Karena sudah jam dua belas akhirnya Brian memutuskan pergi ke sebuah kafe untuk makan siang. Brian sangat disiplin masalah waktu, itu semua adalah hasil pengajaran dari ayahnya. Itulah kenapa Brian sengaja membawa Zoya untuk makan siang di kafe sambil menjelaskan masalah tadi.
Kafe itu tampak sangat indah dengan dekorasi yang bertemakan rumah bambu. Banyak para pemuda-pemudi sengaja datang kesana bukan hanya sekedar makan, namun juga untuk berswafoto untuk postingan di sosial media mereka.
Sejak Brian dan Zoya turun dari mobil banyak orang yang memperhatikan mereka, itu pasti karena Brian yang tampak seperti artis Hollywood. Tidak heran sih, wajah dan postur tubuh Brian memang benar-benar sangat ideal. Saat pertama kali Zoya bertemu, dia juga sempat merasa kagum dengan Brian. Semua wanita pasti sangat mendambakan pria seperti Brian, tapi hanya satu yang kurang darinya. Menurut Zoya, Brian harus memperbaiki sifatnya yang terlalu dingin dan tidak tahu sopan santun itu.
"Tuan biarkan saya mencatat pesanan anda, silakan lihat-lihat menunya." Seorang pelayan wanita menghampiri Brian dan Zoya yang sedang duduk di sofa meja makan, dia kemudian memberikan sebuah papan menu pada Brian dengan sangat sopan.
Zoya menyipitkan matanya melihat itu, jika di perhatikan pelayan itu memperlakukan Brian begitu sopan dari pelanggan yang lain.
"Dasar wanita penjilat." Zoya menggerutu kesal, entah kenapa setelah kejadian tadi semua yang di lihat Zoya tampak salah.
"Apa kau mau pesan salad," tiba-tiba Brian malah nyerocos begitu saja saat mendengar Zoya menggerutu. "baiklah kalau begitu nona aku pesan ayam geprek nya satu dan juga salad."
"Nggak, nggak," sontak Zoya langsung memotong, "siapa yang mau pesan salad sih, aku mau tiga potong ayam dan dua porsi nasi, dan juga minumannya aku ingin Flavored Cappuccino Vanila."
Ternyata rasa kesal tidak membuat Zoya kehilangan selera makannya, justru saat kesal dia lebih memilih untuk makan banyak sebagai pelampiasannya.
"Dasar tuan muda arogan, ternyata dia budeg juga ya. Bagaimana bisa dia memesan makanan enak sedangkan aku hanya makan sepiring salad." ucap batin Zoya.
Brian menjadi terdiam sesaat melihat Zoya yang berani memesan banyak makanan, bukan karena takut dompetnya terkuras, tapi ini pertama kalinya dia bertemu dengan wanita yang sulit di tebak seperti Zoya. Biasanya wanita manapun akan menjaga imagenya saat jalan dengan pria kan?
Sedangkan si pelayan wanita itu tampak memandang Zoya dengan cemoohan, bagaimana bisa ada wanita tak tahu malu dengan memesan banyak makanan saat jalan dengan pria kaya seperti Brian. Menurutnya Zoya hanya memanfaatkan Brian saja.
"Baiklah, tuan tunggu sebentar kami akan segera menyiapkan pesanan anda." Pelayan itu kemudian pergi sembari tersenyum manis pada Brian.
Melihat sikap pelayan wanita itu Zoya memanyunkan bibirnya. Zoya tahu, kalau dia sudah membuat kesan yang buruk pada si pelayan dengan memesan banyak makanan. 'Tapi siapa peduli, dari pada malu, lebih baik malu-maluin asalkan kenyang', pikirnya.
"Baiklah nona cerewet, sekarang jelaskan padaku!?" Seru Brian dengan ekspresi datar
Zoya menghela nafas dan berkata, "Baiklah, kau sepertinya sangat penasaran. Yah, memang tadi aku mengatakan Trisha sudah mengkhianati aku, apa kau tahu kenapa aku berkata begitu, karena dia sendiri yang bilang padaku kalau dia bersekongkol pada Vince. Di... dia bilang padaku tadi, kalau dia dan Vince sekarang sudah berpacaran." Zoya menjelaskan dengan nada yang terdengar sangat kesal.
Brian kemudian melipat kedua tangannya di meja dengan rapi seperti anak SD. Dia terus mendengarkan cerita Zoya dengan seksama.
Vince Claude dia di kenal sebagai mahasiswa paling populer di kampus. Tidak hanya tampan dan memiliki postur tubuh yang proporsional, Vince juga murid yang penuh multitalenta.
Selama dua tahun berturut turut, Vince di nobatkan sebagai King of School. Gelar itu dia dapatkan dari sebuah ajang kompetisi olahraga tahunan yang di adakan oleh pemerintah Golden Sea untuk tingkat Universitas.
"Tunggu, kau bilang King of School." Brian tiba-tiba memotong penjelasan Zoya.
"Yah, semua mahasiswa dari berbagai Universitas menginginkan gelar dan piala itu." ucap Zoya.
"Lalu apa hubungannya dengan Trisha, sehingga dia mengkhianatimu."
"Hufff, apa kau tahu kepopuleran yang dimiliki Vince sebagai King of School membuatnya di kejar oleh semua gadis di kampus."
"Termasuk kau?"
"Yah, tapi itu dulu sebelum aku mengetahui sifat asli Vince."
Tidak lama mereka berbincang, pelayan wanita yang tadi datang dengan membawa dua nampan yang berisi pesanan Zoya dan Brian. Pelayan wanita itu menjadi sedikit iri saat melihat Zoya yang asik berbincang dengan Brian. Dia berpikir, kenapa bukan dirinya saja yang berada di posisi Zoya. Dengan tatapannya yang sinis dia meletakkan dengan kasar nampan yang berisi pesanan Zoya ke atas meja. Agar Zoya berhenti melanjutkan pembahasannya dengan Brian.
"Heh, kamu kenapa sih, kasar banget?" Sontak Zoya sedikit terkaget melihat sikap pelayan itu kepadanya. Namun pelayan wanita itu tidak menjawab dan dengan congkaknya pergi begitu saja.
Sedangkan Brian yang memperhatikan tiba-tiba sudut bibirnya sedikit naik, dia menjadi geli dan mencoba menahan tawanya melihat itu. Ini merupakan sebuah momen langka, dimana Brian yang terkenal dingin dan cuek, ternyata juga bisa tertawa.
Setelah pelayan wanita tadi pergi, Zoya memperhatikan Brian yang tampaknya sangat bahagia melihat si pelayan bersikap kasar padanya.
"Kau tampaknya sangat senang ya," Zoya mengangkat telapak tangannya seolah-olah ingin membungkam senyum di wajah Brian dengan sebuah tamparan renyah. "huh, kenapa semua orang sangat ingin membuat aku kesal hari ini." Zoya melipat kedua tangannya.
"Mungkin kau aja yang terlalu sensitif." ucap Brian dengan nada datar.
"Sensitif, aku? Kau sendiri bagaimana, wajar jika aku begitu, tapi kau?" Zoya melontarkan kembali kata-kata Brian, seketika pipi tuan muda arogan itu memerah seperti jambu. Memang benar Brian pun menyadari kalau dirinya lebih sensi dari pada wanita.
"Makan saja makananmu itu, jangan cerewet." Seru Brian yang kembali bersikap dingin.
"Kan, baru saja di bilangin." gerutu Zoya sembari mengambil paha ayam dan tanpa ragu melahapnya dengan ganas.
...
Tak lama kemudian mereka pun akhirnya selesai makan. Sehabis makan Brian menyeka bibir merahnya dengan tisu layaknya seorang bangsawan yang elegan. Sedangkan Zoya terlihat menyandar di sofa karena kekenyangan. Tampaknya dia puas melampiaskan kekesalannya, dengan melahap semua makanan tadi tanpa ampun.
Lupakan tentang imagenya, yang penting dia bisa menenangkan pikirannya setelah selesai makan. Bahkan dia tidak peduli dengan Brian yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya. Lagi pula dia dan Brian tinggal di satu atap yang sama, lambat laun Brian pasti akan tahu kebiasaan Zoya. Jadi dia pikir untuk apa ditutup-tutupi.
Setalah itu Brian memanggil pelayan tadi untuk segera membayar bill. Pelayan tadi pun berjalan gontai mendekati Brian sembari tersenyum manis.
"Ini tuan, Bill anda." Si pelayan memberikan kertas Bill dengan sangat sopan.
Lagi-lagi pemandangan itu sangat mengusik mata Zoya, "Dasar caper," umpat Zoya yang tidak tahan melihat itu.
Si pelayan sebenarnya mendengar Zoya, namun dia memilih cuek dan tetap tersenyum pada Brian. Sepertinya dia tidak peduli dengan keberadaan Zoya di sana, dia pikir mau Zoya kekasih Brian atau bukan, tetap saja wanita seperti Zoya tidak layak untuk pemuda tampan seperti Brian. 'Maksudku lihatlah, wanita ini tampak seperti orang rakus setelah makan begitu banyak, dia tersandar di sofa seperti ular yang kekenyangan,' pikirnya.
Brian kemudian merogoh kantongnya dan mengambil dompet, seketika mata Zoya dan si pelayan terbelalak. Dompet Brian sangat tebal, tapi bukan berisi uang namun berisi banyak kartu debit hitam dari berbagai bank.
"Aku hanya bawa kartu debit, bisa kan?" ucap Brian sambil memberikan salah satu kartu debitnya kepada pelayan itu.
"Tentu saja tuan." si pelayan menyambutnya dengan ramah.
"Sudah cepat selesaikan, kalau kau ingin menjemur gigimu lakukan saja di rumah." Zoya sudah sangat muak pada si pelayan yang bertingkah sok manis dari tadi.
Si pelayan mencebik ke arah Zoya dan menatapnya dengan sinis, kemudian dia segera menyelesaikan pembayaran itu dan berkata.
"Tuan apa dia kekasihmu? Sangat di sayangkan kau harus jalan dengan wanita rakus seperti dia," ucap si pelayan sambil menatap Zoya dengan ekspresi yang mengejek.
Merasa tidak terima dirinya dihina Zoya kemudian langsung berdiri, "Hei, jaga ya mulutmu itu. Memangnya kenapa kalau aku pacarnya, apa kau iri? Setidaknya aku tidak bersikap sok manis untuk mendapatkan perhatian seorang pria." ketus Zoya, matanya menatap tajam ke arah si pelayan.
Pelayan wanita itu tidak berkutik setelah mendapat semburan pedas dari Zoya, dia mencebik kesal dan langsung pergi. Sementara Brian yang masih duduk dengan tenang hanya bisa sedikit tersenyum melihat keberanian Zoya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments