Di sepanjang perjalanan menuju kampus, Zoya sesekali melirik ke arah tuan mudanya yang arogan itu. Sejenak dia berfikir, apa yang membuat Brian begitu arogan. Apa semua yang memiliki status sosial tinggi memang selalu bersifat seperti Brian.
"Kenapa kau menatapku begitu?"
Brian ternyata sadar bahwa sedari tadi Zoya sedang memperhatikannya dengan seksama. Telah banyak wanita yang di temui Brian, hanya Zoya lah yang mampu membuat Brian bertanya seperti itu. Biasanya dia hanya cuek dan mengabaikan setiap wanita yang ingin mendekatinya, tapi entah kenapa dia merasa ada medan magnet yang begitu kuat membuat Brian terus menempel pada Zoya.
"Aku hanya bingung pada sikapmu, hanya karena mobil, waktu itu kau tidak mau diantar ayahku."
Zoya mengatakan itu karena masih tidak terima waktu itu Brian mengabaikan ayahnya yang mau berbuat baik. Jika memang Brian tidak mau di antar, seharusnya dia bisa menolak dengan cara yang baik-baik.
"Apakah itu penting bagimu?"
"Tentu saja, dia adalah ayahku, aku tidak terima dia di perlakukan seperti itu."
Zoya berkata dengan nada yang agak tinggi. Dia melupakan kalau status Brian sebagai tuannya, karena baginya sopan santun kepada orang yang lebih tua itu lebih penting.
Brian menaiki salah satu alisnya dan berkata dengan nada dingin, "Dasar cerewet!"
Sampai saat ini pun Brian masih saja bersikap begitu. Rasanya ingin sekali Zoya meremas wajah tuan muda itu. 'Angkuh, arogan, sombong, tidak tahu julukan apalagi yang akan di buat Zoya.'
Setelah sampai di kampus Zoya sengaja minta diturunkan di depan pintu gerbang agar murid yang lain tidak melihatnya. Tidak tahu gosip apa yang mungkin akan beredar jika mereka melihat Zoya bersama dengan Brian.
Seperti biasa, semua orang terkesiap saat melihat Brian keluar dari mobilnya. Semua murid yang ada di Leighton University berasal dari keluarga kalangan elit. Tapi siapa coba yang membawa Roll Royce ke kampus, mobil itu melambangkan kebangsawanan yang sebenarnya. Setinggi-tingginya status para mahasiswa yang ada di Leighton, mereka hanya mengendarai mobil sport seperti Ferrari dan sebagainya.
Setelah beberapa saat bel berbunyi semua murid pun berbaris di lapangan dengan rapi sambil menyanyikan lagu kebangsaan. Terlihat Zoya sedang menatap Trisha yang berada tidak jauh di depannya. Seketika ingatan masa lalu yang mereka habiskan bersama melintas di dalam benak Zoya.
Kenapa Trish, kau melupakan semua yang telah kita lewati bersama. Kau tega mengkhianati persahabatan kita.
Zoya melamun dengan penuh arti, tidak tahu dia harus bersedih, kecewa ataupun juga kesal. Hatinya begitu sakit seperti di tusuk oleh ribuan jarum. Dan tiba-tiba Brian muncul di samping Zoya.
"Dia masih menghantui mu."
"Kau... hufff, justru yang terus menghantuiku adalah kau. Kau terus bermunculan di mana-mana seperti seperti Virus."
Brian tidak membalas dan memalingkan pandangannya dari Zoya.
Tidak lama setelah selesai menyanyikan lagu nasional, seorang pria paruh baya menaiki podium yang ada di lapangan. Dia adalah Rektor dari Leighton University Tuan Abraham Cody.
Ya, Abraham juga menyandang nama Cody. Karena dia adalah saudara kandungnya Alexander Cody. Cody Famili memang terkenal sangat luar biasa di seluruh Neosantara, mereka tidak hanya bergerak di bidang bisnis, tapi juga pendidikan, dan pemerintahan.
Tapi dengan menyandang nama Cody tidak membuat Brian merasa berarti di dalam keluarganya. Dia sangat membenci ayahnya yang selalu saja menginginkan Brian menjadi orang yang diinginkan ayahnya.
Karena itulah, Brian sengaja masuk ke kampus ini dengan menyembunyikan identitasnya. Dia merasa sangat enggan mengekspos nama Cody itu. Bahkan Zoya sendiripun tidak di beritahu oleh kedua orang tuanya identitas asli dari Brian.
"Good Morning Students." Sapa nya dengan penuh semangat.
"Good Morning Sir." Para murid menjawab dengan penuh semangat jua.
"Baiklah, saya akan mengumumkan tim pertama yang akan mengikuti kompetisi olahraga tahunan adalah..." Tiba-tiba Abraham berhenti di tengah kalimat.
Kemudian seorang wanita berpenampilan rapi yang berdiri di samping Abraham berbisik padanya. "Tim Elang."
"Yah Tim Elang." Sambung Abraham kembali.
Semua para murid bertepuk tangan dengan riuh. Brian sebagai mahasiswa baru tentu tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Dia mau tak mau bertanya pada Zoya yang ada di sampingnya.
"Kompetisi olahraga tahunan? Apa itu?"
"Dasar payah, kemarin sudah aku jelaskan padamu bukan. Kompetisi ini adalah ajang memperebutkan martabat sebuah Universitas."
"Martabat?"
Kemudian Abraham kembali melanjutkan pidatonya, dia juga mengambil sebuah medali emas yang di bawakan wanita tadi.
"Dan orang yang akan memimpin tim elang adalah..."
"Vince... Vince Lauren." wanita tadi berbisik lagi pada Abraham. Sepertinya Abraham memang menderita penyakit hilang ingatan sesaat.
"Yah aku tahu," ucapnya, "Vince Lauren."
Suara tepuk tangan kembali bergemuruh, semua murid bersorak sorai mengumandangkan nama Vince. Hanya Zoya saja yang enggan menyebut nama itu. Telinganya berasa sangat terganggu karena mendengar nama itu. Sedangkan Brian dia terus memperhatikan dengan seksama, kedua alisnya menyatu saat melihat seorang pria jangkung menaiki podium.
Pria itu memiliki postur tubuh yang atletis, wajahnya juga tidak kalah tampan dengan Brian. Dia adalah Vince Lauren the King of School. Abraham mengalungkan medali emas ke leher Vince, semua murid tampak sangat respect pada pencapaian Vince.
"Selamat pada Vince, dia tak hanya menaikkan martabat Universitas kita, tapi dia juga sudah dua kali mendapatkan gelar King of School."
Brian yang sedari tadi memperhatikan, sedikit menyipitkan matanya menatap Vince. Ternyata pria itu memang memiliki aura seorang pemenang.
"Jadi dia Vince." ucap Brian.
"Yah, bukankah dia karakter yang luar biasa." lirih Zoya.
Vince memang orang yang hebat tapi, Zoya sudah tahu sifat asli Vince. Pria itu sangat berambisi, dia tidak bisa menerima kekalahan. Karena itulah dia akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya.
"Tapi ini baru tim pertama, tahun ini penyelenggara kompetisi Champion of University, memberikan dua slot tim yang bisa bergabung. Karena itulah aku memberikan kesempatan pada murid Leighton University yang lain untuk membentuk tim yang kedua. Dengan begitu kita memiliki peluang yang lebih besar agar Unversitas kita bisa membawa piala Champions of University untuk yang ketiga kalinya."
Semua murid sejenak terdiam mendengar apa yang di utarakan oleh pak Rektor. Tapi kemudian Vince mengangguk pada timnya yang ada di lapangan untuk segera bertepuk tangan. Sontak para mahasiswa yang lain pun ikut bertepuk tangan kembali. Vince kemudian dengan tampang yang angkuhnya turun dari podium dan berbaris kembali bersama dengan para timnya.
Terlihat di sana juga Trisha memandangi kekasih barunya itu dengan penuh kagum. Sedangkan Zoya tampak murung, wajahnya menjadi gelap seperti malam. Semua murid dan dewan kampus benar-benar memberikan apresiasi tinggi pada Vince.
Melihat semua itu Brian semakin mengerti, ternyata kampus ini benar-benar telah di kuasai oleh pria itu. The King of School, Vince Lauren.
.
.
.
Semua setting tempat, waktu dan nama tokoh di atas hanyalah imajinasi author saja. Jika ada kesamaan maka author mohon izin dan jangan diambil hati 🥰.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments