Tin....
Suara klakson mobil terus berbunyi dari tadi. Terlihat di halaman Brian menyandarkan tubuhnya di pintu mobil sembari menekan klakson. Ekspresinya benar-benar menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Mungkin karena kekonyolan yang dia lakukan di dapur tadi membuatnya merasa sedikit malu di depan Zoya.
"Kenapa dia tidak mengerti juga, aku benci menunggu." Brian menggerutu kesal.
Tidak lama waktu berselang, Zoya pun akhirnya keluar juga dari rumah. Hari ini dia berpenampilan lebih menarik dari biasanya, bahkan Brian yang bersandar di mobil tidak bisa melepaskan pandangannya dari Zoya. Dia berjalan perlahan mendekati Brian, terlihat dia sedang tersenyum tipis menatap Brian. Bukan karena apa, melainkan dia masih tidak bisa melupakan karma yang menimpa tuan muda arogan di dapur tadi.
"Kenapa kau tersenyum."
"Hei jangan ge-er, siapa juga yang tersenyum padamu."
Brian langsung masuk ke mobilnya begitu juga dengan Zoya. Seperti yang dikatakan Zoya tadi malam, dia akan membawa Brian ke suatu tempat untuk berlatih dance. Tidak tahu entah kemana Zoya ingin akan membawanya, Brian pun dengan senang hati mengikutinya. Setelah mendengar pengakuan Brian yang tidak bisa dance, Zoya hanya punya satu cara untuk menyelamatkan nasibnya yaitu mengajari Brian dari nol, itupun kalau bisa.
"Dimana kacamatamu." tanya Brian.
"Oh, iya aku lupa. Pasti ketinggalan di kamar." Zoya menepuk jidatnya.
"Apa perlu ku putar balik?"
"Tidak, tidak usah, lagi pula kita kan bukan mau ke kampus."
"Bagaimana jika nanti kau menabrak seseorang saat berjalan, jika menabrak orang sih gak masalah takutnya nanti tiang tower pun bisa kau tabrak."
Brian sengaja meledek Zoya untuk membalaskan rasa malunya tadi. Dia benar ditertawakan habis-habisan oleh Zoya tadi. Tampaknya Zoya benar-benar puas melihat Brian melakukan kekonyolan itu.
"Kau tidak perlu khawatir, mataku tidak se-minus itu tahu. Lagi pula lebih baik menabrak tiang tower dari pada mandi minyak, kan?"
Zoya malah memberi serangan balik, dia masih mengungkit kejadian tadi. Brian pun tidak mau peduli lagi dan memilih fokus mengemudi. Jika di teruskan yang ada hanya akan mempermalukan dirinya sendiri nanti.
Tidak lama kemudian mereka pun sampai ke suatu tempat. Terlihat di depan mereka berdiri sebuah gedung yang bertuliskan Dance School.
"Ayo tuan muda arogan, bukankah kau bilang ingin belajar menari."
Zoya kemudian dengan segera melangkah masuk kedalam. Sedangkan Brian masih berdiri di luar dan menatap punggung Zoya. Dia mengkedutkan keuda alisnya menunjukkan ekspresi yang serius.
"Jadi dia ingin aku belajar di sini, di depan orang-orang? Hadeh, sudahlah Brian kau harus menanggung apa yang telah kau perbuat."
Dengan rasa enggan Brian pun akhirnya memasuki gedung itu, saat ini dia siap menghadapi keputusan yang telah ia perbuat. 'Lagi pula, menari itu tidak sesulit memasak, kan?' pikirnya.
"Wow, dari mana pria tampan itu."
"Yah, dia seperti artis Hollywood."
Di dalam ruangan dance itu tidak ada satupun pria, hanya ada beberapa gadis yang saat ini menatap Brian dengan penuh kagum. Dilihat dari wajahnya sih, para gadis itu masih seperti ABG. Brian yang duduk di kursi mencoba untuk tak acuh. Tapi dia mulai merasakan sesuatu menjalar dengan cepat menuju jantungnya, karena dia akan belajar menari dengan para ABG ini. Tidak tahu entah itu perasaan canggung ataupun malu, yang pasti Brian hanya bisa pasrah.
"Di mana dia?" ucap seorang wanita paruh baya yang sedang bicara dengan Zoya.
"Itu, tapi madam, dia ini orangnya sedikit rumit. Jadi aku harap madam bisa memaklumi sikapnya nanti." ucap Zoya sambil menunjuk ke arah Brian yang di dikerumuni para ABG.
Sontak wanita paruh baya itu terkaget saat melihat wajah Brian. Dengan pakaian dancenya dia berjalan sembari melenggak-lenggokkan pinggulnya. Wanita itu berusia sekitar 35 tahun namun wajahnya masih terlihat awet muda. Mungkin menari juga berefek pada kekencangan kulit.
"Jadi kau, tak disangka ini pertama kalinya aku mendapat murid pria."
Brian mengernyitkan dahinya saat mendengar wanita itu bicara. Aksennya benar-benar terdengar sangat aneh, agak kebarat-baratan tapi lebih mirip seperti suara orang sedang pilek.
"Perkenalkan aku madam Karmel, instruktur tari di sini."
Brian kemudian menatap Zoya dengan ekspresi aneh, tak di sangka entah malapetaka apa lagi yang di bawakan Zoya pada Brian. Dengan ringan Zoya mengangguk agar Brian mau menyambut jabat tangan dari madam Karmel.
Brian akhirnya berjabat tangan tanpa mengucap sepatah katapun.
"Hohoho, bahkan tangannya pun selembut sutra, sepertinya kau tidak pernah bekerja keras ya."
Brian semakin merinding mendengar suara tawa aneh madam Karmel. Saat ini ingin sekali rasanya dia lari dari sana, tapi itu sama saja dengan tindakan seorang pengecut.
"Aku juga ingin berkenalan dengannya."
"Ya madam biarkan kami berkenalan diri dengan kakak tampan ini."
Para murid madam Karmel itu terlihat sangat bersemangat sekali ingin berkenalan dengan Brian. Melihat itu Zoya dengan segera berdiri di depan Brian sambil merentangkan tangan dan menghentikan mereka untuk mendekati Brian.
"Cukup adik-adik, mari kita mulai saja latihannya, kakak tampan sangat ingin melihat bagaimana kemampuan kalian."
Para gadis remaja itu saling menatap satu sama lain, kemudian berteriak kegirangan. Walaupun mereka tidak bisa berkenalan langsung dengan Brian, setidaknya mereka bisa menunjukkan keahlian mereka. Mungkin saja Brian nantinya akan tertarik dengan mereka.
"Benar, karena kakak tampan itu ingin belajar dengan kita, mari kita tunjukkan padanya sedikit gerakkan dasar."
Madam Karmel membawa murid-muridnya ke tengah ruangan untuk menunjukan sebuah contoh tarian pada Brian. Mereka semua berjumlah sebelas orang bersama dengan madam Karmel. Zoya pun bertepuk tangan untuk menyemangati mereka.
Sementara itu Brian segera menarik lengan Zoya, sontak Zoya kaget dan terduduk di sebelah Brian.
"Apa kau bisa berhenti menarik lenganku terus-terusan, kalau engselnya patah nanti gimana."
"Sebentar lagi akan aku patahkan otakmu itu,"
Brian menatap tajam mata Zoya, sepertinya dia benar-benar menjadi kesal sekarang. Tidak pernah dia menduga kalau Zoya akan membawanya ke sekolah menari. Ini sama saja simulasi untuk mempermalukan dirinya.
"Nona cerewet, kenapa kau membawaku kesini?" tanya Brian dengan suara berbisik.
"Apa maksudmu? Bukankah kau mau belajar menari?"
"Yah tapi hanya denganmu saja."
Zoya langsung menyatukan kedua alisnya setelah mendengar perkataan Brian yang begitu ambigu. "Hah..."
"Bukan... maksudku, bagaimana bisa aku belajar menari dari ABG-ABG ini." dalih Brian, yang mencoba memperbaiki perkataannya.
"Kau mau belajar menari kan? Jadi aku langsung membawamu kepada ahlinya, kau bisa melihat ini terlebih dahulu, kemudian keraguanmu itu pasti segera hilang, oke." ujar Zoya sambil tersenyum manis pada Brian.
Wajah Brian yang tadi terlihat kesal kini menjadi sejuk seketika melihat senyuman itu, ini pertama kalinya dia melihat senyuman yang begitu tulus.
Dia akhirnya terdiam dan mulai duduk dengan manis bersama Zoya untuk menyaksikan madam Karmel yang menari dengan para muridnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments