Zoya terus menatap Brian yang masih saja rebahan di sofa dengan kakinya yang menyilang. Jika di lihat Brian memang sangat tinggi, sofa itu bahkan tidak cukup panjang untuk menampung tubuhnya.
"Ck, dia masih saja bertingkah sok keren..." Gumam Zoya, salah satu sudut bibirnya terangkat melihat Brian yang masih saja santai seperti tak memperdulikan keadaan sekitarnya.
"Brian, ayo minta maaf sama Zoya, bukankah kau tadi yang membuat dia terjatuh sehingga tangannya lecet." Michelle mencoba membuat putranya untuk menjadi pria yang bertanggung jawab.
"Nggak!" Jawaban Brian terdengar singkat dan padat, dia sama sekali tidak peduli dengan perkataan ibunya. Dengan santai dia terus menggoyangkan kakinya dan menatap langit-langit ruangan.
Melihat sikap Brian yang benar-benar kurang ajar pada ibunya sendiri, membuat Zoya tidak bisa menahan mulutnya yang dari tadi ingin mengucapkan sesuatu.
"Dasar lelaki tidak punya sopan santun, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu pada ibumu, kau..."
Zoya ingin terus mengomeli Brian tapi Ratih memegang bahu putrinya agar berhenti.
"Zoya, dia adalah tuan muda dari keluarga Cody. Kau tidak boleh bicara seperti itu." Mbok Ratih kemudian menjelaskan tujuan dan maksud kedatangan Brian dan ibunya kesini.
"Tuan muda datang dari ibu kota dan akan tinggal bersama dengan kita mulai sekarang, dia akan melanjutkan studinya disini." Jelas Ratih dengan lembut, agar Zoya bisa mengerti.
Zoya menatap ke arah Michelle dan berkata, "Jadi bibi adalah nyonya besar pemilik rumah ini."
Michelle tersenyum manis dan mengangguk ringan pada Zoya. Tentu saja dia terlihat sangat ramah pada putri pembantunya karena dulu dia pernah menggendong Zoya di rumah ini saat masih kecil.
"Mbok, sekarang Zoya sudah besar ya, dia tidak hanya terlihat cantik tapi dia juga penuh dengan sopan santun." Pujian Michelle itu mulai memancing perhatian Brian. Lelaki itu mulai melirik mata ibunya dengan tajam. Tak pernah sekalipun dia mendengar pujian seperti itu terhadap dirinya.
"Heh..." Brian mendengus sambil memejamkan matanya mencoba untuk tidak peduli.
"Terima kasi nyonya. Oh iya, tuan muda kelihatannya sangat lelah karena perjalanan jauh, kalau begitu lebih baik tuan muda beristirahat di kamar yang sudah kami siapkan di atas." Mbok Ratih mencoba menyarankan pada Brian dengan sangat ramah.
Bahkan terhadap ibunya Zoya pun, Brian masih bersikap acuh tak acuh. Melihat hal itu membuat Zoya semakin geram sekali dan menggertakkan giginya dengan keras.
"Zoya, bawakan koper tuan muda ke atas, dan tunjukan kamarnya." Seru mbok Ratih.
Dengan penuh rasa enggan Zoya berjalan menuju Brian tanpa memalingkan sedikitpun pandangannya. Tatapan mata Zoya bagaikan elang yang siap memangsa.
Sebelum Zoya bisa menggapai koper yang ada di dekat sofa Brian, dia kaget melihat Brian bangkit dari sofa dan secepat kilat menyambar kopernya.
"Aku bisa membawanya sendiri." Ucap Brian dengan nada dan ekspresi yang datar. Dia sama sekali tidak ingin menatap Zoya dan memilih untuk membuang pandangannya.
Bahkan Zoya yang ingin bersikap baik pada Brian tidak membuat lelaki itu membuang sifatnya yang sangat arogan.
Ini pertama kalinya Zoya menemui lelaki yang begitu sombong seperti Brian. Ingin sekali rasanya dia berkata-kata tapi dia mengingat kalau ibunya Brian juga ada disitu, jadi dia menelan semua kata-katanya kedalam hati.
"Tunjukkan saja padaku di mana kamarnya." Seru Brian dengan tampang acuh tak acuh.
Zoya tidak menjawab dan menatap sinis wajah Brian, dia kemudian berjalan menaiki tangga menuju ke kamar utama yang terletak di lantai atas.
Rumah itu sangat besar dan megah, banyak sekali hiasan vas dan lukisan mewah yang memenuhi sudut ruangan. Gaya bangunannya juga cukup elegan seperti ala eropa. Hentakan kaki terdengar sangat lantang saat mereka menginjak lantai marmer itu.
Brian terus berjalan mengikuti Zoya seperti anak itik. Dia menatap punggung Zoya dari kejauhan dan tak sengaja dia mulai memperhatikan seluruh tubuh Zoya dari atas rambut hingga ujung kaki. Seketika Brian mencoba untuk membuang pandangannya terhadap gadis bertubuh mungil yang ada di depannya. Brian tipe orang yang tidak mau tertarik dengan mudah pada seorang wanita.
Karena dia memalingkan pandangannya, Brian sampai menabrak tubuh Zoya yang tiba-tiba saja berhenti. Karena tubuh Zoya sangat mungil, membuat gadis itu terpental saat di tabrak tubuh Brian yang setinggi tiang tower.
"Haaaah," Teriak Zoya yang hendak tersungkur ke depan.
Tap.
Namun kali ini Brian dengan reflek menangkap tangan Zoya yang hampir terjatuh ke lantai.
"Kenapa kau tiba-tiba berhenti di tengah jalan tanpa memberi peringatan." Ucap Brian dengan nada datar sembari menarik Zoya kembali berdiri tegak. Dengan segera dia juga melepaskan tangannya dari gadis itu.
"Kau melakukannya lagi, apa kau kira aku ini sebuah kendaraan yang jika berhenti itu harus ada lampu peringatan begitu, heeeeeh!" Zoya mengomel dengan penuh rasa kesal.
Bukannya merasa bersalah Brian malah menyalahkan Zoya. Dia sama sekali tidak menghiraukan perkataan Zoya dan memalingkan wajahnya ke samping.
Zoya sudah muak sekali melihat sikap Brian dan segera membuka pintu kamar yang ada di hadapan mereka. Sangking kesalnya Zoya mendorong pintu itu dengan sangat keras hingga terbentur di dinding.
Dan terlihat ruangan kamar yang begitu besar dan di penuhi dengan berbagai barang-barang mewah. Lemari dan kasurnya jelas terlihat sangat elit. Jika di nilai secara kasat mata semua isi kamar itu bisa mencapai puluhan juta.
Semuanya sudah tersusun dengan sangat rapi dan simetris. Seperti yang di katakan ibunya, kalau tamu penting yang akan tinggal di kamar ini sangat tidak suka kalau keadaan kamarnya dalam bentuk yang acak. Karena itu butuh memakan waktu yang agak lama untuk menyiapkan kamar itu.
"Ini kamarmu..." Zoya terlihat acuh tak acuh juga.
Melihat semuanya sudah tersusun rapi, akhirnya Brian mulai melangkah untuk memasuki kamarnya. Tapi Zoya merentangkan tangannya dan menghalangi jalan Brian.
"Eits, tunggu dulu. Kau tidak boleh masuk begitu saja, apa kau tahu aku sudah menyiapkan kamar ini dengan susah payah, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau aku melakukannya untuk orang sepertimu." Zoya tampak menyesal.
"Apa maumu?" Tanya Brian dengan nada dingin.
"Sejenak aku berpikir bahwa mungkin orang yang akan tinggal di kamar ini mengidap penyakit OCD, tapi ternyata aku salah," Zoya menatap Brian dengan tajam. "jika aku tahu aku melakukannya hanya untuk orang tidak waras sepertimu maka aku lebih baik membereskan kotoran kucing saja."
Brian tidak merubah ekspresi wajah datarnya, dia menatap mata serius mata gadis yang setinggi bahunya itu. Baru kali ini juga Brian bertemu dengan seorang yang tidak mau tunduk padanya.
"Bagus kalau begitu pergilah dan buang kotoran kucing saja." Brian melangkah maju sembari menarik kopernya.
Sontak Zoya minggir karena tidak mau di tabrak lagi oleh tubuh raksasa itu.
"Hey, bukannya berterima kasih, malah masuk seenaknya saja, kau juga seharusnya minta maaf karena sudah dua kali menabrakku." Seru Zoya sembari menghentakkan kakinya ke lantai karena merasa sangat kesal.
"Bukan salahku, seharusnya kau berjalan pakai mata." Ucap Brian saat menoleh ke belakang dan segera menutup pintu kamar.
Zoya dengan penuh amarah hendak menggedor pintu itu tapi dia menahan kedua tangannya untuk melakukan itu.
"Eeeeee, dasar. Jalan tuh pakai kaki bukan pakai mata." Zoya menendang pintu kamar Brian kemudian berbalik pergi dengan perasaan yang begitu kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Diana Silaen
hati" Brian nanti bucin 🤣🤣🤣
2024-06-13
0
Dewi Payang
Wah Brian, dingin amat sih kamu🤔
Ku beri bunga mawar, favorite juga sebagai salam perkenalan buat kak author spy tetep semangat up episode terbarunya😊🙏
2022-09-05
0