"Kau kira tanpa nama Cody, kau bisa hidup ha? Aku melakukan semua ini hanya demi masa depanmu! Dan kau juga, sebagai ibu seharusnya kau membujuk putramu untuk mengerti, dia adalah penerus keluarga karena itu dia harus tumbuh sesuai dengan yang aku inginkan!"
Setelah kelas selesai Brian berjalan dengan santai menuju keluar dari kampus. Entah mengapa dia tiba-tiba teringat perkataan ayahnya yang membuat hatinya berasa terkoyak. Dengan penuh kekesalan Brian menggertakan giginya.
"Baiklah pak tua, akan aku tunjukan hasil dari didikan mu, dan aku juga akan membuktikan bahwa tanpa nama Cody sekalipun aku mampu untuk bertahan." Gumam Brian dengan ekspresi sedingin es.
...
"Sudahlah ibu, kenapa ibu harus menunggunya. Kurasa dia tidak akan kembali lagi kesini!" Ucap Zoya dengan kesal.
Sudah hampir jam 12 tapi Brian belum sampai ke rumah setelah pulang dari kampus.
"Zoya, dia adalah tuan rumah ini, kita tidak bisa menguncinya di luar." Jawab mbok Ratih.
"Kalau dia mau pulang larut terserah dia, kenapa dia tidak membawa kunci rumah bersama dengannya dan malah menyusahkan kita dengan menunggunya seperti orang bodoh di sini, mana banyak nyamuk lagi." Zoya terlihat sangat kesal dan menepuk nyamuk yang hinggap di bahunya, ekspresinya sangat kecut seperti jeruk nipis.
Ratih sedikit tertegun mendengar ucapan putrinya, kenapa dia tidak memberikan kunci rumah ini kepada Brian.
Tidak lama kemudian suara bukaan pintu terdengar dari ruang tamu. Brian perlahan berjalan memasuki rumah. Di depannya sudah berdiri Zoya yang menghentikan Brian. Tatapan mata Zoya bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya.
"Dari mana saja kau, sudah jam segini kau baru sampai, apa kau tersesat di jalan. Atau mungkin, kau habis joging malam." Zoya meledek Brian dengan penuh kesal. Baginya Brian memang orang yang tak tahu sopan santun, bagaimana bisa dia menyusahkan orang dengan menunggu kepulangannya.
Brian tidak menjawab dan terus berjalan melewati Zoya. Seketika mulut Zoya menganga melihat sikap Brian yang selalu saja cuek, dia menatap punggung Brian yang menaiki tangga.
Setelah Ratih mengunci pintu, Zoya langsung merampas kunci dari genggaman ibunya. Dan segera bergegas berjalan menuju ke atas.
"Ya ampun, mereka pasti akan bertengkar lagi, sudahlah biarkan saja, aku lebih baik tidur." Ratih yang tidak mau ambil pusing dan lebih memilih untuk tidur, lagi pula dia tidak tahu harus berpihak pada anak majikannya atau putri kandungnya. Karena itu jika Zoya dan Brian bertengkar, dia lebih memilih untuk netral saja selagi masalahnya tak terlalu besar.
"Tunggu tuan muda arogan!" Zoya menghentikan Brian yang hendak memasuki kamarnya. Dia kemudian berjalan sambil dengan tatapan yang tajam, tanpa menggunakan kacamata Zoya terlihat lebih cantik. Di tambah lagi saat ini dia hanya menggunakan celana pendek dan piyama tidur membuat mata pria manapun pasti akan kemana-mana tak terkecuali Brian.
"Ada apa?" Tanya Brian dengan nada datar.
"Ambil ini," Zoya menadahkan kunci rumah ke dada bidang Brian dengan keras, "mulai sekarang terserah padamu mau pulang sore, larut, pagi atau tidak pulang sekalipun. Kami tidak akan menunggumu seperti tadi. Asalkan kau tahu, kau mungkin tuan rumah. Tapi aku bukan satpam yang harus duduk dengan nyamuk menunggu kepulangan mu, lagi pula tante Michelle tidak membayar kami untuk itu."
Zoya mengambil langkah mantap dan meninggalkan Brian yang terdiam seperti patung. Dia memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Brian sembari memberi jari tengah.
"Heh, ini pertama kalinya aku melihat wanita seperti ini," Brian nyengir menatap kunci yang di genggamnya. "Zoya Amanda saat ini aku tidak mau berurusan dengan orang tidak penting sepertimu, tapi kau berani bermain denganku, maka kau akan tahu akibat dari mengusik Brian." Ucap Brian sembari melempar kunci ke udara dan kembali menangkapnya.
Keesokan paginya Zoya bangun lebih awal karena dia harus mencuci pakaiannya yang sudah menumpuk seperti Mount Everest. Berhubung ini hari minggu Zoya melakukan pembersihan besar-besaran bersama dengan ibunya di dalam rumah yang megah itu.
Walaupun setiap hari ibunya merawat rumah dengan baik, tapi Zoya tidak ingin diam dan melihat ibunya membereskan sendirian. Di rumah itu hanya ada Zoya, Ratih, Siman dan juga si satpam yang selalu berganti-ganti. Jadi rumah itu tak terlalu kotor setiap harinya, dan yah setelah kedatangan si tuan muda arogan, sepertinya rumah itu mulai sedikit kotor di mata Zoya.
Tanpa sengaja Zoya melirik ke kamar Brian saat melewatinya. Pintunya terbuka sedikit, Zoya yang penuh dengan rasa penasaran berjalan perlahan dan mengintip ke dalam.
Betapa terkejutnya dia melihat kamar yang dia bereskan dua hari yang lalu berubah menjadi kapal pecah.
"Oh My God, apa-apaan. Ini tampak bukan seperti kamar lagi..." Ujar Zoya yang terkejut melihat kamar Brian yang amburadul.
"Kalau bukan kamar lalu apa..." Tiba-tiba terdengar suara Brian dari belakang Zoya.
Sontak Zoya membalikan badan dan terkejut melihat Brian yang sudah berdiri di belakangnya dengan pakaian training dan Hoodie. Sepertinya Brian habis dari joging bisa di lihat dari aroma dan keringatnya yang bercucuran.
"Hah," Zoya yang kaget mundur selangkah, "kau, apa yang telah kau lakukan dengan kamar ini, kenapa semuanya berserakan." Zoya memarahi Brian dengan nada keras dan tampang yang judas.
"Terserah aku dong, ini kan kamarku." Brian tak memperdulikan Zoya yang marah dan malah duduk di sofa dengan santai dan menyantap beberapa apel yang tersedia di meja.
"Apa kau bilang? Ya ini benar kamarmu tapi..." Zoya ingin berkata tapi Brian memotongnya dan memberikan tatapan yang serius.
"Tapi apa..." Tanya Brian.
"Sebelumnya aku berpikir kalau adalah orang yang pembersih dan tidak suka dengan hal yang berserakan tapi lihat ini, baru dua malam kamar ini kau tempati dan semuanya tampak seperti kapal pecah." Ujar Zoya.
Brian tampak acuh tak acuh mendengarkan Zoya, dia asik menyantap apel yang ada di tangannya. Melihat hal itu membuat darah Zoya semakin mendidih.
"Kau, ternyata tidak hanya arogan tapi juga sangat jorok ya, sekarang siapa yang mau membereskan semua kekacauan ini?" Zoya mendekati Brian yang duduk di sofa sambil berkacak pinggang, dia sudah seperti seorang istri yang memarahi suaminya.
"Apa maksudmu siapa? Tentu saja kau!" Brian menjawab dengan acuh tak acuh.
Zoya semakin terkejut mendengar perkataan Brian, mulutnya menganga dan matanya melotot menatap Brian. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa Brian akan mengatakan itu. Mengingat bahwa ibunya bilang kalau Brian bukan tipe orang yang mau diurus, barang-barangnya aja tidak boleh di sentuh. Tapi apa ini, ini semua bertolak belakang dengan apa yang di katakan ibunya.
"What...," Ucap Zoya.
Brian kemudian berdiri dan berkata dengan santai. "Kenapa kau terkejut begitu, bukankah ibuku membayar dirimu untuk mengurus rumah ini." Brian berjalan perlahan meninggalkan Zoya sendirian di kamar.
Akhirnya Zoya mengerti, ini semua sengaja di lakukan Brian. Tuan muda arogan itu sengaja membuat Zoya harus membereskan kamarnya karena kejadian malam tadi.
Zoya pun menjadi sangat kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai.
"Dasar tuan muda arogan, dia sengaja mengacak-acak kamarnya untuk balas dendam padaku."
Mau tak mau Zoya pun mengutip kertas yang berserakan, membereskan seprai kasur yang kusut, Dan membersihkan setiap inci dari kamar itu.
"Ini..." Tapi betapa kagetnya dia saat memungut semua pakaian Brian. "pakaian ini sama sekali tidak kotor, eeeeeh dasar tuan muda arogan!!!"
Zoya berteriak kencang dari dalam kamar sampai terdengar seisi rumah. Bahkan burung-burung yang ada di pohon taman sampai berterbangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
dikala senja
JHT bngt tuan arogan
2024-06-12
0