Bab 9

Karena sudah jam dua belas akhirnya Brian memutuskan pergi ke sebuah kafe untuk makan siang. Brian sangat disiplin masalah waktu, itu semua adalah hasil pengajaran dari ayahnya. Itulah kenapa Brian sengaja membawa Zoya untuk makan siang di kafe sambil menjelaskan masalah tadi.

Kafe itu tampak sangat indah dengan dekorasi yang bertemakan rumah bambu. Banyak para pemuda-pemudi sengaja datang kesana bukan hanya sekedar makan, namun juga untuk berswafoto untuk postingan di sosial media mereka.

Sejak Brian dan Zoya turun dari mobil banyak orang yang memperhatikan mereka, itu pasti karena Brian yang tampak seperti artis Hollywood. Tidak heran sih, wajah dan postur tubuh Brian memang benar-benar sangat ideal. Saat pertama kali Zoya bertemu, dia juga sempat merasa kagum dengan Brian. Semua wanita pasti sangat mendambakan pria seperti Brian, tapi hanya satu yang kurang darinya. Menurut Zoya, Brian harus memperbaiki sifatnya yang terlalu dingin dan tidak tahu sopan santun itu.

"Tuan biarkan saya mencatat pesanan anda, silakan lihat-lihat menunya." Seorang pelayan wanita menghampiri Brian dan Zoya yang sedang duduk di sofa meja makan, dia kemudian memberikan sebuah papan menu pada Brian dengan sangat sopan.

Zoya menyipitkan matanya melihat itu, jika di perhatikan pelayan itu memperlakukan Brian begitu sopan dari pelanggan yang lain.

"Dasar wanita penjilat." Zoya menggerutu kesal, entah kenapa setelah kejadian tadi semua yang di lihat Zoya tampak salah.

"Apa kau mau pesan salad," tiba-tiba Brian malah nyerocos begitu saja saat mendengar Zoya menggerutu. "baiklah kalau begitu nona aku pesan ayam geprek nya satu dan juga salad."

"Nggak, nggak," sontak Zoya langsung memotong, "siapa yang mau pesan salad sih, aku mau tiga potong ayam dan dua porsi nasi, dan juga minumannya aku ingin Flavored Cappuccino Vanila."

Ternyata rasa kesal tidak membuat Zoya kehilangan selera makannya, justru saat kesal dia lebih memilih untuk makan banyak sebagai pelampiasannya.

"Dasar tuan muda arogan, ternyata dia budeg juga ya. Bagaimana bisa dia memesan makanan enak sedangkan aku hanya makan sepiring salad." ucap batin Zoya.

Brian menjadi terdiam sesaat melihat Zoya yang berani memesan banyak makanan, bukan karena takut dompetnya terkuras, tapi ini pertama kalinya dia bertemu dengan wanita yang sulit di tebak seperti Zoya. Biasanya wanita manapun akan menjaga imagenya saat jalan dengan pria kan?

Sedangkan si pelayan wanita itu tampak memandang Zoya dengan cemoohan, bagaimana bisa ada wanita tak tahu malu dengan memesan banyak makanan saat jalan dengan pria kaya seperti Brian. Menurutnya Zoya hanya memanfaatkan Brian saja.

"Baiklah, tuan tunggu sebentar kami akan segera menyiapkan pesanan anda." Pelayan itu kemudian pergi sembari tersenyum manis pada Brian.

Melihat sikap pelayan wanita itu Zoya memanyunkan bibirnya. Zoya tahu, kalau dia sudah membuat kesan yang buruk pada si pelayan dengan memesan banyak makanan. 'Tapi siapa peduli, dari pada malu, lebih baik malu-maluin asalkan kenyang', pikirnya.

"Baiklah nona cerewet, sekarang jelaskan padaku!?" Seru Brian dengan ekspresi datar

Zoya menghela nafas dan berkata, "Baiklah, kau sepertinya sangat penasaran. Yah, memang tadi aku mengatakan Trisha sudah mengkhianati aku, apa kau tahu kenapa aku berkata begitu, karena dia sendiri yang bilang padaku kalau dia bersekongkol pada Vince. Di... dia bilang padaku tadi, kalau dia dan Vince sekarang sudah berpacaran." Zoya menjelaskan dengan nada yang terdengar sangat kesal.

Brian kemudian melipat kedua tangannya di meja dengan rapi seperti anak SD. Dia terus mendengarkan cerita Zoya dengan seksama.

Vince Claude dia di kenal sebagai mahasiswa paling populer di kampus. Tidak hanya tampan dan memiliki postur tubuh yang proporsional, Vince juga murid yang penuh multitalenta.

Selama dua tahun berturut turut, Vince di nobatkan sebagai King of School. Gelar itu dia dapatkan dari sebuah ajang kompetisi olahraga tahunan yang di adakan oleh pemerintah Golden Sea untuk tingkat Universitas.

"Tunggu, kau bilang King of School." Brian tiba-tiba memotong penjelasan Zoya.

"Yah, semua mahasiswa dari berbagai Universitas menginginkan gelar dan piala itu." ucap Zoya.

"Lalu apa hubungannya dengan Trisha, sehingga dia mengkhianatimu."

"Hufff, apa kau tahu kepopuleran yang dimiliki Vince sebagai King of School membuatnya di kejar oleh semua gadis di kampus."

"Termasuk kau?"

"Yah, tapi itu dulu sebelum aku mengetahui sifat asli Vince."

Tidak lama mereka berbincang, pelayan wanita yang tadi datang dengan membawa dua nampan yang berisi pesanan Zoya dan Brian. Pelayan wanita itu menjadi sedikit iri saat melihat Zoya yang asik berbincang dengan Brian. Dia berpikir, kenapa bukan dirinya saja yang berada di posisi Zoya. Dengan tatapannya yang sinis dia meletakkan dengan kasar nampan yang berisi pesanan Zoya ke atas meja. Agar Zoya berhenti melanjutkan pembahasannya dengan Brian.

"Heh, kamu kenapa sih, kasar banget?" Sontak Zoya sedikit terkaget melihat sikap pelayan itu kepadanya. Namun pelayan wanita itu tidak menjawab dan dengan congkaknya pergi begitu saja.

Sedangkan Brian yang memperhatikan tiba-tiba sudut bibirnya sedikit naik, dia menjadi geli dan mencoba menahan tawanya melihat itu. Ini merupakan sebuah momen langka, dimana Brian yang terkenal dingin dan cuek, ternyata juga bisa tertawa.

Setelah pelayan wanita tadi pergi, Zoya memperhatikan Brian yang tampaknya sangat bahagia melihat si pelayan bersikap kasar padanya.

"Kau tampaknya sangat senang ya," Zoya mengangkat telapak tangannya seolah-olah ingin membungkam senyum di wajah Brian dengan sebuah tamparan renyah. "huh, kenapa semua orang sangat ingin membuat aku kesal hari ini." Zoya melipat kedua tangannya.

"Mungkin kau aja yang terlalu sensitif." ucap Brian dengan nada datar.

"Sensitif, aku? Kau sendiri bagaimana, wajar jika aku begitu, tapi kau?" Zoya melontarkan kembali kata-kata Brian, seketika pipi tuan muda arogan itu memerah seperti jambu. Memang benar Brian pun menyadari kalau dirinya lebih sensi dari pada wanita.

"Makan saja makananmu itu, jangan cerewet." Seru Brian yang kembali bersikap dingin.

"Kan, baru saja di bilangin." gerutu Zoya sembari mengambil paha ayam dan tanpa ragu melahapnya dengan ganas.

...

Tak lama kemudian mereka pun akhirnya selesai makan. Sehabis makan Brian menyeka bibir merahnya dengan tisu layaknya seorang bangsawan yang elegan. Sedangkan Zoya terlihat menyandar di sofa karena kekenyangan. Tampaknya dia puas melampiaskan kekesalannya, dengan melahap semua makanan tadi tanpa ampun.

Lupakan tentang imagenya, yang penting dia bisa menenangkan pikirannya setelah selesai makan. Bahkan dia tidak peduli dengan Brian yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya. Lagi pula dia dan Brian tinggal di satu atap yang sama, lambat laun Brian pasti akan tahu kebiasaan Zoya. Jadi dia pikir untuk apa ditutup-tutupi.

Setalah itu Brian memanggil pelayan tadi untuk segera membayar bill. Pelayan tadi pun berjalan gontai mendekati Brian sembari tersenyum manis.

"Ini tuan, Bill anda." Si pelayan memberikan kertas Bill dengan sangat sopan.

Lagi-lagi pemandangan itu sangat mengusik mata Zoya, "Dasar caper," umpat Zoya yang tidak tahan melihat itu.

Si pelayan sebenarnya mendengar Zoya, namun dia memilih cuek dan tetap tersenyum pada Brian. Sepertinya dia tidak peduli dengan keberadaan Zoya di sana, dia pikir mau Zoya kekasih Brian atau bukan, tetap saja wanita seperti Zoya tidak layak untuk pemuda tampan seperti Brian. 'Maksudku lihatlah, wanita ini tampak seperti orang rakus setelah makan begitu banyak, dia tersandar di sofa seperti ular yang kekenyangan,' pikirnya.

Brian kemudian merogoh kantongnya dan mengambil dompet, seketika mata Zoya dan si pelayan terbelalak. Dompet Brian sangat tebal, tapi bukan berisi uang namun berisi banyak kartu debit hitam dari berbagai bank.

"Aku hanya bawa kartu debit, bisa kan?" ucap Brian sambil memberikan salah satu kartu debitnya kepada pelayan itu.

"Tentu saja tuan." si pelayan menyambutnya dengan ramah.

"Sudah cepat selesaikan, kalau kau ingin menjemur gigimu lakukan saja di rumah." Zoya sudah sangat muak pada si pelayan yang bertingkah sok manis dari tadi.

Si pelayan mencebik ke arah Zoya dan menatapnya dengan sinis, kemudian dia segera menyelesaikan pembayaran itu dan berkata.

"Tuan apa dia kekasihmu? Sangat di sayangkan kau harus jalan dengan wanita rakus seperti dia," ucap si pelayan sambil menatap Zoya dengan ekspresi yang mengejek.

Merasa tidak terima dirinya dihina Zoya kemudian langsung berdiri, "Hei, jaga ya mulutmu itu. Memangnya kenapa kalau aku pacarnya, apa kau iri? Setidaknya aku tidak bersikap sok manis untuk mendapatkan perhatian seorang pria." ketus Zoya, matanya menatap tajam ke arah si pelayan.

Pelayan wanita itu tidak berkutik setelah mendapat semburan pedas dari Zoya, dia mencebik kesal dan langsung pergi. Sementara Brian yang masih duduk dengan tenang hanya bisa sedikit tersenyum melihat keberanian Zoya.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Ban 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Ban 108
109 Bab 109
110 Ban 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Ban 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Ban 108
109
Bab 109
110
Ban 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!