Ghofur yang menerima laporan dari Frans tampak ternganga tak percaya. Pikirannya kacau, ini di luar dari dugaannya. Kekacauan dan kerugian di pesantren yang dia lakukan masih membuat kyai Ibrahim tenang dan santai. Kisah macam apa ini!
“Tunggu.. Tunggu, jangan-jangan Kyai Ibrahim merencanakan penyerangan balik di saat kita lengah. Bisa aja kan dia tenang tetapi akan membuat kita terhanyut dengan arus bawah nya.”
Ghofur yang sedari tadi mondar mandir di ruangannya dengan frans yang masih setia menunggu perintah selanjutnya.
Jangan ditanya lagi bagaimana penampilan ghofur saat ini, biasanya dia selalu tampil klimis dan elegan.
Sekarang rambutnya yang sebagian mulai memutih itu tampak berantakan, muka nya kusut, pakaiannya tampak masih belum diganti dari tadi malam. Fix Ghofur frustasi.
Tok..Tok..Tok..
Sontak Ghofur yang sedari tadi mondar mandir seperti setrikaan, terkejut mendengar pintu ruang kerja nya di ketuk. “Masuk!” Suara baritonnya menggema. Sosok paruh baya dengan menggunakan kerudung instan, menyembulkan kepalanya setelah pintu terbuka.
“Pak ada tamu, itu si calon mantu kita, Nak Zahra. Sudah Ibu suruh masuk, katanya mau mengundang Bapak, ayo sana buruan pak!”
Siti istri Ghofur itu memang selalu semangat jika membahas atau bertemu dengan Zahra. dia memang berniat sekali untuk menjadikan Zahra sebagai menantu nya.
Usia Toni putra sulung nya yang terpaut usia dua tahun lebih tua. Sudah sering kali mengatakan kepada ibunya untuk melamar Zahra jika gadis cantik itu sudah lulus sekolah. Dia hanya mau menikah hanya dengan Zahra.
Toni pria baik dan soleh sering ikut pengajian di pesantren. Dia bekerja di pemerintahan sebagai PNS. Bisnis bukalah dunia nya, dia sama sekali tidak tertarik dengan usaha keluarga yang selama ini menjadi sumber ekonomi.
Berbeda dengan Adit adik nya, walau masih kuliah tapi kemampuan bisnisnya sudah bisa diandalkan. Ghofur memang tidak memaksakan anak-anaknya untuk menekuni apa yang dia jalankan.
Termasuk cara-cara yang salah seperti ini, dia tidak pernah bercerita kepada anak dan istrinya.
“Pak! kok malah bengong to? itu ada Zahra putrinya Kyai, ayo cepat keluar sana Pak, kasian calon mantu ku nunggu kelamaan!”
Deg!
Ghofur yang mendadak pucat, bingung harus berbuat apa. dia tampak bingung tapi tetap keluar mengekori istrinya yang paling senang ngomel. Sementara Frans memilih untuk tetap menunggu di ruangan.
Dia sadar diri kalau Zahra si kembang desa yang diam-diam dia kagumi itu sudah diincar oleh istri bos nya sebagai menantu masa depan putra kebangganya.
“Assalamualaikum Pak, Maaf Zahra pagi-pagi sudah mengganggu, anu Pak, Abi mengundang Bapak ke rumah, sekarang.” Ghofur yang berusaha menghilangkan ketegangan di wajahnya tampak kikuk.
“Waalaikumsalam nak Zahra, iya gak mengganggu kok Nak, maaf ada acara apa ya Kyai mengundang saya kesana?” Zahra yang memang tidak begitu mengetahui persoalannya, menyampaikan apa adanya.
“Maaf Pak, Zahra tidak tau, tadi Abi hanya menyuruh Zahra kesini mengundang bapak.” Siti yang sedari tadi senyum-senyum bahagia, menyorongkan nampan air mineral yang memang tersedia di meja ruang tamu.
“Ayo nak diminum, waahh yang diundang kok Bapak saja, apa Ibu Mu ini juga tidak diundang to nak?” Sengaja Siti menekankan kata Mu setelah ibu, agar menunjukkan kedekatan dengan Zahra.
Zahra yang sudah tau arah nya kemana dari ucapan Siti, dia tersenyum manis.
“kalo Ibu undangan nya beda, itu bagiannya Umi yang mengundang Bu, kalo Abi yang ngundang nanti salah.” Zahra melayani kalimat ramah Siti dengan berkelakar ringan.
setelah berbasa basi, Zahra pun pamit setelah mendapatkan kesanggupan dari Ghofur untuk mau datang memenuhi undangan Kyai.
Sepertinya aku sudah salah memilih korban, anak nya saja santun seperti ini kepada ku. Haduuhh harus bagaimana aku menghadapinya.
*****
Semua orang yang sudah dipilih Kyai berkumpul di ruang tamu, Satish juga ikut hadir disana. Dia jadi penasaran bagaimana Kyai menyelesaikan permasalahan ini. Tetapi rasa penasaran yang terus mendorong dirinya untuk bertanya langsung.
“Kyai maaf boleh saya bertanya?” Kyai yang sedari tadi tampak berfikir menoleh ke arah Satish yang duduk di sebelahnya. Senyum tipis yang menenangkan tetap tersemat indah di bibir tipisnya.
“Silahkan Pak.” Satish tampak senang karena Kyai menyambut rasa penasarannya dengan ramah.
“Kyai kenapa mereka dimaafkan dengan tanpa hukuman? dan sekarang Kyai mengundang pak Ghofur itu kesini, kenapa kita tidak bawa langsung dia ke pihak berwajib Kyai?”
Satish tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya, sengga memberondong kyai dengan banyak pertanyaan sekaligus, terselip rasa kesal karena putri tercinta nya sudah menjadi korban.
“Saya hanya manusia - - -” belum selesai kalimat Kyai, tiba-tiba semua orang yang hadir di situ dikejutkan dengan kehadiran Ghofur yang diikuti oleh Frans. “Assalamualaikum!” serentak semua orang menjawab salam dari Ghofur.
“Waaah terimakasih pak Ghofur sudah mau datang memenuhi undangan saya yang mendadak. silahkan pak duduk disini.” Kyai menyalami tamu nya dan mempersilahkan duduk di tempat yang memang sengaja dikosongkan.
Satish yang tadinya siap mendengarkan penjelasan dari Kyai akhirnya harus mengalah, dan siap mengikuti ‘Sidang’ dadakan ini.
Setelah berbasa-basi sebentar Kyai mulai memasang wajah serius dan menatap lurus dengan pandangan mata yang sulit di tebak makna nya.
“Begini pak Ghofur, kami sudah mendapatkan keterangan dari salah satu Ninja yang melakukan kunjungan dadakan tadi malam. Mereka sudah mengakui kesalahan mereka dan mereka pun sudah mengakui jika anda yang menyuruh mereka untuk merusak hasil kebun kami.”
“Sekarang kami semua yang ada disini ingin sekali mendengarkan dari pak Ghofur, apakah yang dikatakan mereka itu benar atau fitnah belaka?”
Ghofur tercekat, tenggorokan nya terasa kering mendadak, malu itulah yang membuat wajahnya memanas.
Sementara mereka yang berada di ruangan itu saling melempar kata dengan bergumam, sehingga menciptakan suara mendengung seperti lebah.
Ghofur yang sudah tidak bisa lagi berkilah menarik nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan. Seakan melepaskan sebagian rasa malu yang menggelayuti hati nya.
“Kyai, saya mohon maaf, mohon ampun, saya memang bersalah, saya menyesal Kyai. Saya yang menyuruh mereka. Saya - - -” tanpa diminta, Ghofur pun menceritakan kenapa dia nekat melakukan hal tersebut. Persisi seperti analisa Sitara.
Ghofur ingin merebut pasar yang selama ini didapatkan Pesantren. Dengan cara masuk perlahan-lahan sebagai pemasok, lama kelamaan dia akan bisa mendapatkan kontrak supply (penyediaan) tersebut.
Pokok permasalahannya sudah terungkap, Kyai tampak diam sebentar, sementara para santri yang menunggu tampak masing-masing berpendapat. “Geret aja ke kantor Polisi orang kayak gini!” salah satu santri yang emosi tampak berbicara kepada temannya.
“Kalo aku, ya tak pukuli dulu, dia harus ngerasain seperti yang dirasakan Non Sitara, biar masuk rumah sakit juga!” Yang lainnya juga saling melempar kalimat-kalimat geram yang bisa saja memancing emosi bagi yang satu frekuensi.
“Pak Ghofur, Saya dan keluarga saya memaafkan apa yang sudah anda lakukan!”
Jedeeerrrr
Hati Ghofur berdentam hebat, dia yang tadi menunduk kini mengangkat kepala nya. Harus senang atau waspada, wajah Ghofur pias. “Maksud Kyai?” Ghofur bingung dengan pikiran dan perasaannya, sementara wajah Kyai datar.
“Pak Ghofur, semuanya saya serahkan kepada anda. Anda sudah meminta maaf, artinya anda menyesal dengan perbuatan yang sudah anda lakukan. Saya memutuskan anda sendiri yang menentukan hukuman apa yang akan anda berikan untuk diri anda sendiri.”
“Waahh gak bisa gini ya, dia udah bikin kita susah kok!” salah satu santri mulai meramaikan ruangan. “Tapi ini malah bagus loh Bro, hukuman paling berat ini, salut dengan pemikiran Kyai” dan argumen demi argumen dilontarkan, sehingga menciptakan kegaduhan.
Ghofur tertunduk, malu, marah, dan entah apa lagi yang dia rasakan semua bercampur menjadi satu.
.
.
.
Assalamualaikum
Makin semangat yuk baca nya pemirsa, jangan lupa Like ya, terimakasih
Kira-kira apa ya yang akan dilakukan Ghofur, bikin penasaran deehh
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
penyesalan memang di akhir ya Pak Ghafur
2023-01-13
1