"Nyonya sudah lama sekali anda tidak mengunjungi rumah ini." Ucap mbok Ratih sembari menuangkan teh di atas meja.
Terlihat di ruang tamu, Brian sedang terbaring santai di sofa yang panjang, sedangkan ibunya duduk di seberang dan terus menatap putranya dengan ekspresi serius.
"Mbok, aku senang kalian ternyata telah merawat rumah ini dengan baik." Ujar Michelle sembari menyesap tehnya.
"Yah, nyonya sudah banyak membantu kami. Jadi kami tidak mungkin mengecewakan nyonya." Simbok terlihat sangat sopan saat bicara pada Michelle.
"Mbok pasti sudah tahukan maksud kedatangan kami?" Tanya Michelle sembari melirik putranya.
"Ya, nyonya. Tuan besar sudah menelfon kami tadi pagi."
"Kalau begitu, apa semuanya sudah di siapkan?" Tanya Michelle.
"Iya nyonya, tadi pagi aku dan putriku sudah membereskan semuanya kok..."
Tapi tiba-tiba saja muncul seorang gadis yang masuk dari pintu depan sambil terus mengomel-ngomel. Dia terlihat sangat kesal sekali seperti habis keluar dari angkot.
"Zoya, ada apa nak?" Mbok Ratih bertanya dengan nada pelan pada putrinya.
"Dasar, lelaki itu benar-benar tidak punya sopan santun, karena dia juga aku harus di hukum." Zoya menggerutu sembari duduk di sebelah Michael dengan penuh kekesalan.
"Apa ibu tahu, tadi pagi aku bertemu dengan dengan lelaki yang begitu arogan, dia sudah menabrakku sampai jatuh lihat ini."
Zoya menunjukan sikutnya yang lecet karena jatuh di kampus tadi pagi. Sontak mbok Ratih kaget dan memegang sikut putrinya.
"Ya ampun Zoya, kenapa kau sampai begini."
"Aduh...ibu, kenapa di pegang." Zoya meringis kesakitan.
"Oh sakit ya." Mbok Ratih segera menarik tangannya kembali.
"Enggak tapi geli, hu...uh." Wajah Zoya menjadi mewek.
Dengan sigap, mbok Ratih mengambil kotak P3.K. "Baiklah duduk di sini, ibu akan ambil kotak obat."
Michelle tersenyum melihat itu, dia tentu tahu siapa gadis yang sedang duduk ngambek di sebelahnya ini. Sebuah kenangan masa lalu tiba-tiba terlintas diingatan Michelle. Saat itu semuanya begitu terasa begitu sangat indah.
"Nak, kenapa cemberut begitu." Ucap Michelle sembari memegang dagu Zoya.
"Bibi tidak tahu apa yang aku alami, aku terpaksa harus di hukum oleh dosenku karena lelaki yang tak tahu tata krama itu, rasanya ingin sekali aku menendang lelaki itu." Zoya mulai curhat kepada Michelle seolah mereka sudah sangat dekat. Padahal mereka baru saja bertemu, tetapi karena sangking kesalnya Zoya sampai mengabaikan hal itu.
"Baiklah tenangkan dirimu dulu, ini minumlah." Michelle memberikan segelas teh lemon kepada Zoya.
Zoya tidak menolaknya dan tanpa ragu dia menyesap teh lemon itu.
"Merasa lebih baik? Sekarang coba ceritakan seperti apa lelaki yang tak tahu tata krama itu sehingga berani membuat gadis kecilku ini terluka." Ucap Michelle dengan lembut sambil membelai rambut Zoya.
Zoya yang menatap wajah cantik Michelle merasa seolah seperti tak asing. Dia seperti sudah lama mengenal wanita ini. Matanya sampai berkaca-kaca menatap Michelle sembari terus menyesap secangkir teh lemon.
Setelah itu Zoya sedikit lebih tenang dan meletakkan cangkir tehnya ke atas meja. Mbok Ratih juga sudah kembali dengan kotak P3.K nya.
Zoya pun mulai ingin menceritakan kejadian yang menimpanya tadi pagi pada Michelle. "Bibi, lelaki itu bertubuh tinggi dan sedikit berisi, wajahnya ala orang eropa. Rambutnya pirang dan sikapnya itu..." Zoya benar-benar mendeskripsikan ciri-ciri pria yang menabraknya tadi pagi dengan jelas dan terperinci. "Sikapnya sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang tampan, dia benar-benar tidak tahu sopan santun, bukannya minta maaf dia malah memarahi aku bibi."
"Sudahlah Zoya, kenapa harus marah-marah sih, mungkin dia juga tidak sengaja." Mbok Ratih mencoba menenangkan sembari menutupi luka putrinya.
"Gak bisa gitu dong buk, dia sangat tidak sopan sekali, dia bahkan bertingkah sangat arogan dan merasa seperti tidak bersalah." Ujar Zoya dengan ekspresi tidak terima.
Mendengar pengaduan dari Zoya, Michelle sampai menaikkan salat satu alisnya. Sepertinya dia tahu sosok lelaki yang di ceritakan Zoya ini. Lelaki jangkung dengan wajah ala eropa?
"Apa dia juga mengenakan Hoodie berwarna hitam?" Michelle bertanya dengan ekspresi serius.
Zoya mencoba mengingat dan dia menjadi sedikit kaget, "Ya betul sekali bibi, bagaimana bibi bisa tahu, apa bibi seorang peramal?"
Zoya merasa agak aneh dan mencoba menyesap kembali teh lemon itu lagi.
Michelle menghela nafas dan berkata, "Aku bukan peramal, aku hanya berharap lelaki yang kau maksud itu bukan seperti yang berada di depan kita saat ini." Nada Michelle terdengar sedikit pasrah saat menunjuk ke arah Brian yang masih terbaring santai di sofa.
Sontak Zoya melirik kedepan sembari terus menyesap teh, dia baru sadar kalau ada lelaki yang terbaring di sofa depannya. Seketika Zoya langsung memuncratkan semua teh yang ada di mulutnya karena terkejut.
"Zoyaaaa!" Teriak Ratih dengan penuh rasa terkejut melihat tingkah putrinya.
"Kau...kenapa kau ada disini." Seru Zoya sembari menunjuk ke arah Brian.
Michelle hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu. Dia sudah menebak bahwa lelaki yang dimaksud Zoya tidak lain adalah putranya 'Brian'.
Brian melirik sedikit ke arah Zoya dengan acuh tak acuh dari tadi dia sengaja diam dan mendengar semua pengaduan Zoya kepada ibunya sendiri.
"Ibu, bibi, dia lelaki yang telah menabrakku hingga jatuh."
Mbok Ratih menjadi sedikit panik dan mencoba menangkan putrinya.
"Zoya...apa yang kau katakan nak, dia adalah putra nyonya Michelle yang sedang berdiri sampingmu, mereka adalah tamu terhormat kita sang pemilik mansion ini. Mereka baru saja tiba, bagaimana mungkin tuan muda Brian melakukan itu padamu?"
Mendengar perkataan ibunya Zoya lantas semakin terkejut dan menatap wajah Michelle. "Haaaaah....dia putra mu bibi?"
Michelle menutup wajahnya dengan telapak tangan karena malu, kemudian dia mengangguk pelan dan berkata. "Yah, sudah kuduga, Brian memang tidak akan pernah bersikap ramah pada siapapun."
Rasanya Zoya hampir mau pingsan melihat kebenaran yang terkuak begitu saja di depannya.
"Astaga, kenapa jadi begini, ternyata lelaki yang ingin aku tendang bokongnya adalah anak dari pemilik rumah besar ini. Tamat sudah riwayatku." gumam Zoya dalam hatinya, wanita itu menjadi diam dan terpaku.
"Maafkan putraku mbok, dia sudah membuat putrimu terluka seperti ini, tadi pagi sepertinya Brian sudah menabrak Zoya saat kami ke kampus." Michelle mencoba menenangkan ketegangan yang ada ruangan itu.
"Hehe, tidak masalah nyonya mungkin itu hanya salah paham saja." Mbok Ratih menjadi tidak enak, di tambah lagi Zoya tadi bilang mau menendang Brian. Bagaimana bisa seorang pembantu mau menendang majikannya. Yang ada mereka yang akan ditendang keluar dari rumah ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Diana Silaen
. seru alurnya bagus👍
2024-06-13
0
Dewi Payang
Hayuuuu Zoya,😀😀
Gpp Zoya, aku mendukungmu klo mau menendang bokongnya, beri dia pelajaran😀
2022-09-05
0