Siang ini makan siang dengan menu khas Bu Nyai Fatimah. Ada sayur lodeh, kering tempe dan sambel terasi, hidangan bertambah lengkap dengan ikan tongkol balado yang menjadi kesukaan Musa. Mereka makan dengan tenang, hanya suara denting sendok yang mengalun menciptakan harmoni musik yang berisik.
"Musa nanti kamu temani Sitara berkeliling, agar dia tau lingkungan baru nya dan …" belum selesai Kyai bicara, "Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Musa tersedak makanan yang akan dia telan "Maaf Abi, Musa tidak mau, apa kata dunia kalo Musa jalan sama Sitara!" Kyai mengusap kasar wajahnya.
"Abi belum selesai bicara kamu sudah keselek, Zahra juga akan ikut dengan mu!" Musa jadi salah tingkah karena sudah salah sangka terhadap Abi nya, "Hehehe maaf Abi, salah ya?" Demi apa Musa yang biasa tenang setenang air danau, kini jadi salah tingkah saat di depan gadis cantik dengan wajah tegas dan pandangan yang tajam.
"Jangan ge'er dulu ya, kamu pikir aku mau jalan berduaan sama kamu, sorry Musa gak level ya!" Sitara merasa harga diri nya terusik oleh perilaku Musa barusan. Dia pun meresponnya dengan nada yang sengit. "Lahh kenapa kamu emosi, santaaii aja Tara, aku hanya gak mau nanti kamu jadi punya pikiran macam-macam tentang aku!"
Kontan saja mata indah tara membulat sempurna, Musa yang dia sangka pendiam itu ternyata pedas juga jika bicara.
"Siapa yang gak emosi coba, kamu itu sudah menjatuhkan harga diriku!" Musa yang mendengar balasan Sitara pun jadi terpancing "Tara kamu itu baperan ternyata ya orang nya, kalo cewek baperan itu jauh jodoh nya!" Perang mulut pun tidak bisa lagi di hindari.
Sementara para orang tua dan Zahra seperti sedang menonton drama Satu episode yang membingungkan. Musa yang biasa kalem entah kenapa hari ini jadi berbeda.
"Okaayy gaeess!!! Cukup debat kucing nya yang unfaedah ini. Ini masih di meja makan ya tuan dan nyonya, jadi kalau mau ribut tolong di lapangan aja!" Zahra mengambil alih untuk menghentikan perdebatan mereka yang tidak berguna itu.
Sementara Fatimah, dia hanya tersenyum dan bermonolog di dalam hati 'Nampaknya hidup putraku akan berwarna jika bersama gadis pemberontak ini!' sesaat dia kembali teringat dengan masa lalu Musa, Cici gadis manis putri dari seorang Kyai, saat itu Musa sudah menaruh hati sejak mereka duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (setara SMP).
Hal tersebut karena Kyai Ibrahim dan Kyai Ahmad menjodohkan anak-anak mereka. Tetapi Cici yang menganggap Musa hanya sebatas saudara dan menolak untuk dinikahkan, saat itu usia mereka sudah pantas untuk menikah. Jodoh yang selama ini diinginkan musa berakhir dengan cinta bertepuk sebelah tangan.
Musa tidak lagi tertarik dengan beberapa gadis yang sering diajukan oleh Kyai. Usia Musa yang sudah hampir Tiga puluh tahun sangat membuat hati Fatimah resah, begitu pula dengan Kyai.
Kehadiran Sitara seperti menjawab doa Ibrahim dan Fatimah. Walau bukan dari lingkungan yang sama, setidaknya Fatimah bisa melihat beberapa kali wajah Musa bersemu merah dan sesekali mencuri pandang.
Selesai makan mereka semua berniat untuk keliling Pesantren, Satish berjalan didampingi oleh Ibrahim dan Fatimah, sedangkan Sitara bersama Zahra dan Musa. Beberapa santri yang yang melihat ada wanita cantik, langsung saja memaku pandangannya pada Sitara yang cuek.
Sitara lebih fokus pada sekeliling nya. Dia tertarik dengan beberapa petak lahan perkebunan, ada juga kolam ikan dan kandang ayam di atasnya. Semua tampak tertata rapi dan mampu menyegarkan pandangan.
“Siapakah yang berkebun disini Zahra?” Sitara tidak sanggup menahan rasa penasarannya. “Para santri disini kak, semua kegiatan pertanian, perikanan dan peternakan disini santri dan para ustad yang melakukannya.”
Sitara mengagumi keindahan di lingkungannya, Sesaat dia menajamkan pendengaran, sayup-sayup terdengar suara seperti orang sedang bertarung.
“Ciiiaattt!” Teriak salah satu santri, ternyata Dimas yang melakukan penyerangan.
Buughh
Sreett!
Tendangan yang mendarat tepat di dada Putra yang langsung membuatnya jatuh dan terseret beberapa meter. Latihan terus saja berlangsung, pukulan demi pukulan saling berbalas. Sementara langkah Sitara seperti ada yang menggerakkan untuk melangkah ke arena latihan bela diri.
“Apakah aku boleh ikut berlatih?” Musa dan Zahra saling memandang dengan tatapan horor. “Apakah boleh Musa?” tatapan tajam Sitara bergantian menatap Musa dan Zahra. Musa bingung dia tidak mau disalahkan oleh Abi dan Umi nya, apalagi saat ini Satish sedang ada disini.
“Sitara jangan sekarang ya latihannya, nanti kita tanya dulu ke Abi, dimana kamu boleh berlatih” Musa berusaha menjawab dengan setenang mungkin, dia tidak ingin nanti akan berdebat lagi. “Baiklah aku akan bertanya kepada Abi sekarang, dimana Abi?” Musa tidak menyangka jika Sitara menginginkannya sekarang, Zahra juga mulai keteteran menghadapi Sitara yang keras kepala.
“Kak, ternyata dia bukan orang yang bisa dianggap remeh. dia sangat keras kepala dan tidak sabaran. huufff aku mulai gerah kak”
Zahra bicara pelan kepada Musa sambil senyum-senyum tipis. Sementara Sitara sudah berjalan lebih dulu mencari Abi, dia ingat tadi saat mereka berpisah, Abi belok ke kiri menuju ruangan seperti gudang.
*****
Sementara di arena latihan Dimas yang sempat menangkap sosok cantik tadi kehilangan fokusnya, dan hal tersebut langsung dimanfaatkan Putra menggunakan gerakan menyapu bagian kaki, sehingga membuat Dimas terjatuh.
Sreett…
“Aaaaakkhhh! Astaghfirullah!” Dimas meringis menahan rasa sakit di punggung nya “Sorry bro, ayo bangun” Putra mengulurkan tangannya “Jaga pandangan Bro dimas, jangan biarkan musuh mengambil kesempatan ini” Putra memberikan koreksi kepada Dimas, sementara Dimas hanya cengar-cengir malu karena pandangan mata nya mampu diperhatikan Putra. Ustadz Zein yang melatih bela diri hanya tersenyum. Beberapa gerakan diajarkan untuk para santri, dan tanpa terasa waktu pun mulai bergerak sore.
“Oke saya kira cukup dulu untuk latihan hari ini, jangan lupa untuk terus berlatih agar kemampuan kalian semakin terasah. mulai melatih kepekaan telinga, mata dan penciuman. Terimakasih semuanya, Assalamualaikum” dengan menjawab salam secara serentak, dan mereka saling memberikan hormat dengan membungkukkan badan mereka Mereka bubar dan menyisakan Dimas dan Ustadz Zein.
“Ustadz maaf itu tadi siapa ya, bikin orang gagal fokus aja, kelewatan cantiknya Ustadz” para santri memang terbiasa bicara dengan santai kepada Ustadznya, hal itu diterapkan Kyai agar mereka lebih mudah menerima apa yang akan diajarkan.
“Saya juga belum tau Dimas, karena baru melihat tadi, dan saya setuju dengan pendapat kamu, cantiknya kebagetan. Tapi ingeet, kita gak boleh memandangnya kelamaan, sekilas aja trus jatuhkan deh tu pandangan ngeliatin ujung kaki sendiri, biar gak dosa Dim” ustadz Zain berusaha mengingatkan tapi tetap menggunakan cara yang santai, hal ini membuat Dimas mengerti tanpa harus sakit hati.
*****
Dibelahan kota yang lainnya, tepatnya di Jakarta, Ayu yang sudah memasuki rumah orang tua nya, kembali merasakan hangat di hati nya, selama ini dia merasa sepi di tengah keramaian, “Ternyata nyaman juga kembali ke rumah ini, oke Ayu mari kita kembali ke dunia nyata, cari uang yang banyak agar kau bisa melamar laki-laki yang berkualitas seperti sahabat ku Sitara, hhmmm dia pasti sedang bahagia disana” Ayu bermonolog sendirian di dalam kamarnya.” Disaat dia ingin merebahkan diri, tiba-tiba ponselnya berdering.
Kriing
Kring
“Papi?” dia langsung menekan tombol hijau dan langsung terhubung “Assalamualaikum Pi, ya ada apa Pi?” tanpa basa basi Ayu langsung menanyakan kenapa Papinya meneleponnya siang-siang begini. “Waalaikumsalam Ayu, kamu siap-siap sekarang ya, dan langsung ke kantor, Papi tunggu, ingat, gak pake lama” Ayu ingin menjawab perintah Papinya, tapi sambungan telepon sudah terputus.
tut..tut..tut
“Ishhh Papi sukanya gitu deh, gak liat apa kita lagi manjah manjah ria beini, tapi oke lah, aku bersiap anggap aja sekalian cuci mata, siapa tau ada yang ganteng trus alim.” Ayu berusaha menyemangati diri sendiri karena sebenarnya hari ini dia sedang malas untuk kemana-mana. Deru suara mobil putih milik Ayu memecah kesunyian rumah di siang itu. Dengan kecepatan sedang dia melajukan mobilnya menembus panas yang terasa terik di siang itu.
.
.
.
Assalamualaikum
tolong di like ya pemirsa
Kayaknya Ayu dan Sitara sama-sama gak sabaran ya hehehe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
Sitara bukan lawan sepadanmu Musa 🤭
2023-01-13
0
🍾⃝Tᴀͩɴᷞᴊͧᴜᷡɴͣɢ🇵🇸💖
Ge er amat lu, Musa kwkwkwkwk
2022-10-23
1