Bab 16

Tin....

Suara klakson mobil terus berbunyi dari tadi. Terlihat di halaman Brian menyandarkan tubuhnya di pintu mobil sembari menekan klakson. Ekspresinya benar-benar menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Mungkin karena kekonyolan yang dia lakukan di dapur tadi membuatnya merasa sedikit malu di depan Zoya.

"Kenapa dia tidak mengerti juga, aku benci menunggu." Brian menggerutu kesal.

Tidak lama waktu berselang, Zoya pun akhirnya keluar juga dari rumah. Hari ini dia berpenampilan lebih menarik dari biasanya, bahkan Brian yang bersandar di mobil tidak bisa melepaskan pandangannya dari Zoya. Dia berjalan perlahan mendekati Brian, terlihat dia sedang tersenyum tipis menatap Brian. Bukan karena apa, melainkan dia masih tidak bisa melupakan karma yang menimpa tuan muda arogan di dapur tadi.

"Kenapa kau tersenyum."

"Hei jangan ge-er, siapa juga yang tersenyum padamu."

Brian langsung masuk ke mobilnya begitu juga dengan Zoya. Seperti yang dikatakan Zoya tadi malam, dia akan membawa Brian ke suatu tempat untuk berlatih dance. Tidak tahu entah kemana Zoya ingin akan membawanya, Brian pun dengan senang hati mengikutinya. Setelah mendengar pengakuan Brian yang tidak bisa dance, Zoya hanya punya satu cara untuk menyelamatkan nasibnya yaitu mengajari Brian dari nol, itupun kalau bisa.

"Dimana kacamatamu." tanya Brian.

"Oh, iya aku lupa. Pasti ketinggalan di kamar." Zoya menepuk jidatnya.

"Apa perlu ku putar balik?"

"Tidak, tidak usah, lagi pula kita kan bukan mau ke kampus."

"Bagaimana jika nanti kau menabrak seseorang saat berjalan, jika menabrak orang sih gak masalah takutnya nanti tiang tower pun bisa kau tabrak."

Brian sengaja meledek Zoya untuk membalaskan rasa malunya tadi. Dia benar ditertawakan habis-habisan oleh Zoya tadi. Tampaknya Zoya benar-benar puas melihat Brian melakukan kekonyolan itu.

"Kau tidak perlu khawatir, mataku tidak se-minus itu tahu. Lagi pula lebih baik menabrak tiang tower dari pada mandi minyak, kan?"

Zoya malah memberi serangan balik, dia masih mengungkit kejadian tadi. Brian pun tidak mau peduli lagi dan memilih fokus mengemudi. Jika di teruskan yang ada hanya akan mempermalukan dirinya sendiri nanti.

Tidak lama kemudian mereka pun sampai ke suatu tempat. Terlihat di depan mereka berdiri sebuah gedung yang bertuliskan Dance School.

"Ayo tuan muda arogan, bukankah kau bilang ingin belajar menari."

Zoya kemudian dengan segera melangkah masuk kedalam. Sedangkan Brian masih berdiri di luar dan menatap punggung Zoya. Dia mengkedutkan keuda alisnya menunjukkan ekspresi yang serius.

"Jadi dia ingin aku belajar di sini, di depan orang-orang? Hadeh, sudahlah Brian kau harus menanggung apa yang telah kau perbuat."

Dengan rasa enggan Brian pun akhirnya memasuki gedung itu, saat ini dia siap menghadapi keputusan yang telah ia perbuat. 'Lagi pula, menari itu tidak sesulit memasak, kan?' pikirnya.

"Wow, dari mana pria tampan itu."

"Yah, dia seperti artis Hollywood."

Di dalam ruangan dance itu tidak ada satupun pria, hanya ada beberapa gadis yang saat ini menatap Brian dengan penuh kagum. Dilihat dari wajahnya sih, para gadis itu masih seperti ABG. Brian yang duduk di kursi mencoba untuk tak acuh. Tapi dia mulai merasakan sesuatu menjalar dengan cepat menuju jantungnya, karena dia akan belajar menari dengan para ABG ini. Tidak tahu entah itu perasaan canggung ataupun malu, yang pasti Brian hanya bisa pasrah.

"Di mana dia?" ucap seorang wanita paruh baya yang sedang bicara dengan Zoya.

"Itu, tapi madam, dia ini orangnya sedikit rumit. Jadi aku harap madam bisa memaklumi sikapnya nanti." ucap Zoya sambil menunjuk ke arah Brian yang di dikerumuni para ABG.

Sontak wanita paruh baya itu terkaget saat melihat wajah Brian. Dengan pakaian dancenya dia berjalan sembari melenggak-lenggokkan pinggulnya. Wanita itu berusia sekitar 35 tahun namun wajahnya masih terlihat awet muda. Mungkin menari juga berefek pada kekencangan kulit.

"Jadi kau, tak disangka ini pertama kalinya aku mendapat murid pria."

Brian mengernyitkan dahinya saat mendengar wanita itu bicara. Aksennya benar-benar terdengar sangat aneh, agak kebarat-baratan tapi lebih mirip seperti suara orang sedang pilek.

"Perkenalkan aku madam Karmel, instruktur tari di sini."

Brian kemudian menatap Zoya dengan ekspresi aneh, tak di sangka entah malapetaka apa lagi yang di bawakan Zoya pada Brian. Dengan ringan Zoya mengangguk agar Brian mau menyambut jabat tangan dari madam Karmel.

Brian akhirnya berjabat tangan tanpa mengucap sepatah katapun.

"Hohoho, bahkan tangannya pun selembut sutra, sepertinya kau tidak pernah bekerja keras ya."

Brian semakin merinding mendengar suara tawa aneh madam Karmel. Saat ini ingin sekali rasanya dia lari dari sana, tapi itu sama saja dengan tindakan seorang pengecut.

"Aku juga ingin berkenalan dengannya."

"Ya madam biarkan kami berkenalan diri dengan kakak tampan ini."

Para murid madam Karmel itu terlihat sangat bersemangat sekali ingin berkenalan dengan Brian. Melihat itu Zoya dengan segera berdiri di depan Brian sambil merentangkan tangan dan menghentikan mereka untuk mendekati Brian.

"Cukup adik-adik, mari kita mulai saja latihannya, kakak tampan sangat ingin melihat bagaimana kemampuan kalian."

Para gadis remaja itu saling menatap satu sama lain, kemudian berteriak kegirangan. Walaupun mereka tidak bisa berkenalan langsung dengan Brian, setidaknya mereka bisa menunjukkan keahlian mereka. Mungkin saja Brian nantinya akan tertarik dengan mereka.

"Benar, karena kakak tampan itu ingin belajar dengan kita, mari kita tunjukkan padanya sedikit gerakkan dasar."

Madam Karmel membawa murid-muridnya ke tengah ruangan untuk menunjukan sebuah contoh tarian pada Brian. Mereka semua berjumlah sebelas orang bersama dengan madam Karmel. Zoya pun bertepuk tangan untuk menyemangati mereka.

Sementara itu Brian segera menarik lengan Zoya, sontak Zoya kaget dan terduduk di sebelah Brian.

"Apa kau bisa berhenti menarik lenganku terus-terusan, kalau engselnya patah nanti gimana."

"Sebentar lagi akan aku patahkan otakmu itu,"

Brian menatap tajam mata Zoya, sepertinya dia benar-benar menjadi kesal sekarang. Tidak pernah dia menduga kalau Zoya akan membawanya ke sekolah menari. Ini sama saja simulasi untuk mempermalukan dirinya.

"Nona cerewet, kenapa kau membawaku kesini?" tanya Brian dengan suara berbisik.

"Apa maksudmu? Bukankah kau mau belajar menari?"

"Yah tapi hanya denganmu saja."

Zoya langsung menyatukan kedua alisnya setelah mendengar perkataan Brian yang begitu ambigu. "Hah..."

"Bukan... maksudku, bagaimana bisa aku belajar menari dari ABG-ABG ini." dalih Brian, yang mencoba memperbaiki perkataannya.

"Kau mau belajar menari kan? Jadi aku langsung membawamu kepada ahlinya, kau bisa melihat ini terlebih dahulu, kemudian keraguanmu itu pasti segera hilang, oke." ujar Zoya sambil tersenyum manis pada Brian.

Wajah Brian yang tadi terlihat kesal kini menjadi sejuk seketika melihat senyuman itu, ini pertama kalinya dia melihat senyuman yang begitu tulus.

Dia akhirnya terdiam dan mulai duduk dengan manis bersama Zoya untuk menyaksikan madam Karmel yang menari dengan para muridnya.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Ban 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Ban 108
109 Bab 109
110 Ban 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Ban 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Ban 108
109
Bab 109
110
Ban 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!