Suasana di ruang tamu Kyai Ibrahim masih panas, Satish yang tampak gelisah dan belum bisa menerima keputusan Kyai yang seakan meringankan Ghofur. jelas saja dia tidak menerima, Putri kesayangannya sempat kritis akibat kehilangan banyak darah.
“Pak Kyai, saya akan mengganti rugi dan mengembalikan uang yang sudah pak Kyai belanjakan dalam tiga bulan ini.” Ghofur memberanikan diri untuk menjawab permintaan Kyai.
“Begitu juga dengan biaya rumah sakit mbak Sitara, saya mohon maaf pak.” dengan wajah lesu dan malu Ghofur menghadapkan wajahnya ke arah Satish sambil sedikit membungkukkan badannya.
“Saya rasa itu sangat ringan, apakah itu menurut pak Ghofur sudah bijaksana?” Kyai Ibrahim kembali menatap tajam Ghofur. Kembali ruangan menjadi riuh. semua menunggu dengan tegang.
“Mohon anak-anak ku semua nya tenang, mari kita mendoakan agar pak Ghofur bisa mengambil langkah bijaksana dalam menyelesaikan masalah ini.” Dengan mengangkat tangannya sebelah, Kyai menenangkan para santri yang ramai berargumen.
“Ma-maaf Kyai saya tidak bisa lagi berfikir apa yang saya harus lakukan.” dengan tergagap Ghofur mengatakan kebuntuannya kepada Kyai, berharap Kyai Ibrahim memberikan solusi.
Kyai Ibrahim sedikit mengubah posisi duduk nya. “Pak Ghofur, kita hanya manusia biasa, yang tidak lepas dari salah, khilaf dan dosa.”
Kyai menjeda kalimatnya, sementara Satish dan Ghofur juga para santri yang menghadiri sidang dadakan itu kembali menyimak dengan khidmat.
“Saya mengambil keputusan, Pak Ghofur yang memilih hukumannya, merujuk pada kisah Ikrimah bin Abu Jahal. Ikrimah termasuk pimpinan musyrikin di perang uhud dan tokoh di balik pembantaian terhadap kaum muslimin di mekkah saat masih dalam masa perjanjian Hudaibiyah.”
"Perjanjian Hudaibiyah adalah kesepakatan dibuat Nabi Muhammad dengan kafir Quraisy, di antaranya larangan saling serang antara kedua kubu. Tapi belakangan Quraisy mengkhianati perjanjian, sehingga Rasulullah pun mengerahkan pasukan merebut Makkah."
"Saat pasukan Rasulullah masuk ke Makkah, Ikrimah memimpin perlawanan, tapi dia kalah dan sekitar 23 anak buahnya tewas. Ikrimah kabur ke Jeddah lalu naik kapal. Tapi, di tengah laut ombak besar menghantam kapal."
"Orang dalam kapal menyebut-nyebut nama Allah. Akhirnya, Ikrimah mulai tersentuh hatinya dan menyadari berhala yang disembah tak bisa menyelamatkannya di laut. Kapal yang membawa Ikrimah balik lagi ke Jeddah."
"Sementara di Makkah, Ummu Hakim, istri Ikrimah sudah masuk Islam. Dia minta Rasulullah memaafkan Ikrimah kalau masuk Islam. Rasulullah mengiyakan."
"Ketika itu istrinya yang sudah lebih dulu masuk agama Islam memohon Ikrimah agar dimaafkan dan berikan perlindungan.“
"Ummu Hakim akhirnya berangkat ke Jeddah mencari Ikrimah. Setelah bertemu, Ummu Hakim meminta suaminya kembali ke Makkah menghadap Nabi Muhammad dan bersyahadat."
"Dalam perjalanan, Ikrimah mencoba menyentuh dan mengajak istrinya bermesraan, tapi Ummu Hakim menolaknya dengan alasan seorang muslimah tidak boleh disentuh oleh orang kafir. Melihat keteguhan sang istri menjaga kesucian, Ikrimah makin tersentuh dengan Islam."
"Tiba di Makkah, Ikrimah bersyahadat di depan Rasulullah yang sudah memaafkan segala dosanya. Ikrimah berikrar di depan Nabi akan membayar semua kesalahan diri dan ayahnya di masa lalu dengan teguh membela Islam. Dia siap mengorbankan nyawa dan harta di jalan Allah."
"Rasulullah sangat bahagia dengan bersyahadatnya Ikrimah, seorang tokoh paling berpengaruh di kalangan musyrikin. Karena Ikrimah sudah mualaf, Rasulullah meminta kepada muslimin agar tidak lagi mengungkit-ungkit kesalahan ayahnya, Abu Jahal yang dikenal sebagai Fir'aunnya umat Islam."
"Ikrimah akhirnya menjadi salah satu pahlawan Islam. Ia terus terlibat dalam beberapa peperangan. Ia akhirnya syahid di Perang Yarmuk, pertempuran dahsyat yang meruntuhkan kekuatan Romawi oleh kaum muslimin di Negeri Syam."
"Pelajaran inilah yang ingin saya ambil, dalam mengambil keputusan terhadap masalah Pak Ghofur ini. Bagaimana Pak Ghofur?”
Nyeeessss
Hati Ghofur menghangat mendengarkan penjelasan Kyai Ibrahim. Dia terisak menangis, rasa sesal yang membuncah menyesakkan dada.
“Pak Kyai, tolong bantu saya untuk bertaubat, ternyata uang bukanlah segalanya. Saya sekarang sadar akan dosa-dosa saya.”
Semua orang yang ada di sana seakan terhipnotis dengan kisah Rasulullah yang diceritakan Kyai Ibrahim. Emosi bukanlah jalan yang baik untuk menyelesaikan masalah.
Rasulullah sudah mengajarkan kita lewat tauladan yang sudah diberikan. Pelajari dan lakukan itu dalam kehidupan, niscaya setiap masalah akan mudah untuk dilalui.
Satish yang mendengarkan ceramah singkat Kyai Ibrahim, tampak mencerna kata demi kata. sehingga dia merasa ada gelenyar aneh yang menyusup di relung hati nya. Rasa damai yang bisa didapatkan dengan kata memaafkan.
“Pak Kyai, saya mohon ijinkan saya untuk berjuang bersama Kyai melalui Pondok pesantren Istiqomah. Saya akan membenahi diri ini, tolong bantu saya Kyai. Saya akan belajar dan terus belajar, saya khilaf dan silau dengan uang dan kekayaan yang terus saya timbun, tanpa saya peduli, ternyata hak para santri disini saya dzolimi”
"Alhamdulillah, barakallah, tabarakallah. Semua niat baik akan diijabah Allah. Tapi ingat Pak Ghofur, semua itu butuh bukti. Jangan sampai jadi tobat sambel, saat dimakan pedas, bilang ampun-ampun, setelah hilang pedasnya, eee kangen lagi sama sambel nya hehehe."
Semua orang tertawa mendengar nasehat Kyai yang ringan tapi menusuk hati.
"Jadi gimana hukumannya Kyai?" Ghofur ingin memastikan lagi apakah dia sudah dimaafkan atau hukumannya yang dipilih sudah mencukupi. Tangan kanannya sibuk menggaruk leher nya yang tidak gatal.
"Kami semua menerima permintaan maaf Pak Ghofur dan mengenai hukuman, anda sudah memilih untuk bertaubat, kami sangat senang. Allah maha pengampun dan Allah senang dengan orang yang mau menyadari akan kesalahannya."
"Mari kita sama-sama memperbaiki diri untuk mencapai ridho Illahi Robbi"
Mereka semua berjabat tangan, untuk saling memaafkan.
"Astaghfirullah, saya mohon maaf Pak Ghofur, ini kenalkan saudara kita, Bapak Satish, putri beliau yang semalam bertarung menyambut tamu para ninja, dan sekarang nak Sitara masih berada di rumah sakit."
Pak Ghofur refleks melihat ke arah Satish yang duduk di sebelah Kyai.
"Ma-maafkan saya pak, karena keserakahan saya, putri anda jadi korban. Jika diizinkan saya ingin bertemu putri anda, untuk meminta maaf secara langsung, apakah Bapak berkenan?
Satish menerima uluran tangan Ghofur. "Tidak apa-apa pak, saya juga minta maaf, jika tadi ada kalimat atau sikap saya yang tidak baik kepada Bapak."
"Mengenai pertemuan dengan putri saya, akan saya hubungi Bapak kembali bisa ya? Karena saya harus menjelaskannya terlebih dulu dengan Sitara."
Satish berusaha untuk belajar lapang dada. Karena sewaktu dia mau menitipkan Sitara, dia juga sudah berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
*****
Tok… Tok…Tok
“Pagi Sitara.” Fatimah menyapa Sitara yang tampak sudah lebih baik. Fatimah dan Zahra dengan sabar menunggu Sitara yang sudah mulai mencoba untuk duduk. “Kak, tiduran aja dulu, jangan dipaksakan duduk.”
Zahra duduk di kursi yang disediakan di tepi brankar. “Kakak mau minum atau mau makan?” tawarnya ramah. “Zahra apakah sudah ada kabar dari abi mengenai perkembangan pelaku?” Zahra yang sudah nyaman dengan posisi duduk nya, menyambut air yang diberikan oleh Zahra.
Setelah membereskan pekerjaan di rumah, fatimah dan Zahra disuruh Ibrahim untuk menunggu Sitara di rumah sakit. Sementra Ibrahim, Satish dan Musa yang menyelesaikan permasalahan itu di Pesantren.
“Belum tau Kak, tadi Zahra di suruh Abi mengundang Pak Ghofur kerumah, setelah itu kami kesini.” jelasnya singkat.
.
.
.Assalamualaikum
Komen ya pemirsa, biar author semangat nulisnya.
HHmmm kira-kira Sitara bakal maafin pak Ghofur gak ya???
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
Hukuman yang benar2 membuat Ghafur insyaf akan kesalahannya
2023-01-13
2