"Yang Mulia Permaisuri dan Tuan Putri telah tiba!" pintu ruangan itu dibuka lebar-lebar. Sementara para pelayan yang berada di dalamnya membungkuk saat Mirana dan Calista berjalan memasuki ruangan itu.
Seorang pria tampaknya sudah menunggu kedatangan mereka sedari tadi dengan duduk di ujung meja panjang yang letaknya ada di tengah ruangan. Albertus, pria itu hanya menatap datar pada Calista yang berjalan mendekat padanya.
"Ayah," Calista menekuk lututnya sedikit saat ia menghadap pada Albertus. Calista kemudian menoleh sejenak. Para pelayan yang mengetahui maksud dari Calista lantas mereka membungkuk serentak lalu kemudian beriringan keluar dari ruangan itu.
Calista kemudian terduduk di kursinya setelah para pelayan meninggalkan ruangan itu. Manik mata hijau terang miliknya terpaku pada gelas anggur yang ada di depannya selama beberapa saat hingga akhirnya suara deheman ringan milik Albertus membuyarkannya.
"Kau tahu, ada yang ingin ayah bicarakan padamu." ucap Albertus memulai perbincangan di antara mereka.
Calista tak menoleh. Manik matanya justru mengarah pada Mirana yang terduduk di seberangnya. Gadis itu melihat saat Mirana mengangguk padanya. Lantas ia pun berkata "Katakan saja, ayah. Mungkin itu sesuatu yang penting."
Sementara Albertus menghela nafasnya panjang. Ia tahu putri semata wayangnya itu masih kesal padanya. Namun tanpa berlama-lama, ia pun kemudian kembali berkata "Ayah mengerti dengan kekecewaanmu, Calista. Tapi keputusan Dewan bisa berubah jika kau mau sedikit berkorban, Calista."
"Berkorban?" Calista tak mengerti dengan maksud dari ucapan ayahnya itu. Apa maksudnya berkorban? Dan bagaimana bisa pengorbanan itu membuat para Dewan mengubah hukum Kerajaan yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
Albertus tentunya mengerti akan kebingungan yang meliputi pikiran putrinya itu, terlihat dari raut wajahnya yang berkerut. Lantas Albertus pun menjawab "Kerajaan Hellenocitus dan Kerajaan Voheshia telah menjalin hubungan baik dalam waktu yang sangat lama, Calista. Itu sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Dan karena itu lah para Dewan meminta agar perjodohanmu dengan Putra Mahkota Kerajaan Voheshia."
"Perjodohan?!" kedua netra Calista seketika membulat saat mendengar perkataan dari Albertus. Ia menggeleng tak percaya dengannya. "Aku tak bisa ayah. Ayah tahu usiaku baru menginjak 17 tahun."
"Sudah cukup untuk menikah, bukan?" Albertus tersenyum tipis menanggapi penolakan yang ia dapatkan dari putrinya.
"Gila!" Calista bergumam. Ayahnya itu memang benar-benar sudah gila baginya. Calista masih muda. Ia masih ingin menikmati banyak hal. Akan tetapi semua keinginan itu harus sirna jika ia menikah dalam waktu yang dekat. Lantas gadis itu pun berkata "Aku tetap tak mau apa pun yang terjadi, ayah."
Raut wajah Albertus seketika berubah. "Perjodohan ini tetap akan terjadi, entah kau suka atau tak suka!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Calista berkacak pinggang saat ia melihat tumpukan koper yang tertata rapi di sudut kamarnya. Berkali-kali ia mengeram demi melampiaskan perasaannya yang dibuat kesal akibat pembicaraannya dengan ayahnya pagi tadi. Namun ditengah suasana hatinya yang sedang buruk, seseorang mengetuk pintu kamar Calista yang sedikit terbuka.
Calista menoleh dan ia mendapati seorang pria muda menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Tuan Putri," pria muda itu lantas masuk ke dalam kamar Calista lalu menundukkan wajahnya sejenak pada Calista.
Pria itu tampak asing baginya sehingga Calista hanya memandanginya dari ujung rambut hingga ujung kakinya, membuat pria muda itu kemudian menjelaskan tentang dirinya. "Sesuai dengan peraturan Kerajaan, Tuan Putri akan didampingi oleh seorang penasihat pribadi selama Tuan Putri berada di Kerajaan Voheshia. Saya, Dalvin Damaria Edinson akan menjadi penasihat pribadi Tuan Putri."
"Silahkan, Tuan Putri. Kereta kuda Tuan Putri sudah sampai di Istana." pria muda bernama Dalvin itu mengulurkan kedua tangannya, mempersilahkan Calista untuk berjalan terlebih dahulu.
Mereka berdua berjalan beriringan diikuti dengan beberapa orang pelayan di belakangnya yang membawakan koper milik Calista. Beberapa barang tampaknya tak bisa ditinggalkan oleh Calista atau jika tidak ia tak akan bisa tidur semalaman.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di halaman Istana. Dua kereta kuda sudah siap sedari tadi. Sementara itu kusir kereta kuda yang menyadari kedatangan Calista lantas membungkuk padanya.
Gadis itu dituntun oleh Dalvin untuk menaiki kereta kuda sementara barang-barang bawaannya diletakkan oleh para pelayannya di kereta kuda yang berada di belakang bersama dengan Dalvin. Setelah mereka siap, sang kusir kemudian menjalankan kereta kuda itu keluar dari wilayah Istana.
Di sepanjang perjalanan, Calista hanya duduk terdiam sembari mengarahkan kedua netra hijau terang miliknya pada hamparan langit biru. Beberapa ekor burung tampaknya juga ikut mengiringi perjalanan mereka. Tak hanya itu saja, Calista juga memandangi jalanan-jalanan di setiap kota dan desa yang mereka lewati. Para penduduk yang tahu jika itu adalah kereta kuda Kerajaan pun membungkuk di setiap tempat yang mereka lewati.
Tanpa terasa hari sudah menjelang sore. Kereta kuda yang dinaiki oleh Calista juga kini sudah sampai di perbatasan. Tidak ada lagi rumah-rumah penduduk yang terlihat, melainkan pepohonan yang rimbun yang tertangkap oleh indera penglihatan Calista.
Beberapa saat kemudian kereta kuda itu pun berhenti saat sampai di dekat sebuah rombongan. Tampak sekelompok orang mendekati kereta kuda Calista dan beberapa diantaranya memegang sebuah senapan. Calista langsung dapat mengenali salah seorang dari kelompok itu. Dia lah Sang Raja dari Kerajaan Voheshia.
Pintu dibukakan dan menampilkan sosok Calista yang masih terduduk manis di dalam kereta kuda. Sang Raja kemudian mengulurkan tangannya pada Calista sampai Calista menerima uluran tangannya. Lantas, Sang Raja pun lalu menuntun gadis itu untuk turun dari kereta kuda.
"Yang Mulia," Calista segera membungkuk setelah ia turun dari kereta kuda. "Saya tak tahu kalau Yang Mulia akan ikut menjemput."
"Kebetulan ini bertepatan dengan acara perburuan." Sang Raja terkekeh. Sang Raja lalu menoleh dan tak lama kemudian salah seorang pengawal yang berdiri di belakangnya menghampirinya. Sang Raja pun kemudian mengambil senapan yang dibawa oleh pengawal itu lalu memberikannya pada Calista seraya berkata "Silahkan, jika kau bisa menggunakannya."
"Tentu, Yang Mulia." Calista pun mengambil senapan yang diberikan oleh Sang Raja kepadanya sembari ia melempar senyuman hangat pada Sang Raja.
Sepucuk senapan berada di tangannya, lantas Calista menyapu pandangannya ke sekeliling. Seekor burung terbang melintas tak jauh darinya. Calista yang melihatnya kemudian dengan segera mengunci bidikan burung tersebut dan menarik pelatuk senapannya.
Suara letupan terdengar dari senapan yang digunakan oleh Calista diikuti burung itu yang seketika terjatuh. Sang Raja yang terkagum lantas bertepuk tangan seraya berkata "Aku tak tahu kalau Putri Kerajaan Hellenocitus berbakat dalam menembak."
"Terimakasih, Yang Mulia." Calista yang merasa tersanjung atas ucapan Sang Raja pun kembali melempar senyum. "Permaisuri Mirana lah yang mengajari saya menembak, Yang Mulia."
"Jadi, reputasi keluarga Nerthalian memang benar adanya, ya. Jiwa petarung pendahulumu bahkan diwariskan pada Permaisuri Mirana dan dirimu." kali ini tak hanya Calista saja, melainkan keluarga Mirana juga ikut disanjung oleh Sang Raja.
"Mari, perjalananmu pasti melelahkan." Sang Raja mengulurkan tangannya, membiarkan Calista berjalan berdampingan dengannya.
Dari kejauhan, Calista yang sedang berjalan berdampingan dengan Sang Raja dapat melihat sebuah tenda yang dipenuhi dengan cahaya dari lilin-lilin yang menyala. Setelah beberapa saat, mereka pun sampai di tenda itu.
Sang Raja dan Calista langsung disambut oleh para pelayan yang membungkuk padanya. Sang Raja kemudian mempersilahkan Calista untuk masuk ke dalam tenda itu terlebih dahulu.
"Anggap saja rumah sendiri." ucap Sang Raja pada Calista yang tampak hanya berdiri dengan pandangannya yang menyapu pada sekitarnya.
Harus diakui memang tenda itu memiliki perlengkapan yang sangat lengkap, bahkan lebih pantas untuk dianggap sebagai rumah. Tak hanya tempat tidur, dalam tenda itu juga terdapat sebuah sofa dan Sang Raja kini terduduk di sofa itu.
Calista lantas terduduk di seberang Sang Raja. Selang beberapa saat, seorang pelayan datang dengan membawakan sebuah nampan yang berisikan cangkir dan teko. Setelah menyajikan teh untuk Sang Raja dan Calista, pelayan itu kemudian kembali keluar dari tenda.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Sang Raja memecah keheningan di antara mereka.
"Aneh." jawab Calista dengan kedua netranya memandangi kakinya.
Sang Raja tahu bahwa Calista sedang bersedih. Terlihat jelas dari raut wajahnya. Calista sendiri belum bisa menerima kenyataan yang terjadi padanya sekarang. Sang Raja lantas kemudian berkata "Pihak Kerajaan sudah membicarakan tentang perjodohan ini jauh sebelumnya, dan pernikahan kalian akan diadakan secepat mungkin."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments