Suasana Istana saat ini sama seperti hari-hari biasanya. Orang-orang banyak disibukkan dengan urusannya masing-masing. Namun saat ini, ada sepasang wanita yang sedang bersantai di taman Istana.
Salah satu dari wanita itu ialah Putri Selene, istri Pangeran Orlando yang merupakan putra dari salah seorang selir Raja. Putri Selene tampak anggun dengan gaun berwarna biru cerah membalut tubuhnya.
Sedangkan wanita yang berada di samping Selene tak lain adalah Putri Rachel, istri dari Pangeran Peter yang juga merupakan putra dari salah satu selir Raja.
Keduanya terduduk di atas alas pada hamparan rumput dengan mereka menikmati pagi hari itu yang cerah. Mereka juga ditemani dengan dua gelas sampanye dan sekotak penuh camilan di sana.
"Kau lihat Putri Calista tadi?" wajah Selene yang semula mengarah ke atas beralih pada Rachel saat ia bertanya pada wanita yang ada di sampingnya itu. "Yang Mulia Raja pasti langsung menilainya sebagai gadis yang tak memiliki sopan santun. Bagaimana bisa ia datang terlambat setelah Yang Mulia Raja. Ia bahkan membiarkan kucingnya makan di atas meja."
"Atau mungkin ia sedang menunjukkan dominasinya." Rachel menimpali perkataan Selene dengan wajahnya yang tersenyum tipis. Tentunya ada alasan mengapa Rachel berkata demikian pada Selene. Sedari awal Rachel memang sudah tak menyukai kedatangan Calista di keluarga Kerajaan Voheshia. "Ia mencoba menunjukkan latar belakangnya yang merupakan Putri dari Kerajaan Hellenocitus pada kita. Seolah ia berkata 'Kau bukan tandinganku, bodoh.' pada kita. Bahkan Yang Mulia Raja jelas sangat memperhatikannya tadi pagi."
Sedangkan Selene mendecih saat mendengar ucapan Rachel. Wanita itu lantas berkata "Kita lihat saja seberapa jauh ia akan bertahan di—"
"—awh!" Selene mengaduh saat tangannya diremas dengan kuat oleh Rachel. Ia mendelik tajam pada Rachel, namun Rachel langsung mengisyaratkannya untuk menoleh ke belakang.
Panjang umur, gadis yang baru saja dibicarakan itu terlihat sedang bersama seorang pria berjalan menuju ke arahnya. Namun demikian, Calista tampaknya tak menyadari keberadaan mereka berdua.
"Tuan Putri," seketika Calista menoleh pada Rachel dan Selene yang hendak membungkuk secara bersamaan kepadanya.
"Ah, Putri Selene dan Putri Rachel." sebelum keduanya membungkuk sepenuhnya pada Calista, Calista sudah terlebih dahulu mengulurkan tangannya sehingga menghentikan Rachel dan Selene untuk membungkuk. Calista tersenyum sejenak lalu ia kembali berkata "Sepertinya kalian sedang bersantai. Sebaiknya aku tak mengganggu kalian."
Rachel dan Selene hanya bisa menatap kosong pada Calista yang pergi menjauh dari mereka berdua. Sementara itu Dalvin yang berada di belakang Calista, sebelum ia pergi, ia terlebih dahulu berkata pada keduanya "Tuan Putri Calista kurang nyaman saat bersama dengan orang asing. Saya harap kalian bisa memakluminya."
Calista kini tampak berjalan menuju tepian taman. Namun setelah beberapa saat, langkah kakinya terhenti sementara kedua manik mata hijau terang miliknya mengawasi sosok yang sedang berjalan di seberangnya.
Dalvin yang penasaran mengapa Calista berhenti pun ikut mengarahkan pandangannya pada sosok itu. Tak butuh waktu lama untuknya mengenali sosok itu sampai ia bergumam "Archduke Ardarel, ketua Dewan Kerajaan."
"Bagaimana dengan Archduchess Ardarel? Kau juga mengenalnya?" tanya Calista dengan manik matanya melirik Dalvin melalui ekor matanya. Terlihat Dalvin mengangguk, lantas Calista pun kembali berkata "Aku ingin mengundangnya dan para Duchess istri anggota Dewan Kerajaan untuk pesta teh sore nanti."
"Tentu, Tuan Putri." ucap Dalvin. "Saya akan mengirimkan undangannya segera."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore itu, Calista tengah bersiap untuk pesta yang diadakan olehnya. Sesekali ia tampak merapikan gaun berwarna merah gelap yang dikenakannya dan memastikannya untuk terlihat cantik. Rambut coklat gelapnya ia biarkan tergerai dengan untaian mutiara menghiasi ujung kepalanya.
Pintu dibukakan sesaat setelah Calista menyuruh kedua pelayan untuk membuka pintu yang ada di depannya itu. Seketika, alunan musik terdengar indah mengalun dari dalam ruangan kaca itu saat Calista masuk ke dalamnya. Tak hanya ditemani oleh alunan musik saja, rangkaian bunga juga turut mendekorasi ruangan itu dan semerbaknya menyebar ke seluruh penjuru ruangan.
Tak berselang lama kemudian, dari kejauhan terlihat sekelompok wanita yang mendekat. Mereka ialah para Duchess yang diundang oleh Calista pada pestanya sore ini. Satu per satu dari mereka memasuki ruangan, namun saat Calista memperhatikannya, ada seseorang yang masih belum hadir di sana.
Namun tak lama kemudian, wanita yang telah ditunggu-tunggu oleh Calista akhirnya tiba juga. Calista dapat melihat Archduchess Ardarel menuju ke sana dengan sebuah buket bunga yang dibawa oleh Archduchess Ardarel.
Wanita itu melempar senyuman pada Calista saat ia memberikan buket bunga itu seraya ia berkata "Selamat atas pernikahanmu besok."
"Terimakasih, Archduchess Ardarel." Calista membalas senyuman hangat wanita itu sembari ia mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangan.
Pesta itu berjalan dengan lancar, seperti yang diharapkan oleh Calista. Seperti wanita pada umumnya, para Duchess yang ada di sana juga membicarakan rumor-rumor yang sedang beredar di kalangan Istana. Tak jarang juga dari mereka saling melempar canda dan tawa tanpa melupakan tata laku mereka sebagai bangsawan.
Di antara mereka semua, hanya Archduchess Ardarel saja yang tampak diam tak mengikuti pembicaraan. Wanita itu tampak tenang menikmati tehnya sampai ia kemudian ikut masuk ke dalam pembicaraan para Duchess. "Aku dengar Kerajaan Voheshia kembali berseteru dengan Kerajaan Lozarayas."
Ruangan yang semula dipenuhi oleh candaan hangat dari para Duchess seketika menjadi hening. Seluruh atensi pun kini tertuju pada Archduchess Ardarel yang masih terlihat santai menyesap tehnya kembali. Duchess Zanazar, salah seorang dari mereka lantas berkata "Membicarakan masalah Kerajaan bukanlah hal yang baik untuk kita, Archduchess Ardarel."
Di tengah situasi mereka yang canggung, Calista pun menimpali perkataan Archduchess Ardarel. "Memang benar hubungan antara Kerajaan Lozarayas dengan Kerajaan Voheshia sedang memanas, Archduchess Ardarel. Tetapi tak ada yang perlu kita takutkan dari hal itu. Pasukan dari Kerajaan Lozarayas memang lebih unggul dari pasukan Kerajaan Voheshia, namun jika konflik ini berujung pada perang, maka hubungan diplomatik Kerajaan Voheshia dengan Kerajaan Hellenocitus akan membuat Kerajaan Hellenocitus bergabung dalam perang."
Semua perhatian kini teralihkan pada Calista, termasuk Archduchess Ardarel yang tersenyum saat mendapat jawaban yang memuaskan dari gadis itu. Lantas Archduchess Ardarel berkata "Tuan Putri Calista benar! Tak ada yang perlu kita khawatirkan karena kita memiliki sekutu yang kuat. Terlebih jika pernikahan Tuan Putri Calista dengan Paduka Pangeran Edgar berjalan lancar maka Kerajaan Lozarayas tak akan berani bertingkah di hadapan kita lagi."
Calista hanya melempar senyuman tipis pada Archduchess Ardarel sementara yang lain terdiam. Para Duchess lainnya tampaknya merasa tak nyaman dengan topik pembicaraan mereka kali ini sehingga Duchess Nathlis mengutarakan ketidaknyamanan mereka pada Calista dan Archduchess Ardarel. "Mungkin sebaiknya kita tak membahas ini terlalu jauh, Tuan Putri, Archduchess Ardarel."
"Sebaiknya begitu." ucap Calista. "Silahkan lanjutkan pestanya."
Pesta pun berlanjut hingga tak terasa matahari sudah terbenam. Ruangan kaca yang semula dipenuhi oleh cahaya sang mentari kini mulai menggelap seiring berjalannya waktu. Akhirnya, pesta pun usai tepat pada pukul tujuh malam.
Para Duchess yang hadir di sana satu per satu mengucapkan terimakasih mereka pada Calista yang sudah berkenan untuk mengundang mereka. Mereka pun beriringan keluar dari ruangan itu hingga kini giliran Archduchess Ardarel. Sebelum Archduchess meninggalkan ruangan itu, ia terlebih dahulu berpesan pada Calista "Tuan Putri bisa meminta bantuan saya jika Tuan Putri memerlukannya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments