Bruk!
Bruk!
Tumpukan terakhir sudah masuk bagasi. Sitara dengan wajah ceria ikut mengangkut barang-barang yang akan dibawanya ke Pesantren Istiqomah. Entah apa yang membuat dia bersemangat, Satish yang melihat nya sedikit curiga, 'Apa yang sedang direncanakan anak ini? Ahh mikir apa aku, semoga memang dia benar-benar ingin berubah, huufff tolong aku Tuhan'
Satish menggumam di dalam hati nya. Tidak lama kemudian mobil pun melaju dengan kecepatan sedang mengarah ke luar kota. "Bagaimana bisnis Papa? Maaf selama ini Tara sudah banyak membuang waktu, jadi gak serius sama kerjaan." Tara memasang wajah menyesal dan menatap netra Satish.
"Semuanya masih berjalan seperti biasa, hanya sedikit masalah karyawan minta kebijakan naik gaji, yaah ini efek dari semua bahan keperluan pada naik. Apa kamu sudah mulai tertarik untuk bergabung?" Satish merasa senang putri nya mulai kembali tertarik dengan usaha keluarga mereka.
"Ya suatu hari nanti, aku ingin kembali ke perusahaan Pa, tapi Tara ingin menikah dulu dengan Musa." Tara berkata sambil tersenyum manis. Satish memicingkan matanya, menyelidik. "Heeyy mimpi apa Papa semalam?? Tara, are you serious?" Satish bertanya ragu. "Yes.. I want him." Satis tertawa lepas, itulah sifat Sitara dia selalu blak-blakan.
Sementara di Pondok Istiqomah, Musa sibuk berkemas karena hari ini dia akan menempati rumah yang ada di area asrama santri. Rumah tipe 21 yang sengaja di bangun untuk ustadz yang belum berkeluarga dan belum memiliki rumah sendiri. Seharian kemarin Musa sudah membersihkannya dibantu oleh Bram dan kawan-kawan. Sekarang semua sudah siap.
Nampak Musa membawa travel bag berisi pakaian dan kontainer berisi kitab-kitab yang biasa dipelajari. "Mas ustadz kenapa jadi pindah kesini sih, mana mendadak lagi, gak kasian sama Abi dan Umi, mereka bakal kesepian lo mas?" Bram yang sudah tidak tahan dengan rasa ingin tahu nya, langsung saja menginterogasi Musa.
"Ini demi kebaikan bro, ada anggota baru di rumah ku, dan dia bukan mahramku, jadi ya ngungsi kesini." Musa masih menutupi tentang permasalahannya dengan Sitara. Dari semua santri, Bram memang paling dekat dengan Musa. "Ooo cewek to yang datang, saudara atau anak angkat, atau calon istri mas ustadz yang lagi training jd istrinya Ustad?" Bram semakin menyelidik sambil cengar cengir, dia tidak puas dengan jawaban Musa.
"Ya bisa dibilang anak angkat bro, naah kalo nanti berujung jadi Istri ya berarti jodoh ku hehehe" Musa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mulai membuat Bram semakin penasaran. "Waduh ini nampaknya aku ketinggalan berita ya mas, ayolah Mas ustad cerita yang lengkap deh, jiwa wartawan ku meronta ini mas hahaha!"
"Hmm.. gimana ya Bram, aku sebenarnya juga bingung, beberapa hari yang lalu aku membantu seorang gadis kecelakaan. Aku pikir semua beres setelah aku antar ke rumah sakit, tapi…" Musa menceritakan kejadian demi kejadian kepada Bram, dan itu membuat Bram kaget sampai berteriak "Apaa!!! Dia ngelamar mas Musa?!"
Musa terperanjat kaget karena Bram yang tiba-tiba berteriak, buru-buru Musa menutup mulut Bram dengan tangan nya. "Ssstt.. kamu ini kayak emak-emak yang dapet gosip baru deh! Jadi gimana menurut kamu Bram?"
*****
Sitara dan Satish sudah memasuki pekarangan rumah Kyai. Pak Danu yang selalu setia mengantarkan Satish kemana-mana memarkirkan mobil dengan rapi. Kyai Ibrahim dan Nyai Fatimah serta Zahra sudah siap menunggu di depan rumah. Dengan senyum yang ramah dan menyejukkan.
"Selamat datang anak Umi, sini sayang, ayo kamu liat kamar yang akan kamu tempati, jika kamu tidak suka bisa pilih kamar Musa atau kamar tamu ya" Fatimah membimbing tangan Sitara dengan lembut. Tidak lupa Sitara menyapa Kyai dengan menangkupkan tangan di depan dada nya dan terenyum hormat.
Tidak menunggu waktu lama, mereka bertiga sudah sampai di kamar Zahra.
Ceklek!
Pintu terbuka, dan Sitara merasa kagum melihat nya, kamar yang tidak begitu luas namun tampak cantik, dan tertata rapi. Sebelumnya Sitara sudah membeli tempat tidur dan lemari serta meja rias, dan langsung minta di kirim ke Pesantren Istiqomah. Sesuai ucapannya, Tara tidak ingin menambah kerepotan keluarga Kyai Ibrahim.
"Cantik sekali Umi" pujian tulus meluncur manis dari bibir Sitara. "Maasya Allah, semoga kamu suka dan betah disini ya nak" Fatimah tampak senang, apalagi melihat Sitara nampak berbinar-binar matanya. "Setelah kamu rapikan pakaianmu, silahkan berkeliling nanti ditemani Zahra dan Musa."
"Kamu sudah makan nak?" Fatimah yang sedari tadi sudah mempersiapkan hidangan makan siang, ingin menjamu keluarga baru nya. "Nanti aja Umi, sebentar lagi kan waktunya sholat, Umi silahkan sholat dulu, Tara akan menunggu disini sambil berkemas merapikan pakaian." Sitara nampak sudah sangat terbiasa dengan rutinitas kaum muslimin, karena sebelum bertemu Musa dia memang sudah memulai untuk belajar.
Sementara Satish yang masih berbincang dengan Kyai mulai mengarah pada bisnis yang bisa dilakukan bersama. Tidak lupa Satish menyatakan dirinya ingin menjadi donatur tetap untuk pesantren Istiqomah dimana putri tercinta sedang bermetamorfosis. “Kyai saya dengar pesantren ini lain dari yang lain, bolehkah saya tau ceritanya?” Satis tampak antusias ingin tau lebih dalam tentang pesantren Istiqomah. “Sebenarnya saya sering malu jika di bilang ini pesantren, karena tempat ini adalah rumah nya umat, saya termotivasi dari seorang ibu yang tidak memiliki anak, dan dia memberikan tempat tinggal untuk anak-anak yang terbuang. Dia berjuang sendiri dan menjadikan anak-anak angkat nya menjadi sarjana.” Ibrahim nampak berkaca-kaca setiap kali dia mengingat tentang ibu yang kini menjadi sumber inspirasi nya.
“Maaf kyai, apakah sekarang masih ada beliau?” Satish semakin tertarik untuk mendengarkan cerita Kyai. “Saya melihat beliau sewaktu masih pendidikan di Kairo. dan saya belum sempat mengenal beliau. Tapi saya mendapatkan cerita dari salah satu anak angkat beliau yang satu kelas dengan saya. sejak saat itulah saya bertekad untuk melakukan hal yang sama. Setiap anak yang terlahir di dunia berhak mendapatkan kasih sayang orang tua, dan kita memiliki hati yang lebih luas dari samudra.” kyai tampak sedih namun ada guratan semangat di pancaran mata nya.
“Luarbiasa, apa saja yang mereka pelajari di sini Kyai?” Satish semakin ingin tau dan tertarik “Hal yang paling mendasar di awal mereka masuk, saya mengajarkan tentang kasih sayang, tolong menolong, karena mereka yang masuk disini dari latar belakang yang berbeda-beda, jadi saya menyentuh sisi kemanusiaannya terlebih dahulu. Kalau yang ada ini, mereka rata-rata dari anak-anak geng, punk dan ada juga beberapa dari keluarga berada tapi terjerat dengan narkoba.”
“Bolehkah saya bergabung disini Kyai? saya sangat tertarik dengan perjuangan Kyai. Saya akan berikan sumbangan berupa peralatan dan pelatihan untuk mereka yang berminat di bidang bengkel atau yang lainnya.” Kyai terlihat senang mendengar keinginan Satish. “Silahkan Pak Satish, saya senang sekali. Menuntun dan membimbing mereka bukan hanya melalui teori, tapi juga membekali mereka dengan keahlian. Agar mereka bisa melanjutkan hidup setelah bisa mandiri. Dari sisi usia mereka semua sudah sampai pada usia dewasa, usia bekerja. Mari pak Satish kita bersama-sama menjadi orang tua buat mereka.” Tanpa terasa waktu pun sudah bergeser, Adzan subuh sudah berkumandang di masjid pesantren. Para santri tampak bergegas ingin menunaikan kewajiban, melepas keluh kesah kepada sang pemberi kehidupan.
.
.
.
Assalamualaikum
Jangan lupa like ya
Pak Satish jadi ikutan, terharu dan semangat jadi satu nih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
PESANTREN SPRTI INI YG SBNARNYA HRS DISETIAP PONPES, SPRTI PONPES MERTUAKU, YG SELAIN BLAJAR AGAMA, MREKA JUGA DIBEKALI LATIHAN2 YG SSUAI DGN SKILL MREKA.. KRN TDK SEMUA LULUSAN PONPES ITU JDI USTADZ ATAU USTADZAH..
2023-08-24
0
N Wage
subuh?
2023-05-17
2
Defi
Babak baru dimulai ya Tara.. semangat Tara semoga istiqamah belajar agama
2023-01-13
0