Tangan Sitara yang retak sudah tidak digendong lagi, langkah kaki nya pun sudah nampak tegak kembali. Dengan menggunakan pakaian Kurti (pakaian wanita khas India) berwarna hitam dengan renda putih yang menambah manis perpaduan warna tersebut, tidak lupa dupatta (selendang panjang) yang melilit leher indah nya. Sore ini Sitara mengikuti keinginan Papa nya untuk bertemu dengan Musa dan keluarga nya. Ada rasa enggan tapi penasaran. beberapa waktu yang lalu dia menyempatkan diri untuk mencari tau tentang Pondok Pesantren Istiqomah, dia menemukan profil tentang Musa, nama yang bagus, dan wajah yang tampan menenangkan. beberapa potret tentang aktivitas yang dilakukan Musa, sudah cukup membuat Sitara penasaran, ‘Ustadz Gaul’, itulah kesimpulan yang tertanam di kepala Sitara.
Sepanjang jalan Sitara abai dengan arah jalan, dia hanya fokus dengan benda pipih pintar nya. Sahabat sehati, sejiwa dan se frekuensi, Ayu yang tidak berhenti chat dengan diri nya. [Ayu, Lo ikutan juga dong masuk pesantren ini, biar jadi solehah, jadi kan ada temen nya Gue], tidak menunggu lama Ayu pun membalas pesan Sitara [Wahai Sitara tralala yang cantik sepanjang masa, Lo coba aja dulu disana, anggap aja Lo semedi, selama Lo ada di pesantren itu, Gue akan janji untuk gak dugem. Demi apa? Demi Lo, jadi gue akan balik ke kantor bokap gue di jakarta, itung-itung Gue berbakti lah sama Papi dan Mami gue. Kelar Lo dari pertapaan, Kita balik lagi berkumpul bersama, siapa tau Lo dapet wangsit, trus kita buka usaha bareng!]
Panjang lebar Ayu ngasih pendapat dan semangat, Sitara yang senyum-senyum aja membaca chat nya, tidak lepas dari perhatian Satish. 'Nampak nya Sitara enjoy aja dengan keputusan ku ini, semoga ini menjadi jalan untuk kebaikan dia' Satish bergumam di dalam hati.
[Hah Lo mau ninggalin Gue gitu maksudnya? Waaahh Lo kejam Yu, Lo gak ber berperikekawanan itu nama nya, Mana janji Palapa lo itu!] Ayu yang membaca pesan sahabatnya di seberang sana, terus saja berpindah tempat, kadang di meja makan, kadang di lantai sambil cengar cengir. Ayu tinggal di sebuah apartemen mewah. Hanya sendiri, Papi nya yang seorang pengusaha memberikan hadiah unit tersebut di hari ulang tahun nya.
[Bebeb ku sayang, tenang.. tenang.. dunia belum berakhir… Lo pelajari dulu disana, siapa tau calon suami Lo orang nya asik. Kan hidup lo gak kiamat!] Ayu berusaha memberikan nasehat bijak versi dia. [Tapi syarat dia banyak banget Yu, Gue takut kalo gak bisa, mana Gue lagi yang ngelamar dia] emot sedih di pasang Sitara pada pesan nya.
Lama mereka saling berbalas pesan, akhirnya sampai juga pada tujuan. sesaat senyum yang sedari tadi menghiasi bibir Sitara mendadak hilang. “Kita sudah sampai sayang, mereka asik-asik kok orang nya, gak kaku yang kayak kamu bayangin” Satish berusaha menyemangati Sitara. Sitara tidak menjawab ucapan Papa nya. hanya mengangguk kecil dan langsung membuka pintu mobil yang mereka kendarai.
Brukk !
Bruk !
Mereka melangkah dengan percaya diri tapi dengan pikiran masing-masing yang sangat banyak kekhawatiran di dalam nya. Sitara mengedarkan pandangannya, dia menyukai rumah Musa yang tampak asri. Jiwa seni yang sangat kental mengalir di dalam dirinya, yang diturunkan dari garis Mama nya. Gauri yang seorang seniman musik dan tari tradisional India, sudah banyak mengantongi penghargaan pementasan karya seni. Tapi sayang semua itu harus berakhir di saat pertunjukan terakhirnya, Gauri meninggal saat selesai pertunjukkan akibat keracunan makanan. Sejak saat itu Sitara kehilangan kasih sayang dari mama nya.
Mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah, Fatimah langsung menyambut tamu nya yang memang sudah memberi kabar terlebih dulu untuk datang ke rumahnya. “Selamat Pagi, mari-mari silahkan masuk” Satish yang memang sudah beberapa kali datang, sudah merasa biasa saja. Beda dengan Sitara yang nampak grogi, di tangannya membawa bingkisan berupa kue hasil buatannya. Fatimah langsung mengulurkan tangan kepada Sitara dan langsung merengkuh pundaknya. mereka berbincang ringan sambil masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga. pertemuan ini sengaja tidak di ruang tamu, agar lebih merasa privat saja.
Ramah tamah pun dilakukan demi menghilangkan suasana canggung. Pandangan mata Sitara beradu dengan netra nya Musa, entah rasa apa yang dirasakan oleh Sitara saat ini, tapi yang pasti tatapan musa itu menenangkan, dan tidak lupa Sitra memberikan penilaian pada sosok pemuda tampan yang ada di hadapannya, Tampan dan seksi. ‘Ahh penilaian macam ini’ Sitara menggeleng kan kepala nya pelan, dengan maksud menghilangkan pemikirannya yang payah. Namun beda dengan persepsi Musa, namun Musa tidak ingin terus berprasangka, dia menangkupkan kedua telapaknya di depan dada sambil memperkenalkan diri nya “Salam kenal, aku Musa, kita bertemu lagi” kalimat musa yang terakhir terasa kacau setelah dia menyadarinya, hehehe itu lah yang dinamakan grogi. Sitara yang kembali pada kesadarannya, langsung mengikuti gerakan tangan musa, menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
“Nama ku Sitara Kumari, hallo.. ehem iya kita bertemu lagi” baru kali ini rasanya sitara sangat susah menelan saliva nya, dia yang biasa pecicilan, mendadak mengaktifkan mode kalem. hampir saja dia melupakan satu hal “Heem … Musa maaf aku terlambat mengatakannya, Terimakasih kau sudah menolongku” Musa kembali menatap wajah cantik Sitara, “Iya sudah kewajiban saya menolong sesama” tak lupa Musa memberikan senyuman manis nya tanpa pemanis buatan. Tanpa sadar Sitara bergumam, namun sial nya hal tersebut mampu didengar oleh Musa dan Kyai juga Zahra, “Ganteng”. “Terimakasih.” sambar Musa dengan percaya diri nya.
“Eh apa?” Sitara merasa wajahnya sudah panas dan sudah jelas memerah, malu, ya jelas aja malu, ingin rasanya dia bersembunyi ke dalam vas bunga, tapi jelas tidak bisa. ‘Uhh.. bodoh .. bodoh .. bodoh .. ngomong apa aku barusan, ishh murahan sekali mulut ku ini’. hal tersebut mengundang tawa yang lainnya dan mampu mengurai suasana canggung menjadi lebih cair.
Satish merasa sudah saat nya dia membuka perihal yang penting, dimana dia akan melamar Musa untuk putri semata wayang nya. “Ehem… maaf sebelumnya nak Musa, Pak Kyai dan Bu Nyai, juga Zahra, Saya datang kesini berdua dengan Sitara putri saya dalam rangka Melamar Putra Bapak yaitu Nak Musa. Bagaimana pak Kyai” Satish sengaja melempar pertanyaan tersebut kepada Kyai, dengan harapan diterima dengan mahar yang ringan. “Pada dasarnya saya tidak pernah membatasi Musa kenal dengan siapa atau berjodoh dengan siapa, permintaan saya hanya pilihlah calon Istri yang seiman, tapi bukan karena mau nikah terus pindah keyakinan ya. dan yang tidak pernah meninggalkan Sholat.” sejenak Kyai berhenti dan mengambil napas dalam.
“Tetapi untuk saat ini saya sendiri belum mendengar pendapat Nak Sitara mengenai pernikahan ini? bagaimana dengan keyakinan mu dan kenapa menerima saran dari Pak satish, bahwa Musa harus bertanggungjawab.”
Serrr !!
Darah Sitara rasanya menguap, Musa mulai panik. Tapi dia adalah gadis bar-bar yang sangat menjunjung harga diri. Sitara mulai menyusun kata dalam pikirannya. Dia sangat menghormati Kyai dan Bu Nyai. sementara untuk musa dia merasa masih santai aja.
.
.
.
Assalamualaikum
Yuukk buruan di Like dan ikuti terus ya pemirsa, Share jg dong ya, aajakin yang lainnya baca Novel ku, Terimakasih.
Hayoo Sitara mau bilang gimana tuuhh.. mentok nih kayak nya hehehe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
Ayo Sitara keluarkan jurus2mu untuk bisa berada disamping ustadz gaul yang ganteng 😂
2023-01-13
1