Adzan subuh berkumandang dengan merdunya, membangunkan jiwa-jiwa yang merindukan pencipta alam semesta.
"Mas bro semuanya, ayo kita melaksanakan sholat subuh dulu. Untuk para tawanan jika ingin melaksanakan shalat maka akan dikawal dengan santri yang bertugas."
Para ninja saling beradu pandang. Entah kode apa yang mereka lemparkan. Dengan tangan dan kaki yang terikat, tidak mungkin untuk shalat. "Saya mau shalat Ustadz." Salah satu dari ninja itu menjawab. Dan para ninja yang lainnya pun menganggukkan kepalanya.
Para ustadz membagi Tugas para santri untuk mengawal mereka. "Kita masih menunggu Kyai pulang dari rumah sakit. Jadi jangan sampai ada yang lolos ya teman-teman"
Mereka yang sudah memahami tugasnya masing-masing melangkahkan kakinya ke masjid yang berada di dalam komplek pesantren.
Sholat dilakukan dengan khusyuk dan tertib. Lantunan ayat-ayat Al Qur'an begitu indah terdengar.
*****
Sitara mulai menggerakkan tangannya, matanya yang indah tampak mengerjap menyesuaikan dengan cahaya di ruangan. Fatimah dan Zahra yang menjaganya di ruangan sedang melakukan sholat subuh.
Sementara Ibrahim dan Musa melaksanakan sholat di masjid rumah sakit.
"Papa" Sitara yang baru siuman teringat papa nya. Dia menoleh ke sisi kanan. Dia melihat Fatimah dan Zahra yang sedang berdoa.
Mendengar suara Sitara, Fatimah bergegas bangkit dan membiarkan Zahra yang merapikan alat sholat nya.
"Sitara, kamu sudah siuman nak, sebentar Umi panggilkan dokter ya" Sitara mengangguk lemah. Kepala nya masih pusing. Zahra yang sudah selesai merapikan alat sholatnya, berjalan mendekati brankar Sitara.
"Kakak mau minum?" Zahra sudah menyiapkan air di gelas. "Iya, aku haus Zahra". Perlahan Sitara menyesap air mineral yang diberikan Zahra kepadanya.
Kreekk
Pintu ruang VIP yang digunakan Sitara terbuka. Dokter berwajah oriental dengan tinggi yang proporsional dan senyum yang menawan. Dokter Yoga, melangkah dengan tenang menuju brankar yang ditempati Sitara. Fatimah disertai dua perawat mengiringi langkah Dokter Yoga.
"Selamat pagi Nona Sitara, apa yang dirasakan sekarang?" Dokter Yoga memeriksa dengan cermat keadaan Sitara. Para perawat memeriksa tensi, suhu tubuh dan menggantikan cairan infus yang sudah habis.
"Selamat pagi dokter, kepala saya sakit sekali." Sitara memang tampak pucat. Dokter Yoga memeriksa luka yang ada di lengan Sitara. Bekas jahitan tampak baik-baik saja. Saat mengganti perban, tampak Sitara yang meringis menahan sakit.
"Iisshhhh… sa-sakit dokter" keluh nya membuat dokter Yoga berhenti sebentar. "Boleh saya lanjutkan nona?” Sitara mengangguk pelan. padahal tugas menggantikan perban bisa saja dilakukan oleh perawat, tapi kali ini sepertinya Sitara pasien istimewa. Waah modus ini dokter Yoga hehehe.
“Setelah anda tidak merasakan pusing lagi dan semua tidak ada keluhan, saya rasa besok anda sudah bisa pulang dan rawat jalan nona.” Dokter muda itu tampak semakin mempesona dimata Zahra, yang diam-diam memperhatikan dari jarak yang tidak begitu jauh dari brankar Sitara.
“Maasya Allah, begitu indah ciptaanMu, jantung ini mulai tidak sehat jika aku lama-lama disini” Zahra yang bergumam kecil tampak tersipu dan mengusap dada nya, demi menenangkan jantung nya yang mulai mulai bertalun talun.
Zahra memutuskan untuk keluar dari ruangan, agar tidak terus terseret dengan arus pesona sang dokter yang seakan berarus deras. Ada hal yang Zahra lupa, dia kehilangn fokusnya, sehingga tidak mendengarkan pembicaraan dokter dan Sitara.
Dengan tergesa sambil menunduk dia bergegas menuju pintu. Disaat yang sama Dokter Yoga juga sudah mengarah ke arah pintu. Sama halnya dengan zahra, dokter Yoga abai dengan sekitarnya, karena dia berjalan sambil berbincang dengan Fatimah.
Dug!
“Aduh.. eh maaf Dokter, saya tidak sengaja.” Zahra yang menubruk dokter Yoga mundur beberapa langkah ke belakang. Dokter Yoga yang juga kaget menghentikan langkahnya.
“Eh.. tidak apa Nona, tampaknya anda terburu-buru, silahkan anda yang duluan jalan.” dengan tidak melepaskan senyum manisnya Yoga memberikan jalan pada Zahra untuk mendahuluinya.
“Zahra kamu kenapa nak?” Fatimah yang memang sedari tadi mengiringi sang dokter berjalan sambil berbincang mengenai keadaan Sitara, melihat sikap putri nya agak sedikit bingung.
“Ba-baik dokter, maaf sekali lagi, permisi” Zahra mempercepat langkahnya dan langsung memutar handle pintu. wajahnya yang sudah merona akibat benturan indah dengan sang dokter pujaan, mampu membuat pikirannya kacau.
Brruuk!
“Astaghfirullah, Zahra kalau jalan itu liat kedepan, jangan ngeliatin jempol kaki mu.” suara itu sudah tidak asing lagi di telinganya. Musa yang melihat keanehan pada sikap adeknya tmpak menyelidik.
“Aduuuhh kakak, sakit tau,” Zahra mengusap kepalanya yang tidaklah begitu sakit, tapi demi menutupi kegugupannya dia merajuk manja dengan kakak nya.
Dokter yoga dan Fatimah yang sudah berada di luar ruangan yang merawat Sitara, kembali melihat kekonyolan Zahra yang membuat dokter Yoga tersenyum penuh arti.
‘Gadis yang menggemaskan, dia tampak tersipu-sipu, cantik’ Dokter yoga hanya bicara di batinnya saja. Fatimah yang melihat kelakuan putrinya geleng -geleng kepala.
“Maaf dokter, Zahra memang agak ceroboh anak nya.” dengan tersenyum kecut, Fatimah ber basa basi. “Tidak apa bu.” Dokter Yoga mengangguk sopan sambil tersenyum penuh arti. ‘Zahra, hmmm nama yang indah,’ kembali kalimat itu hanya sampai di hati nya saja.
“Bagaimana perkembangan Sitara Dokter?, apakah lukanya parah?” Kyai yang sudah berada disana langsung menanyakan tentang Sitara. ada kekhawatiran di kalimat yang dia ucapkan.
“Alhamdulillah Luka di lengannya tidak parah Kyai, dan memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya juga akan segera sembuh. Sitara gadis yang kuat, karena saya melihat otot-otot yang terlatih. Dia pingsan dan sekarang merasa pusing karena kehilangan banyak darah.” Dokter Yoga menjelaskan dengan sedikit memuji Sitara.
Seerrr
Ada desiran aneh yang menjalar di hati Musa saat dokter Yoga memuji dan mengagumi Sitara. Entahlah rasa apa yang saat ini dia rasakan, apakah ini cemburu, tapi itu kan tidak boleh, karena Sitara bukanlah Istrinya. Musa menatap Dokter Yoga dengan tatapan tajam.
Panjang lebar Yoga dan Ibrahim berbincang bagaimana nanti merawat luka Sitara dan wajib kontrol tiap minggu untuk memantau luka di lengannya. Tidak lupa Dokter Yoga memberikan kartu nama nya kepada kyai agar mudah menghubunginya jika terjadi apa-apa dengan Sitara.
Jam bertugas Dokter Yoga akan berakhir, dan akan digantikan dengan dokter yang lainnya. hal tersebut membuat Musa menjadi sedikit lega. Musa yang sedari tadi hanya menyimak terus memperhatikan wajah pria tampan di hadapannya.
Musa dan Ibrahim akhirnya berpamitan dengan dokter Yoga. Mereka berjalan menuju arah yang berbeda. Ibrahim sudah menghubungi Satish saat menuju masjid. Jarak tempuh dari kota ke daerah dimana Kyai mendirikan pesantren, memang memakan waktu yang lumayan jauh, sekitar Tiga jam perjalanan.
Mentari pagi yang mulai menampakkan cahayanya membuat alam ini kembali terang setelah malam yang indah dengan hiasan bintang, menemani insan yang tertidur dengan mimpi yang menemani.
.
.
.
Assalamualaikum
Jangan lupa di like ya pemirsa. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dan kesalahan. Nuna masih harus belajar banyak. Mohon dukungannya ya pemirsa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
Dokter Yoga harus salah seorang antara Sitara atau Zahra.. Musa sudah mulai cemburu nih 🤭
2023-01-13
1