"Aku tidak bisa mengajarimu, menari itu tidak mudah apa kau mengerti?"
Zoya kemudian berdiri dari sofa dan menatap Brian dengan sangat serius.
"Dengar nona cerewet, ada pepatah mengatakan. 'Kalau latihan akan membuat semuanya menjadi lebih baik.' Aku yakin Vince yang ingin kau menjadi pasangannya pasti punya alasan, kau sangat hebat dan berbakat benarkan?"
Sekali lagi Zoya termenung sesaat sembari memegangi keningnya. Kenapa tuan arogan ini sangat pandai memainkan kata-kata. Benar Zoya memang berbakat, tapi bagaimana dengan Brian. Apakah dengan latihan saja cukup membuatnya untuk bisa mengalahkan Vince the King of School.
"Baiklah-baiklah, besok! Jika kau memang berniat, maka ikutlah denganku besok." seru Zoya dengan tegas.
"Baik, dengan senang hati." jawab Brian sambil sedikit menyunggingkan sudut bibirnya.
Setelah itu Zoya langsung pergi meninggalkan kamar Brian sambil terus memegang kepalanya. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, mundur dari kompetisi itu salah, kalau pun maju juga salah, apa mungkin mereka memiliki peluang untuk menang?
Tak lama Zoya keluar Brian mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo Brian, ada apa nak?" Terdengar suara Michelle dari seberang telfon.
"Ibu, aku tidak mengganggu, kan?" tanya Brian dengan nada pelan.
"Tidak sama sekali, justru ibu senang kau menelepon, apa kau sakit?"
Michelle mulai sedikit khawatir mendengar cara Brian yang sedikit lembut, tidak biasanya Brian bicara seperti itu.
"Tidak ibu, aku hanya ingin menanyakan pendapat ibu, apa aku bisa menari?"
Sejenak Michelle terdiam kenapa putranya menelfon hanya untuk menanyakan hal semacam itu. Dia ingin menjawab, kalau Brian bukan hanya tidak bisa menari, tapi dia buruk dalam hal itu. Dari kecil dia mengenal putranya, Brian adalah orang yang kaku. Tapi dia tidak akan mengatakan hal yang mungkin akan menyakitkan perasaan putranya.
"Tentu saja nak, apa kau ingat semasa TK dulu?" Michelle mencoba mengingatkan Brian.
"Yah aku menghancurkan seisi panggung." jawab Brian, ekspresinya terlihat murung.
"Eee, bukan begitu Brian."
Michelle menepuk jidatnya karena menyesal mengingatkan Brian dengan masa lalu itu.
"Begini nak! Ibu tidak tahu mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini, tapi ibu hanya bisa bilang percayalah pada dirimu sendiri."
"Yah ibu aku mengerti."
Seperti biasa Brian langsung mematikan telfon tanpa berpamitan. Sepertinya dia masih kesal kepada kedua orang tuanya, dia menelfon tadi pun hanya untuk membangkitkan rasa percaya dirinya.
Tapi sepertinya dia salah, seharusnya dia tidak menantang Vince tadi. Brian merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamarnya.
Dasar payah, kenapa aku mendaftarkan diri tadi, harga diriku bisa hancur kalau begini, lagi pula apa yang coba aku buktikan padamu, Zoya Amanda.
Jauh di lubuk hati terdalam Brian, dia benar-benar sangat merasa kesepian selama ini. Setelah bertemu dengan Zoya, dia merasakan sesuatu yang aneh. Tidak tahu mengapa wanita itu justru membuat dia melakukan hal-hal yang aneh.
...
Pagi hari.
Di dapur terlihat Zoya sedang asik meracik cabai dan bawang sambil mendengarkan musik. Saat ini dia mengenakan pakaian ala koki restoran bintang lima. Zoya ternyata cukup pandai juga dalam memasak, terlihat bagaimana cara dia meracik cabe dan bawang itu dengan sangat cepat. Skillnya memang tidak kalah dengan koki asli. Hanya satu kurangnya, Zoya cuman bisa memasak makanan yang berminyak dan instan saja. Seperti saat ini, dia hendak memasak mi goreng.
Tidak lama kemudian terlihat Brian menuruni tangga sembari memperbaiki kancing kemejanya. Dia terlihat sangat tampan dan rapi seperti orang mau kondangan.
"Eh tuan muda, sudah rapi aja pagi-pagi." Sapa mbok Ratih dengan senyuman ramah, terlihat dia sedang membersihkan meja makan.
Tapi Brian tidak menjawabnya, dan malah menyipitkan mata saat melihat meja makan masih kosong.
"Dimana sarapanku?" Tanya Brian dengan nada dingin.
"Eh anu tuan, masih di buatkan Zoya. Tadi saya yang mau masak, tapi katanya tidak usah karena dia yang mau masak." Jawab mbok Ratih dengan sedikit perasaan cemas, dia masih ingat dengan apa yang di katakan Michelle, kalau tuan muda tidak suka makan terlambat. Jika sampai terlambat maka tuan muda sendiri yang akan turun tangan untuk memasak.
Brian melirik arlojinya dan merasa sedikit kesal, dia tidak suka orang yang tidak tepat waktu. Karena itu lah dia selalu bergerak dengan cepat. Akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi ke dapur.
"Tuan, tuan jangan masak sendiri," mbok Ratih langsung menghadang jalannya Brian, "maksudku, biar aku saja yang menyuruh Zoya agar cepat menyelesaikan masakannya."
"Tidak usah, bibi tunggu di sini saja, jangan kemana-mana." Seru Brian dengan ekspresi datar.
Dengan patuh mbok Ratih diam mematung di dekat meja makan sembari memegangi serbet. Saat ini dia mulai jadi khawatir, entah apa yang akan di lakukan tuan muda di dapur. 'Mana lagi ada Zoya di sana, mereka pasti akan bertengkar lagi,' pikirnya.
Saat Brian memasuki dapur dia mengerutkan keningnya melihat Zoya memasak sambil mendengarkan musik.
"Ehem, apa kau sudah selesai?"
Tapi karena earphone yang menempel di telinga, Zoya sama sekali tidak bisa mendengar Brian, dia bahkan tidak menyadari kalau Brian ada di sana. Zoya malah melenggak-lenggokkan kepala dan pinggulnya karena terlalu asik mendengarkan musik.
Melihat itu Brian menggelengkan kepalanya, dia menjadi tidak sabaran dan segera berjalan menuju kulkas dan mengambil sebutir telur. Kemudian dia ambil wajan dan dengan segera meletakkannya ke atas kompor.
Zoya memutar kepalanya kesamping secara perlahan saat melihat Brian yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Zoya yang melongo melihat aksi Brian, akhirnya berhenti menari dan melepas earphone nya.
"Hei, hei, tuan arogan apa yang kau lakukan." Tanya Zoya sembari mengacungkan telapak tangannya ke arah Brian.
Tapi Brian tidak menghiraukan Zoya dan segera menghidupkan kompor, lalu dia memecah telur dan melambungkannya ke atas wajan.
Sontak Zoya langsung mendekati Brian dan hendak menghentikannya, "Hei apa ini kau belum menaruh minyaknya, bahkan wajannya saja belum panas."
"Diam! Aku tahu apa yang aku lakukan." ucap Brian dengan tegas.
Zoya langsung tersentak kaget, tidak pernah dia melihat Brian begitu marah. Zoya pun melipat kedua tangannya dan terus memperhatikan tingkah laku Brian.
Brian mendengus kesal dan membuang pandangannya dari Zoya. Dia kemudian memasukan minyak goreng kedalam wajan itu. Bungkus minyak goreng satu kilo itu terbuka terlalu lebar, tanpa sengaja Brian menumpahkan semua minyak ke wajan bahkan sampai wajannya jatuh dan mengenai pakaian Brian.
"Hah..."
Zoya sampai mundur selangkah, dia benar-benar terkejut melihat petaka itu. Zoya menutup mulutnya yang menganga dengan tangan kanannya dan menatap wajan yang jatuh ke lantai, minyak goreng tadi juga berceceran di lantai. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya kembali pada Brian, seketika dia langsung terkekeh melihat kekonyolan yang di lakukan si tuan muda arogan.
"Hahaha, apa begini caramu memasak?"
Zoya benar-benar tidak bisa menahan rasa geli di perutnya, dia tertawa begitu lepas.
"Lihat... lihat dirimu, sudah rapi begitu. Sekarang malah penuh dengan minyak goreng, hahaha."
Brian terlihat sangat kesal mendengar ejekan dari Zoya, kedua sudut bibirnya melengkung ke bawah. Kemudian dia memperhatikan sekujur tubuhnya dari atas sampai bawah, semuanya benar-benar sudah penuh dengan minyak.
"Kau..." Brian mengacungkan telunjuknya ke arah Zoya, "apa yang lucu, ini semua gara-gara dirimu yang lelet menyiapkan sarapanku." ucap Brian dengan kesal.
Zoya kemudian langsung terdiam sejenak, tapi dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya.
"Haha, dasar tuan muda arogan, sekarang aku mengerti mengapa tante Michelle tidak mengizinkanmu ke dapur." ejek Zoya sekali lagi.
Mendengar keributan yang terjadi di dapur, mbok Ratih akhirnya pergi untuk mengintip kesana. Betapa terkejutnya dia saat melihat area dapur yang sudah kacau balau.
"Astaga Zoya apa yang terjadi."
"Kenapa ibu tanya padaku, tanyakan saja pada chef Brian kita, haha."
Brian menjadi sedikit malu sekarang, dengan segera dia hendak pergi dari sana. Tapi pada saat dia melangkah, tiba-tiba dia terpeleset dan hampir jatuh ke lantai. Untung saja dia bergantung pada meja dapur.
Sekali lagi Zoya yang melihat itu kembali terkekeh, "Haha, cukup tuan muda. Kau bisa membuatku mati tertawa."
"Ssst, Zoya cukup." seru mbok Ratih yang segera hendak menolong Brian.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
Brian kemudian berdiri tegak kembali dan segera pergi dari kekonyolan yang telah ia buat di dapur.
Zoya dan ibunya mengintip dari dapur untuk menatap punggung Brian yang menaiki tangga. Zoya benar-benar tertawa dengan puas. 'Akhirnya karma datang juga pada tuan muda arogan itu.'
"Sudahlah Zoya, itu tidak lucu. Cepat siapkan makanannya."
"Haha, baik ibu."
Zoya mengangguk ringan dan kembali memasak dengan sambil terus menahan rasa geli di hatinya.
Dasar tuan muda arogan, atau aku ubah aja menjadi tuan muda konyol, hahaha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments