Chapter 20

Pagi itu, suasana kapel Istana begitu sunyi ditengah sibuknya Istana pada saat itu. Bangku-bangkunya terlihat kosong tanpa ada seorang pun yang mengisinya. Namun, seorang pria tampak tengah berlutut dengan wajahnya yang tertunduk.

Edgar, pria itu menautkan kedua tangannya dengan matanya yang terpejam meski pun terlihat dari sudut matanya, butiran-butiran air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Mulutnya senantiasa merapalkan doa tanpa henti-hentinya sejak dini hari tadi.

Ditengah sunyinya kapel itu, suara deritan pintu terdengar menggema di seisi ruangan. Suara langkah kaki yang mendekat tak lantas membuat Edgar mengalihkan perhatiannya sedikit pun.

"Yang Mulia," Daniel yang kini tengah berdiri tepat di belakang Edgar pun membungkuk. Setelah beberapa saat kemudian, Edgar pun bangkit dan sebelum ia berbalik pada Daniel, terlebih dahulu ia mengusap air matanya yang masih tersisa hingga mengering.

Namun Daniel sepertinya menyadari sesuatu. Manik matanya tertuju pada mata Edgar yang terlihat merah membengkak. Daniel mengeluarkan sebuah sapu tangan dari kantung pakaiannya dan menyerahkannya pada Edgar seraya ia bertanya "Apa semuanya baik-baik saja, Yang Mulia?"

Edgar yang menerima sapu tangan putih milik Daniel lantas mengusapkannya pada kedua matanya bergantian sembari ia menggeleng kecil pada Daniel. Edgar lalu berjalan menuju bangku yang ada di dekatnya. Kemudian setelah ia duduk, ia pun bertanya "Apa yang membuatmu kemari, Daniel?"

"Dewan Kerajaan telah mengadakan pertemuan, Yang Mulia." ucap Daniel. "Kota Saphile atas perintah dari Pangeran Harith telah memisahkan diri dari Kerajaan Voheshia. Pangeran Harith mulai merekrut banyak pasukan untuk menentang pemerintahan Kerajaan. Namun sepertinya Pangeran Harith tak bergerak sendiri. Ada sesuatu di belakangnya yang turut membantunya dalam melancarkan pemberontakannya."

Helaan nafas panjang terdengar dari Edgar yang memalingkan wajahnya dari Daniel. Ia terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya ia bertanya "Bagaimana dengan keadaan kota Saradokh?"

Tak butuh waktu lama untuk Daniel memahami maksud dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Edgar. Menangis sendirian di kapel, ditambah dengan pertanyaannya mengenai kota itu, Daniel menebak Edgar sedang mengkhawatirkan istrinya. Lantas Daniel pun menjawab "Serangan dari pasukan Kerajaan Lozarayas masih belum mereda, Yang Mulia. Kami sudah mengirim utusan untuk mencari keberadaan Yang Mulia Permaisuri di kota Saradokh, namun tak ada satu pun dari rakyat di kota sana yang mengetahui dimana keberadaan Yang Mulia Permaisuri."

Edgar kembali terdiam sejenak. Lantas ia pun beranjak bangun lalu ia berdiri di samping Daniel seraya berbisik "Kirimkan suratku pada Lord Havaar. Katakan padanya bahwa surat itu ditunjukkan untuk Calista."

"Baik, Yang Mulia." Daniel mengangguk, menatap Edgar yang pergi meninggalkannya sendirian dalam kapel itu hingga sosoknya hilang dari balik pintu.

Selama perjalanan Edgar menuju Istana bagian utama, ia hanya terdiam dengan wajahnya yang tertunduk meski pun banyak orang yang berpapasan dengannya menyapa dirinya.

"Edgar," langkah kaki pria itu terhenti sejenak saat suara yang dikenal olehnya terdengar jelas memanggilnya dari belakang. Sosok wanita yang memanggilnya itu menyunggingkan senyumannya saat Edgar berbalik padanya.

"Archduchess Ardarel," Edgar menatap wajah wanita itu sembari membalas senyumannya.

Namun senyuman wanita itu berangsur-angsur pudar saat Edgar menggumamkan nama belakangnya. Lantas ia pun berkata "Kau selalu memanggilku dengan nama keluargaku, Edgar."

"Karena kau istri Archduke Ardarel, Margareth." balas Edgar tanpa memudarkan senyumannya.

Sementara wanita yang memiliki nama depan Margareth itu terdiam sejenak tanpa ekspresi pada wajahnya. Selama beberapa saat, Margareth menyadari sesuatu yang lantas membuatnya berkata "Kau pasti mengkhawatirkan Calista."

"Sepertinya Daniel cocok untuk menggantikan ayahnya sebagai Ketua Dewan Kerajaan." Edgar mengalihkan topik pembicaraan mereka. Tampaknya ia tak ingin sedikit pun menyinggung tentang kepergian Calista di hadapan Margareth.

Sedangkan Margareth mengangguk mengiyakan perkataan Edgar seraya ia membalas ucapannya "Aku memfasilitasinya untuk menempuh pendidikan di luar Kerajaan. Hanya satu impianku, Edgar, aku ingin melihatnya kelak menggantikan posisi ayahnya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjadikannya sempurna."

"Aku harap impianmu kelak menjadi kenyataan." ucap Edgar. Keduanya pun lantas tertawa bersamaan. Namun tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Calista merenggangkan kedua lengannya sejenak setelah ia memberikan sebuah selimut pada seorang wanita yang baru saja mengantri. Setelah satu hari penuh Calista membagikan barang-barang kebutuhan untuk antrian para pengungsi dari kota Saradokh, akhirnya selesai juga. Kantung matanya sudah semakin menghitam akibat ia yang tak tidur semalaman suntuk. Ditambah dengan wajahnya yang pucat, kini ia terlihat tak ada bedanya dengan mayat hidup. Beruntung ada topeng yang membantu menutupi wajah mengerikannya.

"Yang Mulia," Dalvin yang berdiri tepat di belakang Calista memanggilnya. "Lady Sarah menunggu Yang Mulia di tembok kota."

Tak lama kemudian, tampak seseorang mendekat pada mereka berdua dengan menuntun seekor kuda. Orang itu membungkuk sejenak pada Calista lalu ia menuntun kudanya untuk merendah agar Calista dapat menungganginya.

"Jika ada utusan yang datang dari kota Calasandra, katakan padanya aku mengharapkan kehadiran Edgar di sini." ucap Calista saat ia menaiki kudanya. Tak lama kemudian, ia memacu kudanya pergi meninggalkan Dalvin bersama dengan pelayannya.

Di sepanjang perjalanan, Calista tak henti-hentinya mendapat pemandangan yang begitu mengerikan. Asap membumbung tinggi dari rumah-rumah yang terbakar, banyak banyak barang-barang yang berserakan di jalanan, serta masih ada beberapa orang yang terlihat sedang membantu korban yang tersisa.

Setelah setengah jam berlalu sejak Calista mengendarai kudanya dengan cepat, akhirnya kini ia berdiri tepat di depan sebuah tembok yang menjulang tinggi yang melindungi kota Saradokh. Setelah para penjaga membuka pintu, Calista kemudian melenggang masuk menuju tangga dan menaikinya sampai ke atas tembok.

Saat ia sampai di atas, sudah ada seorang wanita yang sudah menantinya sedari tadi. Lady Sarah, ibu mertua dari Calista tampak berdiri memunggungi gadis itu dengan pandangannya yang mengarah ke luar tembok kota.

"Akhirnya kau datang juga, Calista." tanpa membalikkan tubuhnya, Lady Sarah sudah bisa mendengar langkah kaki Calista yang berjalan mendekat padanya.

"Ya, ibu. Aku di sini." ucap Calista saat ia berdiri di samping Lady Sarah. "Kenapa ibu ingin menemuiku?"

Alih-alih menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari menantunya itu, Lady Sarah hanya terdiam seraya mengeluarkan sebuah benda berukuran kecil dengan bentuk tabung dari balik jubah hitam yang dikenakan olehnya. Ia kemudian memberikan benda itu pada Calista.

Namun saat Calista menerima benda itu, tampaknya ia tak paham dengan maksud dari Lady Sarah. Lady Sarah dapat melihat raut wajah Calista yang kebingungan melalui ekor matanya. Lantas Lady Sarah pun menjelaskan maksudnya pada gadis itu. "Kau membutuhkan itu untuk bertahan dalam Istana, Calista. Archduchess Ardarel terlihat oleh seorang pelayan berbicara santai dengan Edgar. Mungkin ada sesuatu yang ia rencanakan. Kau harus menyingkirkan semua musuh-musuhmu jika kau ingin selamat."

Calista mendengarkan penjelasan dari Lady Sarah dengan seksama sembari a memperhatikan benda tabung yang ada dalam genggamannya itu. Benda itu menghipnotis Calista yang mengaguminya dengan ukiran yang menghiasinya. Namun bukan hanya keindahan pada bentuk ukiran benda itu yang Calista kagumi, melainkan kekuatan besar yang dapat dilakukan yang dapat dilakukan benda itu untuknya lah yang membuatnya merasa bangga menerima benda itu dari Lady Sarah.

Setelah Lady Sarah memberikan benda itu pada Calista, ia pun berbalik. Namun sebelumnya, ia berpesan pada Calista "Edgar telah mengirimi kau surat melalui Lord Havaar, tapi sepertinya surat itu tak akan pernah sampai. Kau tahu apa yang harus kau lakukan."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!