Bab 13: Dokter Yoga

Adzan subuh berkumandang dengan merdunya, membangunkan jiwa-jiwa yang merindukan pencipta alam semesta. 

     "Mas bro semuanya, ayo kita melaksanakan sholat subuh dulu. Untuk para tawanan jika ingin melaksanakan shalat maka akan dikawal dengan santri yang bertugas."

     Para ninja saling beradu pandang. Entah kode apa yang mereka lemparkan. Dengan tangan dan kaki yang terikat, tidak mungkin untuk shalat. "Saya mau shalat Ustadz." Salah satu dari ninja itu menjawab. Dan para ninja yang lainnya pun menganggukkan kepalanya. 

     Para ustadz membagi Tugas para santri untuk mengawal mereka. "Kita masih menunggu Kyai pulang dari rumah sakit. Jadi jangan sampai ada yang lolos ya teman-teman"

     Mereka yang sudah memahami tugasnya masing-masing melangkahkan kakinya ke masjid yang berada di dalam komplek pesantren. 

Sholat dilakukan dengan khusyuk dan tertib. Lantunan ayat-ayat Al Qur'an begitu indah terdengar. 

*****

     Sitara mulai menggerakkan tangannya, matanya yang indah tampak mengerjap menyesuaikan dengan cahaya di ruangan. Fatimah dan Zahra yang menjaganya di ruangan sedang melakukan sholat subuh.

     Sementara Ibrahim dan Musa melaksanakan sholat di masjid rumah sakit. 

     "Papa" Sitara yang baru siuman teringat papa nya. Dia menoleh ke sisi kanan. Dia melihat Fatimah dan Zahra yang sedang berdoa. 

     Mendengar suara Sitara, Fatimah bergegas bangkit dan membiarkan Zahra yang merapikan alat sholat nya. 

     "Sitara, kamu sudah siuman nak, sebentar Umi panggilkan dokter ya" Sitara mengangguk lemah. Kepala nya masih pusing. Zahra yang sudah selesai merapikan alat sholatnya, berjalan mendekati brankar Sitara. 

     "Kakak mau minum?" Zahra sudah menyiapkan air di gelas. "Iya, aku haus Zahra". Perlahan Sitara menyesap air mineral yang diberikan Zahra kepadanya. 

     Kreekk 

Pintu ruang VIP yang digunakan Sitara terbuka. Dokter berwajah oriental dengan tinggi yang proporsional dan senyum yang menawan. Dokter Yoga, melangkah dengan tenang menuju brankar yang ditempati Sitara. Fatimah disertai dua perawat mengiringi langkah Dokter Yoga. 

     "Selamat pagi Nona Sitara, apa yang dirasakan sekarang?" Dokter Yoga memeriksa dengan cermat keadaan Sitara. Para perawat memeriksa tensi, suhu tubuh dan menggantikan cairan infus yang sudah habis.

     "Selamat pagi dokter, kepala saya sakit sekali." Sitara memang tampak pucat. Dokter Yoga memeriksa luka yang ada di lengan Sitara. Bekas jahitan tampak baik-baik saja. Saat mengganti perban, tampak Sitara yang meringis menahan sakit.

     "Iisshhhh… sa-sakit dokter" keluh nya membuat dokter Yoga berhenti sebentar. "Boleh saya lanjutkan nona?” Sitara mengangguk pelan. padahal tugas menggantikan perban bisa saja dilakukan oleh perawat, tapi kali ini sepertinya Sitara pasien istimewa. Waah modus ini dokter Yoga hehehe.

“Setelah anda tidak merasakan pusing lagi dan semua tidak ada keluhan, saya rasa besok anda sudah bisa pulang dan rawat jalan nona.” Dokter muda itu tampak semakin mempesona dimata Zahra, yang diam-diam memperhatikan dari jarak yang tidak begitu jauh dari brankar Sitara.

“Maasya Allah, begitu indah ciptaanMu, jantung ini mulai tidak sehat jika aku lama-lama disini” Zahra yang bergumam kecil tampak tersipu dan mengusap dada nya, demi menenangkan jantung nya yang mulai mulai bertalun talun.

Zahra memutuskan untuk keluar dari ruangan, agar tidak terus terseret dengan arus pesona sang dokter yang seakan berarus deras. Ada hal yang Zahra lupa, dia kehilangn fokusnya, sehingga tidak mendengarkan pembicaraan dokter dan Sitara. 

Dengan tergesa sambil menunduk dia bergegas menuju pintu. Disaat yang sama Dokter Yoga juga sudah mengarah ke arah pintu. Sama halnya dengan zahra, dokter Yoga abai dengan sekitarnya, karena dia berjalan sambil berbincang dengan Fatimah. 

Dug!

“Aduh.. eh maaf Dokter, saya tidak sengaja.” Zahra yang menubruk dokter Yoga mundur beberapa langkah ke belakang. Dokter Yoga yang juga kaget menghentikan langkahnya. 

“Eh.. tidak apa Nona, tampaknya anda terburu-buru, silahkan anda yang duluan jalan.” dengan tidak melepaskan senyum manisnya Yoga memberikan jalan pada Zahra untuk mendahuluinya.

“Zahra kamu kenapa nak?” Fatimah yang memang sedari tadi mengiringi sang dokter berjalan sambil berbincang mengenai keadaan Sitara, melihat sikap putri nya agak sedikit bingung.

“Ba-baik dokter, maaf sekali lagi, permisi” Zahra mempercepat langkahnya dan langsung memutar handle pintu. wajahnya yang sudah merona akibat benturan indah dengan sang dokter pujaan, mampu membuat pikirannya kacau. 

Brruuk!

“Astaghfirullah, Zahra kalau jalan itu liat kedepan, jangan ngeliatin jempol kaki mu.” suara itu sudah tidak asing lagi di telinganya. Musa yang melihat keanehan pada sikap adeknya tmpak menyelidik. 

“Aduuuhh kakak, sakit tau,” Zahra mengusap kepalanya yang tidaklah begitu sakit, tapi demi menutupi kegugupannya dia merajuk manja dengan kakak nya.

Dokter yoga dan Fatimah yang sudah berada di luar ruangan yang merawat Sitara, kembali melihat kekonyolan Zahra yang membuat dokter Yoga tersenyum penuh arti. 

‘Gadis yang menggemaskan, dia tampak tersipu-sipu, cantik’ Dokter yoga hanya bicara di batinnya saja. Fatimah yang melihat kelakuan putrinya geleng -geleng kepala. 

“Maaf dokter, Zahra memang agak ceroboh anak nya.” dengan tersenyum kecut, Fatimah ber basa basi. “Tidak apa bu.” Dokter Yoga mengangguk sopan sambil tersenyum  penuh arti. ‘Zahra, hmmm nama yang indah,’ kembali kalimat itu hanya sampai di hati nya saja. 

“Bagaimana perkembangan Sitara Dokter?, apakah lukanya parah?” Kyai yang sudah berada disana langsung menanyakan tentang Sitara. ada kekhawatiran di kalimat yang dia ucapkan. 

“Alhamdulillah Luka di lengannya tidak parah Kyai, dan memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya juga akan segera sembuh. Sitara gadis yang kuat, karena saya melihat otot-otot yang terlatih. Dia pingsan dan sekarang merasa pusing karena kehilangan banyak darah.” Dokter Yoga menjelaskan dengan sedikit memuji Sitara.

Seerrr

Ada desiran aneh yang menjalar di hati Musa saat dokter Yoga memuji dan mengagumi Sitara. Entahlah rasa apa yang saat ini dia rasakan, apakah ini cemburu, tapi itu kan tidak boleh, karena Sitara bukanlah Istrinya. Musa menatap Dokter Yoga dengan tatapan tajam. 

Panjang lebar Yoga dan Ibrahim berbincang bagaimana nanti merawat luka Sitara dan wajib kontrol tiap minggu untuk memantau luka di lengannya. Tidak lupa Dokter Yoga memberikan kartu nama nya kepada kyai agar mudah menghubunginya jika terjadi apa-apa dengan Sitara.

Jam bertugas Dokter Yoga akan berakhir, dan akan digantikan dengan dokter yang lainnya. hal tersebut membuat Musa menjadi sedikit lega. Musa yang sedari tadi hanya menyimak terus memperhatikan wajah pria tampan di hadapannya. 

Musa dan Ibrahim akhirnya berpamitan dengan dokter Yoga. Mereka berjalan menuju arah yang berbeda. Ibrahim sudah menghubungi Satish saat menuju masjid. Jarak tempuh dari kota ke daerah dimana Kyai mendirikan pesantren, memang memakan waktu yang lumayan jauh, sekitar Tiga jam perjalanan. 

Mentari pagi yang mulai menampakkan cahayanya membuat alam ini kembali terang setelah malam yang indah dengan hiasan bintang, menemani insan yang tertidur dengan mimpi yang menemani. 

.

.

.

Assalamualaikum

Jangan lupa di like ya pemirsa. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dan kesalahan. Nuna masih harus belajar banyak. Mohon dukungannya ya pemirsa. 

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

Dokter Yoga harus salah seorang antara Sitara atau Zahra.. Musa sudah mulai cemburu nih 🤭

2023-01-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kecelakaan
2 Bab 2 : Kita Berbeda
3 Bab 3: Pesantren Istiqomah
4 Bab 4: Keputusan ku
5 BAB 5: Nama ku Sitara
6 Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7 Bab 7: Pindahan
8 Bab 8: Debat Kucing
9 Bab 9: Salah Tangkap
10 Bab 10: Gerombolan Ninja
11 Bab 11: Singa Betina
12 Bab 12: Misi Yang Gagal
13 Bab 13: Dokter Yoga
14 Bab 14: Bos Bawang
15 Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16 Bab 16: Hukuman Yang Beda
17 Bab 17: Tobat Sambel
18 Bab 18: Gantengnya 40%
19 Bab 19: Malunya Aku
20 Bab 20: Waktu Belajar Ku
21 Bab 21: Pulang.
22 Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23 Bab 23: Setajam Samurai
24 Bab 24: Sah
25 Bab 25: Gagal Nikah?
26 Bab 26: Terlihat Tampan
27 Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28 Bab 28: Panggil aku Aby
29 Bab 29: Nikahan Ayu
30 Bab 30: Nubruk Lagi.
31 Bab 31: Nikah Mendadak
32 Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33 Bab 33: Hobi Nubruk
34 Bab 34: Seperti Maling
35 Bab 35: Belajar Bareng 1
36 Bab 36: Belajar bareng 2
37 Bab 37: Salah Paham
38 Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39 Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40 Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41 Bab 41: Gaspol Mas
42 Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43 Bab 43: Hai Tampan
44 Bab 44. Syukuran
45 Bab 45: Daadee Datang
46 Bab 46: Parfum Malam Pertama
47 Bab 47: Dokter Pintu
48 Bab 48: Ketahuan.
49 Bab 49 : Masih sakit?
50 Bab 50: Bertemu Cici
51 Bab 51: Kebakaran
52 Bab 52: Musa kritis
53 Bab 53: Tidak Sanggup
54 Bab 54: Siapa Dev?
55 Bab 55: Obsesi Dev
56 Bab 56: Arya
57 Bab 57: Penyelidikan
58 Bab 58: Gombalan Absurd
59 Bab 60: Face Off
60 Bab 60: Keputusan Face Off
61 Bab 61: Sarung Ninja
62 Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63 Bab 63: Wajah Baru Musa
64 Menjelang Tamat
65 Bab 64: Rencana Party
66 Bab 65: Memaafkan
67 Selamat Tahun Baru 2023
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1: Kecelakaan
2
Bab 2 : Kita Berbeda
3
Bab 3: Pesantren Istiqomah
4
Bab 4: Keputusan ku
5
BAB 5: Nama ku Sitara
6
Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7
Bab 7: Pindahan
8
Bab 8: Debat Kucing
9
Bab 9: Salah Tangkap
10
Bab 10: Gerombolan Ninja
11
Bab 11: Singa Betina
12
Bab 12: Misi Yang Gagal
13
Bab 13: Dokter Yoga
14
Bab 14: Bos Bawang
15
Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16
Bab 16: Hukuman Yang Beda
17
Bab 17: Tobat Sambel
18
Bab 18: Gantengnya 40%
19
Bab 19: Malunya Aku
20
Bab 20: Waktu Belajar Ku
21
Bab 21: Pulang.
22
Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23
Bab 23: Setajam Samurai
24
Bab 24: Sah
25
Bab 25: Gagal Nikah?
26
Bab 26: Terlihat Tampan
27
Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28
Bab 28: Panggil aku Aby
29
Bab 29: Nikahan Ayu
30
Bab 30: Nubruk Lagi.
31
Bab 31: Nikah Mendadak
32
Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33
Bab 33: Hobi Nubruk
34
Bab 34: Seperti Maling
35
Bab 35: Belajar Bareng 1
36
Bab 36: Belajar bareng 2
37
Bab 37: Salah Paham
38
Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39
Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40
Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41
Bab 41: Gaspol Mas
42
Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43
Bab 43: Hai Tampan
44
Bab 44. Syukuran
45
Bab 45: Daadee Datang
46
Bab 46: Parfum Malam Pertama
47
Bab 47: Dokter Pintu
48
Bab 48: Ketahuan.
49
Bab 49 : Masih sakit?
50
Bab 50: Bertemu Cici
51
Bab 51: Kebakaran
52
Bab 52: Musa kritis
53
Bab 53: Tidak Sanggup
54
Bab 54: Siapa Dev?
55
Bab 55: Obsesi Dev
56
Bab 56: Arya
57
Bab 57: Penyelidikan
58
Bab 58: Gombalan Absurd
59
Bab 60: Face Off
60
Bab 60: Keputusan Face Off
61
Bab 61: Sarung Ninja
62
Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63
Bab 63: Wajah Baru Musa
64
Menjelang Tamat
65
Bab 64: Rencana Party
66
Bab 65: Memaafkan
67
Selamat Tahun Baru 2023

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!