"Pagi tuan muda." Sapa mbok Ratih dengan ramah pada Brian yang berjalan menuruni tangga.
Terlihat mbok Ratih sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Di sana ada juga Zoya yang sudah duduk sambil menyantap sepiring nasi goreng.
Brian berjalan ke meja makan dan menarik bangku untuk duduk. Zoya terus memelototinya seolah seperti Brian punya hutang. Tapi Brian menghiraukan Zoya dan melirik nasi goreng yang terhidang di depannya, nasi goreng komplit dengan ayam dan juga beberapa sayuran segar. Dari tampilannya saja sih sudah menggugah selera. Seburuk apapun sikap Brian pada orang-orang, dia tidak pernah melampiaskannya pada makanan. Menurutnya mau makanan itu enak atau tidak Brian akan tetap memakannya. Karena saat kecil dia pernah melihat betapa sulitnya orang-orang untuk mencari makan di luar sana, tapi mereka tidak pernah terlihat mengeluh dan tetap bisa tersenyum dan bahagia. Sedangkan dia yang memiliki segalanya merasa iri pada orang-orang yang kurang mampu, karena kehidupan Brian jauh dari kata bahagia.
"Bagaimana tuan muda, enakkan?" Tanya mbok Ratih sembari tersenyum.
"Tentu saja enak, orang aku yang masak." Sambut Zoya dengan tatapan sinis yang tertuju pada Brian.
Brian tertegun sejenak saat menelan makanan, memang harus di akui kalau Zoya sepertinya pandai memasak. Tapi dia memilih untuk tetap diam dan melanjutkan sarapannya.
Setelah selesai Brian buru-buru pergi berangkat ke kampus. Di luar pak Siman sudah menunggu di depan mobil. Dia sudah kembali dari bandara untuk mengantar Michelle dan sekarang dia mau mengantar tuan muda Brian menuju ke kampus.
"Tuan muda ayo." Ajak pak siman dengan ramah.
Tapi Brian dengan tak acuh berjalan melewati pak Siman dan terus berjalan menuju pintu gerbang. Zoya yang melihat dari belakang merasa geram dan meremas jemarinya sampai pucat pasih.
"Apa dia memang seperti itu, atau tidak pernah belajar sopan sama sekali." Gerutu Zoya yang mendekati ayahnya. Siman sudah membukakan pintu mobil dengan sopan dan Brian malah mengabaikannya.
"Sudahlah Zoya, tuan muda sepertinya mau pergi sendiri." Ucap pak Siman yang mencoba menenangkan putrinya.
"Hey, tuan muda yang arogan, apa kau akan berjalan kaki ke kampus." Teriak Zoya yang meledek Brian. "Sebaiknya kau naik ke mobil, karena kau aku juga bisa terlambat karena menunggumu berdiri seperti orang bodoh di sana."
Brian sama sekali tidak menghiraukannya dan malah memanggil sebuah taxi. Zoya terkesiap melihat Brian yang pergi begitu saja dan tak menghiraukannya sama sekali.
"Dasar..."
"Sudahlah ayo masuk, ayah akan mengantarmu."
Dengan penuh perasaan kesal Zoya masuk ke mobil, "Masih pagi dia sudah membuatku jengkel, bagaimana mungkin aku bisa tinggal bersama dengan lelaki seperti dia." Gerutu Zoya dengan tangannya yang terlipat.
"Kau tidak boleh bicara seperti itu, kita seharusnya bersyukur, karena sudah di biarkan tinggal di rumah ini oleh keluarganya selama ini." Ujar pak Siman.
...
Di kelas terlihat Zoya duduk dengan muka masam di sebelah sahabatnya yang bernama Trisha. Trisha adalah gadis yang memiliki postur tubuh yang agak tinggi dari Zoya, tubuhnya juga lumayan berisi bagaikan gitar spanyol, paras wajahnya juga terbilang cukup imut untuk remaja yang berusia 20 tahun.
"Hey, ada apa sih, kok aku perhatikan dari tadi kau cemberut terus." Trisha menepuk bahu Zoya.
"Trish, apa kau pernah berbuat baik pada seseorang, tapi malah di lempar batu setelahnya." Ucap Zoya dengan ekspresi yang cemberut, dia merasa sangat kesal pada Brian yang pagi-pagi sudah membuatnya jadi badmood. Bagaimana tidak, sudah disiapkan sarapan, kamarnya juga di bereskan, dan ayahnya Zoya juga tadi ingin mengantarnya, tapi lelaki arogan itu malah bersikap cuek dan tidak tahu berterima kasih. Memikirkannya saja membuat kepala Zoya berasa mau meledak.
"Jika ada yang melemparkan batu padamu, tinggal lempar saja balik dengan bunga..." Ujar Trisha dengan tak acuh. "Tapi jangan lupa sekalian dengan pot nya"
Zoya menggelengkan kepalanya mendengar Trisha yang terus saja membuat lelucon di saat dia kesal. Sahabatnya yang satu ini memang suka bercanda, tapi dia tidak mengerti apa yang dimaksud Zoya tentang melempar batu padanya.
Tidak lama kemudian tiba-tiba seorang lelaki dengan kaos ketat berwarna hitam memasuki ruangan, para mahasiswi semua langsung terkesima melihat sosok itu.
"Wow, apa dia seorang aktris Hollywood."
Hanya Zoya yang sepertinya tidak tertarik dengan lelaki itu karena dia tidak lain adalah Brian Cody. Orang yang selalu membuatnya kesal.
"Heh, apanya yang aktris Hollywood," Zoya mendengus kesal.
Brian tidak memperdulikan orang-orang memperhatikannya, dia memilih untuk tetap cuek. Tapi tiba-tiba pandangannya teralihkan saat melihat tempat duduk kosong di sebelah Zoya. Gaya susunan kursi ruangan itu seperti auditorium, Zoya duduk di sudut kursi nomor dua dari belakang. Entah mengapa ternyata jurusan Brian juga sama dengan Zoya yaitu jurusan ekonomi.
"Astaga kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi sih." Batin Zoya berasa mau menjerit.
Brian mendekati Zoya dan dengan tak acuh duduk di sana. Sementara gadis malang itu memasang muka jelek dan menutupi wajahnya dengan buku mencoba untuk tidak peduli. Saat ini posisinya Zoya sedang duduk di apit oleh Trisha dan juga Brian.
Tapi Trisha seperti reporter saja yang terus melemparkan pertanyaan kepada Brian.
"Hai, kau pasti anak baru itu kan? Namaku Trisha Antony, panggil saja aku Trish." Trisha mengulurkan tangannya pada Brian.
Melihat temannya ingin berkenalan dengan Brian, Zoya segera memelototi Trish. Dia ingin memberi tahu kalau Brian itu tipe orang yang berhati dingin.
"Ada apa sih Zoya, apa kau lupa pakek obat tetes mata, kenap kau melototi ku begitu." Tanya Trish yang keheranan dengan tingkah Zoya.
Brian tidak menghiraukan kedua gadis yang berada di sampingnya, dia lebih memilih untuk diam sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Trish, dia itu lelaki yang aku bicarakan kemari, lihat kan dia sama sekali tidak menghiraukan mu." Bisik Zoya.
"Oooh, menarik, aku jadi semakin penasaran sekarang." Trisha malah tersenyum ramah pada Brian.
Zoya tidak bisa menghentikan temannya untuk mendekati Brian, jadi dia pasrah saja sekarang. Zoya meletakkan kepalanya ke meja dan melirik ke arah Brian, dia menatap dengan sangat tajam, rasanya dia ingin sekali mencongkel mata Brian yang terlihat cuek itu.
Seketika Brian menyadari kalau dirinya sedang di lihat oleh Zoya jadi dia memberi tatapan dingin padanya, sontak Zoya langsung menutup wajahnya dengan buku.
"Huh." Melihat hal itu Brian hanya mendengus ringan.
Tidak lama kemudian dosen pun memasuki ruangan. Zoya hanya berharap agar kelas ini cepat berakhir dan dirinya tidak harus melihat tampang Brian yang begitu menyebalkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments