Bab 18

Brian kemudian segera meminta Zoya untuk mundur. Walau sebesar apapun keberanian yang dimiliki Zoya, tetap saja dia tidak mungkin bisa memberi pelajaran kepada dua preman.

Dengan langkah yang mantap Brian berjalan dengan santai. Mendekati preman yang satunya lagi, melihat temannya tumbang dengan satu tendangan membuat nyali preman itu sedikit ciut.

"Hei nak, siapa kau sebenarnya, kami tidak ada urusan denganmu jadi cepatlah pergi. Atau aku akan menghabisi mu." preman itu mengancam mengacungkan pisau pada Brian.

Melihat itu Zoya pun mulai menjadi panik, dia mecekal lengan Brian untuk tidak mendekati preman itu. Bagaimanapun juga Zoya tidak ingin terjadi sesuatu pada tuan mudanya ini.

"Brian jangan, dia membawa pisau lebih baik kita mundur."

Mendengar untuk pertama kalinya Zoya memanggil Brian dengan nama, membuat sudut bibir Brian naik ke atas dan tersenyum tipis. Dia bisa melihat rasa khawatir yang besar di wajah Zoya terhadapnya.

"Mundur? Aku tidak pernah mengenal kata mundur, sesulit apapun itu aku harus menanggung resiko apa yang aku buat. Kau tidak perlu khawatir dia tidak akan bisa melukaiku." ucap Brian dengan sangat santai. Mendengar itu Zoya kemudian segera melepaskan lengan Brian, dia tidak pernah melihat tampang Brian yang saat ini begitu beringas.

Aura yang dimiliki Brian begitu hebat, preman sampai mengambil mundur selangkah. Bahkan dia gemetaran saat memegang pisau itu. Brian kemudian maju selangkah demi selangkah, tatapannya begitu dingin dan wajahnya setajam pisau silet.

"Cepat bawa temanmu dan pergi dari sini!" ucapan Brian terdengar tenang dan pelan namun dapat merobohkan sebuah gedung.

"Kau mau jadi pahlawan ya anak muda, baiklah aku akan memberimu pelajaran." Preman itu maju dan mengayunkan pisau ke arah Brian.

"Brian awas!"

Zoya berteriak dan langsung memejamkan mata karena tak berani melihatnya. Dia pikir tuan mudanya saat ini sudah menjadi daging cincang. Namun dengan cepat Brian menghindari serangan itu dengan menundukan tubuhnya ke bawah, lalu dia langsung menyikut perut preman. Seketika preman itu terhenti dan meringis karena merasakan sakit yang luar biasa. Tapi serangan Brian masih berlanjut dengan memberi tamparan keras ke wajah preman.

"Apa tadi kau bilang? Kau ingin menyentuh Zoya ha? Sebelum kau sempat melakukan itu aku akan mematahkan setiap anggota tubuhmu." Mendengar hal itu Zoya seketika membuka matanya, tak di sangka Brian ternyata dapat mengendalikan keadaan. Saat ini Zoya menatap Brian dengan penuh kagum, matanya berbinar saat mendengar Brian yang membelanya.

Brian kemudian menendang preman itu hingga tersungkur ke tanah. Pisau yang ia pegang juga ikut melayang ke udara. Kemudian dengan sigap Brian menangkapnya dan melemparkannya ke arah preman itu.

Swoosh.

Hampir saja pisau itu mengenai masa depan si preman dan malah menancap di tanah. Melihat hal itu si preman benar-benar ketakutan, dia tak menyangka ternyata pemuda yang ada di hadapannya ini ternyata begitu hebat. Dia sampai tidak bisa menahan kantong kemihnya dan akhirnya cairan kuning itu mengalir keluar dari celananya.

"Sekarang apa kau mau pergi atau masih mau lagi."

Mendengar hal itu si preman langsung bangkit dan memboyong temannya untuk segera beranjak dari sana. Sekujur tubuhnya menjadi sangat merinding melihat tatapan tajam Brian. Tak pernah mereka melihat pemuda yang memiliki aura yang begitu dominan dari yang lain.

...

Setelah kedua preman itu pergi Zoya meminta Brian untuk membawa Edi ke dalam Studio. Sebenarnya Brian ini bukan tipe yang mau peduli dengan orang lain, dia hanya membantu orang yang dekat dengannya saja. Brian akhirnya memboyong Edi ke sofa yang ada di dalam studio itu dengan ekspresi sedikit kesal, dalam hatinya ini hanya membuang-buang waktu saja.

Setelah itu, Zoya pun segera merawat luka-luka Edi dengan ilmu medis yang dia dapat saat pramuka dulu. Tampak begitu banyak memar di wajah Edi. Wajahnya membengkak seperti habis di sengat tawon.

Tidak lama kemudian Edi pun akhirnya kembali sadar, dengan sisa tenaganya dia menahan rasa sakit di sekujur tubuh untuk bisa bangkit duduk.

Edi bisa di bilang pria yang sangat culun, bisa di lihat dari cara penampilannya. Mungkin karena itulah para preman dengan mudah menghajar Edi sampai babak belur. Dia tidak pandai berkelahi.

Zoya kemudian memberikan sebotol air minum untuk Edi. Dengan penuh perasaan iba, Zoya menatap Edi. Setelah itu timbul pertanyaan di benak Zoya.

"Edi katakan kenapa kau kesini?!" tanya Zoya.

"Zoya tadinya aku kemari hanya untuk mengambil beberapa piala itu." Edi menunjuk ke arah lemari kaca yang berisi beberapa piala hasil dari pencapaian grub dance mereka selama ini.

Zoya pun melirik lemari piala itu dengan penuh arti, "Edi hanya kau yang berpikir semua itu masih berharga, bahkan aku dan yang lainnya sudah menganggap semua ini hanyalah masa lalu." Sejujurnya Zoya pun masih tidak bisa melupakan semua kenangan saat mereka bersama.

"Zoya piala itu bukan hanya pajangan belaka, tapi juga terdapat banyak kenangan di dalamnya." jelas Edi sembari terus memegangi perutnya yang sakit.

Brian yang duduk di sebelah Zoya hanya mendengarkan mereka bicara dengan acuh tak acuh. Kenangan, apa itu? Brian sama sekali tidak tahu arti sebuah kenangan, dari kecil satu-satunya kenangan yang ia dapat hanyalah sebuah kesendiriannya.

"Aku jadi bingung dengan Jhony, kenapa dia tiba-tiba mengirim anak buahnya kesini untuk menagih hutang grub kita secepat ini." ucap Zoya sambil mendengus kesal.

"Sepertinya ini semua ada hubungannya dengan Vince." tambah Edi.

Mendengar mereka menyebut nama Vince akhirnya Brian mulai tertarik. Dia kemudian jadi penasaran siapa lagi si Jhony ini. Apa dia salah satu gengnya Vince.

"Siapa Jhony." Brian bertanya dengan nada datar.

Sontak akhirnya Edi melirik ke arah Brian, dia menjadi sedikit kagum melihat sosok yang duduk di hadapannya ini begitu berkarisma. Waktu itu dia tidak sempat memperhatikan wajah Brian dengan jelas, namun dia tahu kalau Brian bukanlah orang biasa.

"Zoya aku tidak pernah tahu kalau kau sudah punya pacar." ucap Edi dengan asal ceplas-ceplos.

"Dia bukan pacarku," sontak Zoya melirik Brian, "dia ini adalah tuan pemilik rumah yang aku tinggali."

pffft.

Edi menyemburkan semua air yang dia minum tadi. "Jadi yang dikatakan Trisha itu bahwa kau adalah anak..."

"Pembantu? Yah, terus memangnya kenapa?"

Edi sedikit terkejut mendengar pengakuan Zoya, yang ia tahu selama ini Zoya itu adalah anak orang kaya. Karena dilihat dari rumah besar yang di tinggali Zoya semua orang pasti berargumen kalau Zoya berasal dari kalangan atas.

"Ceritanya panjang, lupakan soal itu. Sekarang aku ingin tahu siapa Jhony, apa dia yang mengirim orang-orang tadi?"

Brian segera memotong pembahasan tidak penting tentang dia dan Zoya. Yang dia ingin tahu, siapa itu Jhony, dan apa hubungannya dengan Vince.

"Kau sangat ingin tahu ya, baiklah. Jhony adalah orang yang menjualkan tempat ini pada kami." ucap Edi.

"Tepatnya dia adalah seorang penipu," Zoya menambahkan, terlihat ekspresinya bertambah semakin kesal.

"Apa maksudmu nona cerewet, kenapa Jhony menjebak kalian." tanya Brian lagi.

"Tentu saja ini jebakan. Dia menjual tempat ini dengan harga murah pada awalnya, tapi setelah kami menandatangani surat gedung ini. Ternyata dia sengaja menambahkan angka nol di belakangnya." jelas Zoya.

Zoya pun terus menjelaskan pada Brian sejarah awalnya mereka membentuk grub ini. Sebelum Zoya dan teman-temannya membentuk grub dance, mereka sudah mencari banyak tempat untuk di jadikan studio. Namun karena terhalang budget akhirnya mereka hanya menemukan tempat ini.

Setahun yang lalu Jhony menawarkan sebuah studio pada mereka dengan harga sepuluh juta dolar, namum setelah di lihat ulang isi surat gedung itu ternyata tidak sesuai dengan ucapan Jhony. Dia sengaja merubahnya menjadi seratus juta dolar.

Hal itu jugalah yang menjadi alasan Zoya dan grub dancenya ingin memenangkan kompetisi dance, hadiah kompetisi itu lumayan besar. Setidaknya mereka bisa melunasi sisa hutang yang tinggal sepuluh juta lagi.

Namun ada satu hal lagi yang membuat Brian semakin tidak mengerti. Mengapa Jhony hanya mengejar Zoya, bukankah gedung ini adalah milik mereka semua. Alasannya adalah karena Zoya lah yang menandatangani surat itu. Jadi Jhony sengaja mengejar Zoya.

Tapi seharusnya Zoya masih memiliki waktu satu bulan lagi untuk melunasi hutang mereka. Apa ini semua ada kaitannya dengan Vince, apa karena ini juga Trisha dan yang lainnya sengaja membubarkan grub ini untuk lari dari tanggung jawab mereka. Begitu banyak pertanyaan yang timbul, hanya satu yang pasti. Zoya sekarang benar-benar mendapat masalah besar.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Ban 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Ban 108
109 Bab 109
110 Ban 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Ban 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Ban 108
109
Bab 109
110
Ban 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!