Kala itu salju turun menutupi jalanan yang sepi. Di pinggiran kota yang gelap, hanya ada sebuah rumah kecil dengan sebuah lentera di depannya sebagai satu-satunya penerangan di sana.
Sebuah kereta kuda terhenti di depan pekarangan rumah itu. Tampak, seorang pria yang wajahnya sengaja ia tutupi dengan topi fedora yang ia kenakan, turun dari kereta kuda itu. Sepatu bootsnya menapaki jalan yang dipenuhi oleh salju yang mulai mereda.
Di depan rumah itu, terlihat ada dua orang pria berjubah hitam sedang berdiri menjaga rumah itu. Kedua penjaga itu membungkuk saat pria bertopi fedora itu hendak masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di dalam rumah, tepatnya di salah satu ruangan bawah tanah yang ada di rumah itu, sekelompok orang tengah berkumpul dan menanti seseorang untuk memulai pertemuan itu.
Rumah itu memang terlihat kecil dari luarnya. Namun jangan terkecoh, karena rumah itu justru memiliki banyak ruangan di dalamnya yang letaknya berada jauh di bawah tanah.
Sekelompok orang tadi tampak senang saat seorang pria yang sudah mereka tunggu akhirnya sampai juga. Pria itu langsung mengambil tempat duduknya di tengah, namun sebelumnya ia sudah melepas topi fedora miliknya dan menggantungnya sebelum ia sampai di ruangan itu.
Pertemuan itu bukanlah pertemuan biasa. Di sana, yang hadir hanya dari kalangan bangsawan dari Kerajaan Lozarayas, Hellenocitus, Voheshia, tetapi ada juga konglomerat dan para cendekiawan yang hadir di sana.
Mereka lah yang sering disebut oleh orang-orang sebagai The Priestess, organisasi bawah tanah yang ada di Kerajaan Voheshia. Mereka sangat-sangat tertutup, sampai-sampai tak pernah ada sesuatu yang berhasil keluar dari sana dengan selamat.
Hanya segelintir orang yang tahu apa tujuan organisasi The Priestess didirikan, mereka ialah para elit organisasi yang memberi perintah dari balik layar. Bahkan, hanya menjadi anggota The Priestess tak serta merta membuat ia mengetahui siapa yang memimpin organisasi itu.
"Dalvin," pria yang sedari tadi sedang menghisap cerutu di tangannya kini memusatkan perhatiannya pada pria yang terduduk di tengah. "Ini semua konyol. Kami selalu tunduk pada kalian, namun kalian tak pernah sekali pun mendengarkan kami."
"Duke Angloska benar, Dalvin." wanita yang terduduk di samping pria yang dipanggilnya Duke Angloska itu setuju pada perkataan Sang Duke. Sejauh ini, ia merasa diperlakukan layaknya bidak pion yang dipaksa maju tanpa mengerti akan rencana mereka. "Kami sudah muak dengan pemerintahan Raja William. Kerajaan Lozarayas bisa-bisa mencapai kejatuhannya jika kita tidak segera memberontak."
Wanita itu terlihat bersemangat saat mengutarakan pendapatnya, sampai-sampai membuat suara tawa lirih keluar dari mulut Dalvin. Ia tak pernah menyangka bahwa The Priestess benar-benar bisa menjadi senjata yang ampuh. "Kalian tak perlu tergesa-gesa, Duke Angloska, Marchioness Malette. Lakukan saja tugas kalian, teruslah ciptakan pertikaian antara Kerajaan Voheshia dengan Kerajaan Lozarayas, karena Ratu kita telah memberi titahnya."
Semua orang menjadi penasaran saat Dalvin menyebut Ratu. Tentu saja Ratu di sini bukanlah Ratu dalam artian yang sebenarnya, melainkan pimpinan tertinggi dari The Priestess. Dalvin sengaja menggoda mereka dengan menjeda kalimatnya selama beberapa saat, dan setelah puas ia melihat wajah-wajah penasaran dari mereka ia pun berkata "Ratu meminta kita untuk mempertahankan konflik ini. Ini adalah langkah awal kita untuk mencapai cita-cita kita yang mulia akan pembentukan Kekaisaran Helleneshia-Lozarayas. Kalian semua mengerti?"
Dalvin tersenyum puas saat mereka mengerti dengan perintahnya. Ia pun kemudian berseru "Hidup Helleneshia-Lozarayas!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinar mentari menyeruak masuk ke dalam ruangan bernuansa gelap melalui jendela yang terbuka. Kamar itu kosong, penghuninya sudah terbangun sejak pagi buta.
Di balik sebuah pintu yang ada di sisi kamar itu, Calista tampak sedang menikmati tubuhnya yang terendam dalam air yang sudah disiapkan oleh para pelayannya tadi.
Sudah hampir satu setengah jam Calista berendam dan kini ia hendak beranjak bangun. Kulit putih pucatnya terlihat semakin pucat saat udara dingin menerpanya. Sementara kaki jenjangnya melangkah keluar dari dalam bathtub lalu ia meraih bathrobe yang diletakkan tak jauh dari tempatnya berada.
Sebelum Calista keluar dari kamar mandinya, terlebih dahulu ia menatap pantulan bayangan dirinya pada cermin besar yang ada di wastafel kamar mandi itu. Sebuah senyuman terukir pada wajahnya saat ia mengusap noda hitam yang ada di sudut bibirnya.
Setelah itu, Calista kemudian berbalik dan keluar dari kamar mandi. Namun saat ia baru saja keluar, ia terkejut melihat sosok yang sedang duduk di sofa.
"Yang Mulia," Calista segera menundukkan wajahnya saat Sang Permaisuri menoleh padanya. "Saya tak tahu Yang Mulia akan berkunjung kemari."
"Duduklah," tanpa berbasa-basi Sang Permaisuri menyuruh Calista untuk duduk di seberangnya.
Nada bicara Sang Permaisuri terdengar mengintimidasi sehingga Calsita dibuat gugup karenanya. Calista hanya menuruti perintah Sang Permaisuri tanpa mengucapkan sepatah kata pun, namun setelah Calista terduduk di seberang Sang Permaisuri, Sang Permaisuri justru terdengar menghela nafasnya.
Sang Permaisuri menatap wajah Calista dengan tatapannya yang lembut. Alih-alih merasa nyaman, perhatian Calista justru teralihkan pada sebuah foto yang ada di atas meja.
"Kau tahu foto itu?" tanya Sang Permaisuri yang menyadari kemana arah pandangan Calista tertuju. Calista hanya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari foto hitam putih itu. Foto yang sama dengan yang pernah ditemukan olehnya dalam buku di perpustakaan Istana. Foto yang menampilkan sosok Ratu yang hendak dipenggal di bawah guillotine di hadapan para rakyatnya.
Untuk kedua kalinya Sang Permaisuri menghela nafasnya. Ia menggenggam tangan Calista dengan sedikit mengusapnya seraya ia berkata "Aku mengkhawatirkanmu, Calista. Ambisimu untuk berdampingan dengan putraku di kursi pemerintahan Kerajaan bisa saja mencelakakanmu."
Lagi-lagi Calista mendapat peringatan yang sama seperti yang ia dapatkan dari Dalvin. Namun yang membuatnya janggal adalah karena tatapan Sang Permaisuri tidak tertuju padanya, melainkan pada foto yang ada di atas meja itu.
Sang Permaisuri tahu bahwa Calista kebingungan dengannya yang sengaja menunjukkan foto itu. Lantas Sang Permaisuri pun mulai bercerita tentang sebuah kisah sejarah yang mungkin terlupakan oleh Kerajaan Voheshia. "Ratusan tahun yang lalu, pernah terjadi penggulingan seorang Ratu dari wangsa Alaztar yang dilakukan oleh pendahulu suamiku. Ia bersama dengan pengikutnya tak setuju jika seorang wanita memimpin sebuah Kerajaan. Itu sebabnya mereka berkonspirasi untuk menjatuhkan Sang Ratu, dan saat itu terjadi, berakhir sudah kekuasaan wangsa Alaztar di Kerajaan Voheshia. Sang Ratu dihukum mati tanpa alasan yang jelas, dan mulai dari sana wangsa Dominique mulai bertahta. Wanita seperti kita, tak dapat sendirian untuk bertahta."
Kini Calista tahu arti dari foto yang ditemukan olehnya dari buku itu. Namun, kalimat terakhir yang diucapkan Sang Permaisuri terasa janggal, membuat Calista merasa penasaran. Lantas ia pun bertanya pada Sang Permaisuri "Apa yang Yang Mulia inginkan dari saya?"
Sang Permaisuri tersenyum tipis melihat Calista yang begitu peka akan maksudnya. Lantas Sang Permaisuri pun menjawab "Aku ingin kau mendampingiku sebagai penasihat Ratu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments