Brian kemudian segera meminta Zoya untuk mundur. Walau sebesar apapun keberanian yang dimiliki Zoya, tetap saja dia tidak mungkin bisa memberi pelajaran kepada dua preman.
Dengan langkah yang mantap Brian berjalan dengan santai. Mendekati preman yang satunya lagi, melihat temannya tumbang dengan satu tendangan membuat nyali preman itu sedikit ciut.
"Hei nak, siapa kau sebenarnya, kami tidak ada urusan denganmu jadi cepatlah pergi. Atau aku akan menghabisi mu." preman itu mengancam mengacungkan pisau pada Brian.
Melihat itu Zoya pun mulai menjadi panik, dia mecekal lengan Brian untuk tidak mendekati preman itu. Bagaimanapun juga Zoya tidak ingin terjadi sesuatu pada tuan mudanya ini.
"Brian jangan, dia membawa pisau lebih baik kita mundur."
Mendengar untuk pertama kalinya Zoya memanggil Brian dengan nama, membuat sudut bibir Brian naik ke atas dan tersenyum tipis. Dia bisa melihat rasa khawatir yang besar di wajah Zoya terhadapnya.
"Mundur? Aku tidak pernah mengenal kata mundur, sesulit apapun itu aku harus menanggung resiko apa yang aku buat. Kau tidak perlu khawatir dia tidak akan bisa melukaiku." ucap Brian dengan sangat santai. Mendengar itu Zoya kemudian segera melepaskan lengan Brian, dia tidak pernah melihat tampang Brian yang saat ini begitu beringas.
Aura yang dimiliki Brian begitu hebat, preman sampai mengambil mundur selangkah. Bahkan dia gemetaran saat memegang pisau itu. Brian kemudian maju selangkah demi selangkah, tatapannya begitu dingin dan wajahnya setajam pisau silet.
"Cepat bawa temanmu dan pergi dari sini!" ucapan Brian terdengar tenang dan pelan namun dapat merobohkan sebuah gedung.
"Kau mau jadi pahlawan ya anak muda, baiklah aku akan memberimu pelajaran." Preman itu maju dan mengayunkan pisau ke arah Brian.
"Brian awas!"
Zoya berteriak dan langsung memejamkan mata karena tak berani melihatnya. Dia pikir tuan mudanya saat ini sudah menjadi daging cincang. Namun dengan cepat Brian menghindari serangan itu dengan menundukan tubuhnya ke bawah, lalu dia langsung menyikut perut preman. Seketika preman itu terhenti dan meringis karena merasakan sakit yang luar biasa. Tapi serangan Brian masih berlanjut dengan memberi tamparan keras ke wajah preman.
"Apa tadi kau bilang? Kau ingin menyentuh Zoya ha? Sebelum kau sempat melakukan itu aku akan mematahkan setiap anggota tubuhmu." Mendengar hal itu Zoya seketika membuka matanya, tak di sangka Brian ternyata dapat mengendalikan keadaan. Saat ini Zoya menatap Brian dengan penuh kagum, matanya berbinar saat mendengar Brian yang membelanya.
Brian kemudian menendang preman itu hingga tersungkur ke tanah. Pisau yang ia pegang juga ikut melayang ke udara. Kemudian dengan sigap Brian menangkapnya dan melemparkannya ke arah preman itu.
Swoosh.
Hampir saja pisau itu mengenai masa depan si preman dan malah menancap di tanah. Melihat hal itu si preman benar-benar ketakutan, dia tak menyangka ternyata pemuda yang ada di hadapannya ini ternyata begitu hebat. Dia sampai tidak bisa menahan kantong kemihnya dan akhirnya cairan kuning itu mengalir keluar dari celananya.
"Sekarang apa kau mau pergi atau masih mau lagi."
Mendengar hal itu si preman langsung bangkit dan memboyong temannya untuk segera beranjak dari sana. Sekujur tubuhnya menjadi sangat merinding melihat tatapan tajam Brian. Tak pernah mereka melihat pemuda yang memiliki aura yang begitu dominan dari yang lain.
...
Setelah kedua preman itu pergi Zoya meminta Brian untuk membawa Edi ke dalam Studio. Sebenarnya Brian ini bukan tipe yang mau peduli dengan orang lain, dia hanya membantu orang yang dekat dengannya saja. Brian akhirnya memboyong Edi ke sofa yang ada di dalam studio itu dengan ekspresi sedikit kesal, dalam hatinya ini hanya membuang-buang waktu saja.
Setelah itu, Zoya pun segera merawat luka-luka Edi dengan ilmu medis yang dia dapat saat pramuka dulu. Tampak begitu banyak memar di wajah Edi. Wajahnya membengkak seperti habis di sengat tawon.
Tidak lama kemudian Edi pun akhirnya kembali sadar, dengan sisa tenaganya dia menahan rasa sakit di sekujur tubuh untuk bisa bangkit duduk.
Edi bisa di bilang pria yang sangat culun, bisa di lihat dari cara penampilannya. Mungkin karena itulah para preman dengan mudah menghajar Edi sampai babak belur. Dia tidak pandai berkelahi.
Zoya kemudian memberikan sebotol air minum untuk Edi. Dengan penuh perasaan iba, Zoya menatap Edi. Setelah itu timbul pertanyaan di benak Zoya.
"Edi katakan kenapa kau kesini?!" tanya Zoya.
"Zoya tadinya aku kemari hanya untuk mengambil beberapa piala itu." Edi menunjuk ke arah lemari kaca yang berisi beberapa piala hasil dari pencapaian grub dance mereka selama ini.
Zoya pun melirik lemari piala itu dengan penuh arti, "Edi hanya kau yang berpikir semua itu masih berharga, bahkan aku dan yang lainnya sudah menganggap semua ini hanyalah masa lalu." Sejujurnya Zoya pun masih tidak bisa melupakan semua kenangan saat mereka bersama.
"Zoya piala itu bukan hanya pajangan belaka, tapi juga terdapat banyak kenangan di dalamnya." jelas Edi sembari terus memegangi perutnya yang sakit.
Brian yang duduk di sebelah Zoya hanya mendengarkan mereka bicara dengan acuh tak acuh. Kenangan, apa itu? Brian sama sekali tidak tahu arti sebuah kenangan, dari kecil satu-satunya kenangan yang ia dapat hanyalah sebuah kesendiriannya.
"Aku jadi bingung dengan Jhony, kenapa dia tiba-tiba mengirim anak buahnya kesini untuk menagih hutang grub kita secepat ini." ucap Zoya sambil mendengus kesal.
"Sepertinya ini semua ada hubungannya dengan Vince." tambah Edi.
Mendengar mereka menyebut nama Vince akhirnya Brian mulai tertarik. Dia kemudian jadi penasaran siapa lagi si Jhony ini. Apa dia salah satu gengnya Vince.
"Siapa Jhony." Brian bertanya dengan nada datar.
Sontak akhirnya Edi melirik ke arah Brian, dia menjadi sedikit kagum melihat sosok yang duduk di hadapannya ini begitu berkarisma. Waktu itu dia tidak sempat memperhatikan wajah Brian dengan jelas, namun dia tahu kalau Brian bukanlah orang biasa.
"Zoya aku tidak pernah tahu kalau kau sudah punya pacar." ucap Edi dengan asal ceplas-ceplos.
"Dia bukan pacarku," sontak Zoya melirik Brian, "dia ini adalah tuan pemilik rumah yang aku tinggali."
pffft.
Edi menyemburkan semua air yang dia minum tadi. "Jadi yang dikatakan Trisha itu bahwa kau adalah anak..."
"Pembantu? Yah, terus memangnya kenapa?"
Edi sedikit terkejut mendengar pengakuan Zoya, yang ia tahu selama ini Zoya itu adalah anak orang kaya. Karena dilihat dari rumah besar yang di tinggali Zoya semua orang pasti berargumen kalau Zoya berasal dari kalangan atas.
"Ceritanya panjang, lupakan soal itu. Sekarang aku ingin tahu siapa Jhony, apa dia yang mengirim orang-orang tadi?"
Brian segera memotong pembahasan tidak penting tentang dia dan Zoya. Yang dia ingin tahu, siapa itu Jhony, dan apa hubungannya dengan Vince.
"Kau sangat ingin tahu ya, baiklah. Jhony adalah orang yang menjualkan tempat ini pada kami." ucap Edi.
"Tepatnya dia adalah seorang penipu," Zoya menambahkan, terlihat ekspresinya bertambah semakin kesal.
"Apa maksudmu nona cerewet, kenapa Jhony menjebak kalian." tanya Brian lagi.
"Tentu saja ini jebakan. Dia menjual tempat ini dengan harga murah pada awalnya, tapi setelah kami menandatangani surat gedung ini. Ternyata dia sengaja menambahkan angka nol di belakangnya." jelas Zoya.
Zoya pun terus menjelaskan pada Brian sejarah awalnya mereka membentuk grub ini. Sebelum Zoya dan teman-temannya membentuk grub dance, mereka sudah mencari banyak tempat untuk di jadikan studio. Namun karena terhalang budget akhirnya mereka hanya menemukan tempat ini.
Setahun yang lalu Jhony menawarkan sebuah studio pada mereka dengan harga sepuluh juta dolar, namum setelah di lihat ulang isi surat gedung itu ternyata tidak sesuai dengan ucapan Jhony. Dia sengaja merubahnya menjadi seratus juta dolar.
Hal itu jugalah yang menjadi alasan Zoya dan grub dancenya ingin memenangkan kompetisi dance, hadiah kompetisi itu lumayan besar. Setidaknya mereka bisa melunasi sisa hutang yang tinggal sepuluh juta lagi.
Namun ada satu hal lagi yang membuat Brian semakin tidak mengerti. Mengapa Jhony hanya mengejar Zoya, bukankah gedung ini adalah milik mereka semua. Alasannya adalah karena Zoya lah yang menandatangani surat itu. Jadi Jhony sengaja mengejar Zoya.
Tapi seharusnya Zoya masih memiliki waktu satu bulan lagi untuk melunasi hutang mereka. Apa ini semua ada kaitannya dengan Vince, apa karena ini juga Trisha dan yang lainnya sengaja membubarkan grub ini untuk lari dari tanggung jawab mereka. Begitu banyak pertanyaan yang timbul, hanya satu yang pasti. Zoya sekarang benar-benar mendapat masalah besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments