Bab 10

Setelah itu Brian dan Zoya segera keluar dari kafe. Di luar tak sengaja Zoya melihat sebuah kios kaki lima yang menjual es krim.

"Lihat itu ada es krim, pas sekali untuk pencuci mulut." Zoya langsung menghampiri penjual es krim yang berada di seberang jalan.

"Ya ampun, wanita ini emangnya dia masih belum kenyang apa." gumam Brian yang hanya bisa menggeleng melihat Zoya.

Brian melipat kedua tangannya dan bersandar di pintu mobilnya. Matanya menatap Zoya yang sedang membeli es krim di seberang jalan dengan penuh arti. Sejenak dia melamun, Zoya benar-benar berbeda dari semua gadis yang telah ia temui.

Tentu saja sejak zaman SMA, Brian sudah banyak di dekati olah gadis-gadis. Tapi tak ada satupun yang bisa menarik perhatiannya. Karena dia tahu, semua gadis mendekatinya hanya karena dia good looking dan kaya raya.

Zoya kemudian menyeberangi jalan sambil membawa dua es krim menuju Brian. Kelihatannya Zoya tampak lebih baik dari pada sebelumnya, senyumnya terlihat begitu manis saat dia menikmati es krim itu. Zoya tampaknya sangat suka dengan es krim.

"Apa kau juga mau tuan muda arogan?" Zoya menawarkan pada Brian saat di dalam mobil, "eh, aku lupa kau sendiri kan sudah dingin, jadi untuk apa makan es krim bisa-bisa kau membeku nanti."

"Kalaupun kau membayar ku, rasanya tidak ingin aku memakan es krim yang sudah kau jilat." tolak Brian mentah-mentah.

Zoya langsung tersentak dan wajahnya langsung berubah merah, dia kemudian tersenyum pada Brian dan melanjutkan melahap kedua es krim itu.

"Lihat, ada sisa es krim di situ." Brian menunjuk bibir mungil Zoya.

Sontak Zoya berkaca pada spion mobil dan ternyata benar, karena terlalu menikmati, dia makan sampai belepotan begitu. Zoya ingin menggunakan lengan bajunya untuk mengelap sisa es krim yang ada di bibirnya, tapi tindakannya segera di hentikan Brian.

"Tunggu!"

Sejenak Zoya terdiam dan mengkhayalkan sebuah adegan romantis yang di film-film. Kedua pipinya seketika merona, dia tak menyangka kalau ternyata Brian adalah orang yang romantis. Kalau begini dia bisa jatuh hati pada tuan muda arogan ini.

"Hei, malah melamun, ambil tisu ini." Brian menjentikkan jarinya sembari memberikan kotak tisu pada Zoya.

Zoya kemudian tersadar kembali dan menatap kotak tisu yang diberikan Brian. Dia kemudian menepuk jidatnya dan tertawa kecil kerena merasa geli pada dirinya sendiri.

"Ya ampun kenapa sih aku," ucap batin Zoya.

"Kau kenapa? Senyum-senyum begitu," tanya Brian yang keheranan, dia benar-benar tidak mengerti, bentar-bentar Zoya merengut seperti jeruk purut, kemudian tidak ada angin, tidak ada hujan dia kembali tersenyum.

"Memangnya kenapa, aku bukan orang sepertimu yang sangat sulit untuk tersenyum." Jawab Zoya sembari menyeka bibirnya dengan tisu.

Dari pada terus berdebat, Brian langsung menyalakan mobilnya dan segera melaju di jalan raya. Di perjalanan pulang Brian meminta Zoya untuk melanjutkan kembali ceritanya tadi, tentang Vince dan Trisha yang bersekongkol.

Sambil terus mengemudi Brian mendengarkan Zoya. Ternyata seminggu yang lalu, Vince menawarkan Zoya untuk menjadi pasangan di kompetisi dance kampus. Tapi karena Zoya, sudah mendaftarkan diri dan timnya. Jadi dia tidak bisa menerima tawaran Vince.

Karena penolakan itu Vince merasa dirinya sangat tak di hargai, dia mengatakan kalau Zoya pasti akan menyesal karena telah menolaknya.

"Zoya Amanda, kau menolak tawaranku karena teman-temanmu, maka dengar ini! Karena teman-temanmu juga lah kau akan kehilangan semua impianmu."

Kata- kata itu terus terngiang di telinga Zoya sampai sekarang. Sebelumnya dia sangat mengidolakan sosok Vince, namun setelah itu Zoya tidak pernah mau menatap atau bicara lagi dengannya.

Tapi siapa sangka ancaman Vince tidak hanya omong kosong belaka, sekarang semua temannya pergi meninggalkannya. Termasuk Trisha sahabat yang sangat dipercaya Zoya sejak SMA, kini juga turut mengkhianatinya secara terang-terangan.

"Jadi apa selanjutnya?" Brian kembali bertanya pada Zoya yang duduk melamun di sebelahnya, setelah mendengar penjelasan Zoya tadi, entah kenapa batin Brian juga tidak bisa menerima hal itu.

"Entahlah, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, aku juga tidak bisa melawan Vince, kau tahu dia adalah King of School, gelar itu bukan hanya nama belaka." Ujar Zoya. ekspresinya mendung seperti awan gelap.

"Apa kompetisi ini sangat berarti bagimu." Brian mulai semakin serius saat melirik Zoya.

"Tentu saja..." Zoya mulai menoleh dan menatap Brian yang sedang mengemudi. Kemudian dia menyeka air matanya yang mengalir jatuh.

Sontak Brian langsung mengkedutkan keningnya, saat melihat Zoya yang kembali menangis. Sepertinya kompetisi ini benar-benar mempengaruhi hidupnya.

"Kalau begitu kenapa tidak daftar ulang saja,"

"Apa? Kau kira ini semudah membalikan telapak tangan. Aku tidak bisa mendaftar ulang begitu saja, karena aku harus menemukan pasangan yang dance yang cocok denganku."

"Apa hanya itu masalahnya, jadi kau tidak punya pasangan dance untuk mengikuti kompetisi itu, kau tak perlu khawatir, sudah aku bilang aku akan membantumu kan. Besok aku akan carikan orang yang mau menari bersamamu di."

"Heh, terserah saja." Ucap Zoya dengan acuh tak acuh.

Dengan kesal Zoya segera membuang pandangannya dari Brian dan melipat tangannya. Sementara itu Brian masih terlihat tidak peduli dan terus mengemudi.

...

Keesokan paginya Brian sudah bersiap untuk pergi ke kampus, tapi dia belum juga pergi dari tadi. Padahal sudah hampir sepuluh menit dia sudah duduk di dalam mobil. Sesekali dia melihat arlojinya, dan kemudian membunyikan klakson.

Tak lama kemudian terlihat Zoya baru saja keluar dari rumah dengan menyandang tas kecil. Zoya kemudian menyipitkan kedua matanya saat melihat Brian yang ternyata menyembunyikan klakson dari tadi.

"Hei tuan muda arogan kenapa kau belum pergi, bukannya kau selalu on time." ucapnya pada Brian yang sedang duduk santai di kursi kemudi.

"Berhentilah nyeloteh dan cepat segera masuk." Seru Brian dengan wajah sedingin es.

"Kenapa aku harus ikut denganmu, aku biasa diantar oleh ayah, kau pergi saja duluan sana." balas Zoya dengan tatapan sinis.

"Ya dia bisa mengantarmu hanya jika mobilnya masih ada."

Tak lama pak Siman tiba-tiba datang menghampiri Zoya dan Brian, melihat ayahnya tidak membawa mobil. Membuat Zoya menyatukan kedua alisnya.

"Eh, Zoya mulai sekarang ayah tidak akan mengantarmu lagi."

"Tapi ayah, kenapa? Dimana Marcedes ayah?"

"Marcedesnya tuan muda!" ucap pak Siman yang menegaskan, "mobil itu sudah di ganti dengan ini, ya Roll Royce ini."

Zoya mengangguk ringan dan akhirnya menjatuhkan pandangan ke Brian. Sekarang dia mengerti kenapa waktu itu Brian tidak mau di antar oleh ayahnya.

Tin....

Sekali lagi Brian memencet klakson agar Zoya segera masuk, dia memang sangat disiplin masalah waktu. Karena itu dia bukan tipe orang yang suka menunggu.

"Apa kau akan terus berdiri di situ atau segera masuk." Seru Brian.

"Cepat nak, tidak baik membuat tuan muda terus menunggu." sambut pak Siman.

"Ya, ya, baiklah." Zoya kemudian dengan segera masuk kedalam mobil dengan perasaan sedikit jengkel.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Ban 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Ban 108
109 Bab 109
110 Ban 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Ban 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Ban 108
109
Bab 109
110
Ban 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!