Di malam harinya terlihat Brian berdiri di balkon kamarnya dan menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang.
Kemudian terdengar suara pintu kamar yang terbuka, sontak Brian sedikit melirik ke belakang melihat ibunya yang datang menghampirinya.
"Brian besok ibu akan pulang, ibu harap kau bisa tinggal di sini dengan baik." Ucap Michelle dengan nada pelan.
"Pada akhirnya kalian membuang diriku juga, sepertinya kalian sudah tidak menginginkan diriku lagi." Brian berkata tanpa menatap wajah ibunya, pandangannya jatuh ke halaman taman yang terlihat sangat indah di malam hari.
"Tolong jangan berkata seperti itu, kau tahu saat ini ayahmu sedang marah, karena itu aku membawamu kesini." Michelle memegang pundak putranya dan mencoba membuatnya untuk mengerti. "Jika kau tetap tinggal di sana ibu takut hubungan kalian akan semakin memburuk, karena itu lebih baik ibu memisahkan kalian untuk sementara waktu agar kalian bisa menenangkan diri."
Brian terlihat tidak peduli dengan perkataan ibunya, dia merasa bahwa dirinya benar-benar sudah dicampakkan.
"Apa kau tahu Brian? Mbok Ratih dan keluarganya adalah orang baik, mereka sudah menjaga rumah ini selama delapan belas tahun."
"Ibu tiba-tiba teringat kenangan yang ada di rumah ini, saat itu ibu masih mengandung dirimu dan menggendong Zoya di pangkuan ibu, itu merupakan momen yang sangat membahagiakan dalam hidup ibu."
"Ibu harap kau bisa tinggal dengan baik di sini bersama dengan mereka, Zoya lebih tua satu tahun darimu. Jadi kau harus bersikap lebih sopan padanya."
Michelle mencoba menjelaskan agar putranya bisa tinggal dan bersikap dengan baik di sini. Dia ingin putranya bisa mengerti dan berubah, walaupun terasa sangat berat, ini harus dia lakukan agar Brian bisa lebih mandiri, dan sekaligus menghindarkan pertengkaran antara ayah dan anak itu.
"Kau harus menyelesaikan kuliahmu disini, dan baru setelah itu kau bisa kembali lagi ke rumah." Ucap Michelle sembari memegang lembut wajah putranya.
"Apakah aku masih punya hak setelah di buang?" Ucap Brian dengan nada dingin.
"Ibu tahu kau pasti sangat kesal, tapi Brian ibu tidak berdaya, kau tahu sifat asli ayahmu, dia sama persis sepertimu." Tanpa di sadari air mata mulai menetes di wajah Michelle.
Sontak Brian menghapus air mata ibunya dan berkata, "Jangan samakan aku dengan pak tua itu. Walaupun aku dendam pada kalian, tapi aku tidak bisa melihatmu menangis ibu. Dia mungkin bisa mencampakkan aku, tapi katakan pada si pak tua itu, jika dia berani menyentuh ibuku, maka aku tidak akan tinggal diam." Ucap Brian dengan tegas.
Michelle kemudian menangis sejadinya di pelukan sang anak. Dia tidak menyangka bahwa hubungan keluarganya akan menjadi retak seperti ini. Ayahnya Brian adalah seorang yang penggila bisnis, dia sangat tegas dalam mengambil setiap tindakan, tapi karena sikapnya itu dia sampai lupa membedakan antara kasih sayang dan juga disiplin.
Hal itu membuat Brian kekurangan rasa kasih sayang seorang ayah, dari kecil dia terpaksa harus menuruti semua yang di katakan sang ayah, walaupun ayahnya bermaksud ingin menjadikannya sebagai orang yang hebat tapi itu semua bertentangan dengan keinginannya.
Setelah beranjak dewasa Brian akhirnya mengerti kalau ayahnya sudah mendidiknya dengan sistem militer, hal justru berbalik menentang ayahnya sendiri. Dia bisa menerima dirinya di perlakukan layaknya seorang prajurit, tapi dia tidak bisa melihat ibunya di menangis setiap malam, Brian semakin kesal pada ayahnya sehingga muncul pertikaian antara mereka.
Akhirnya, Michelle memutuskan untuk memisahkan sementara ayah dan anak itu supaya mereka bisa meredam pertikaian. Karena Michelle tahu bahwa ayahnya Brian mungkin orang yang keras tapi dia juga pasti tidak ingin kehilangan putranya, setelah mereka merasakan bahwa betapa sakitnya tinggal jauh satu sama lain, mungkin itu akan menyadarkan ayah dan anak itu.
Keesokan paginya, Michelle harus berangkat pagi-pagi sekali karena pesawatnya akan terbang jam tujuh. Dia mulai berjalan keluar dan terlihat pak Siman suaminya mbok ratih sudah menunggunya, sebelum pergi dia berpamitan pada mbok Ratih.
"Mbok tolong jaga Brian, ini mungkin akan sedikit merepotkan untuk simbok." Ucap Michelle dengan lembut.
"Gak perlu khawatir nyonya, tuan muda akan aman bersama kami." Jawab mbok Ratih dengan sopan.
"Terima kasih mbok, tapi Brian itu bukan seperti anak biasa, simbok mungkin akan sedikit kesulitan menghadapinya."
"Maksud nyonya?"
"Aku ingin menjelaskan tiga pantangan Brian, pertama dia tipe anak yang mandiri jangan pernah menyentuh barang-barang miliknya, dia juga tidak ingin di bantu dalam melakukan suatu hal. Yang kedua, jangan pernah menyiapkan makanan secara terlambat jika tidak dia mungkin akan memasak sendiri di dapur dan itu akan sangat berakibat fatal nantinya. Dan yang ketiga, ini adalah larangan yang paling besar jangan pernah mengunci pintu saat Brian pulang larut."
Mbok Ratih sampai mencatat setiap detail dari larangan yang di jelaskan oleh Michelle, dia tidak ingin sampai melupakan sesuatu dan membuat kesalahan nantinya.
"Sebenarnya ada beberapa hal lagi tapi hanya itu yang paling penting untuk tidak di dilanggar, dan oh ya jangan pernah sebut ayahnya di Brian." Ucap Michelle dengan tampang serius.
"Siap mengerti nyonya, saya tidak akan mengecewakan nyonya." Ratih mengangkat tangannya dan memberi hormat pada Michelle.
"Ini ada sedikit uang untuk keperluan beberapa bulan kedepan," Michelle memberikan amplop tebal yang berisi uang yang sangat banyak. "Jika ini habis seperti biasa saya akan mentransfer ke rekening simbok, ok."
Ratih merasa uang yang di berikan Michelle agak berlebihan. Tapi dia tidak bisa menolak mengingat tuan muda Brian juga tinggal bersamanya mulai sekarang. Jadi dia mungkin akan sedikit harus lebih loyal untuk memenuhi kebutuhan tuan muda Brian.
Michelle kemudian menarik kopernya dan berjalan menuju mobil, pak Siman sudah membukakan pintu dan mempersilakan Michelle untuk masuk.
"Silahkan nyonya." Ucap Siman sembari tersenyum sopan.
"Terima kasih pak." Michelle hendak duduk tapi tiba-tiba Ratih memanggilnya.
"Nyonya apa tidak mau berpamitan dengan tuan muda terlebih dahulu." Teriak Ratih dari teras.
"Dia masih tidur, dia tidak bisa di ganggu jika sedang tidur, karena itulah aku sudah berpamitan padanya malam tadi." Ucap Michelle kemudian duduk di kursi mobil.
Mendengar hal itu Ratih mengangguk dan mulai melambaikan tangannya pada Michelle.
Dengan perasaan sedih Michelle terpaksa meninggalkan putra tercintanya disini, dia menatap kamar Brian yang berada di lantai atas dari kaca mobil. Air matanya mengalir seketika, tentu saja berat bagi seorang ibu untuk tinggal jauh dari putranya.
"Brian, ibu harap kau dan ayahmu bisa berubah setelah ini." Ucap Michelle dengan ekspresi yang penuh arti. "Jalan pak!"
Pak siman segera menyalakan mobil dan beranjak pergi meninggalkan mansion kediaman keluarga Cody.
Terlihat dari jendela Brian menatap kepergian sang ibu, ekspresinya datar namun sebenarnya di dalam hati dia juga merasakan kesedihan karena berpisah dengan ibunya, memang Brian tidak pernah menunjukan kasih sayangnya pada sang ibu, namun jika sesuatu terjadi pada ibunya makan Brian akan menjadi tameng yang siap melindungi ibunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Dewi Payang
Kasian juga Brian🤔
2022-09-05
0