Drrrrt. Drrrrt.
Zoya menyandarkan sapu di dinding dan merogoh kantong celana pendeknya untuk mengangkat ponselnya yang berdering.
"Zoya, di mana kau sekarang? Kami sudah menunggumu dari tadi." Terdengar suara pekikan Trisha dari seberang telfon.
Zoya menepuk keningnya dan berkata, "Astaga, aku lupa kalau hari ini harus pergi latihan dansa." Zoya langsung memasang wajah cemas.
"Ya ampun Zoya, aku tidak mau tahu, secepatnya juga kau harus kesini." Seru Trisha dengan tegas.
"Oke, oke, kau jangan khawatir aku akan sampai secepat kilat." Ucap Zoya.
Dia kemudian mematikan ponselnya dan mulai menatap dingin ke arah Brian yang duduk santai di sofa.
Terlihat Brian sedang membaca sebuah buku, minggu adalah hari bagi Brian untuk bersantai. Dari dulu dia sangat suka membaca sebuah novel di waktu senggang begini.
"Hei tuan muda arogan, ini semua salahmu, karena sibuk membereskan kamarmu ini. Aku sampai lupa kalau aku harus ke klub dance hari ini." Celoteh Zoya dengan kesal.
Brian melirik Zoya dengan acuh tak acuh, ekspresinya datar seperti aspal. Melihat itu membuat Zoya semakin kesal, kalau bukan karena sayang dengan wajah tampan itu, Zoya pasti sudah lama mencakarnya. Mengingat beberapa hari yang lalu Zoya pernah menampar wajah seorang pria yang mencoba menggodanya di kampus. Baginya tidak peduli apa status Brian, kalau Zoya kesal maka dia tidak akan sungkan.
"Hei kau mau kemana?" Brian bertanya pada Zoya yang mau pergi dari kamarnya, "apa kau ingin meninggalkan pekerjaanmu, bagaimana mungkin kau menjadi tidak bertanggung jawab begini, sia-sia saja aku menggajimu." Brian berkata dengan nada pelan, tapi bermakna tajam sampai menusuk ke jantung Zoya.
Sontak Zoya menghentikan langkahnya, "Apa lagi sih, lihat kamar mu sudah aku bereskan, jadi tolong biarkan aku pergi sekarang."
Brian kemudian menutup bukunya dan mulai bangkit dari sofa. Perlahan dia melangkah mendekati Zoya. Selama ini Brian tidak pernah bertemu dengan gadis yang begitu berani seperti Zoya. Karena itu dia menjadi sangat penasaran.
"Kau tadi bilang ingin pergi ke klub dansa kan?" Brian bertanya dengan serius, matanya tertuju pada mata Zoya. Saat di rumah Zoya tidak pernah memakai kaca mata sehingga Brian sedikit menyipitkan matanya saat melihat wajah imut gadis itu.
Zoya pun menatap balik mata Brian, ini pertama kalinya dia menatap mata seorang pria dengan sangat dekat. Zoya mengakui kalau mata Brian yang biru memang sangat indah.
"Uh, matamu kok indah banget sih, kalau begini siapa coba yang tidak klepek-klepek menatapmu." ucap batin Zoya.
Brian menjentikkan jarinya dan berkata, "Hei nona cerewet," sekarang Brian juga punya julukan sendiri untuk Zoya, "kalau kau ingin aku izinkan pergi sebaiknya cepat jawab."
"Apa? Dengar ya tuan muda arogan, memangnya apa urusanmu, aku juga tidak butuh izin darimu untuk pergi kemanapun." Ucap Zoya dengan tegas sambil mengacungkan telunjuknya ke hidung Brian.
"Kalau begitu aku akan ikut denganmu." Dengan santai Brian menurunkan jari Zoya.
Sejenak Zoya terdiam membisu mendengar ucapan Brian. Mengapa tuan muda arogan ini mendadak mau ikut dengannya.
"Apa aku tidak salah dengar, ha? Kenapa kau mau ikut denganku ke klub dance." Zoya menaiki salah satu alisnya, heran kenapa Brian yang tampaknya sangat dingin dan cuek tiba-tiba ingin ikut dengannya.
"Aku bilang aku ingin ikut, dan kau tidak bisa menghentikannya." Ujar Brian dengan nada yang masih datar.
"Aku..." Sebelum Zoya berucap, tak disangka Brian menutup bibir tipis gadis itu dengan jari telunjuknya. Zoya terkejut melihat sikap Brian ini, dia benar-benar tidak bisa menebak seperti apa sebenarnya watak tuan muda arogan ini.
Setelah itu Zoya kemudian bersiap-siap untuk pergi ke klub dance. Dia berdiri di teras sambil menyandang tas menunggu Brian keluar. Akhirnya mau tak mau Zoya membiarkan Brian untuk ikut dengannya, lagi pula tak masalahkan membawa pria tampan pergi bersamanya. Kemungkinan terburuknya adalah orang-orang akan berpikir kalau Zoya memiliki hubungan dengan Brian.
"Kenapa dia lama sekali, dia bahkan lebih lama dariku." gumam Zoya yang tidak sabaran.
Tak lama kemudian Brian keluar, betapa kagumnya Zoya melihat sosok pria jangkung itu. Memang tidak bisa di pungkiri Brian memang terlihat seperti aktor Hollywood.
Zoya terus menatap Brian yang berjalan santai ke arahnya, dia seperti telah terhipnotis dengan karisma dan ketampanan Brian.
"Ayo!" Seru Brian.
Sontak Zoya bergegas mengikutinya seperti anak ayam. Di halaman sebuah Roll Royce sudah di siapkan, pak Siman ayahnya Zoya sedang mengilap jendela mobil itu agar terlihat mengkilat.
Melihat tuan mudanya sudah datang, pak Siman segera memasang senyum lebar dan memberikan kunci mobilnya pada Brian.
"Ini tuan muda." Pak Siman terlihat sangat ramah.
Namun Brian tidak terlalu memperdulikannya dan mengambil begitu saja kunci mobil itu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dengan segera dia masuk ke mobil.
Melihat ayahnya yang tidak di hargai, membuat Zoya mendesis ringan. Kenapa selalu saja Brian bersikap dingin pada semua orang.
"Hanya ini yang kurang darimu, kau tidak tahu sopan santun." Ucap Zoya pada Brian yang sudah duduk di dalam mobil.
"Sudahlah Zoya, kenapa memperdebatkan hal ini." Pak Siman tidak ingin putrinya terus-terusan berselisih dengan tuan muda. Tadinya dia pikir, perselisihan antara mereka sudah berakhir saat mendengar Brian mau pergi bersama Zoya. Bahkan pak Siman sempat membayangkan suatu hal hubungan antara Brian dan Zoya.
Brian tidak memperdulikan dan memencet klakson agar Zoya masuk ke mobil.
"Apa kau akan terus mengomel seperti radio rusak di situ, atau ingin pergi." Ucap Brian.
Zoya kemudian menatap ayahnya, dia ingin sekali memberi pelajaran pada tuan muda arogan ini. Tapi apalah daya, kedua orang tuanya bilang kalau apapun yang di perintahkan Brian mereka harus menurutinya.
Pak Siman mengangguk ringan pada putrinya agar segera pergi, bagaimanapun Brian adalah tuan mereka. Zoya dan kedua orang tuanya sudah di beri tempat tinggal oleh keluarga Brian selama delapan belas tahun di rumah mewah ini. Karena itulah apapun yang di inginkan tuan muda, mereka harus menurutinya.
Dengan muka masam Zoya masuk ke mobil, dia sengaja menutup pintu dengan keras untuk menunjukan kekesalannya pada Brian.
Srrrt.
Atap Roll Royce itu terbuka perlahan, jauh hari mobil mewah itu memang sengaja di pesankan oleh Michelle untuk putranya. Sebelumnya pak Siman hanya mengendarai sebuah Marcedes, tapi Michelle tahu kalau Brian tipe orang yang lumayan milih-milih untuk mengendari mobil.
Bukan berarti karena Brian sombong atau ingin pamer, tapi dia lebih selera dengan mobil bertipe klasik nan mewah seperti Roll Royce.
"Apa lagi yang kau tunggu, ayo jalan!" Seru Zoya dengan ekspresi judas. Dia menyilangkan kedua tangannya dan menatap lurus ke depan.
Brian menyunggingkan sedikit sudut bibirnya, ini pertama kalinya dia menerima perintah dari seseorang. Di rumahnya dulu, semua pelayannya tidak ada yang berani mengangkat kepalanya menghadap Brian, apalagi sampai berbicara kasar seperti Zoya.
Hanya Alex yang selalu saja berbicara pada Brian dengan nada tinggi. Karena itu Brian merasa sangat penasaran dengan Zoya. Dia ingin lihat sejauh apa Zoya berani bersikap kasar padanya.
Dengan segera Brian menginjak gas dan meninggalkan mansion Cody Famili.
"Lihatlah mereka, bukankah sangat serasi." Ujar pak Siman sambil berjalan mendekati istrinya Ratih yang barus saja keluar.
"Huss, jangan berpikir begitu, tuan muda adalah penerus satu-satunya keluarga Cody, dia tidak cocok dengan putri kita. Tuan besar pasti sudah mencarikan seorang tuan putri dari keluarga kaya untuk tuan muda." Jawab Ratih dengan ekspresi yang rumit, jujur saja orang tua mana yang tidak mau putrinya menikahi keluarga kaya. Tapi dia harus tahu diri, keluarganya hanyalah pelayan keluarga Cody.
"Kamu gak boleh berkata seperti itu, mungkin perbedaan derajat mereka terlihat sangat jauh, tapi cinta mampu melakukan semua hal yang tak mungkin." Balas pak Siman sembari tersenyum.
"Terserah mu saja lah pak, aku hanya menasehati jangan mengkhayal terlalu tinggi."
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments