Setelah menyelesaikan mata kuliahnya hari ini, Zoya ingin pergi ke gedung auditorium untuk latihan dance seperti biasanya. Walaupun dia tidak bisa mengikuti kompetisi dance itu lagi, setidaknya dia masih bisa terus berlatih kan?
Di dalam ruangan besar nan megah itu terdapat puluhan murid sedang latihan. Sepertinya mereka semua adalah peserta yang akan mengikuti kompetisi. Terlihat di sana ada juga Trisha yang sedang berada di atas panggung dengan mengenakan pakaian dancenya.
Zoya kemudian memasuki ruangan secara perlahan, dia merasakan ada yang aneh. Semenjak dia memasuki ruangan itu, dari tadi semua orang terus saja memandanginya. Zoya pun kebingungan, mengapa semua orang menatapnya seperti sedang melihat sampah.
Tak lama kemudian, Trisha pun menyadari kehadiran Zoya. Segera dia melompat turun dari panggung dan mulai berjalan dengan angkuhnya mendekati Zoya. Sikap Trisha tidak seperti biasanya, ini benar-benar berbeda dengan Trisha yang selama ini Zoya kenal.
"Sedang apa kau disini Zoya?!"
Dengan menyilangkan kedua tangannya Trisha menatap Zoya dengan cemoohan.
"Trish, aku kemari...."
Trisha mengangkat telapak tangannya ke udara dan menghentikan Zoya yang ingin berbicara. Betapa angkuhnya wanita itu sekarang, bahkan Zoya hampir tidak mengenali siapa sebenarnya yang berdiri di depannya saat ini.
"Apa kau masih tidak mengerti dengan perkataan ku kemarin Zoya? Kau sudah tidak di terima lagi di sini!"
"Trish apa maksudmu?"
"Apa kau tuli? Kami di sini tidak memberi amal untuk orang sepertimu, benarkan guys."
Tidak disangka Trisha berkata seperti itu, dia sengaja menghina Zoya di depan orang-orang.
"Apa kau pikir aku tidak tahu Zoya, kau itu hanyalah seorang penipu."
Zoya semakin tidak mengerti dengan ucapan Trisha. Dari tadi dia terus dihina, tapi dia masih diam dan menahan emosinya.
"Penipu? Trish, aku tidak tahu apa masalahmu tapi jangan sampai melewati batasan."
Zoya mengacungkan jari telunjuknya ke arah Trisha dan memberi tatapan yang mengancam.
"Heh, Zoya kami semua sudah tahu. Aku tidak ingin ada anak dari pembantu murahan sepertimu diantara kami. Leighton hanya tempat orang-orang kaya bukan pembantu."
Mendengar ejekan dari Trisha membuat Zoya semakin geram. Dia meremas jemarinya hingga pucat. Terlihat api menyala-nyala di mata Zoya. Sahabatnya yang paling dia percaya kini benar-benar sudah keterlaluan.
"Cukup Trish, jaga mulutmu itu atau aku..."
"Atau apa?"
Trisha melangkah maju sedikit dan menatap dingin Zoya. Saat ini dia tampak telah mendominasi seisi ruangan itu, bahkan Zoya pun tidak bisa berkutik.
"Dasar penipu, kau berlagak sok kaya selama ini. Tapi ternyata kau hanya memamerkan kekayaan majikan ibumu saja. Kenapa aku harus takut dengan pembantu sepertimu, kami benar-benar merasa jijik melihatmu."
"Dengar Zoya, selama ini aku berteman denganmu hanya karena aku pikir kita setara, tapi sekarang aku sudah tahu. Jadi enyah lah sekarang juga dari sini, dasar anak pembantu."
Semua orang yang ada di ruangan itu juga ikut menghina, mereka menatap Zoya dengan jijik. Wanita yang begitu terkenal dengan kecerdasan dan bakatnya dalam dance. Ternyata hanyalah seorang anak pembantu.
Lantas kenapa? Apa status begitu penting untuk bagi mereka? Tentu, karena selama ini mereka merasa iri dengan Zoya. Soalnya dia sangat dekat dengan pria idaman setiap mahasiswi kampus yaitu Vince. Bagaimana bisa mereka kalah dari seorang pembantu.
Mereka pikir Zoya adalah wanita yang sangat beruntung, selain kaya, cerdas dan berbakat dia juga cantik. Tapi saat mereka mengetahui aib Zoya sebagai pembantu, maka mereka tidak sungkan ingin menjatuhkan wanita itu.
Setelah mendapat berbagai penghinaan, akhirnya Zoya tidak tahan lagi dan segera pergi dari sana dengan perasaan yang teramat kesal. Benar-benar tidak bisa di percaya kalau Trisha tega menghinanya di depan orang banyak. Dia sama sekali tidak terima ibunya di hina, tapi dia juga tidak bisa melawan mereka semua. Sesaat dia berfikir kenapa dunia ini selalu memandang status agar bisa di hargai.
...
Di kursi taman kampus, terlihat Zoya duduk sambil menangis. Seperti biasa, disaat kesal begini dia selalu melampiaskannya dengan makan. Dia melahap sebuah Cup Mie dengan penuh nafsu, bahkan dia tidak lagi memperdulikan orang-orang yang melewatinya. Tidak pernah Zoya merasa kesal dan sesedih ini.
"Hiks... kau keterlaluan Trish, ku kira selama ini kita adalah sahabat." isak Zoya sembari terus makan tanpa henti.
Di tengah kesedihannya itu, tiba-tiba Zoya tersedak. Dia meraba kursinya sambil terbatuk-batuk, ternyata dia baru sadar, kalau dia lupa membeli air minum. Dia semakin panik, wajahnya sampai merah seperti cabai.
"Ya ampun, apa aku akan mati karena tersedak." ucapnya dengan panik dan terbatuk-batuk.
Seketika tiba-tiba seseorang menyodorkan sebotol air mineral padanya. Sontak Zoya mendongak ke atas dan melihat siapa sosok malaikat penyelamat itu. Dan ternyata pria itu tidak lain adalah si tuan muda arogan, Brian Cody.
Segera Zoya merampas botol mineral yang di berikan Brian dan segera meminumnya. Melihat hal itu, Brian hanya bisa menyunggingkan sudut bibirnya.
"Makanan itu tidak salah, apa kau tidak kasian melahapnya seperti hewan buas begitu." ucap Brian sambil duduk di sebelah Zoya.
Zoya tidak memperdulikan ejekan Brian, dia terus lanjut makan dengan begitu lahap. Setelah Cup Mie itu habis, dia langsung membuangnya ke tempat sampah yang ada di sampingnya.
Brian sampai menaiki salah satu alisnya saat melihat tempat sampah itu ternyata sudah penuh dengan Cup Mie kosong.
"Apa dia yang memakan semua itu?" gumam Brian.
Setelah itu Zoya menghabiskan sebotol air mineral yang di berikan Brian tadi sampai kempes. Dia kemudian menatap lurus ke depan sambil terisak-isak. Air matanya masih menetes sedikit demi sedikit.
"Ini, aku sudah bilang kan. Aku tidak suka melihat orang menangis." Brian memberikan sapu tangannya pada Zoya.
"Siapa yang menangis, mie nya aja yang terlalu pedas."
Zoya mengambil sapu tangan itu dengan cara merampasnya lagi. Kemudian dia menyeka air mata dan bibirnya yang belepotan karena kuah mie, dan sekalian juga dia membuang cairan kental hijau yang dari tadi di tarik ulurnya.
"Apa perlu aku kembalikan?"
Brian malah membuang pandangannya ke samping yang menandakan dia tidak lagi menginginkan sapu tangan yang sudah terkontaminasi itu.
"Ya sudah,"
Zoya langsung mencampakkannya juga ke tempat sampah. Setelah itu dia menyandar di kursi dengan tangan terlipat. Sejenak suasana hening seketika. Penghinaan tadi masih tidak bisa lepas dari ingatannya.
"Hidup ini sangat rumit kan, nona cerewet. Terkadang orang yang kau anggap teman itu adalah musuh, dan begitu juga sebaliknya."
Mendengar Brian berkata seperti itu Zoya langsung memiringkan kepalanya dan menatap Brian dengan serius.
"Apa maksudmu?"
"Kau sangat naif nona cerewet, kukira kau sangat cerdas tadinya."
"Maafkan aku tuan arogan, saat ini aku benar-benar tidak ingin berdebat denganmu, sungguh."
Zoya langsung membuang pandangannya karena tidak ingin meladeni Brian.
"Aku juga tidak punya waktu untuk berdebat, karena piala martabat sedang menungguku." ucap Brian acuh tak acuh.
Mendengar hal itu, sontak Zoya kembali melirik Brian lagi. Apa dia tidak salah dengar, Brian ingin membawa piala martabat.
"Apa kau bilang?"
"Kemarin aku sudah berjanji padamu bukan? Kalau aku akan mencarikan pasangan dance untukmu."
Zoya semakin bingung saja dengan perkataan Brian. "Mengapa kau selalu bicara berbelit dan setengah-setengah begini sih."
"Aku tanya padamu sekali lagi, apa kau masih ingin ikut kompetisi itu."
Zoya ingin menjawab tapi agak ragu, "Tentu tapi..."
"Kalau begitu mari ikut aku."
Lagi-lagi Brian menarik paksa tangan Zoya, dan beranjak pergi dari sana.
Ada apa dengan tuan muda arogan ini, kenapa dia suka sekali menarik-narik tangan orang.
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments