Malamnya Zoya berjalan gontai menuju ke kamar Brian. Semenjak pulang dari kampus, dari tadi dia tidak bisa menghilangkan bayangan si tuan arogan itu dari benaknya. Dia merasa bingung, canggung sekaligus aneh. Mengapa Brian yang dia anggap pria arogan, mau membelanya di depan Vince. Padahal Zoya sudah menjelaskan sebelumnya, kalau Vince itu orang yang tidak bisa di provokasi.
Saat berada di depan pintu kamar Brian, Zoya terdiam sejenak dia ingin mengetuk pintu itu tapi masih ragu-ragu.
Jika aku mengetuknya, entah apa yang akan di pikirkan nanti. Kenapa aku mengganggunya malam-malam begini. Uh, aku kenapa sih, lebih baik aku pergi saja.
Zoya pun memtuskan untuk membatalkan niatnya, dia berbalik dan hendak segera melangkah pergi. Tapi tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Sontak Zoya berhenti dan menoleh ke belakang.
"Emmm, aku tadi cuman lewat..."
Zoya langsung menjadi salah tingkah saat Brian membuka pintu kamarnya.
"Cuman lewat?"
"Yah, tadinya aku ingin mengetuk... eh, bukan maksudku dari tadi aku batuk-batuk jadi aku ingin mengambil minum di bawah." Zoya berdalih dengan beribu alasan, tidak tahu mengapa tiba-tiba saja dirinya merasa seperti maling yang tertangkap basah.
"Masuklah!" seru Brian dengan nada datar.
Dari tadi Zoya sudah merasa ada yang salah dengan dirinya, dan sekarang dengan bodohnya dia mau masuk ke kamar Brian. Sepertinya dia benar-benar sudah terhipnotis.
"Eh, kenapa pintunya di tutup."
Zoya keheranan melihat Brian menutup pintu kamarnya, ekspresi Zoya berubah kedua alisnya langsung menyatu.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu, jadi aku tidak ingin ada orang yang mengganggu kita."
Brian kemudian maju selangkah demi selangkah mendekati Zoya. Dia tidak menunjukan ekspresi apapun. Tapi Zoya reflek ikut mundur kebelakang melihat Brian berjalan mendekatinya.
"Eee, tuan arogan apa yang akan kau lakukan?" ucap Zoya yang mulai sedikit menjadi panik. Pikirannya seketika terbang entah kemana-mana.
Tapi Brian terus melangkah maju dan mengabaikan pertanyaan Zoya. Tatapannya lurus ke depan, sementara Zoya yang dari tadi mundur ke belakang akhirnya menabrak sebuah sofa. Dia kemudian terduduk, dan seketika dia memejamkan mata karena pasrah melihat Brian yang sudah berdiri tegak di depannya.
Ya ampun Zoya kenapa kau tidak berteriak, apa kau akan membiarkan dirimu berakhir di tangan tuan arogan malam ini
Dek.
Zoya langsung membuka matanya kembali dan melihat Brian malah memberikannya segelas air putih yang ada di meja.
"Ini ambilah, bukankah kau bilang tadi batuk-batuk dan ingin minum."
Dengan acuh tak acuh Brian menyodorkan segelas air putih kepada Zoya.
Zoya terdiam sejenak, kemudian kekhawatiran yang terlihat di wajahnya tadi langsung hilang dan berubah menjadi senyuman. Dia menatap bola mata Brian yang biru, dan menyambut segelas air itu dengan perlahan.
Ya ampun Zoya, sejenak kau pikir dirimu akan jatuh kepada tuan arogan malam ini, salahmu juga sih kebanyakan nonton sinetron
Zoya langsung meminum air itu sambil termenung. Entah kenapa dia sampai kepikiran hal yang aneh-aneh tadi.
Brian kemudian duduk di kursi yang ada di samping sofa tempat Zoya duduk. Kursi itu agak tinggi jadi dia terpaksa menundukkan sedikit tubuhnya ke arah Zoya.
Dengan reflek Zoya memundurkan sedikit tubuhnya ke sandaran sofa. "Kenapa kau menatap ku begitu?" tanya Zoya yang sudah canggung dari awal. Dia mencoba membuang pandangannya ke area sekitar.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
Deg.
Sekali lagi Zoya merasakan jantungnya berasa di tepuk-tepuk oleh stik drum.
"Apa?" tanya Zoya dengan ekspresi penasaran.
"Kemari kan telingamu." seru Brian dengan ekspresi yang serius.
Zoya menjadi semakin penasaran dan dengan polosnya, ia mendekatkan telinganya ke bibir tipis nan merah itu. Dia mencoba mendengar apa yang akan di bisikan oleh si tuan arogan ini padanya. 'Apakah itu ungkapan...'
"Zoya aku..." Brian mulai berkata dengan lembut dan agak ragu.
"Yah..." sambut Zoya dengan nada selembut sutra, dia semakin mendekatkan telinganya, saat ini jantungnya sudah berdegup sangat kencang sekali, bahkan mengalahkan kecepatan piston mobil nascar.
"Aku tidak bisa menari."
Pffft.
Seketika Zoya menyemburkan semua air putih yang telah ia minum tadi. Untung saja Brian langsung kembali duduk dengan tegak jika tidak, dia pasti sudah terkena semburan dari Zoya.
Suasana yang canggung tadi langsung berubah drastis. Zoya sudah sangat berharap kalau Brian mengatakan hal yang dia inginkan. Tapi yang dia dengar malah...
"Apa? Apa yang baru kau katakan."
Terlihat ekspresi Zoya langsung berubah menjadi si nona cerewet. Dia mengambil tisu di meja dan menyeka mulutnya. Kemudian dia menatap Brian dengan tajam.
"Yah aku tidak bisa menari,"
Dengan acuh tak acuh Brian berkata dengan jujur kalau dia memang benar-benar tidak bisa menari. Mendengar hal itu, Zoya langsung mengepalkan kedua tangannya ke udara.
"Kau! Eeeh.... apa kau sadar dengan apa yang kau katakan."
"Kau tidak bisa menari? Lantas kenapa kau mendaftarkan diri tadi."
Jiwa Zoya yang lemah lembut tadi langsung menghilang. Kini dia lebih tampak seperti iblis yang siap menanduk Brian. Bagaimana bisa Brian dengan santai mengakui kalau dia tidak bisa menari, padahal siang tadi dengan penuh keyakinan dan rasa percaya dirinya yang tinggi, Brian telah mendaftarkan dirinya ke kompetisi itu.
"Karena kau, bukankah kau sangat ingin ikut dan kau butuh pasangan untuk ikut kompetisi, dan aku hanya menepati janjiku saja." ucap Brian dengan acuh tak acuh sembari menyilangkan kedua tangannya.
"Kau... bener-bener, aku memang mau ikut kompetisi itu, tapi..."
Zoya dengan segera mengambil ponsel dari saku celana pendeknya dan segera memutar sebuah nomer.
"Apa yang akan kau lakukan." tanya Brian.
"Tidak... aku tidak mau di permalukan di depan umum lagi, lebih baik kita mundur saja." ujar Zoya dengan tegas.
"Silahkan saja, meskipun mundur kau tetap akan di permalukan, kan? Karena tadi siang aku sudah membuat tantangan pada Vince kau ingat!" Brian mengingatkan Zoya kejadian siang tadi.
"Benar...." lirih Zoya, wajahnya langsung berubah pucat.
Zoya membatalkan rencananya untuk mundur dari kompetisi itu setelah mendengar perkataan Brian. Dia tiba-tiba melamun seolah-olah pasrah dengan keadaan. Sedangkan Brian dengan santai berdiri dari duduk, dan berjalan ke arah jendela.
"Aku benar-benar tidak habis pikir, bagiamana bisa kau mendaftarkan diri untuk ikut, jika kau sendiri tidak bisa menari, tuan arogan."
"Aku hanya bilang aku tidak bisa menari, bukan berarti aku ingin membatalkannya."
"Lalu bagaimana caranya kau ingin mengalahkan Vince."
"Kau!"
Brian berbalik dan menunjuk ke arah Zoya.
"Aku,,"
"Yah, kau akan mengajariku menari."
Dengan santai Brian mengatakan semua itu, Zoya langsung menggelengkan kepalanya dan tersandar di sofa. Saat ini dia sudah kehabisan akal. Tadinya dia berfikir Brian adalah sosok pria sejati yang selama ini dia nantikan. Tapi ternyata itu tidak sesuai dengan ekspektasinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments