Bab 2

"Nyonya sudah lama sekali anda tidak mengunjungi rumah ini." Ucap mbok Ratih sembari menuangkan teh di atas meja.

Terlihat di ruang tamu, Brian sedang terbaring santai di sofa yang panjang, sedangkan ibunya duduk di seberang dan terus menatap putranya dengan ekspresi serius.

"Mbok, aku senang kalian ternyata telah merawat rumah ini dengan baik." Ujar Michelle sembari menyesap tehnya.

"Yah, nyonya sudah banyak membantu kami. Jadi kami tidak mungkin mengecewakan nyonya." Simbok terlihat sangat sopan saat bicara pada Michelle.

"Mbok pasti sudah tahukan maksud kedatangan kami?" Tanya Michelle sembari melirik putranya.

"Ya, nyonya. Tuan besar sudah menelfon kami tadi pagi."

"Kalau begitu, apa semuanya sudah di siapkan?" Tanya Michelle.

"Iya nyonya, tadi pagi aku dan putriku sudah membereskan semuanya kok..."

Tapi tiba-tiba saja muncul seorang gadis yang masuk dari pintu depan sambil terus mengomel-ngomel. Dia terlihat sangat kesal sekali seperti habis keluar dari angkot.

"Zoya, ada apa nak?" Mbok Ratih bertanya dengan nada pelan pada putrinya.

"Dasar, lelaki itu benar-benar tidak punya sopan santun, karena dia juga aku harus di hukum." Zoya menggerutu sembari duduk di sebelah Michael dengan penuh kekesalan.

"Apa ibu tahu, tadi pagi aku bertemu dengan dengan lelaki yang begitu arogan, dia sudah menabrakku sampai jatuh lihat ini."

Zoya menunjukan sikutnya yang lecet karena jatuh di kampus tadi pagi. Sontak mbok Ratih kaget dan memegang sikut putrinya.

"Ya ampun Zoya, kenapa kau sampai begini."

"Aduh...ibu, kenapa di pegang." Zoya meringis kesakitan.

"Oh sakit ya." Mbok Ratih segera menarik tangannya kembali.

"Enggak tapi geli, hu...uh." Wajah Zoya menjadi mewek.

Dengan sigap, mbok Ratih mengambil kotak P3.K. "Baiklah duduk di sini, ibu akan ambil kotak obat."

Michelle tersenyum melihat itu, dia tentu tahu siapa gadis yang sedang duduk ngambek di sebelahnya ini. Sebuah kenangan masa lalu tiba-tiba terlintas diingatan Michelle. Saat itu semuanya begitu terasa begitu sangat indah.

"Nak, kenapa cemberut begitu." Ucap Michelle sembari memegang dagu Zoya.

"Bibi tidak tahu apa yang aku alami, aku terpaksa harus di hukum oleh dosenku karena lelaki yang tak tahu tata krama itu, rasanya ingin sekali aku menendang lelaki itu." Zoya mulai curhat kepada Michelle seolah mereka sudah sangat dekat. Padahal mereka baru saja bertemu, tetapi karena sangking kesalnya Zoya sampai mengabaikan hal itu.

"Baiklah tenangkan dirimu dulu, ini minumlah." Michelle memberikan segelas teh lemon kepada Zoya.

Zoya tidak menolaknya dan tanpa ragu dia menyesap teh lemon itu.

"Merasa lebih baik? Sekarang coba ceritakan seperti apa lelaki yang tak tahu tata krama itu sehingga berani membuat gadis kecilku ini terluka." Ucap Michelle dengan lembut sambil membelai rambut Zoya.

Zoya yang menatap wajah cantik Michelle merasa seolah seperti tak asing. Dia seperti sudah lama mengenal wanita ini. Matanya sampai berkaca-kaca menatap Michelle sembari terus menyesap secangkir teh lemon.

Setelah itu Zoya sedikit lebih tenang dan meletakkan cangkir tehnya ke atas meja. Mbok Ratih juga sudah kembali dengan kotak P3.K nya.

Zoya pun mulai ingin menceritakan kejadian yang menimpanya tadi pagi pada Michelle. "Bibi, lelaki itu bertubuh tinggi dan sedikit berisi, wajahnya ala orang eropa. Rambutnya pirang dan sikapnya itu..." Zoya benar-benar mendeskripsikan ciri-ciri pria yang menabraknya tadi pagi dengan jelas dan terperinci. "Sikapnya sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang tampan, dia benar-benar tidak tahu sopan santun, bukannya minta maaf dia malah memarahi aku bibi."

"Sudahlah Zoya, kenapa harus marah-marah sih, mungkin dia juga tidak sengaja." Mbok Ratih mencoba menenangkan sembari menutupi luka putrinya.

"Gak bisa gitu dong buk, dia sangat tidak sopan sekali, dia bahkan bertingkah sangat arogan dan merasa seperti tidak bersalah." Ujar Zoya dengan ekspresi tidak terima.

Mendengar pengaduan dari Zoya, Michelle sampai menaikkan salat satu alisnya. Sepertinya dia tahu sosok lelaki yang di ceritakan Zoya ini. Lelaki jangkung dengan wajah ala eropa?

"Apa dia juga mengenakan Hoodie berwarna hitam?" Michelle bertanya dengan ekspresi serius.

Zoya mencoba mengingat dan dia menjadi sedikit kaget, "Ya betul sekali bibi, bagaimana bibi bisa tahu, apa bibi seorang peramal?"

Zoya merasa agak aneh dan mencoba menyesap kembali teh lemon itu lagi.

Michelle menghela nafas dan berkata, "Aku bukan peramal, aku hanya berharap lelaki yang kau maksud itu bukan seperti yang berada di depan kita saat ini." Nada Michelle terdengar sedikit pasrah saat menunjuk ke arah Brian yang masih terbaring santai di sofa.

Sontak Zoya melirik kedepan sembari terus menyesap teh, dia baru sadar kalau ada lelaki yang terbaring di sofa depannya. Seketika Zoya langsung memuncratkan semua teh yang ada di mulutnya karena terkejut.

"Zoyaaaa!" Teriak Ratih dengan penuh rasa terkejut melihat tingkah putrinya.

"Kau...kenapa kau ada disini." Seru Zoya sembari menunjuk ke arah Brian.

Michelle hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu. Dia sudah menebak bahwa lelaki yang dimaksud Zoya tidak lain adalah putranya 'Brian'.

Brian melirik sedikit ke arah Zoya dengan acuh tak acuh dari tadi dia sengaja diam dan mendengar semua pengaduan Zoya kepada ibunya sendiri.

"Ibu, bibi, dia lelaki yang telah menabrakku hingga jatuh."

Mbok Ratih menjadi sedikit panik dan mencoba menangkan putrinya.

"Zoya...apa yang kau katakan nak, dia adalah putra nyonya Michelle yang sedang berdiri sampingmu, mereka adalah tamu terhormat kita sang pemilik mansion ini. Mereka baru saja tiba, bagaimana mungkin tuan muda Brian melakukan itu padamu?"

Mendengar perkataan ibunya Zoya lantas semakin terkejut dan menatap wajah Michelle. "Haaaaah....dia putra mu bibi?"

Michelle menutup wajahnya dengan telapak tangan karena malu, kemudian dia mengangguk pelan dan berkata. "Yah, sudah kuduga, Brian memang tidak akan pernah bersikap ramah pada siapapun."

Rasanya Zoya hampir mau pingsan melihat kebenaran yang terkuak begitu saja di depannya.

"Astaga, kenapa jadi begini, ternyata lelaki yang ingin aku tendang bokongnya adalah anak dari pemilik rumah besar ini. Tamat sudah riwayatku." gumam Zoya dalam hatinya, wanita itu menjadi diam dan terpaku.

"Maafkan putraku mbok, dia sudah membuat putrimu terluka seperti ini, tadi pagi sepertinya Brian sudah menabrak Zoya saat kami ke kampus." Michelle mencoba menenangkan ketegangan yang ada ruangan itu.

"Hehe, tidak masalah nyonya mungkin itu hanya salah paham saja." Mbok Ratih menjadi tidak enak, di tambah lagi Zoya tadi bilang mau menendang Brian. Bagaimana bisa seorang pembantu mau menendang majikannya. Yang ada mereka yang akan ditendang keluar dari rumah ini.

Terpopuler

Comments

Diana Silaen

Diana Silaen

. seru alurnya bagus👍

2024-06-13

0

Dewi Payang

Dewi Payang

Hayuuuu Zoya,😀😀
Gpp Zoya, aku mendukungmu klo mau menendang bokongnya, beri dia pelajaran😀

2022-09-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Ban 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Ban 108
109 Bab 109
110 Ban 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Ban 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Ban 108
109
Bab 109
110
Ban 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!