benar." ucap Edgar sembari mengusak surai coklat gelap Calista sehingga membuat pemiliknya mencebikkan bibirnya. Melihat hal itu, Edgar lantas mengecup kening Calista lalu ia berkata "Aku harus berterimakasih pada istriku ini."

Pembicaraan diantara mereka berdua harus berakhir bersamaan dengan suara instrumen musik yang menyambut Sang Permaisuri dari pintu aula.

Semua orang berdiri, termasuk Calista dan Edgar untuk memberikan penghormatan mereka pada Sang Permaisuri sampai Sang Permaisuri tiba di altar. Mereka pun kembali duduk.

Sang Permaisuri kini berlutut di hadapan Sang Raja yang sudah siap untuk memahkotainya dengan mahkota Ratu yang akan menggantikan tiara yang tengah dikenakan olehnya.

Namun sebelum itu, Sang berseru "Aku Richard James Dominique, Raja dari Kerajaan Voheshia, dengan kuasaku, aku memberikan Permaisuri Sarah Eve Dominique kuasa atas Kerajaan Voheshia. Lihatlah Ratu kalian yang sah! Sang pewaris tahta Kerajaan Voheshia. Hidup Ratu dalam kemakmuran!"

Semua orang bersorak saat Sang Permaisuri yang kini menjadi telah sah menjadi Ratu dimahkotai oleh Sang Raja. Sang Ratu pun berbalik lalu kemudian menyerukan sumpahnya di hadapan para tamu undangan. "Aku, Sarah Eve Dominique, dengan ini menyatakan sumpah setiaku pada Kerajaan Voheshia. Aku akan melayani dan melindungi Kerajaan Voheshia dari semua ancaman sampai titik penghabisanku. Di hadapan para rakyatku, para bangsawan, Yang Mulia Raja, dan seluruh keluarga Kerajaan aku bersumpah."

"Hidup Sang Ratu!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!