"Lalu kenapa temanmu Edi tadi mengatakan, kalau ini ada hubungannya dengan Vince, apa Jhony salah satu dari anggota Vince."
Brian mencoba menggali informasi lebih dalam lagi tentang Vince. Sebelumnya Brian sama sekali tidak peduli dengan Vince, hanya saja semakin lama tampaknya banyak hal telah terjadi pada Zoya yang melibatkan Vince.
"Aku bisa jelaskan," ucap Edi, "Zoya ada yang harus aku beri tahu padamu, kemarin di kampus aku tak sengaja mendengar pembicaraan Vince, dia telah meminta Jhony untuk membakar studio kita."
"Apa?" Zoya langsung terkejut mendengar perkataan Edi seperti mendapat sambaran petir.
"Karena alasan itu juga aku datang kesini untuk menghentikan anak buah Jhony, dan berniat menyelamatkan piala kita." Jelas Edi.
"Jadi Vince!" ucap Zoya sembari mengernyitkan dahinya. Ekspresinya berubah penuh arti karena dia tahu alasan Vince melakukan ini. "Besok aku akan bicara pada Jhony, kenapa dia tiba-tiba mau menuruti perintah Vince."
"Zoya sebenarnya Jhony ini anak buah Vince atau tidak." tanya Brian lagi, dia mulai menjadi kesal karena Zoya dan Edi terus bertele-tele.
"Tidak, Jhony bukan anak buah Vince dia..." Sebelum Edi menyelesaikan kalimatnya, Brian mengangkat telapak tangannya.
Brian kemudian berdiri dan segera mengajak Zoya untuk pulang, dia rasa semua informasi yang dia butuhkan sudah cukup untuk membuktikan siapa itu Vince. Dia tidak mau terus-terusan membuang waktu. Satu hal yang pasti, tampaknya Vince memiliki masalah pribadi yang serius pada Zoya.
......................
Keesokannya di kampus, setelah menyelesaikan mata kuliahnya Brian berniat pergi menuju kafetaria kampus. Dia sedang mencari Zoya yang sedari tadi menghilang. Seperti yang dia katakan kemarin, dia akan menemui pergi menemui Jhony. Jika anak buahnya saja berani menyerang Zoya, bagaimana dengan Jhony. Karena itu Brian segera mencari Zoya, takutnya nanti hal yang tak diinginkan mungkin bisa saja terjadi.
Sesampainya di kafetaria, tiba-tiba bahu Brian di tahan oleh tangan seseorang dari belakang. Sontak Brian langsung menoleh kebelakang dan melihat siapa yang telah menyentuh bahunya. Seketika salah satu alis Brian naik saat melihat Vince lah yang ada di belakangnya. Terlihat juga Vince bersama dengan beberapa temannya berdiri di belakang Brian, jika dilihat dari penampilan mereka tampaknya baru saja selesai bermain basket.
"Halo jagoan apa kabar." sapa Vince yang berekspresi sok akrab, padahal dari tatapannya itu Brian juga sudah tahu, kalau Vince tidak menyukai Brian.
"Lepaskan tanganmu itu dariku." seru Brian dengan nada pelan dan tatapan sedingin es.
"Oke santai, aku hanya mau bicara sebentar saja denganmu bisa, kan?" tampang Vince sangat bersahabat.
Brian kemudian berbalik dan berkata, "Maaf saat ini aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu."
Brian saat ini memilih untuk tidak menanggapi Vince, karena baginya itu hanya akan membuang-buang waktunya.
"Seperti yang mereka bilang, kau benar-benar berdarah dingin."
"Apa kau tahu, di kampus ini ada beberapa orang yang tidak bisa kau singgung jagoan."
"Dan salah satunya adalah aku, kemarin aku dengar kau telah menghajar anak buah Jhony sendirian, itu menakjubkan."
"Kau juga telah menyelamatkan Zoya dari mereka."
Vince mulai berjalan mengelilingi Brian sambil terus mengoceh. Teman-teman Vince pun juga mulai mengambil posisi dan mengepung Brian. Para mahasiswa yang ada kafetaria itu seketika langsung berkerumun seperti semut untuk melihat. Tampaknya mereka sudah tahu apa yang akan dilakukan Vince.
Melihat dirinya di kepung, Brian hanya mengernyitkan dahinya. Dia masih tampak sangat tenang dan tidak merasa terintimidasi oleh Vince. Baginya Vince dan teman-temannya sama sekali bukanlah masalah serius.
"Awalnya aku bingung kenapa kau begitu dekat dengan Zoya, kenapa kau begitu peduli dengan dia."
"Hubungan apa yang miliki dengannya?"
"Tapi sekarang aku tahu ternyata dia adalah pelayanmu."
"Tidak heran kau begitu peduli dengannya."
Vince terus mencoba memprovokasi Brian dengan kata-katanya. Tapi Brian sama sekali tampak tidak terpengaruh. Dia hanya bisa merasa sedikit heran, kenapa Vince bermain dengan cara anak-anak seperti ini.
"Terus, apa peduli mu." Brian berkata dengan santai.
"Memang tidak urusannya denganku, hanya saja aku heran kenapa majikan begitu dekat dengan pelayannya." ucap Vince dengan tatapan yang mencemooh.
"Apa maksudmu." Brian semakin penasaran apa yang coba Vince lakukan saat ini.
"Kau begitu baik dengannya, membiarkan dia tinggal di rumah mewah, mengantar jemput seperti sopir, kau memperlakukannya seperti tuan putri padahal dia adalah pelayanmu. Aku curiga kenapa kau begitu menempel dengannya, dia pasti juga sudah pernah tidur dengan mu, benarkan?"
Semua mahasiswa yang ada di sana tertawa terbahak-bahak mendengar Vince yang berkata dengan panjang lebar. Mereka tidak menyangka ternyata Zoya adalah pelayan Brian dan mereka tinggal satu rumah.
Brian mengepal kedua tangannya dengan keras. Dan tanpa menunggu lama dia langsung melayangkan sebuah tinju ke wajah Vince. Dia benar-benar tidak bisa menerima perkataan buruk Vince terhadap Zoya. Saat ini Brian tampak seperti singa yang telah diganggu saat tidur.
Vince yang terkena pukulan Brian tadi langsung mundur sempoyongan, terlihat darah mengalir dari sudut bibirnya. Vince menyeka darah itu, dan langsung menganggukkan kepala pada semua temannya.
Seketika semua teman-teman Vince yang mengepung Brian tadi langsung bergerak maju dan mulai menyerang.
Melihat hal itu Brian dengan santai menghindari dan menepis semua serangan dari mereka. Pertarungan sengit pun tak terelakan, para murid yang di sana bersorak-sorai melihat perkelahian itu.
Walaupun Brian sendirian, namun dia mampu melawan semua teman-teman Vince dengan mudah. Mereka semua melayang dan menghantam meja yang ada di kafetaria itu hingga hancur terkena pukulan dari Brian. Brian terlalu kuat, dia mampu membalikkan keadaan dengan mudah.
Vince dan semua murid yang ada di sana seketika terkesiap. Mereka tidak menyangka Brian mampu melawan semua teman-teman Vince. Padahal semua orang tahu Vince dan temannya adalah atlet yang hebat di kampus itu. Tapi dengan mudahnya Brian mengalahkan mereka semua.
"Jangan pernah mengatakan hal buruk lagi tentang Zoya, jika tidak..."
Sebelum Brian menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba seseorang menghantamkan kursi ke belakang punggung Brian. Kursi itupun hancur dan Brian seketika tertunduk, tangannya yang hampir menyentuh lantai untuk menopang tubuhnya yang hampir tersungkur segera dia kepalkan kembali.
Tapi sebelum Brian beraksi, Vince langsung menendang wajah Brian hingga terlempar keluar dari kafetaria. Brian yang melayang di udara jatuh mendarat ketanah dengan posisi jongkok dan satu tangan menopang wajahnya agar tidak tersungkur.
Terlihat darah menetes jatuh ke tanah dari sudut bibir Brian. Seketika Brian menjadi geram dan mulai menatap tajam ke depan. Tapi dia langsung terkejut saat melihat seluruh mahasiswa kampus berjalan menuju kearahnya.
Tadinya dia hanya melawan Vince dan keempat temannya. Tapi sekarang tampaknya dia sudah di kepung oleh semua mahasiswa di kampus itu.
"Hahaha, ini lah akibat mencoba melawanku."
Vince langsung menjentikkan jarinya dan semua mahasiswa mulai hendak bergerak mengeroyok Brian. Tapi untungnya seketika satpam dan para dosen mulai berdatangan saat melihat keributan itu.
"Ada apa ini, kenapa kalian berkelahi disini." ucap salah satu dosen wanita.
"Buk, dia yang memulai perkelahian ini, dia menyerang duluan kalau tidak percaya tanya saja pada mereka." ucap Vince yang mencoba membela dirinya.
Para mahasiswa itu pun serentak mengangguk dan mengiyakan perkataan Vince. Mereka tampaknya sangat patuh pada Vince seperti anjing peliharaan.
Tak lama kemudian Zoya juga muncul dari tengah kerumunan itu, dia langsung terperangah saat melihat kebawah. Ternyata yang berkelahi itu adalah Brian, sontak Zoya langsung mendekatinya dan membantu Brian untuk berdiri.
"Brian apa yang terjadi, kenapa kau seperti ini." ucap Zoya dengan eskpresi khawatir.
"Kau anak baru itu kan?" dosen tadi juga segera berjalan dan mendekati Brian. "di kampus ini tidak boleh ada perkelahian, ayo cepat ikut aku ke ruangan pak Rektor." seru dosen wanita itu dengan tatapan sinis.
Zoya menatap darah yang ada di sudut bibir Brian dengan penuh perasaan iba. Dia mencoba menahan Brian untuk pergi, tapi kemudian segera Brian mengangguk ringan pada Zoya agar membiarkannya pergi.
Setelah itu semua murid bubar, Brian pergi sembari terus menatap Vince dengan tajam. Dia tidak menyangka ternyata King of School memiliki pengaruh besar di kampus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments