Bab 4: Keputusan ku

Tanpa terasa hari berganti, saat ini Musa nampak siap untuk memberikan jawaban atas apa yang pernah dijanjikannya  pada Satish. sementara Fatimah, Ibrahim, Musa dan Zahra mereka sedang berbincang ringan. Kyai bukanlah sosok yang sulit untuk didekati, pembawaannya yang santai dan tanpa beban, itulah yang membuat santri-santrinya sangat mudah untuk mendekat. Image pesantren yang kaku sangat tidak tampak disini, para santri sering sekali menyebutkan pesantren ini dengan istilah ‘Bengkel Akhlak’. Bahkan mereka yang tadinya malu atau bahkan menolak keras untuk belajar Iqro’, agar nanti mereka bisa membaca Al Qur’an, pelan-pelan luluh dan dengan senang hati mengikuti pelajaran.

“Kak, kenapa gak di terima aja sih lamaran gadis itu?” Zahra mulai kepo. “lah Kakak aja gak tau gimana dia, emangnya nikah kayak main rumah-rumah-an?” Musa menanggapi santai keingintahuan Zahra. “Biar Aku ada temennya Kak, secara, disini kan jagoan semua, cuma Aku sama Umi aja yang cantik jelita” Musa memicingkan matanya, “Dek ini nikah lo ya, dia minta nya nikah.. bukan main temen-temen-an, ishhh kamu ini mikirnya gak…” Kyai yang mendengar perdebatan anak nya, langsung memotong, “Sudah-sudah, kalian ini bila ketemu bisa gak sih yang tenang dikit, Abi saja gak tau keputusan Kakak mu apa, dia main rahasia-rahasiaan” Kyai mengedipkan matanya ke arah Zahra. 

Tok..Tok..Tok

Semua yang ada di ruangan itu tampak menoleh ke arah pintu secara bersamaan, tanpa diperintah, Zahra berlari kecil untuk membukakan pintu. dia sudah tau dengan rencana kedatangan Satish. melihat sosok yang berdiri di hadapannya dengan wajah khas orang India, zahra dengan ramah menyapa. “Selamat pagi, hmm.. Pak Satish ya?” sedikit ragu karena takut salah tebak, Zahra menyapa ramah. “Benar, maaf Dek, Pak Kyai dan nak Musa nya ada?” tanpa menunggu lama, Zahra mempersilahkan tamu nya untuk masuk. “ada Pak, mari silahkan masuk, bapak sudah ditunggu Abi” senyum ramah tetap di sematkan di wajahnya yang imut.

Satish yang sudah mulai merasa nyaman, dia pun tidak sungkan lagi untuk langsung bergabung, dimana tampaknya mereka semua sudah siap untuk mendengarkan keputusan Musa. ‘Bagaimana Nak Musa, soal lamaran Saya?” Satish tidak mau terlalu lama basa basi, beberapa hari menunggu kabar dari  Musa, cukup membuat dia berpikir mencari solusi lain jika Musa menolak nya. “Hem… Pak Satish, Abi, Umi dan Zahra, sebenarnya Saya masih belum mendapatkan keyakinan untuk menerima permintaan Pak Satish.” nampak sekali kekecewaan di wajah Satish, sementara Abi dan yang lainnya tampak santai dan tenang. “Baiklah Nak Musa, nampaknya saya tidak perlu berlama-lama lagi di sini, terimakasih sudah memikirkan kami, tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon diri.” Satish yang sudah patah arang, nampak tidak lagi bersemangat. dia berdiri dan siap untuk menyalami Kyai. 

“Tapi Saya ingin memberikan kesempatan untuk bisa memahami Sitara, dengan belajar bersama.” Satish yang sudah mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Kyai, menggantung tangannya dan kembali menoleh ke arah Musa. kalimat ambigu yang dilontarkan membuat Satish kembali duduk. “Maaf apa maksud Nak Musa?” Musa melempar pandangan ke arah Ibrahim. “Abi, jika memang Sitara adalah jodoh ku, aku akan meminta restu dari Abi dan Umi. namun aku mohon berikan kesempatan dan ruang bagi Sitara untuk belajar menemukan Allah.” 

Satish yang tadi tampak muram, kini berbinar dan seperti mendapatkan hadiah lotre, tanpa  sadar langsung meminum air yang sudah disediakan sebelum Dia datang tadi, dengan tanpa permisi, air teh tersebut habis tanpa sisa. “Musa apakah ini keputusan Mu? di pesantren kita tidak menerima santri wanita, hanya ada kajian rutin wanita yang dibina langsung oleh Umi Kamu. Bagaimana dengan Sitara?” Satish saat ini tidak mau merusak suasana, dia dengan wajah harap-harap cemas memperhatikan Kyai dan Musa yang sedang bicara. 

“Sitara bisa sekamar dengan Zahra atau menempati kamar tamu selama masa belajar. Kakak harap kamu tidak keberatan Dek?” Musa langsung menatap mata Zahra dengan datar dan sedikit penekanan. “Tentu saja kak, aku dengan senang hati.” Zahra menjawab dengan senang hati. Musa mulai menatap Satish, sesaat mereka hanya saling tatap, seakan mencari kesungguhan dari dalam hati masing-masing. “bagaimana dengan keyakinan yang saat ini Sitara pegang pak? karena saya tidak akan memaksakan apa yang saya yakini kepada siapapun. dan sudah tentu saya tidak akan menikah dengan gadis yang tidak seiman dengan saya..” Satish yang memang tidak ingin menyembunyikan apapun dari Musa, sesaat mengambil napas dalam, dan menghembuskannya perlahan. 

“Selama ini kami memang meneruskan keyakinan nenek moyang kami, tapi selama ini keluarga kecil kami memang sangat jauh dengan ritual agama. itulah salah Saya selama ini, Saya hanya sibuk dengan pemikiran tentang kebutuhan materi, sehingga Sitara pun tumbuh seperti rumah yang kosong. Dia pernah mengatakan tentang kegelisahannya tentang Tuhan, lalu saya katakan, silahkan kamu mencari Tuhan, karena Papa tidak bisa mewarisi keyakinan tentang keTuhanan. Dan Sitara pun memulai petualangannya belajar apapun yang dia ingin ketahui tentang Tuhan.” Nak Musa, Pak Kyai, Bu Nyai dan dek Zahra, saya berharap keluarga ini mau menerima Putri saya disini. berjodoh atau tidak itu saya rasa bukan hak kita untuk menentukan. saya pun berserah diri dengan keputusan Tuhan.”

Mereka berempat saling melempar pandangan, sementara Satish tertunduk seperti orang yang sedang menunggu keputusan hakim. Sekilas Kyai menganggukan kepala nya, di susul bu Nyai dan Zahra. setelah mendapatkan dukungan dari keluarga nya. Musa pun memberanikan  diri untuk membuat keputusan. “Ehem…” Musa berdehem demi menghilangkan kecanggungan  nya. “Baiklah Pak Satish, Saya sudah memutuskan, dengan dukungan dari seluruh anggota keluarga kecil Saya, Saya menerima permintaan Bapak, tetapi bukan dalam bentuk lamaran, tapi menerima disini sebagai Santriwati pertama di Pondok pesantren kami.” sesaat Musa menjeda kalimatnya, sambil terus memandang bergiliran kepada mereka. “Sitara akan mengikuti semua tata tertib yang ada di sini, Dia tetap bisa kuliah dan harus kembali tepat waktu, semua koordinasi tentang aktivitas Sitara di luar pondok, akan di handle dengan adik saya, yang akan saya pantau juga nantinya. untuk sementara waktu saya akan tinggal di asrama bersama santri lainnya, karena saya tidak mungkin tinggal di dalam rumah yang sama selama ada dia. Untuk masalah ritual ibadah, silahkan Sitara melaksanakannya, karena penjelasan Bapak tadi Sitara yang sedang dalam proses mencari Tuhan, kami akan membantu proses tersebut sesuai dengan yang dia butuhkan dalam penjelasan di batas pengetahuan yang kami ada.” 

Semua yang Musa utarakan sangat jelas dan lengkap, Satish yang menyimak dari tadi pun nampak paham, dan tidak keberatan. “Oh ya saya hampir saja lupa.” Musa kembali menarik napas dalam dan mengutarakan apa yang hampir saja dia lupa. “selama disini, Sitara harus menggunakan pakaian sopan, tertutup, menggunakan kerudung.” setelah menyampaikan semua nya, Musa menyeruput teh manis yang sudah hampir dingin. “Saya berharap Pak Satis kembali memikirkan apa yang disampaikan Musa tadi. harapan saya agar Bapak tidak merasa kecewa di kemudian hari. Karena pesantren saya ini tidak seperti biasa nya.” Satish yang sudah berbunga-bunga hati nya, menganggukkan kepala nya berulang kali. “Terimakasih sekali Kyai, saya akan berikan informasi ini kepada Sitara agar dia bisa menerima keputusan saya.”  

.

.

.

Assalamualaikum

yuk di like dan ikuti ya pemirsa… 

Giamana ya Sitara…? yuukk komen gimana pendapat Sitara.. 

terimakasih pemirsa :)

Terpopuler

Comments

Wiwik Riyastiningrum

Wiwik Riyastiningrum

kebijakan jalan tengah siapa tau lama2 suka ustadz Musa /Smile/

2024-07-08

0

Defi

Defi

Sikap Papa Satish lucu juga 🤭 maunya sat set aja ya

2023-01-13

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kecelakaan
2 Bab 2 : Kita Berbeda
3 Bab 3: Pesantren Istiqomah
4 Bab 4: Keputusan ku
5 BAB 5: Nama ku Sitara
6 Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7 Bab 7: Pindahan
8 Bab 8: Debat Kucing
9 Bab 9: Salah Tangkap
10 Bab 10: Gerombolan Ninja
11 Bab 11: Singa Betina
12 Bab 12: Misi Yang Gagal
13 Bab 13: Dokter Yoga
14 Bab 14: Bos Bawang
15 Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16 Bab 16: Hukuman Yang Beda
17 Bab 17: Tobat Sambel
18 Bab 18: Gantengnya 40%
19 Bab 19: Malunya Aku
20 Bab 20: Waktu Belajar Ku
21 Bab 21: Pulang.
22 Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23 Bab 23: Setajam Samurai
24 Bab 24: Sah
25 Bab 25: Gagal Nikah?
26 Bab 26: Terlihat Tampan
27 Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28 Bab 28: Panggil aku Aby
29 Bab 29: Nikahan Ayu
30 Bab 30: Nubruk Lagi.
31 Bab 31: Nikah Mendadak
32 Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33 Bab 33: Hobi Nubruk
34 Bab 34: Seperti Maling
35 Bab 35: Belajar Bareng 1
36 Bab 36: Belajar bareng 2
37 Bab 37: Salah Paham
38 Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39 Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40 Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41 Bab 41: Gaspol Mas
42 Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43 Bab 43: Hai Tampan
44 Bab 44. Syukuran
45 Bab 45: Daadee Datang
46 Bab 46: Parfum Malam Pertama
47 Bab 47: Dokter Pintu
48 Bab 48: Ketahuan.
49 Bab 49 : Masih sakit?
50 Bab 50: Bertemu Cici
51 Bab 51: Kebakaran
52 Bab 52: Musa kritis
53 Bab 53: Tidak Sanggup
54 Bab 54: Siapa Dev?
55 Bab 55: Obsesi Dev
56 Bab 56: Arya
57 Bab 57: Penyelidikan
58 Bab 58: Gombalan Absurd
59 Bab 60: Face Off
60 Bab 60: Keputusan Face Off
61 Bab 61: Sarung Ninja
62 Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63 Bab 63: Wajah Baru Musa
64 Menjelang Tamat
65 Bab 64: Rencana Party
66 Bab 65: Memaafkan
67 Selamat Tahun Baru 2023
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1: Kecelakaan
2
Bab 2 : Kita Berbeda
3
Bab 3: Pesantren Istiqomah
4
Bab 4: Keputusan ku
5
BAB 5: Nama ku Sitara
6
Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7
Bab 7: Pindahan
8
Bab 8: Debat Kucing
9
Bab 9: Salah Tangkap
10
Bab 10: Gerombolan Ninja
11
Bab 11: Singa Betina
12
Bab 12: Misi Yang Gagal
13
Bab 13: Dokter Yoga
14
Bab 14: Bos Bawang
15
Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16
Bab 16: Hukuman Yang Beda
17
Bab 17: Tobat Sambel
18
Bab 18: Gantengnya 40%
19
Bab 19: Malunya Aku
20
Bab 20: Waktu Belajar Ku
21
Bab 21: Pulang.
22
Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23
Bab 23: Setajam Samurai
24
Bab 24: Sah
25
Bab 25: Gagal Nikah?
26
Bab 26: Terlihat Tampan
27
Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28
Bab 28: Panggil aku Aby
29
Bab 29: Nikahan Ayu
30
Bab 30: Nubruk Lagi.
31
Bab 31: Nikah Mendadak
32
Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33
Bab 33: Hobi Nubruk
34
Bab 34: Seperti Maling
35
Bab 35: Belajar Bareng 1
36
Bab 36: Belajar bareng 2
37
Bab 37: Salah Paham
38
Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39
Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40
Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41
Bab 41: Gaspol Mas
42
Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43
Bab 43: Hai Tampan
44
Bab 44. Syukuran
45
Bab 45: Daadee Datang
46
Bab 46: Parfum Malam Pertama
47
Bab 47: Dokter Pintu
48
Bab 48: Ketahuan.
49
Bab 49 : Masih sakit?
50
Bab 50: Bertemu Cici
51
Bab 51: Kebakaran
52
Bab 52: Musa kritis
53
Bab 53: Tidak Sanggup
54
Bab 54: Siapa Dev?
55
Bab 55: Obsesi Dev
56
Bab 56: Arya
57
Bab 57: Penyelidikan
58
Bab 58: Gombalan Absurd
59
Bab 60: Face Off
60
Bab 60: Keputusan Face Off
61
Bab 61: Sarung Ninja
62
Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63
Bab 63: Wajah Baru Musa
64
Menjelang Tamat
65
Bab 64: Rencana Party
66
Bab 65: Memaafkan
67
Selamat Tahun Baru 2023

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!