“Bu kalo kita berbuat curang dalam bisnis dan akhirnya ketahuan, menurut ibu gimana?” Siti menatap kedua bola mata Ghofur yang sudah tampak sayu, dia mencari sesuatu di dalam sana.
“Apakah bapak merasa bersalah?” Nada Siti tiba-tiba berubah dingin. “Ya jelas bu, tadi juga sudah bapak akui kesalahannya.” jawab Ghofur tertunduk sendu. “Trus sekarang apa masalahnya pak?” Siti mulai tidak sabar dengan cara Ghofur menjawab dengan cara dicicil, kayak kredit barang aja yak hehehe.
“Aku malu bu.” jawab Ghofur masih dengan wajah yang terlihat semakin sedih.
“Gini ya pak, tiap manusia itu adalah tempatnya salah, khilaf, dosa. Jika bapak sudah mengakui kesalahannya, ya berarti bapak tergolong orang yang mulia. Sekarang perbaiki semuanya dengan sungguh-sungguh, nasib baik bapak masih punya malu, karena itu tanda kalo bapak itu masih memiliki iman.”
Panjang lebar Siti memberikan motivasi kepada suaminya. Ghofur yang menyimak omongan dari istrinya manggut-manggut. Ada rasa senang di hatinya karena istrinya tidak murka seperti yang dia bayangkan.
“Emang bapak sudah mencurangi siapa pak?”
Deg!
Siti ternyata tidak memahami suaminya sedang bermasalah dengan siapa. ‘Waduuhh mati aku!’ gumamnya dalam hati dan wajah lega Ghofur mendadak menjadi muram. hal yang tadinya dianggap sudah terlewati, ternyata sekarang dia akan hadapi.
“Anu bu… jadi gini… eemmm tapi ibu janji dulu ya jangan marah, jangan naik tensi nya, ya?” Ghofur mulai blingsatan sendiri, dia bingung harus memulai dari mana.
“Pak, jangan bertele-tele, langsung to the point aja lah pak!” Siti yang mulai penasaran jadi sewot sendiri.
“Bu sebenarnya aku mencurangi pak Kyai Ibrahim dengan merusak kebunnya.”
Jeeddeeerrrr
Bagai disambar petir tak berhujan, Siti tidak menyangka suaminya akan merusak hubungan yang selama ini dia bangun dengan bu nyai Fatimah.
Demi bisa mendapatkan Zahra si calon menantu idaman untuk putra nya Tony. Tapi sekarang impiannya seperti piring yang dihempaskan, hancur berkeping-keping.
“Pak, kok bapak tega menghancurkan masa depan Tony!, sekarang Ibu bisa apa pak?” Siti shock dengan pernyataan Ghofur. dia melorot dari posisi duduk nya.
"Sabar bu, tadi aku sudah disidang oleh beliau. Dan sebagai hukumannya aku harus bertaubat dan membantu beliau dalam pertanian dan bla bla bla."
Ghofur berusaha menjelaskan semuanya yang terjadi tadi, sekarang dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari istrinya. Siti yang mendengarkan dengan seksama tidak ingin menyela sedikitpun.
Suami istri yang masih saling mencinta, di usia pernikahan mereka yang sudah melewati kawin perak ini, sangat layak dijadikan contoh bagi pasangan muda. Walau apapun keadaannya mereka akan saling membenahi dan mendukung.
Ghofur selalu bisa menenangkan istrinya. Siti terus menatapnya dengan pandangan tajam dan terus mencari kebenaran dalam tiap kalimatnya.
“Pak tolong jalankan hukuman yang diberikan Kyai dengan sungguh-sungguh. Ibu tidak ingin diberi makan dari uang haram pak. Dan gimana nanti kita akan cerita sama cucu kita hiks..hiks..?”
Siti yang sedari tadi sudah menahan dengan sangat kuat, agar bulir bening itu tidak luruh, kini jebol sudah pertahanannya. Isak tangis yang pilu itu membuat Ghofur semakin merasa menyesal.
Dengan lembut dia merengkuh pundak Siti dan menariknya dalam pelukan di dada yang beranjak tua, tapi tetap menjadi tempat ternyaman bagi Siti untuk menenangkan hati nya. Owwhh so sweet ya Author jadi ikut terharu.
*****
Ceklek
Satish membuka pintu ruang rawat inap VVIP Sitara. Musa mengikutinya dari belakang. Musa tidak lupa mengucapkan salam “Assalamualaikum.” Dengan langkah santai dia menghampiri Umi Fatimah dan Zahra.
dengan takzim dia mencium punggung tangan Fatimah dan mencium pipi kiri dan kanan wanita yang sangat dia muliakan itu.
Zahra juga mengambil tangan kakak nya dan mencium punggung tangannya. Musa mengusap puncak kepala Zahra yang tertutup hijab warna ungu muda.
Satish yang sudah mengambil kursi dan duduk di samping Sitara. “Kamu sudah kelihatan segar sayang?” Sitara berusaha untuk duduk dengan baik dan memberikan senyum manis nya untuk papa tercinta.
“Tara, maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik, gimana sekarang keadaan mu?” Musa yang sudah berada di sisi lain dari brankarnya, menatap gadis itu dengan tatapan sendu.
“Aku sudah merasa baikan Musa, kamu sudah melakukan yang terbaik buat aku. Jadi tidak perlu minta maaf.” Sitara berkata sungguh-sungguh dan tidak lupa senyum manis, semanis gula asli dia berikan kepada musa.
Eiits bentar sepertinya ada yang beda dengan Musa. Yup, Mata indah Sitara mengerjap lucu demi melihat penampilan Musa yang baginya makin tampan. Celana jeans warna biru dan baju koko kekinian menyempurnakan penampilannya yang sederhana tapi mampu meningkatkan ketampanannya secara drastis.
“Tara aku ingin menyampaikan hasil pertemuan tadi dengan pak Ghofur. Bla..bla..bla..” Musa menjelaskan apa yang tadi terjadi di Pesantren. Satish tidak menyela sama sekali, dia juga menyimak semuanya.
“Jujur aku sebenarnya tidak terima, jika hukumannya hanya seringan itu Musa. Tapi apa sebenarnya tujuan kalian memberikan hukuman yang maaf ya, ini cemen banget Musa!”
Musa mencari posisi yang nyaman untuk dia duduk, nampaknya dia harus memberikan penjelasan panjang, mengenai pola didik yang selama ini diterapkan oleh Abi nya.
Dalam mendidik santri yang kebanyakan dari tempat antah berantah, harus dengan cara sendiri. Menyentuh hati nurani dan mambangun logika serta mengikuti ajaran yang sudah diajarkan oleh Rasulullah.
“Sitara,, maukah kau mendengarkan cerita ku tentang sebuah kisah?” Sitara tampak antusias ingin mendengarkan. “Aku mau, karena aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu belajarku.
“Allah Ta’ala berfirman. Katakanlah: “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)" sesaat Musa menjeda kalimatnya.
"Tidak ada taubat seorang hamba yang tidak di terima Allah Subhanahu wata'ala, jika dia bersungguh-sungguh. Apalagi pak Ghofur yang sudah mengakui kesalahannya."
"Sebegitu mudah nya ya untuk jadi baik?" Sitara berkata mengambang dengan tatapan yang masih belum puas.
Musa dapat menangkap ketidakpuasan Sitara.
"Dalam bertaubat, tidak pantas seorang muslim untuk berputus asa dari rahmat Allah. Bahkan berputus asa dari rahmat Allah merupakan dosa yang sangat besar dan termasuk ciri-ciri orang yang kafir."
Kembali Musa menjeda kalimatnya.
"Sebagaimana ucapan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya, “Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)."
"Tara, sebenarnya hukuman pak Ghofur sangatlah berat, karena sekarang dia yang menghukum dirinya sendiri. Dia berhadapan dengan rasa malu dan berhadapan dengan hawa nafsunya sendiri. Apakah itu mudah Tara?"
Musa menatap Sitara dengan lembut dan senyum yang berkharisma.
Owwh kembali hati Sitara berdegup tak beraturan, diberi ilmu dengan tatapan teduh, sungguh membuat hatinya yang keras pun meleleh.
.
.
.
Assalamualaikum
Mohon dukungannya terus ya pemirsa, jangan lupa like dan vote, ajakin juga semuanya baca karya ku.
Dijamin terpesona deeh Sitara kalo bawaannya Musa begitu bersinar hehehe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
jadi bingung ya Tara antara wajah menawan dokter Yoga atau pesona Musa saat memberikan ceramah 🤭
2023-01-13
1