Setelah itu Brian dan Zoya segera keluar dari kafe. Di luar tak sengaja Zoya melihat sebuah kios kaki lima yang menjual es krim.
"Lihat itu ada es krim, pas sekali untuk pencuci mulut." Zoya langsung menghampiri penjual es krim yang berada di seberang jalan.
"Ya ampun, wanita ini emangnya dia masih belum kenyang apa." gumam Brian yang hanya bisa menggeleng melihat Zoya.
Brian melipat kedua tangannya dan bersandar di pintu mobilnya. Matanya menatap Zoya yang sedang membeli es krim di seberang jalan dengan penuh arti. Sejenak dia melamun, Zoya benar-benar berbeda dari semua gadis yang telah ia temui.
Tentu saja sejak zaman SMA, Brian sudah banyak di dekati olah gadis-gadis. Tapi tak ada satupun yang bisa menarik perhatiannya. Karena dia tahu, semua gadis mendekatinya hanya karena dia good looking dan kaya raya.
Zoya kemudian menyeberangi jalan sambil membawa dua es krim menuju Brian. Kelihatannya Zoya tampak lebih baik dari pada sebelumnya, senyumnya terlihat begitu manis saat dia menikmati es krim itu. Zoya tampaknya sangat suka dengan es krim.
"Apa kau juga mau tuan muda arogan?" Zoya menawarkan pada Brian saat di dalam mobil, "eh, aku lupa kau sendiri kan sudah dingin, jadi untuk apa makan es krim bisa-bisa kau membeku nanti."
"Kalaupun kau membayar ku, rasanya tidak ingin aku memakan es krim yang sudah kau jilat." tolak Brian mentah-mentah.
Zoya langsung tersentak dan wajahnya langsung berubah merah, dia kemudian tersenyum pada Brian dan melanjutkan melahap kedua es krim itu.
"Lihat, ada sisa es krim di situ." Brian menunjuk bibir mungil Zoya.
Sontak Zoya berkaca pada spion mobil dan ternyata benar, karena terlalu menikmati, dia makan sampai belepotan begitu. Zoya ingin menggunakan lengan bajunya untuk mengelap sisa es krim yang ada di bibirnya, tapi tindakannya segera di hentikan Brian.
"Tunggu!"
Sejenak Zoya terdiam dan mengkhayalkan sebuah adegan romantis yang di film-film. Kedua pipinya seketika merona, dia tak menyangka kalau ternyata Brian adalah orang yang romantis. Kalau begini dia bisa jatuh hati pada tuan muda arogan ini.
"Hei, malah melamun, ambil tisu ini." Brian menjentikkan jarinya sembari memberikan kotak tisu pada Zoya.
Zoya kemudian tersadar kembali dan menatap kotak tisu yang diberikan Brian. Dia kemudian menepuk jidatnya dan tertawa kecil kerena merasa geli pada dirinya sendiri.
"Ya ampun kenapa sih aku," ucap batin Zoya.
"Kau kenapa? Senyum-senyum begitu," tanya Brian yang keheranan, dia benar-benar tidak mengerti, bentar-bentar Zoya merengut seperti jeruk purut, kemudian tidak ada angin, tidak ada hujan dia kembali tersenyum.
"Memangnya kenapa, aku bukan orang sepertimu yang sangat sulit untuk tersenyum." Jawab Zoya sembari menyeka bibirnya dengan tisu.
Dari pada terus berdebat, Brian langsung menyalakan mobilnya dan segera melaju di jalan raya. Di perjalanan pulang Brian meminta Zoya untuk melanjutkan kembali ceritanya tadi, tentang Vince dan Trisha yang bersekongkol.
Sambil terus mengemudi Brian mendengarkan Zoya. Ternyata seminggu yang lalu, Vince menawarkan Zoya untuk menjadi pasangan di kompetisi dance kampus. Tapi karena Zoya, sudah mendaftarkan diri dan timnya. Jadi dia tidak bisa menerima tawaran Vince.
Karena penolakan itu Vince merasa dirinya sangat tak di hargai, dia mengatakan kalau Zoya pasti akan menyesal karena telah menolaknya.
"Zoya Amanda, kau menolak tawaranku karena teman-temanmu, maka dengar ini! Karena teman-temanmu juga lah kau akan kehilangan semua impianmu."
Kata- kata itu terus terngiang di telinga Zoya sampai sekarang. Sebelumnya dia sangat mengidolakan sosok Vince, namun setelah itu Zoya tidak pernah mau menatap atau bicara lagi dengannya.
Tapi siapa sangka ancaman Vince tidak hanya omong kosong belaka, sekarang semua temannya pergi meninggalkannya. Termasuk Trisha sahabat yang sangat dipercaya Zoya sejak SMA, kini juga turut mengkhianatinya secara terang-terangan.
"Jadi apa selanjutnya?" Brian kembali bertanya pada Zoya yang duduk melamun di sebelahnya, setelah mendengar penjelasan Zoya tadi, entah kenapa batin Brian juga tidak bisa menerima hal itu.
"Entahlah, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, aku juga tidak bisa melawan Vince, kau tahu dia adalah King of School, gelar itu bukan hanya nama belaka." Ujar Zoya. ekspresinya mendung seperti awan gelap.
"Apa kompetisi ini sangat berarti bagimu." Brian mulai semakin serius saat melirik Zoya.
"Tentu saja..." Zoya mulai menoleh dan menatap Brian yang sedang mengemudi. Kemudian dia menyeka air matanya yang mengalir jatuh.
Sontak Brian langsung mengkedutkan keningnya, saat melihat Zoya yang kembali menangis. Sepertinya kompetisi ini benar-benar mempengaruhi hidupnya.
"Kalau begitu kenapa tidak daftar ulang saja,"
"Apa? Kau kira ini semudah membalikan telapak tangan. Aku tidak bisa mendaftar ulang begitu saja, karena aku harus menemukan pasangan yang dance yang cocok denganku."
"Apa hanya itu masalahnya, jadi kau tidak punya pasangan dance untuk mengikuti kompetisi itu, kau tak perlu khawatir, sudah aku bilang aku akan membantumu kan. Besok aku akan carikan orang yang mau menari bersamamu di."
"Heh, terserah saja." Ucap Zoya dengan acuh tak acuh.
Dengan kesal Zoya segera membuang pandangannya dari Brian dan melipat tangannya. Sementara itu Brian masih terlihat tidak peduli dan terus mengemudi.
...
Keesokan paginya Brian sudah bersiap untuk pergi ke kampus, tapi dia belum juga pergi dari tadi. Padahal sudah hampir sepuluh menit dia sudah duduk di dalam mobil. Sesekali dia melihat arlojinya, dan kemudian membunyikan klakson.
Tak lama kemudian terlihat Zoya baru saja keluar dari rumah dengan menyandang tas kecil. Zoya kemudian menyipitkan kedua matanya saat melihat Brian yang ternyata menyembunyikan klakson dari tadi.
"Hei tuan muda arogan kenapa kau belum pergi, bukannya kau selalu on time." ucapnya pada Brian yang sedang duduk santai di kursi kemudi.
"Berhentilah nyeloteh dan cepat segera masuk." Seru Brian dengan wajah sedingin es.
"Kenapa aku harus ikut denganmu, aku biasa diantar oleh ayah, kau pergi saja duluan sana." balas Zoya dengan tatapan sinis.
"Ya dia bisa mengantarmu hanya jika mobilnya masih ada."
Tak lama pak Siman tiba-tiba datang menghampiri Zoya dan Brian, melihat ayahnya tidak membawa mobil. Membuat Zoya menyatukan kedua alisnya.
"Eh, Zoya mulai sekarang ayah tidak akan mengantarmu lagi."
"Tapi ayah, kenapa? Dimana Marcedes ayah?"
"Marcedesnya tuan muda!" ucap pak Siman yang menegaskan, "mobil itu sudah di ganti dengan ini, ya Roll Royce ini."
Zoya mengangguk ringan dan akhirnya menjatuhkan pandangan ke Brian. Sekarang dia mengerti kenapa waktu itu Brian tidak mau di antar oleh ayahnya.
Tin....
Sekali lagi Brian memencet klakson agar Zoya segera masuk, dia memang sangat disiplin masalah waktu. Karena itu dia bukan tipe orang yang suka menunggu.
"Apa kau akan terus berdiri di situ atau segera masuk." Seru Brian.
"Cepat nak, tidak baik membuat tuan muda terus menunggu." sambut pak Siman.
"Ya, ya, baiklah." Zoya kemudian dengan segera masuk kedalam mobil dengan perasaan sedikit jengkel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments