Bab 4

Di malam harinya terlihat Brian berdiri di balkon kamarnya dan menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang.

Kemudian terdengar suara pintu kamar yang terbuka, sontak Brian sedikit melirik ke belakang melihat ibunya yang datang menghampirinya.

"Brian besok ibu akan pulang, ibu harap kau bisa tinggal di sini dengan baik." Ucap Michelle dengan nada pelan.

"Pada akhirnya kalian membuang diriku juga, sepertinya kalian sudah tidak menginginkan diriku lagi." Brian berkata tanpa menatap wajah ibunya, pandangannya jatuh ke halaman taman yang terlihat sangat indah di malam hari.

"Tolong jangan berkata seperti itu, kau tahu saat ini ayahmu sedang marah, karena itu aku membawamu kesini." Michelle memegang pundak putranya dan mencoba membuatnya untuk mengerti. "Jika kau tetap tinggal di sana ibu takut hubungan kalian akan semakin memburuk, karena itu lebih baik ibu memisahkan kalian untuk sementara waktu agar kalian bisa menenangkan diri."

Brian terlihat tidak peduli dengan perkataan ibunya, dia merasa bahwa dirinya benar-benar sudah dicampakkan.

"Apa kau tahu Brian? Mbok Ratih dan keluarganya adalah orang baik, mereka sudah menjaga rumah ini selama delapan belas tahun."

"Ibu tiba-tiba teringat kenangan yang ada di rumah ini, saat itu ibu masih mengandung dirimu dan menggendong Zoya di pangkuan ibu, itu merupakan momen yang sangat membahagiakan dalam hidup ibu."

"Ibu harap kau bisa tinggal dengan baik di sini bersama dengan mereka, Zoya lebih tua satu tahun darimu. Jadi kau harus bersikap lebih sopan padanya."

Michelle mencoba menjelaskan agar putranya bisa tinggal dan bersikap dengan baik di sini. Dia ingin putranya bisa mengerti dan berubah, walaupun terasa sangat berat, ini harus dia lakukan agar Brian bisa lebih mandiri, dan sekaligus menghindarkan pertengkaran antara ayah dan anak itu.

"Kau harus menyelesaikan kuliahmu disini, dan baru setelah itu kau bisa kembali lagi ke rumah." Ucap Michelle sembari memegang lembut wajah putranya.

"Apakah aku masih punya hak setelah di buang?" Ucap Brian dengan nada dingin.

"Ibu tahu kau pasti sangat kesal, tapi Brian ibu tidak berdaya, kau tahu sifat asli ayahmu, dia sama persis sepertimu." Tanpa di sadari air mata mulai menetes di wajah Michelle.

Sontak Brian menghapus air mata ibunya dan berkata, "Jangan samakan aku dengan pak tua itu. Walaupun aku dendam pada kalian, tapi aku tidak bisa melihatmu menangis ibu. Dia mungkin bisa mencampakkan aku, tapi katakan pada si pak tua itu, jika dia berani menyentuh ibuku, maka aku tidak akan tinggal diam." Ucap Brian dengan tegas.

Michelle kemudian menangis sejadinya di pelukan sang anak. Dia tidak menyangka bahwa hubungan keluarganya akan menjadi retak seperti ini. Ayahnya Brian adalah seorang yang penggila bisnis, dia sangat tegas dalam mengambil setiap tindakan, tapi karena sikapnya itu dia sampai lupa membedakan antara kasih sayang dan juga disiplin.

Hal itu membuat Brian kekurangan rasa kasih sayang seorang ayah, dari kecil dia terpaksa harus menuruti semua yang di katakan sang ayah, walaupun ayahnya bermaksud ingin menjadikannya sebagai orang yang hebat tapi itu semua bertentangan dengan keinginannya.

Setelah beranjak dewasa Brian akhirnya mengerti kalau ayahnya sudah mendidiknya dengan sistem militer, hal justru berbalik menentang ayahnya sendiri. Dia bisa menerima dirinya di perlakukan layaknya seorang prajurit, tapi dia tidak bisa melihat ibunya di menangis setiap malam, Brian semakin kesal pada ayahnya sehingga muncul pertikaian antara mereka.

Akhirnya, Michelle memutuskan untuk memisahkan sementara ayah dan anak itu supaya mereka bisa meredam pertikaian. Karena Michelle tahu bahwa ayahnya Brian mungkin orang yang keras tapi dia juga pasti tidak ingin kehilangan putranya, setelah mereka merasakan bahwa betapa sakitnya tinggal jauh satu sama lain, mungkin itu akan menyadarkan ayah dan anak itu.

Keesokan paginya, Michelle harus berangkat pagi-pagi sekali karena pesawatnya akan terbang jam tujuh. Dia mulai berjalan keluar dan terlihat pak Siman suaminya mbok ratih sudah menunggunya, sebelum pergi dia berpamitan pada mbok Ratih.

"Mbok tolong jaga Brian, ini mungkin akan sedikit merepotkan untuk simbok." Ucap Michelle dengan lembut.

"Gak perlu khawatir nyonya, tuan muda akan aman bersama kami." Jawab mbok Ratih dengan sopan.

"Terima kasih mbok, tapi Brian itu bukan seperti anak biasa, simbok mungkin akan sedikit kesulitan menghadapinya."

"Maksud nyonya?"

"Aku ingin menjelaskan tiga pantangan Brian, pertama dia tipe anak yang mandiri jangan pernah menyentuh barang-barang miliknya, dia juga tidak ingin di bantu dalam melakukan suatu hal. Yang kedua, jangan pernah menyiapkan makanan secara terlambat jika tidak dia mungkin akan memasak sendiri di dapur dan itu akan sangat berakibat fatal nantinya. Dan yang ketiga, ini adalah larangan yang paling besar jangan pernah mengunci pintu saat Brian pulang larut."

Mbok Ratih sampai mencatat setiap detail dari larangan yang di jelaskan oleh Michelle, dia tidak ingin sampai melupakan sesuatu dan membuat kesalahan nantinya.

"Sebenarnya ada beberapa hal lagi tapi hanya itu yang paling penting untuk tidak di dilanggar, dan oh ya jangan pernah sebut ayahnya di Brian." Ucap Michelle dengan tampang serius.

"Siap mengerti nyonya, saya tidak akan mengecewakan nyonya." Ratih mengangkat tangannya dan memberi hormat pada Michelle.

"Ini ada sedikit uang untuk keperluan beberapa bulan kedepan," Michelle memberikan amplop tebal yang berisi uang yang sangat banyak. "Jika ini habis seperti biasa saya akan mentransfer ke rekening simbok, ok."

Ratih merasa uang yang di berikan Michelle agak berlebihan. Tapi dia tidak bisa menolak mengingat tuan muda Brian juga tinggal bersamanya mulai sekarang. Jadi dia mungkin akan sedikit harus lebih loyal untuk memenuhi kebutuhan tuan muda Brian.

Michelle kemudian menarik kopernya dan berjalan menuju mobil, pak Siman sudah membukakan pintu dan mempersilakan Michelle untuk masuk.

"Silahkan nyonya." Ucap Siman sembari tersenyum sopan.

"Terima kasih pak." Michelle hendak duduk tapi tiba-tiba Ratih memanggilnya.

"Nyonya apa tidak mau berpamitan dengan tuan muda terlebih dahulu." Teriak Ratih dari teras.

"Dia masih tidur, dia tidak bisa di ganggu jika sedang tidur, karena itulah aku sudah berpamitan padanya malam tadi." Ucap Michelle kemudian duduk di kursi mobil.

Mendengar hal itu Ratih mengangguk dan mulai melambaikan tangannya pada Michelle.

Dengan perasaan sedih Michelle terpaksa meninggalkan putra tercintanya disini, dia menatap kamar Brian yang berada di lantai atas dari kaca mobil. Air matanya mengalir seketika, tentu saja berat bagi seorang ibu untuk tinggal jauh dari putranya.

"Brian, ibu harap kau dan ayahmu bisa berubah setelah ini." Ucap Michelle dengan ekspresi yang penuh arti. "Jalan pak!"

Pak siman segera menyalakan mobil dan beranjak pergi meninggalkan mansion kediaman keluarga Cody.

Terlihat dari jendela Brian menatap kepergian sang ibu, ekspresinya datar namun sebenarnya di dalam hati dia juga merasakan kesedihan karena berpisah dengan ibunya, memang Brian tidak pernah menunjukan kasih sayangnya pada sang ibu, namun jika sesuatu terjadi pada ibunya makan Brian akan menjadi tameng yang siap melindungi ibunya.

Terpopuler

Comments

Dewi Payang

Dewi Payang

Kasian juga Brian🤔

2022-09-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Ban 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Ban 108
109 Bab 109
110 Ban 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Ban 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Ban 108
109
Bab 109
110
Ban 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!